Assalammualaikum......
Akhi, berikut artikel ilmiah Harun Yahya : Menjawab Tuntas Polemik Evolusi.
Wasssalam
Yulia Esterlita
Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari
apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkau Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana." (QS. Al Baqarah, 2: 32)
-----------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL 1
SERANGKAIAN KESALAHAN BESAR MENGENAI KECERDASAN MONYET
Teve National Geographic menayangkan dua film dokumenter pada bulan April
2003 dalam edisi Eropa, berjudul A Tale of Three Chimps (Kisah Tiga Simpanse)
dan My Favorite Monkey (Monyet Kesukaanku). Dokumenter-dokumenter tersebut
menunjukkan kemiripan yang jelas mengenai pesan yang ingin mereka sampaikan.
Penayangan berkelanjutan dokumenter-dokumenter ini oleh Televisi National
Geographic, isi serta waktunya menunjukan bahwa propaganda evolusionis yang
sangat terencana sedang berlangsung.
Saluran ini, yang pada bulan Maret 2003 menyajikan pada kita dongeng tentang
"anjing yang masuk ke laut dan menjadi seekor paus" dan "ikan yang merayap ke
darat untuk meninggalkan laut dan tumbuh kakinya" dalam Great Transformations
(Perubahan-perubahan Besar), saat ini menawarkan kita cerita lain dan mencoba
menanamkan apa yang disebut sebagai evolusi manusia.
Dokumenter "A Tale of Three Chimps" yang menggambarkan simpanse-simpanse yang
bekerja di sirkus, dan "My Favorite Monkey" adalah tentang hewan macaque
berekor. Keseluruhan tayangan kedua film tersebut banyak memberikan contoh
yang memperlihatkan perilaku cerdas pada monyet, dan kesan yang diberikan
adalah karena monyet dianggap sebagai kerabat dekat manusa, kecerdasan mereka
tentunya tinggi.
Tujuan penulisan artikel ini adalah mengungkap pemahaman-pemahaman Darwinisme
yang membelenggu kedua tayangan dokumenter tersebut.
Klaim Bahwa Simpanse dan Manusia Berkerabat atau Memiliki hubungan Genetika
adalah Tidak Benar
Tepat pada bagian awal film ini terdapat pernyataan bahwa simpanse adalah
"Kerabat Spesies" manusia dan dikatakan bahwa para ilmuwan menyadari
kemiripan-kemiripan antara kedua spesies sebelum kemiripan genetika mereka
dapat dibuktikan.
Pandangan Teve National Geographic TV's tentang monyet sebagai "Kerabat
Spesies" manusia tidak lebih dari prasangka pendukung Darwin dan tidak
berdasar pada penemuan-penemuan ilmiah. Sama sekali tidak ada bukti yang
mendukung klaim bahwa manusia dan kera berevolusi dari satu nenek moyang.
Menghadapi gambaran yang dihasilkan oleh catatan fosil, palaentologis
evolusionis mengakui bahwa mereka telah meninggalkan harapan untuk menemukan
"rantai yang hilang" antara manusia dan simpanse.
Pengakuan bahwa "kemiripan genetis" antara manusia dan kera telah dipastikan
merupakan sebuah penipuan, murni dan sederhana. Kemiripan genetic adalah
sebuah skenario yang dihasilkan dari penyimpangan data mengenai DNA manusia
dan simpanse dengan maksud mendukung Darwinisme. Meskipun demikian, skenario
ini memang busuk sampai akar-akarnya, karena mengakui bahwa DNA muncul dengan
cara mutasi evolusi acak. Meskipun demikian, kenyataannya adalah efek mutasi
pada organisme, tidak dapat dipungkiri, membahayakan, dan bahkan sebagian
dari hasil mutasi berakibat fatal. DNA mengandung informasi berarti yang
terekam dalam suatu sistem sandi istimewa. Mutasi acak tidak mungkin dapat
menambahkan informasi baru pada DNA suatu organisme dan merubahnya menjadi
spesies baru. Seluruh eksperimen dan observasi tentang mutasi menunjukkan hal
tersebut.
Lebih lanjut, kesalahan angka yang diajukan dalam propaganda kemiripan
genetic ini juga telah muncul dalam penemuan-penemuan ilmiah baru dalam
bulan-bulan terakhir. Penemuan oleh ahli genetika California Institute of
Technology telah menunjukkan bahwa perbedaan genetic antara manusia dan
simpanse tiga kali lebih besar dibandingkan yang selama ini telah diklaim.1
Telah ditunjukkan bahwa tidak ada bukti ilmiah mengenai hal yang sangat
sering ditekankan dalam propaganda evolusionis.
Dokumenter Televisi National Geographic, "My Favorite Monkey," menyatakan
bahwa manusia dan kera memiliki kemiripan faal, dan hal ini dilihat sebagai
bukti evolusi. Diberikan ruang bagi seorang dokter hewan untuk berkomentar
mengenai seekor monyet yang dibawa kepadanya untuk pengobatan. Dokter hewan
ini menyatakan bahwa beberapa obat yang digunaknnya pada monyet itu
sebenarnya adalah obat untuk manusia, dan mengutip hal tersebut sebagai bukti
bahwa kedua spesies tersebut memiliki hubungan kekerabatan.
