Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Bismillah, alhamdulillah, washshalaatu
wassalaamu 'alaa rasuulillah wa 'alaa aalihi wa ashaabihii wa man waalah, wa
ba'd:
Mengenai pembicaraan tentang makna hadits
1) Untuk al-akh Abu Hazim, memang di hadits tersebut tidak disebutkan tentang pahala sebagaimana tidak pula disebutkan bahwa makna 1/3 adalah kandungannya. Oleh karena itu, mengapa kita tidak gunakan keumuman hadits tersebut saja, yang berarti maknanya adalah bisa kandungannya dan bisa juga pahalannya, atau bahkan keduanya. Apakah hal ini berterima? Tentu al-akh akan segera bertanya: Man salafuka fi hadza? (siapa pendahulu anda dalam hal ini?) ya, benar… siapa pendahulu kita dalam masalah ini, sekurang-kurangnya, ulama mana yang berpendapat demikian…
Mari kita sama-sama merujuk pada kitabnya para ulama, dimulai dengan kitab2 syarah haditsnya, kitab-kitab aqidah dan kitab-kita targhib wattarhib serta fatawa…
Subhanallah…, susah nian memang jika punya daya ingat yang jelek, merana rasanya ketika jauh dari maktabah, sulit sekali untuk istihdhar kalamnya para ulama… Namun, segala puji bagi Allah, kemajuan teknologi bisa menjadi salah satu jalan yang mempermudah kita untuk menuntut ilmu, silakan ikhwah yang bisa akses internet dan bisa berbahasa arab membuka mesin pencari google atau yang lainnya kemudian ketik "tsulutsul qur'an" (pake huruf arab) maka akan segera keluar sederet site yang bisa dikunjungi yang memuat masalah ini, baik kitab-kitab syuruh hadits ataupun penjelasan para ulama dalam fatawa mereka. Bagi yang dekat dengan makatabah, silakan buka semisal Fathul Bari, Majmu' Fatawa Ibn Taimiyyah, Syarah Al-'aqiidah Al-waashitiyyah, Kaifa Tuthiilu 'Umraka, Man Sayarbahu Milyuun, dan lain-lain buku banyak sekali…
Adapun dalam kesempatan ini, di tengah kesibukan yang ada, saya hanya akan menyampaikan apa yang mudah bagi saya, mengingat keterbatasan rujukan yang ada, wabillaahit taufiq.
2) menanggapi apa yang ditanyakan Al-Akh Abu Hazim terhadap emal kiriman Al-Akh Abu Umair dan jawaban beliau kepadanya, maka Abu Ishaq berkata –wabillaahi nasta'iin-:
Pertama, ada banyak hadits yang
menyatakan tentang kedudukan
Kedua, kita semua meyakini bahwa karunia Allah begitu luas dan Allah telah memberikan kepada umat ini apa yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya sebagai kompensasi dari pendeknya usia rata-rata kita dibandingkan usia rata-rata umat sebelum kita. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Usia (rata-rata) umat ini adalah antara 60-70 tahun saja, dan sedikit sekali yang bisa melampauinya" (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, lihat Ash-Shahihah 757). Allah melipat gandakan bagi kita pahala dari amalan-amalan yang begitu ringan dan sederhana sehingga sama bahkan melampaui mereka yang melakuakan peribadatan berpuluh atau beratus tahun lamanya dari umat terdahulu. Untuk lebih jelasnya silakan rujuk mukaddimah buku Kaifa tuthiilu 'umraka (Pak Abu Umair, bisa tuliskan di sini pak? Buku2ku di maktabah euy…)
Namun sangat disayangkan sekali bahwa ada sebagian kita yang tidak menyadari hal ini. Bahkan sangat mengherankan sekaligus memprihatinkan, ada sebagian yang sudah mengetahui namun bukannya semakin rajin melakoni malah mundur teratur malas dan jatuh ke lembah futur. Dan ternyata, ada juga yang merasa aneh terheran-heran, masa iya cuma baca ini saja bisa dapet pahal segede itu… masa iya hanya berbuat begitu saja bisa dapat pahala seabrek-abrek…. Wa ilallaahil musytakaa.
Sekedar contoh (Pak Abu Umair atau Pak Teuku Johansyah, mohon bantuan takhrij haditsnya), ada hadits menyatakan: "Barangsiapa yang memintakan ampun bagi seorang mu'min maka ia akan mendapatkan satu kebaikan."
Lihat, jika sekarang kita anggap jumlah kaum muslimin ada 1 Milyar, lalu kita katakan: Allahummaghfir lilmuslimiina wal muslimaat (Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat), maka dengan sekali ucap kita telah mendapatkan 1 Milyar kebaikan. Maka bagaimana jika kita sertakan juga kaum muslimin yang sudah mati ataupun yang masih hidup, tentu akan jauh berlipat tak terhitung jumlahnya. Masa iya seeh…? Yupe, karena hadits ini shahih, sekurang-kurangnya hasan, insya Allah.
Ketiga, adapun tentang makna
Mengapa
Kemudian, perlu dipahami di sini, harus dibedakan
antara balasan (al-jazaa') dengan penggan
Semisal dengan ini, apabila seseorang membaca
al-ikhlas 3x dalam shalatnya, maka tidak berarti dia tidak perlu lagi membaca
surat al-fatihah karena surat al-ikhlash tidak bisa menggantikan kedudukan surat
al-fatihah kendati dia dengan bacaannya itu telah mendapatkan pahala bacaan
al-qur'an dengan sempurna yang tentu termasuk di dalam nya juga surat
Al-Fatihah. Semisal dengan ini juga, seseorang yang shalat satu raka'at di
masjid haram maka dia akan mendapatkan pahala 100 ribu shalat di luar masjid
haram, maka apakah dengan ini berarti dia tidak perlu lagi shalat selama
berpuluh tahun sekembalinya dari masjid haram karena dia telah mendapatkan
pahala 100 ribu shalat? Jawabnya tentu tidak. Jadi harus dibedakan antara pahala
dengan penggan
Syikhul Islam Ibnu Taimiyyah menerangkan (17/131):
"Pahala memiliki jenis yang berbeda-beda
sebagaimana harta pun memiliki jenis yang beraneka, ada makanan, minuman,
pakian, tempat tinggal, uang dll. Apabila seseorang memiliki salah satu dari
jenis harta tsb yang nilainya sepadan dengan 100 dinar, tidak berarti dia tidak
butuh lagi kepada jenis harta yang lainnya. Bahkan katakanlah apabila yang
dimiliknya itu berupa makanan, tentu dia juga tetap membutuhkan pakaian, tempat
tinggal dsb. Demikian juga misalnya kalau yang dimilikinya itu uang, tentu
diapun tetap membutuhkan yang lainnya. Begitu halnya dengan al-fatihah.
Al-fatihah berisi pujian dan do'a yang dibutuhkan setiap orang yang tidak bisa
digantikan dengan
Beliau melanjutkan di halaman lain (17/138-139):
"Manusia amat butuh kepada perintah, larangan dan qisah-qisah yang ada di dalam al-qur'an kendati tauhid lebih utama dan mulia dibanding itu semua. Maka ketika manusia perlu mengetahui apa saja yang diperintahkan dan apa saja yang dilarang serta pelajaran apa saja yang bisa diambil dari qisah-qisah serta wa'd dan wa'iid: maka masing-masing tidak bisa saling menggantikan kedudukannya. Tauhid tidak bisa menggantikan kedudukan yang ini, qisah tidak bisa menggantikan kedudukan perintah serta larangan, dan perintah serta larangan tidak bisa menggantikan kedudukan qisah. Bahkan Allah menurunkan semuanya karena memang manusia membutuhkannya dan untuk diambil manfaatnya.…
Pengetahuan yang diperoleh dengan membaca seluruh
al-qur'an tidak akan bisa diperoleh dengan semata-mata membaca
Wabillaahi ta'aala
at-taufiiq.
Demikian apa yang mudah dan bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua. Saya teramat sangat menganjurkan ikhwah sekalian untuk menggali lebih jauh lagi dengan merujuk kepada kitab dan penjelasan para ulama tentang masalah ini. Kemudian berbagi bersama di milis kita tercinta ini. Wallahul haadii ila saww'ish shiraath.
Wa aakhiru da'waanaa anil hamdulillahi rabbil a'lamiin.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Petamburan, 11 Ramadhan 1425
25 Oktober 2004
Abu Ishaq As-Sundawy Al-Atsary
------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
