ada rupa ada harga ...... ada kantong .
bila memang kemampuan kantongnya terbatas,  ya sudah barang tentu daya belinya 
terbatas. Ada lagi : beli sesuai dengan kebutuhan.

kalo saya cuman punya uang 1,5 juta misalnya utk beli handphone, biarpun saya 
tahu model yg lebih mahal sudah pasti akan memberikan nilai lebih, tetap saja 
saya gak beli model yg lebih mahal tsb, kan di luar kemampuan kantong. 
Lagipula, apa nilai lebih yg ditawarkan oleh model yg lebih mahal tsb memang 
benar-benar dibutuhkan oleh saya ? butuh atau kepingin ? 

hanya sekedar opini dan preference pribadi :)

salam sukses
-wadi-

"Taufiq A. Rachman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               On 
10/21/07, Hasanuddin Hasanudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > Ada rupa ada harga... he.he.he. sepanjang kita bisa meyakinkan user, nilai 
 > rupiah yang dibayarkan setiap sen nya sebanding dengan nilai instrinsik dari 
 > service kita, bahkan kalau kita bisa meyakinkan bahwa nilai nilai instrinsik 
 > lebih tinggi daripada nilai rupiah.

 >
 > Silahkan dihitung-hitung lagi... (hanya bisa dihitung oleh warnet yang telah 
 > beroperasi 5 tahun dan punya data keuangan dan data statistik lengkap selama 
 > 5 tahun).
 >
 > Hasanuddin
 > wwww.torajanet. com
 > awari #99
 >
 >
 >
 > Irwin Day <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 >
 > Mengenai harga, mereka para pemberi layanan lebih ini juga cukup
 >  percaya diri dengan menjual dgn rentang harga Rp 6000 - Rp 9000 (
 >  mohon klarifikasi teman-teman di Makassar ) dan tetap ramai.
 >
 >  Yang menyedihkan adalah:  ternyata  sebagian warnet masih tidak bisa
 >  keluar dari kiat perang harga (Rp 2000- Rp 2500) yang berimplikasi
 >  pada rendahnya tingkat pelayanan.   Sebuah kenyataan yang menyedihkan,
 >  karena perang harga tersebut secara kasar mata terlihat makin
 >  melemahkan daya saing dan kemampuan dalam pengembangan usaha warnet
 >  itu sendiri.
 >
 >
 >  Salam,
 >  ID
 
 Saya pribadi punya pandangan sendiri tentang perang harga......
 
 Bagi saya, perang harga tidak bisa disamaratakan dalam satu wilayah,
 misalnya Jakarta atau Makassar atau Bandung atau Surabaya atau Malang
 atau Wilayah Kota lainnya di negara ini. Mengapa demikian ?
 
 Setiap grup area (saya artikan grup area, namun wilayahnya belum tentu
 besar karena ini bergantung pada kondisi dan posisi setiap kumpulan
 warnet dalam satu wilayah) pastinya memiliki beragam rupa demand user
 yang tersedia, dalam satu wilayah kota, pastilah memiliki lebih dari 1
 grup area.... saya beri contoh sebagai berikut :
 
 Wilayah Jakarta Pusat, wilayah ini bisa terdapat puluhan warnet, namun
 sekarang kita persempit grup area-nya menjadi wilayah Sarinah.
 Di grup area ini misalnya, warnet Qnet milik pak bill bisa buka dengan
 harga Rp. 9.000,- per jam, mengapa demikian ?
 Karena memang demandnya dapat dikatakan wilayah eksekutif, kelas
 menengah keatas, bisnisman dan "bisnisgirl" yang mana manusia2 seperti
 itu gak pernah mikir uang Rp. 9.000,- itu kecil atau besar. Dan ya
 akhirnya tidak salah kalo pak bill cukup sukses dengan warnetnya di
 wilayah grup area Sarinah tersebut.
 
 Sekarang kondisikan dengan Grup Area DEPOK, persempit lagi dengan
 wilayah Grup Area DEPOK Margonda & Grup Area DEPOK Kelapa Dua.... di
 wilayah ini demand 80% adalah mahasiswa yang jangankan beda harga Rp.
 5.000,-.... beda harga Rp. 500 per warnet aja bisa jadi masalah
 kecuali warnet tersebut didukung dengan konsep yang benar2 baik dari
 sisi develop dan marketing.
 Harga di Wilayah Area DEPOK ini berkisar Rp. 2.500 - Rp.4.500,-.....
 Nah silahkan jika ada rekan2 atau pak bill mencoba buka disini dengan
 harga Rp. 9.000,- per jam walaupun dengan fasilitas super yg
 diberikan, akannya bisa hasilnya seperti di Sarinah ?
 
 Contoh kasus, Warnet sahabat saya yg dulunya terbesar, terbagus dan
 tercepat koneksinya se-depok raya.... dengan menaikkan harga HANYA Rp.
 500 lebih tinggi dengan warnet lainnya akhirnya dalam waktu hanya 2
 tahun, kini warnet yg tadinya terdapat 210 unit PC sekarang hanya
 tinggal 40 unit saja, banyak karyawannya diberhentikan.....
 
 Itu cuma gara2 naikin harga Rp. 500,- yaitu dari harga Rp. 4.000 per
 jam menjadi Rp. 4.500 per jam..... :-(
 
 So........ Kita harus bisa melihat semua kenyataan ini, inilah hal yg
 terjadi di lapangan... sehingga pengusaha warnet pemula tidak akan
 pernah memikirkan CAPEX dan OPEX seperti yang ada di website awari
 
(http://www.awari.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=50&Itemid=1)....
 bagi kebanyakan pemula atau yg expert sekalipun itu hanya sekedar
 RUMUS SEMATA, mengapa demikian....?
 
....
 
 ---
 
 Semisal (berandai-andai) warnet anggota AWARI pun diwajibkan untuk
 mengacu pada CAPEX dan OPEX tersebut, sehebat dan sekuat apapun AWARI
 tidak akan pernah bisa untuk menciptakannya, kecuali pemerintah bisa
 memberikan regulasi khusus seperti halnya ORGANDA bisa mempengaruhi
 PEMERINTAH untuk membuat persamaan & penyesuaian tarif angkutan umum
 yg ada di negeri ini.....
 
 Can AWARI do like ORGANDA do ??
 






 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Official Web Site : http://www.awari.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke