|
ANJURAN MEMPERBAGUS
SHALAT
DAN ANCAMAN BAGI SHALAT TANPA
ATURAN
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani
artikel ini dapat dilihat di http://www.almanhaj.or.id
Pembaca yang budiman.
Kita sekarang sedang dalam bulan
penuh ibadah, dan bulan berpuasa ; yaitu bulan Ramadhan nan penuh berkah.
Hendaknya di dalam bulan puasa ini kita dapat tampil selaku mukmin yang shalih ;
yang taat kepada Rabb-nya, dan mengikuti sunnah Nabi-Nya dalam segala ajaran
yang beliau bawa dari Rabb-nya, terutama yang berkaitan dengan menegakkan ibadah
nan agung ini ; yakni shalat tarawih. Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pernah bersabda.
Kita telah mengetahui, hal-hal
yang baik sekali lewat pembahasan terdahulu dalam tulisan ini. Diantaranya tata
cara shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan Ramadhan dari sisi
kebagusan dan panjangnya. Sebagaimana yang diungkapkan 'Aisyah Radhiallahu 'anha
: " ... beliau shalat empat raka'at ; jangan tanya soal bagus dan
panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka'at ; jangan tanya juga soal
bagus dan panjangnya.." Juga seperti yang diungkapkannya : "..beliau
tak bergeming dalam bersujud, selama kalau seorang diantara kamu membaca lima
puluh ayat .." Atau seperti yang dituturkan oleh Hudzaifah :
"Kemudian beliau membaca surat Al-Baqarah (yakni dalam raka'at pertama),
setelah itu beliau ruku'. Dan ruku'nya itu sama panjang dengan berdirinya tadi
.. " Kemudian ia menceritakan bahwa berdirinya beliau sesudah ruku' dan
sujudnya beliaupun sepanjang/selama itu juga. Kitapun mengetahui, bahwa para
ulama As-Salaf pada masa Umar Radhiallahu 'anhu juga biasa memanjangkan
bacaan pada shalat tarawih, sehingga dalam shalat itu mereka membaca tak kurang
dari tiga ratus ayat, sampai-sampai mereka terpaksa bertelekan pada
tongkat-tongkat mereka karena oleh sebab lamanya berdiri. Dan mereka hanya baru
usai menunaikan shalat menjelang fajar.[1]
Semua ini harus menjadi motivator
bagi kita sekalian untuk sebisa mungkin menjadikan shalat tarawih kita mendekati
kualitas shalat mereka. Hendaknya kita memanjangkan bacaannya, memperbanyak
membaca tasbih dan dzikir dalam ruku', sujud dan diantara keduanya [2], sehingga kita dapat merasakan --meskipun hanya
sedikit-- satu kekhusyu'an yang merupakan ruh dan saripati dari shalat itu
sendiri. Kekhusyu'an inilah yang dilalaikan oleh banyak orang yang melakukan
shalat itu saking bernafsunya mereka mengejar shalat 20 raka'at yang mereka
yakini dari Umar ! Mereka takperdulikan lagi tuma'ninah. Bahkan mereka shalat
ibarat ayam mematuk. Seolah-olah mereka itu alat ataupun perangkat yang naik
turun dengan cepat, sehingga mereka tak sempat lagi merenungkan ayat-ayat Allah
yang mereka dengar. Sampai-sampai orang lainpun hanya bisa mengikuti mereka
kalau berusaha setengah mati !.
Saya ungkapkan hal ini, dengan tetap
menyadari bahwa tidak sedikit diantara para imam masjid pada akhir-akhir ini
yang mulai sadar dengan kondisi shalat tarawihnya yang sudah sampai sedemikian
bobroknya. Merekapun kembali melaksanakannya dengan 11 raka'at yang diimbangi
dengan tuma'ninah dan kekhusyu'an. Semoga Allah menambah taufik-Nya atas mereka
untuk mengamalkan dan menghidupkan As-Sunnah. Orang-orang semacam mereka itu
banyak terdapat di Damaskus dan di tempat-tempat lain.
Hadist-hadits Yang
Menganjurkan Dibaguskannya Shalat, Serta Mengancam Shalat Yang Tanpa
Aturan
Sebagai support bagi mereka agar
terus memperbagus dan menambah kualitas shalat, serta sebagai peringatan bagi
mereka untuk tidak shalat serampangan, saya akan membeberkan beberapa hadits
shahih yang diriwayatkan berkaitan dengan anjuran memperbagus shalat dan ancaman
terhadap mereka yang shalat tanpa aturan. Saya katakan.
Yang pertama :
Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu diceritakan bahwa seorang lelaki
pernah masuk masjid dan shalat, sedangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
berada di pojok masjid tersebut. (Seusai shalat) Ia mendatangi beliau
seraya mengucapkan salam. Setelah menjawab salamnya, beliau bersabda :
"Shalatlah kamu,sesungguhnya tadi kamu belum shalat ". Orang itu balik
lagi dan kembali shalat. Lalu menemui beliau lagi dan memberi salam. Setelah
menjawab salamnya, beliau bersabda lagi : "Shalatlah kamu, sesungguhnya kamu
belum lagi shalat". Pada kali yang ketiga lelaki itu berujar : "Tolong
ajarkan aku". Beliaupun bersabda :
"Apabila kamu hendak shalat, maka
berwudhulah dengan sempurna kemudian menghadaplah kearah kiblat dan
bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur'an yang mudah bagimu, kemudian ruku'lah,
hingga kamu tuma'ninah dalam ruku'. Lalu tegaklah berdiri, hingga kamu berdiri
lurus. kemudian bersujudlah hingga kamu tuma'ninah dalam sujud. Lalu bangkitlah
dari sujud hingga kamu tuma'ninnah dalam duduk. Kemudian bersujud lagi hingga
kamu tuma'ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah dari sujud, hingga kamu tegak
berdiri. Kemudian lakukanlah itu dalam shalat kamu seluruhnya".
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (II :
1919, 219, 222, XI : 31, 467) Muslim (II : 10,11) dan lain-lain.
Yang kedua :
Dari Abu Mas'ud Al-Badri, bahwa ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (I :
136), An-Nasa'i (I : 157), At-Tirmidzi (II : 51), Ibnu Majah (I : 284),
Ad-Darimi (I : 304), Ath-Thahawi dalam "Al-Musykil" (I : 80),
Ath-Thayalisi (I : 97), Ahmad (IV : 119) dan Ad-Daruquthni (hal 133) dan
beliau berkomentar :
"Sanadnya shahih sekali". Dan memang
demikianlah adanya. Al-A'masy jelas meriwayatkannya dengan ucapan : "Telah
berbicara kepadaku ..." dalam riwayat Ath-Thayalisi.
Yang ketiga :
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Dikeluarkan oleh Al-Hakim (I : 229),
beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Hadits itu juga memiliki
penguat dari hadits Abu Qatadah dan yang lainnya dalam riwayat Imam Malik (I :
181) dari hadits Nu'man bin Murrah. Sanadnya shahih, tapi Mursal (terputusnya
sanad dari Malik hingga Rasul). Riwayat lain oleh Ath-Thayalisi, dari hadits Abu
Sa'id (I : 97) dan dishahihkan oleh Imam As-Suyuthi dalam bukunya "Tanwirul
Hawalik".
Yang keempat :
Dari para panglima perang ; Amru bin Al-'Ash, Khalid bin Al-Walid, Syurahbil bin
Hasanah dan Yazid bin Abu Sufyan ; mereka semua bertutur.
Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam
"Al-Arba'in", Al-Baihaqi (II : 89) dengan derajad sanad yang hasan.
Al-Mundziri berkomentar (I : 182) :"Hadits ini diriwayatkn oleh Ath-Thabrani
dalam "Al-Kabir" dan Abu Ya'la dengan sanad yang hasan serta Ibnu
Khuzaimah dalam shahihnya.
Yang kelima :
Dari Thalaq bin Ali Radhiallahu 'anhuma bahwa beliau berkata :
Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa sallam berbsada :
Dikeluarkan oleh Ahmad (IV :
22), Ath-Thabrani dalam "Al-Kabir", Adh-Dhayya Al-Maqdisi dalam
"Al-Mukhtarah" (II : 37) dan derajad sanadnya shahih. Hadits itu
memiliki penguat dalam "Al-Musnad" (II : 525). Para perawinya
terpercaya dan dishahihkan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dalam "Takhriju
Al-Ihya" (I/132). Al-Mundziri berkomentar (I: 183) : "Sanadnya bagus !"
[3]
Yang keenam :
Dari Ammar bin Yasir Radhiallahu 'anhu bahwa beliau berkata : Aku
pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.
Diriwayatkan oleh Abu Daud (I : 127),
Al-Baihaqi (II : 281) dan Ahmad (IV : 319-321), dari dua jalur sanad. Salah
satunya dishahihkan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dan dikeluarkan oleh Ibnu HIbban
dalam Shahihnya, sebagiamana juga dinyatakan dalam "At-Taqrib"
(I: 184)
Yang ketujuh :
Dari Abdullah bin Asy-Syikhir, bahwa ia bertutur :
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (I :
243), An-Nasa'i (I : 179), Al-Baihaqi (II : 251), dan Ahmad (IV : 25,26) dengan
derajad sanad yang shahih berdasarkan persyaratan Muslim. Diriwayatkan juga oleh
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban masing-masing dalam Shahihnya,
sebagainya juga diriwayatkan dalam "Shahih At-Trghib wa At-Tarhib" (No.
5445).
Hadits-hadits nan mulia ini, secara
umum dan bebas meliputi seluruh jenis shalat. Baik itu shalat wajib maupun
sunnat, baik itu siang maupun malam. Sehubungan dengan shalat tarawih, para
ulama telah mengingatkan pentingnya hal ini. Imam An-Nawawi dalam
"Al-Adzkar" (IV : 297) dengan penjelasan Ibnu 'Allan pada bab
dzikir-dzikir shalat tarawih menyatakan :
"Tata cara shalat ini (tarawih)
seperti juga shalat-shalat yang lain yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka
didalamnya disyari'atkan do'a-do'a tersebut, seperti doa Al-Istiftah, membaca
dengan sempurna dzikir-dzikir yang lain, melengkapinya dengan tasyahud dan doa
sesudahnya serta hal-hal yang lain. Hal ini, meskipun dhahirnya sudah kita
ketahui, namun saya sengaja mengingatkannya karena saya lihat kebanyakan manusia
meremehkannya, sehingga mereka meninggalkan sebagian dzikir-dzikirnya. Padahal
yang benar adalah apa yang telah kami paparkan".
Al-Amiri dalam "Bajhatul Mahafil
wa Bughyatu Al-Amatsil fi Talkhisi As-Siyari wal Mu'jizati wa Asy-Syamail"
Pada akhir buku itu menyatakan :
Termasuk kekeliruan yang perlu
diperhatikan dan diingat-ingat adalah apa yang menjadi kebiasaan banyak
para imam shalat tarawih, dimana mereka membaca ayat dengan cepat, melakukan
rukun-rukunnya dengan diringan-ringankan, dan membuang dzikir-dzikir didalamnya.
Padahal para ulama telah menyatakan : Tata cara shalat itu tak beda dengan
shalat-shalat lainnya, baik dalam syarat, adab-adab dan dzikir-dzikirnya,
seperti ; do'a istiftah, dzikir-dzikir pada setiap rukun, doa seusai tasyahud,
dan lain-lain. Diantaranya lagi, kebiasaaan mencari-cari ayat "Rahmat",
dimana mereka hanya ruku' setelah membaca ayat-ayat tersebut. Terkadang hal itu
menggiring mereka untuk melalaikan dua hal penting yang termasuk adab-adab
shalat dan bacaan, yaitu : Lebih memanjangkan raka'at pertama
dari kedua, dan memahami makna firman Allah yang saling terkait satu
dengan yang lain. Penyebab semua adalah : Sikap meremehkan
sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga hilanglah
sunnah-sunnah itu, karena jarang digunakan. Sehingga orang yang
menggunakannya malah dianggap asing ditengah umumnya manusia, karena menyelisihi
kebiasaan mayoritas, dan itu akibat kerusakan zaman. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam sendiri pernah mengingatkan :
Maka hendaknya, kita sekalian
berpegang teguh pada As-Sunnah. Kita harus berupaya menggapainya ; barangsiapa
yang mengikuti kita (dalam As-Sunnah) maka ia akan berhasil, selamat dan
bahagia. As-Sayyid Al-Jalil Abu Ali Al-Fudhail bin Iyyadh Rahimahullahu
Ta'ala wa Radhiallahu 'anhu - semoga Allah melimpahkan manfaat karena
beliau-- menyatakan :
Disalin dari buku Shalatu At-Tarawih,
edisi Indonesia Shalat Tarawih Penyusun Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani,
terbitan Pustaka At-Tibyan hal. 151-162, Penerjemah Abu Umar Basyir
Al-Maidani
Foote Note.
------------------------------------------------------------------------ Website Islam pilihan anda. http://www.assunnah.or.id http://www.almanhaj.or.id Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
|