Meskipun demikian, kenyataan bahwa obat-obatan terbukti ampuh pada kedua
spesies tidak memberikan bukti apapun bagi teori evolusi. Perbandingan
semata-mata dibuat seseorang sesuai dengan persangkaan-persangkaan pengikut
Darwin. Secara alami zat-zat kimia serupa memang seharusnya berguna untuk
manusia dan kera. Kedua spesies hidup di biosfir yang sama dan memiliki
molekul-molekul organik berdasar karbon yang sama. Kesamaan struktur ini
bukan hanya dimiliki manusia dan kera, tapi juga seluruh alam. Misalnya,
manusia memproduksi obat-obatan dari darah kepiting ladam ("horseshoe crab").
Namun bukan berarti manusia dan kepiting ladam memiliki hubungan kerabat.
Di sisi lain, transplantasi ginjal yang dilakukan dari simpanse ke manusia
menunjukan pukulan telak bagi klaim mengenai kemiripan fungsi faal tubuh. Dr.
Keith Reemtsma dari Tulane University melakukan lebih dari selusin
transplantasi dari simpanse ke manusia pada tahun 1963, namun semua pasiennya
meninggal.2 Hal itu disebabkan metabolisme simpanse bekerja lebih cepat, oleh
alas an tersebut sehingga menyebabkan sel-sel dalam jaringan ginjal simpanse
menyerap air dengan cepat dalam tubuh manusia penerima organ.
Siasat Propaganda Teve National Geographic
Siasat propaganda sangat sering menjadi usaha dalam tayangan-tayangan
dokumenter dari Televisi National Geographic yang berisi contoh-contoh
perilaku cerdas kera dan kemudian menggambarkan perbandingan antara mereka
dan manusia. Siasat ini dapat dilihat dalam pernyataan-pernyataan seperti
"mereka adalah hewan-hewan cerdas", "kebutuhan mereka sangat mirip dengan
manusia" dan "seperti kita, mereka merasakan kebutuhan terhadap ikatan
pribadi dan hubungan antar-pribadi".
Komentar-komentar dalam My Favorite Monkey menyebutkan bahwa kera memberikan
penyelesaian kreatif terhadap masalah-masalah di alam dan bahwa mereka adalah
penyelesai masalah yang cerdas. Juga dikatakan bahwa batas antara tingkah
laku manusia dan kera boleh jadi tidak begitu jelas.
Dalam pengisahan lainnya, dikatakan bahwa mereka secara fisik menggambarkan
diri kita, kita menggunakan mereka dalam penelitian ruang angkasa dan medis.
Selain itu, mereka menggambarkan diri kita secara social, namun kita
merahasiakannya. Kehidupan keluarga sangat penting bagi anggota spesies
macaque dan hubungan kekerabatan kita sangat dekat sehingga .
Namun ketidakonsistenan dalam penyusunan hubungan evolusi antara manusia dan
kera dalam hal kecerdasan dan hubungan antar-pribadi sangatlah terbukti. Ada
hewan-hewan lain yang jauh lebih hebat dari kera dalam hal kecerdasan dan
hubungan. Lebah, misalnya, dapat menggunakan teknik arsitektur dalam
membangun sarang mereka, yang ketepatannya hanya dapat dihitung dengan
perhitungan matematis.3 Suatu rencana geometris dapat dilihat pada sarang,
yang memungkinkan jumlah material paling sedikit digunakan dalam
pembentukannnya namun menghasilkan tempat terluas sebagai ruang penyimpanan.
(Untuk mengetahui rancangan "optimal" luas dan keliling dari berbagai bentuk
geometris harus dihitung, dan bentuk geometris dengan perbandingan
luas/keliling tertinggi harus dipilih).
Dengan cara yang sama, berang-berang dapat membangun sarang mereka menentang
aliran air di tengah sungai, menggunakan kemampuan teknik yang digunakan
manusia dalam membangun bendungan.4
Rayap membangun menara yang mengagumkan sebanding dengan gedung pencakar
langit buatan manusia, dan membuat system pendingin udara, kamar-kamar
penyimpanan dan wilayah pertanian di dalamnya. Faktanya, tentu saja, bahwa
hewan-hewan ini menunjukkan pengetahuan matematis dan geometris yang kasat
mata dalam bangunan-bangunannya serta menggunakan cara-cara teknis tidak
menunjukkan bahwa kita berkerabat dengan lebah, berang-berang dan rayap.
Kenyataan bahwa monyet merasa membutuhkan ikatan dan hubungan antar pribadi
juga bukan merupakan bukti terjadinya evolusi. Makhluk yang tidak memiliki
kemungkinan kekerabatan dengan manusia juga menikmati ikatan dan hubungan
sejenis. Pinguin, misalnya, membesarkan keluarganya dengan penuh cinta dan
kesetiaan. Anjing jauh lebih setia dan bersahabat dalam hubungannya dengan
manusia. Merpati menikmati hubungan dekat dengan pasangannya. Parkit
Australia menunjukkan minat dan kesetiaan satu sama lain, dan juga pada
manusia. Meskipun demikian, sifat-sifat ini tidak membuat penguin, merpati,
parkit Australia, dan anjing kerabat kita.
Di sisi lain, hewan-hewan ini menguak ketidakvalidan klaim teori evolusi
tentang asal usul kecerdasan dan tingkah laku mereka. Meskipun kenyataannya
makhluk-makhluk tersebut berada pada pohon evolusi khayalan yang lebih jauh
dari manusia dibandingkan simpanse, hewan-hewan ini masih dapat menunjukkan
tingkah laku yang jauh lebih mendekati kecerdasan manusia daripada simpanse.
Lebah madu mengungkap sebuah kontradiksi lain yang tidak dapat diperhitungkan
oleh teori evolusi. Teori ini memperhitungkan tingkat kecerdasan berdasarkan
perkembangan sistem syaraf. Misalnya, kenyataan bahwa manusia adalah makhluk
hidup yang paling berkembang dihubungkan dengan perbandingan otak/tubuhnya
yang tertinggi.
Berdasarkan logika ini, simpanse, yang memiliki system syaraf yang lebih
rumit daripada lebah, seharusnya lebih superior daripada lebah. Namun,
kenyataannya malah sebaliknya. Kenyataan bahwa makhluk hidup yang lebih jauh
letaknya dari manusia di pohon evolusi khayalan dibandingkan simpanse mampu
menunjukkan tingkah laku dengan tingkat kerumitan yang sama dengan manusia,
meskipun makhluk ini lebih rendah tingkatannya - misalnya, caranya menghitung
luas dan keliling heksagon (segi enam) dan mengukur sudut-sudut dalamnya -
benar-benar meruntuhkan pengakuan evolusioni tentang kecerdasan kera.
Hati-Hati dengan Penyimpangan Tentang Kebiasaan Monyet
Dalam dokumenter My Favorite Monkey tersirat bahwa monyet berekor bernama
macaque memiliki kemampuan mengembangkan tingkah laku rumit, dan
mengajarkannya pada monyet-monyet lain dan mewariskannya kepada generasi
selanjutnya. Ini digambarkan sebagai "kebiasaan monyet", karena arti
kebiasaan adalah tingkah laku yang dipelajari.
Mungkin saja untuk mengatakan bahwa model tingkah laku yang tidak umum pada
suatu spesies merupakan sebuah 'kebiasaan'. Namun, sebagaimana telah kami
sebutkan di atas, tingkah laku yang "mirip manusia" atau kebiasaan "mirip
manusia" dalam sisi-sisi tertentu makhluk hidup lagi-lagi bukan merupakan
bukti teori evolusi.
Teve National Geographic terlibat dalam dua penyimpangan besar dalam hal ini.
Pertama, contoh mengenai seekor macaque yang mencuci kentang berpasir di laut
sebelum memakannya. TV engages in two major distortions here. Kedua, seekor
macaque dewasa dengan paksa merebut batu yang tengah dimainkan dari tangan
monyet yang lebih muda.
Disebutkan bahwa mencuci kentang dalam air adalah tingkah laku yang berawal
dari seekor macaque dalam kelompok itu, yang kemudian mengajarkannya kepada
yang lain. Ini dianggap sebagai sebuah kebiasaan. Pengambilan batu yang
sedang dimainkan macaque muda oleh macaque dewasa dianggap sebanding dengan
anak-anak yang bermain di taman bermain yang saling berebut mainan. Juga
dikatakan bahwa cara macaque dewasa menunjukkan kekuatannya dengan merebut
batu dari hewan yang lebih muda menunjukkan bahwa macaque mengaitkan batu
tersebut dengan penghargaan masyarakat.
Kenyataan bahwa seekor monyet membersihkan "seperti manusia" dan menunjukkan
kebiasaan memamerkan sebuah "mainan" tidak dapat dijadikan bukti evolusi.
Para evolusionis terus-menerus terpaku pada kebiasaan monyet, dan terbiasa
menggambarkan kebiasaan monyet tersebut dimiliki oleh seluruh monyet,
berdasarkan hubungan tertentu antara monyet yang satu dengan yang lain.
Tujuannya di sini adalah mematri pemahaman masyarakat bahwa kebiasaan manusia
adalah sebuah fenomena yang muncul melalui evolusi, dan di antara hewan-hewan
yang paling dekat tingakatannya dengan kebiasaan manusia ditunjukkan oleh
monyet.
Namun lebah liar yang dikenal dengan nama schwarzula atau semut pemotong daun
(leafcutter ant) menunjukkan kebiasaan yang lebih rumit - bertani. Schwarzula
"beternak" dengan menggunakan sekresi dari sejenis larva yang dikumpukan di
sarangnya. Semut pemotong daun "bertani" dengan menumbuhkan jamur.5 Jenis
semut lain mengumpulkan damar daei pohon-pohon dan menggunakannya sebagai
antiseptik untuk membersihkan sarangnya dari kuman. Ini merupakan pertanda
"kebiasaan pengobatan". Bukti bahwa makhluk hidup, yang (menurut para
evolusionis) "lebih sederhana" dibanding kera dan lebih jauh kedudukannya
dari manusia dibandingkan kera, dapat menunjukkan contoh kebiasaan yang rumit
cukup untuk meruntuhkan pengakuan kaum evolusionis tentang hubungan antara
"kebiasaan Monyet" dengan manusia.
Sebagaimana telah kita lihat, penyimpangan Teve National Geographic tidak
cukup, menurut teori evolusi, untuk menjelaskan tingkah laku dan kebiasaan
hewan yang mirip dengan manusia. Selain itu, contoh-contoh tingkah laku dan
kebiasaan lebah, semut, berang-berang, anjing dan merpati menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak akan dapat terjawab dengan teori
evolusi: Bagaimana makhluk-makhluk ini menemukan keterangan yang diperlukan
untuk mencapai tingkah laku yang begitu rumit? Bagaimana mereka dapat
menerjemahkan keterangan tersebut? Bagaimana serangga-serangga kecil itu
dapat menunjukkan tingkah laku yang lebih rumit daripada kera, yang dianggap
kerabat terdekat manusia?
Anda dapat menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini pada seorang evolusionis
pilihan Anda. Sudah dapat dipastikan bahwa jawabannya akan menunjukkan
kebingungan yang mereka hadapi. Mereka yang lebih berpengalaman akan mencoba
menyembunyikan hal ini dengan mengatakan bahwa tingkah laku tersebut
tergantung pada "naluri". Namun alasan ini gagal menyelematkan teori yang
menghadapi jalan buntu. "Naluri" tidak lebih dari sebuah nama yang dibuat
untuk kebingungan evolusi ini.
Jelas sekali bahwa naluri tidak berasal dari makhluk hidup itu sendiri,
melainkan diilhami oleh kecerdasan yang lebih tinggi. Dialah Allah Yang
mengilhami tingkah laku lebah, berang-berang, anjing, merpati dan simpanse.
Setiap makhluk hidup menunjukkan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan
baginya. Kenyataan bahwa simpanse adalah hewan, yang mengagumkan bagi manusia
dan dapat menaati perintah, lahir dari ilham yang diturunkan Allah padanya.
Kebenarannya dapat dilihat dalam ayat Quran, "Rabb-mu mengilhamkan kepada
lebah." (Qur'an, 16:68)
Kesalahan Besar Menganai Monyet dari Teve National Geographic
Klaim yang diajukan dalam perbandingan antara macaque berekor dengan manusia
dalam dokumenter "My Favorite Monkey" sangat tidak konsisten sehingga film
memberikan kesan telah disiapkan sebagai hiburan bagi anak-anak.
Misalnya:
Monyet percoban yang dikirim ke ruang angkasa disebut sebagai pahlawan, dan
kita diberitahu bahwa, seandainya tidak ada mereka, manusia tidak akan pernah
dapat melakukan lompatan besar ke ruang angkasa sebagaimana yang telah
dilakukannya.
Pernyataan ini sama-sekali tak berdasar. Monyet yang dikirim ke ruang angkasa
tidak "berhasil" melakukan apapun. Roket dimana mereka diletakkan diatur dari
bumi, dan monyet-monyet ini hanya diikat kuat-kuat di ruang pesawat dan
digunakan sebagai bahan penelitian. Lebih jauh lagi, jika kita diijinkan
mengukur kepahlawanan pada hewan-hewan percobaan yang digunakan dalam
penelitian ruang angkasa, maka tikus dan anjing harus juga disertakan, kaena
hewan-hewan ini juga digunakan dalam pesawat yang dikirim ke ruang angkasa.
Juga dinyatakan dalam My Favorite Monkey bahwa kera telah banyak digunakan
manusia dalam bidang kedokteran. Kita diberi tahu bagaimana, hasil dari
penelitian mengenai rhesus monyet, uji Rh telah berkembang. Meskipun begitu,
jelas sekali bahwa penggunaan hewan dalam penelitian kedokteran tidak membuat
mereka kerabat manusia, sebagaimana penggunaan bakteri dalam pengembangan
antibiotik juga tidak membuat mereka kerabat manusia.
Dalam dokumenter yang sama, sebuah perbandingan dibuat antara cara monyet
saling merawat diri mereka untuk mengatasi kutu dan parasit dengan cara
manusia pergi ke penata rambut, dan ditimbulkan kesan bahwa pergi ke penata
rambut merupakan tingkah laku social yang sebanding dengan mencari kutu.
Klaim ini mewakili salah satu "contoh jelas" cara khayalan Darwinis Televisi
National Geographic tidak tahu batas. Mungkin dalam program-program
selanjutnya khayalan kreatif semacam ini dapat digunakan dalam spekulasi
mengenai asal mula kebiasaan manusia pergi ke bioskop dengan menunjukkan dua
kelompok kera, salah satu menonton kelompok yang lain bermain. Tentu saja,
jika rayap tidak ditemukan dengan kemampuan mereka membuat bangunan dan tidak
disebut sebagai nenek moyang terdekat manusia!
Macaque yang melompat ke atas jet ski, atau duduk dan makan di rumah makan
bersama pemilik mereka tidak membuat mereka kerabat manusia. Jelas sekali
bahwa tingkah laku ini tidak berakar dari tatacara dan kebiasaan kera.
Tingkah laku ini merupakan hasil dari pelatihan dengan hukuman dan hadiah,
dan tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan pertunjukan sirkus.
Tentu saja anjing, burung dan lumba-lumba juga digunakan dalam
pertunjukan-pertunjukan ini dan menunjukkan kemampuan yang mengagumkan. Teve
National Geograpic menggunakan dan menyimpangkan gambaran tentang monyet
untuk menanamkan dalam pandangan masyarakat pendapat yang digembar-gemborkan
evolusi bahwa monyet adalah kerabat terdekat manusia.
Kesimpulan
Dokumenter-dokumenter ini disiarkan di Teve National Geographic sekali lagi
menunjukkan bahwa saluran ini adalah pendukung Darwinisme yang buta dan
dogmatis. Klaim yang diajukan mengenai tingkah laku dan kecerdasan hewan sama
sekali tidak menunjukkan pernyataan ilmiah sedikitpun. Saluran ini, yang
menyatakan bahwa kera yang dikirim ke ruang angkasa sebagai pahlawan dan
mencoba membangun hubungan evolusi antara monyet yang saling merawat tubuhnya
dengan manusia yang pergi ke salon, mencoba untuk menutupi klaim dengan
berkedok ilmiah yang akan menjadi bahan tertawaan, bahkan oleh anak-anak.
Kami mengusulkan apabila saluran ini ingin membela teori evolusi, mereka
seharusnya mencoba mencari argumen yang lebih masuk akal untuk melakukannya.
-----------------------------------------------------------------------------
ARTIKEL 2
KISAH BOHONG DARI SALURAN NATIONAL GEOGRAPHIC
Dokumenter Humans: Who Are We? (Manusia: Siapakah Kita?), salah satu
dokumenter yang disiarkan oleh Saluran National Geographic (NGC), berisi
skenario mitos evolusi yang paling terkenal. Kesalahan dan penipuan ilmiah
dalam dokumenter ini dijelaskan sebagai berikut.
Pertentangan NGC dan Pandangan Lamarck Tentang Evolusi
Dalam dokumenter di NGC, mula-mula terdapat pengantar dari antropolog Ian
Tattersall. Diantara pernyataan awalnya adalah pendapat, "Human evolution did
not happen as the result of needs, it was entirely coincidental." ("Evolusi
manusia tidak terjadi arena kebutuhan, melainkan benar-benar kebetulan")
Namun kebutuhan yang mungkin telah menyebabkan manusia-kera berevolusi
menjadi manusia kemudian digambarkan berulang kali dalam menit-menit
penayangan selanjutnya. Inilah salah satu kontradiksi yang paling jelas dalam
keseluruhan acara.
Sebenarnya, kontradiksi seperti ini dialami oleh banyak evolusionis, bukan
hanya NGC atau Ian Tattersall. Untuk menjelaskan lebih lanjut akan hal ini.
Mari kita simpulkan perbedaan antara konsep "evolusi sebagai akibat
kebutuhan" dan "evolusi sepenuhnya sebagai hasil sebuah kebetulan" (meskipun
keduanya nyata-nyata dongeng tidak ilmiah).
Sebelum Darwin, figur penting lain mengajukan model evolusi dalam subyek
tentang asal-usul makhluk hidup: ahli biologi Perancis Jean-Baptiste Lamarck.
Pendapat Lamarck agak berbeda dengan pandangan evolusionis masa kini. Dalam
pandangannya, keharusan atau kebutuhan mempengaruhi organ-organ hewan itu
sendiri. Mari kita lihat ilustrasi pendapat Lamarck dengan contoh leher
jerapah. Menurut teorinya, leher jerapah pertama sama panjangnya dengan leher
kijang atau rusa. Namun, jerapah yang mengalami kekurangan makanan berusaha
mencapai sumber makanan yang lebih banyak di pohon-pohon yang lebih tinggi.
Suatu kebutuhan telah muncul. Sebagai akibatnya, leher jerapah yang ingin
mencapai puncak-puncak pohon tumbuh lebih panjang.
Lamarckisme mendasarkan pendapatnya pada "penurunan sifat bawaan". Dengan
kata lain, jerapah yang mencoba mencapai pohon-pohon yang tinggi selama
hidupnya seharusnya dapat menurunkan sifat ini kepada keturunannya. Namun,
dengan penemuan hukum genetika, dapat dilihat bahwa sifat yang didapat tidak
dapat diturunkan sama sekali.
Sebagai akibatnya, Lamarckisme telah dianggap tidak sesuai secara ilmiah di
awal abad keduapuluh. Namun evolusionis terus mengajukan pandangan-pandangan
Lamarck dari waktu ke waktu. Di satu fihak ketika terjadi kritik pedas
terhadap Lamarck, skenario mereka mengenai asal-usul kehidupan masih
menunjukan tanda-tanda kekuatannya. Mitos tentang kaki depan yang bebas untuk
membuat perlengkapan, membuat manusia menjadi makhluk bipedal (berjalan
dengan dua kaki), pendapat bahwa manusia Neanderthal berevolusi agar dapat
hidup di iklim dingin, sebagaimana diajukan oleh NGC, dan bahwa
Australopithecus berevolusi agar beradaptasi dengan lingkungannya saat hutan
lebat mulai menipis -semuanya berpegang pada asumsi bahwa evolusi terjadi
karena kebutuhan.
Alasan mengapa pendkung evolusi menggunakan istilah-istilah paham Lamarck di
satu sisi, sementara di sisi lain mengkritik pendapatnya habis-habisan,
adalah: Menurut teori evolusi, agar seekor monyet dapat berdiri di atas kedua
kakinya, misalnya, ia harus mengalami mutasi yang akan menyebabkan perubahan
sensitif pada kerangkanya, dan lebih jauh lagi tidak akan menyebabkan
kerusakan apapun. Hal ini dalam skenario apapun tidak mungkin terjadi.
Membutuhkan mutasi kebetulan yang terjadi pada waktu yang tepat saat makhluk
hidup tersebut sedang membutuhkannya, dan ini harus terjadi berulangkali lagi
pada anggota spesies yang sama, sehingga menyebabkan perkembangan sedikit
demi sedikit setiap kali. Ketidakmungkinan skenario ini hanya mempertegas
hal-hal tidak masuk masuk akal dari seluruh konsep evolusi.
Di muka umum evolusionis menolak untuk mengatakan bahwa "ada evolusi yang
terjadi karena kebutuhan", namun dibawahnya, mereka sebenarnya mendukung
pendapat ini.
Australopithecus Adalah Spesies Kera, dan Tidak Bipedal
Menurut NGC, spesies yang dikenal sebagai Australopithecus adalah nenek
moyang manusia pertama yang berjalan tegak. Namun klaim ini tidak benar.
Seluruh spesies Australopithecus adalah kera yang punah yang mirip dengan
kera saat ini. Kapasitas tengkoraknya sama atau lebih kecil dari simpanse
yang ada saat ini. Terdapat bagian yang menonjol pada bagian tangan dan
kakinya yang digunakan untuk memanjat pohon, seperti halnya simpanse-simpanse
sekarang, dan bentuk kakinya berguna untuk menggenggam ranting. Spesimen
Australopithecus bertubuh pendek (maksimal 130 cm) dan, sebagaimana halnya
kera masa kini, jantannya jauh lebih besar daripada betinanya. Banyak
sifat-sifat lain-seperti detil tengkoraknya, kedekatan letak matanya, gigi
gerahamnya yang tajam, bentuk rahangnya, lengan-lengannya yang panjang, dan
tungkai-tungkainya yang pendek-menjadi bukti bahwa makhluk-makhluk tersebut
tidak berbeda dengan kera yang ada saat kini.
Pendapat NGC bahwa Australopithecus berjalan tegak adalah pandangan yang
dipegang oleh palaeontolog seperti Richard Leakey dan Donald C. Johanson
selama puluhan tahun. Namun banyak ilmuwan yang telah melakukan sejumlah
besar penelitian tentang bentuk kerangka Australopithecus telah membuktikan
tidak validnya pendapat ini. Penelitian besar-besaran yang dilakukan pada
berbagai spesimen Australopithecus oleh dua ahli anatomi tingkat dunia dari
Inggris dan Amerika, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard,
menunjukkan bahwa makhluk-makhluk tersebut tidak berjalan tegak seperti cara
manusia, dan bergerak sebagaimana halnya kera modern. Setelah mempelajari
tulang-belulang fosil-fosil ini selama 15 tahun dengan biaya dari pemerintah
Inggris, Lord Zuckerman dan kelompoknya yang terdiri dari lima spesialis
mencapai kesimpulan bahwa Australopithecus hanyalah spesies kera biasa, dan
sama sekali tidak berjalan dengan dua kaki-meskipun Zuckerman sendiri adalah
seorang evolusionis. 1 Bersamaan dengan itu, Charles E. Oxnard, yang juga
seorang ahli anatomi evolusionis terkenal dalam penelitiannya dalam masalah
ini, juga menyatakan kemiripan antara Australopithecus dengan orang utan masa
kini.2
Mungkin penelitian terpenting yang menunjukkan bahwa Australopithecus tidak
mungkin bipedal muncul di tahun 1994 dari seorang ahli peneliti anatomi Fred
Spoor dan kelompoknya di Universitas Liverpool, Inggris. Kelompok ini
melakukan penelitian mengenai bagian dalam telinga spesimen fosil
Australopithecus. Di bagian dalam telinga manusia dan makhluk hidup tingkat
tinggi lainnya, ada organ bernama "koklea" yang menentukan posisi tubuh dari
tanah. Fungsi organ ini, yang mengatur keseimbangan manusia, sama dengan
"gyroscope," yang mengatur ketinggian terbang pesawat. Fred Spoor menyelidiki
mekanisme keseimbangan tak sadar yang ditemukannya dalam organ berbentuk
seperti "rumah siput" ini, dan penemuannya sampai kesimpulan bahwa
Australopithecus quadrupedal (berjalan dengan empat kaki).3
Ini berarti Australopithecus adalah spesies kera yang punah dan tidak ada
hubungannya dengan manusia.
Bahwa Australopithecus tidak dapat diterima sebagai nenek moyang manusia
baru-baru ini telah diterima oleh sumber-sumber evolusionis. Majalah ilmiah
populer terkenal Perancis, Science et Vie, menjadikannya sebagai tema sampul
edisi May 1999. Dengan judul utama "Adieu Lucy" ("Selamat tinggal, Lucy"-Lucy
adalah contoh fosil terpenting dari spesies Australopithecus afarensis),
majalah ini melaporkan bahwa kera dengan spesies Australopithecus harus
dihapus dari pohon kekerabatan manusia. Dalam tulisan ini, berdasarkan
penemuan fosil Australopithecus lain yang dikenal dengan sebutan St W573,
kalimat berikut ini muncul:
Teori baru menyatakan bahwa genus Australopithecus bukanlah akar ras manusia.
Hasil ini dicapai oleh satu-satunya wanita yang diberi wewenang meneliti St
W573 berbeda dengan teori biasa mengenai nenek moyang manusia: ini
meruntuhkan pohon kekerabatan hominidae. Primata besar, yang dianggap sebagai
nenek moyang manusia, telah dihapus dari kesejajaran dalam pohon kekerabatan
ini . Australopithecus dan Homo (manusia) tidak muncul pada cabang yang sama.
Nenek moyang langsung manusia masih menunggu untuk ditemukan.4
Penemuan penting lainnya mengenai Australopithecus adalah saat disadari bahwa
lengan makhluk ini digunakan untuk berjalan, seperti kera yang ada saat ini.
Kera mengunakan cara berjalan empat kaki dimana ia bersandar pada buku-buku
jarinya. Ini dikenal sebagai "berjalan dengan buku-buku"(knuckle-walking) dan
merupakan perbedaan utama antara kera dan manusia. Penelitian kerangka
dilakukan di tahun 2000 pada Lucy oleh dua orang ilmuwan evolusionis bernama
B.G. Richmond dan D.S. Strait, menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan
kedua evolusionis: tangan Lucy memiliki struktur "berjalan dengan buku-buku
jari" hewan empat kaki, sebagaimana halnya kera dewasa yang ada saat ini.
Komentar Strait dalam wawancara mengenai penemuan ini, yang isinya diliput
secara detil dalam jurnal Nature, mengejutkan: "Aku berjalan ke arah lemari,
mengeluarkan Lucy dan-abrakadabra!-dia memiliki morfologi yang biasa dimiliki
makhluk yang berjalan dengan buku-buku jarinya."5
Homo erectus Adalah Ras Manusia, Bukan Manusia Kera
Dalam dokumenter NGC Homo erectus digambarkan sebagai setengah kera, setangah
manusia yang berjalan tegak dan mencoba berbicara dengan mengeluarkan
bunyi-bunyi aneh. Meskipun demikian, kenyataannya adalah Homo erectus adalah
ras manusia, tanpa sifat kera sama sekali.
Tidak ada perbedaan antara kerangka Homo erectus dan manusia modern. Alasan
utama bagi kaum evolusionis menyatakan bahwa Homo erectus "primitif" adalah
kapasitas tengkoraknya (900-1,100 cc), yang berarti lebih kecil daripada
manusia modern, dan alis matanya yang tebal menonjol. Namun, banyak manusia
yang hidup di masa kini yang meiliki kapasitas tengkorak yang sama dengan
Homo erectus (suku pigmi, misalnya) dan ras-ras yang memiliki alis mata
menonjol (misalnya suku asli Australia).
Merupakan sebuah kenyataan yang telah disepakati bersama bahwa perbedaan
kapasitas tengkorak tidak menunjukan perbedaan tingkat kecerdasan atau
kemampuan. Kecerdasan bergantung pada susunan dalam otak, bukan volumenya.6
Fosil-fosil yang yang telah membuat Homo erectus menjadi terkenal di seluruh
dunia adalah manusia Peking dan manusia Jawa di Asia. Meskipun demikian, pada
saat yang bersamaan disadari bahwa kedua fosil ini tidak dapat dipercaya.
Manusia Peking terdiri dari sejumlah bagian yang terbuat dari gips (plaster)
yang bentuk aslinya telah hilang, dan manusia Jawa "dibentuk" dari
potongan-potongan tengkorak dan tulang pinggul (pelvis) yang ditemukan
terpisah dalam jarak beberapa meter tanpa ada bukti yang memastikan keduanya
berasal dari makhluk yang sama. Inilah mengapa fosil Homo erectus yang
ditemukan di Afrika menjadi semakin penting.
Spsimes Homo erectus yang paling terkenal yang ditemukan di Afrika adalah
fosil "Anak Laki-laki Turkana" ("Turkana Boy"), yang ditemukan dekat Danau
Turkana di Kenya. Dipastikan bahwa fosil itu berasal dari anak laki-laki
berusia 12 tahun, yang tingginya akan mencapai 1,83 meter saat dewasa.
Struktur kerangka fosil yang tegak tidak berbeda dengan manusia modern.
Seorang palaeoantropolog Amerika, Alan Walker, mengatakan bahwa dia tidak
yakin bahwa "seorang ahli patologi biasa dapat menunjukkan perbedaan antara
kerangka fosil dan manusia modern". Mengenai tengkoraknya, Walker menulis
bahwa dia tertawa ketika melihatnya karena "terlihat sangat mirip dengan
seorang Neanderthal."7 Karena Neanderthals adalah ras manusia modern, Homo
erectus juga merupakan ras manusia modern.
Bahkan evolusionis Richard Leakey mengatakan bahwa perbedaan antara Homo
erectus dengan manusia modern tidak lebih dari variasi ras:
Orang akan dapat melihat perbedaan dalam bentuk tengkorak, tonjolan wajah,
bentuk alisnya yang kaku dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini mungkin
tidak sejelas yang kita lihat sekarang diantara ras-ras manusia modern yang
terpisah secara geografis. Fariasi biologis seperti ini muncul saat
masyarakat terpisah dengan masyarakat lain secara geografis untuk jangka
waktu yang lama.8
Professor William Laughlin dari Universitas Connecticut melakukan pemeriksaan
anatomis menyeluruh pada suku Inuit dan masyarakat yang tinggal di kepulauan
Aleutia, dan menemukan bahwa orang-orang ini sangat mirip dengan Homo
erectus. Laughlin sampai pada kesimpulan bahwa ras-ras yang berbeda ini
merupakan bagian dari ras Homo sapiens (manusia modern):
Saat kita memperhatikan perbedaan-perbedaan besar yang ada pada
kelompok-kelompok terpencil seperti bangsa Eskimo dan Bushmen, yang diketahui
sebagai anggota spesies yang sama Homo sapiens, sepertinya dapat disimpulkan
bahwa Sinanthropus [sebuah spesimen erectus] termasuk anggota spesies yang
beraneka ragam tersebut.9
Terdapat perbedaan yang amat besar antara Homo erectus, sebuah ras manusia,
dengan kera, sebagai pendahulu Homo erectus dalam skenario "evolusi manusia"
(Australopithecus, Homo Habilis, dan Homo rudolfensis). Ini berarti manusia
pertama di catatan fosil muncul secara tiba-tiba tanpa sejarah evolusioner.
Dongeng NGC Cocok Sebagai Acara Pengantar Tidur
Para ilmuwan yang menyatakan pandangan mereka di NGC mengatakan pada penonton
cerita-cerita berdasarkan khayalan mereka, bukan penemuan ilmiah. Hampir
seluruh dokumenter ini terdiri dari kisah-kisah semacam itu. Contoh yang
paling menonjol muncul dalam bagian menganai kemampuan berbicara Homo
erectus. Orang yang menyandang gelar ilmuwan menyampaikan pandangan-pandangan
mereka, dengan penuh keseriusan, mengenai apa yang dibicarakan diaantara
anggota spesies Homo erectus. Menurut seorang antrhopolog Dr. Steven Mithen,
ketika Homo erectus berbicara, mereka sedang menggosip! Seorang ilmuwan
evolusionis lain mengatakan bahwa mereka sedang berbicara mengenai
menghidangkan makanan, bukan menggosip!
Ini bukan akhir cerita yang ditampilkan NGC. Para ilmuwan ini, entah
bagaimana, juga mengetahui banyak hal lain, misalnya apa yang dipikirkan oleh
seorang manusia kera yang berpindah tempat, dan pikiran-pikiran yang dimiliki
yang lainnya. Yang aneh lagi adalah, latihan mental Darwin ini, meskipun
tidak berdasar ilmiah, dianggap sebagai kenyataan ilmiah.
Propaganda Visual Evolusionis dari NGC
Sepanjang dokumenter di NGC ini, gambar makhluk-makhluk setengah kera
setengah manusia yang berburu di padang savana Africa, makan dan berpindah
tempat dipertunjukkan. Orang yang menganggap NGC sebagai institusi ilmiah
akan tertipu mengira makhluk-makhluk ini memiliki bukti ilmiah. Meskipun
demikian, kenyataannya adalah seperti halnya informasi yang diberikan,
gambar-gambar tersebut telah disiapkan hanya berdasarkan khayalan evolusionis
dan kemampuan para artis dari berbagai kalangan.
Rekonstruksi merupakan salah satu alat propaganda evolusionis yang
terpenting. Model manusia-kera dan gambar-gambar yang terlihat dalam
dokumenter-dokumenter seperti ini, serta dalam majalah dan koran evolusionis
disebut rekonstruksi. Ini benar-benar tidak ilmiah, dan sama sekali tidak
menampilkan kebenaran, karena tidak mungkin mendapat informasi apapun
mengenai jaringan lunak berdasarkan temuan fosil. Rekonstruksi menggunakan
tulang hanya dapat mengupas sifat-sifat makhluk yang secara umum, karena
pembentuk morfologi khusus hewan apapun adalah jaringan lunak, yang cepat
hancur setelah mati.
Oleh karena itu, karena penafsiran jaringan lunak yang sangat penuh
spekulasi, gambaran hasil atau model hasil rekonstruksi menjadi sangat
tergantung pada khayalan orang yang membuatnya. Earnst A. Hooten dari
Universitas Harvard menjelaskannya sebagai berikut:
Rekonstruksi bagian-bagian lunak adalah pekerjaan yang lebih beresiko. Bibir,
mata, telinga, dan ujung hidung tidak ada yang tertinggal pada tulang
dibawahnya. Anda dengan fasilitas yang sama dapat membubuhkan model raut
wajah seekor simpanse pada tengkorak Neanderthaloid atau garis wajah seorang
ahli filsafat. Rekonstruksitanpa dasar ini memiliki sangat sedikit nilai
ilmiah dan kemungkinan hanya menyesatkan masyarakat. maka jangan pernah
mempercayai rekonstruksi.10
Dalam dokumenter NGC, semua detil, seperti rambut, mata, bibir, ekspresi
mata, dan bentuk alis makhluk hidup, dapat dilihat. Kenyataannya, karena
eevolusionis telah terperangkap dalam khayalan evolusi mereka sehingga
memperdebatkan apa yang mungkin dibicarakan oleh makhluk-makhluk khayalan
tersebut, tidak mengherankan jika mereka kemudian memunculkan model dan
gambar-gambar makhluk tersebut. Meskipun demikian, ini tidak ilmiah. Ini
hanya merupakan bagian dari film fiksi ilmiah. Evolusionis tidak bertindak
layaknya ilmuwan. Seperti ahli nujum yang meramal, mereka membuat scenario
tentang masa lalu dan yang akan datang tanpa bukti apapun yang mendasarinya.
Kesimpulan
Dalam dokumenter NGC, yang menggambarkan evolusi manusia, tidak memberikan
bukti-bukti ilmiah tapi hanya menyajikan detail-detail yang tak pernah
diketahui, adalah sama sekali tidak memiliki nilai ilmiah. Satu-satunya
tempat bagi penayangan dokumenter semacam ini adalah sebuah film fiksi ilmiah
atau khayalan sutradara mengenai sejarah manusia. Cara NGC menyiarkan
skenario-skenario, yang bahkan tidak dapat membuat anak-anak yakin dengan
berkedok ilmiah dan berlindung dibalik kridibilitas institusi tersebut.
-----------------------------------------------------------------------------
---
1 - Solly Zuckerman, Beyond The Ivory Tower, New York: Toplinger
Publications, 1970, p. 75-94
2- Charles E. Oxnard, "The Place of Australopithecines in Human Evolution:
Grounds for Doubt," Nature, vol. 258, p. 389
3- Fred Spoor, Bernard Wood, Frans Zonneveld, "Implication of Early Hominid
Labyrinthine Morphology for Evolution of Human Bipedal Locomotion," Nature,
vol. 369, 23 June 1994, p. 645-648.
4- Isabelle Bourdial, "Adieu Lucy," Science et Vie, May 1999, no. 980, p.
52-62
5- Stokstad, E., "Hominid ancestors may have knuckle walked," Science
287(5461):2131, 2000
6- Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids, Baker, 1992, p. 83
7- Boyce Rensberger, The Washington Post, 19 November 1984
8- Richard Leakey, The Making of Mankind, London: Sphere Books, 1981, p. 62
9- Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids, Baker, 1992. p. 136
10 - Earnest A. Hooton, Up From The Ape, New York: McMillan, 1931, p. 332
-----Original Message-----
From: Moestafa Abadi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, November 01, 2004 11:32 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [assunnah] Tanya Teori evolusinya si Darwin
Assalaamu'alaikum Wr Wb.
Ana ada pertanyaan, adakah dalil yang menangkal teori evolusi nya si Darwin
untuk pembuktian dari Al-Quran dan Assunnah.
Jazakallahu khairan.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/