CIRI-CIRI AKIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim
Al-Hamd
Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
memiliki ciri-ciri khusus. Adapun ciri-ciri itu dapat dijelaskan sebagai
berikut.
-
Sumber pengambilannya bersih
dan akurat. Hal ini karena akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan Kitab
dan Sunnah serta Ijma' para Salafush Shalih, yang jauh dari
keruhnya hawa nafsu dan syubhat.
-
Ia adalah akidah yang berlandaskan
penyerahan total kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab akidah ini adalah iman
kepada sesuatu yang ghaib. Karena itu, beriman kepada yang ghaib merupakan
sifat orang-orang mukmin yang paling agung, sehingga Allah memuji mereka :
" Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi orang
yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib".
[Al-Baqarah : 2-3]. Hal itu karena akal tidak mampu mengetahui hal yang
ghaib, juga tidak dapat berdiri sendiri dalam memahami syari'at, karena akal
itu lemah dan terbatas. Sebagaimana pendengaran, penglihatan dan kekuatan
manusia itu terbatas, demikian pula dengan akalnya. Maka beriman kepada yang
ghaib dan menyerah sepenuhnya kepada Allah adalah sesuatu yang
niscaya.
-
Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah akidah yang sejalan dengan fithrah dan logika yang benar, bebas dari
syahwat dan syubhat.
-
Sanadnya bersambung kepada
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabat, tabi'in dan para imam, baik
dalam ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Ciri ini banyak diakui oleh para
penentangnya. Dan memang -Alhamdulillah- tidak ada suatu prinsip pun
dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang tidak memiliki dasar Al-Qur'an dan
As-Sunnah atau dari Salafus Shalih. Ini tentu berbeda dengan
akidah-akidah bid'ah lainnya.
-
Ia adalah akidah yang mudah dan
terang, seterang matahari di siang bolong. Tidak ada yang rancu, masih
samar-samar maupun yang sulit. Semua lafazh-lafazh dan maknanya jelas, bisa
dipahami oleh orang alim maupun awam, anak kecil maupun dewasa. Ia adalah
akidah yang berdasar kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sedangkan dalil-dalil
Al-Qur'an dan As-Sunnah laksana makanan yang bermanfaat bagi segenap manusia.
Bahkan seperti air yang bermanfaat bagi bayi yang menyusu, anak-anak, orang
kuat maupun lemah.
-
Selamat dari kekacauan, kontradiksi
dan kerancuan. Betapa tidak, ia adalah bersumber kepada wahyu yang tak mungkin
datang kepadanya kebatilan, dari manapun datangnya. Dan kebenaran tidak
mungkin kacau, rancu dan mengandung kontradiksi. Sebaliknya, sebagiannya
membenarkan sebagian yang lain. Allah berfirman : "Kalau sekiranya
Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan
yang banyak di dalamnya" [An-Nisaa : 82]
-
Mungkin di dalamnya terdapat
sesuatu yang mengandung perdebatan, tetapi tidak mungkin mengandung sesuatu
yang mustahil. Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah ada hal-hal yang di luar
jangkauan akal, atau tidak mampu dipahami. Seperti seluruh masalah ghaib,
adzab dan nikmat kubur, shirath, haudh (telaga), surga dan neraka,
serta kaifiyah (penggambaran) sifat-sifat Allah. Akal manusia
tidak mampu memahami atau mencapai berbagai persoalan di atas, tetapi tidak
menganggapnya mustahil. Sebaliknya ia menyerah, patuh dan tunduk kepadanya.
Sebab semuanya datang dari wahyu, yang tidak mungkin berdasarkan hawa
nafsu.
-
Ia adalah akidah yang universal,
lengkap dan sesuai dengan setiap zaman, tempat, keadaan dan umat. Bahkan
kehidupan ini tidak akan lurus kecuali dengannya.
-
Ia adalah akidah yang stabil, tetap
dan kekal. Ia tetap teguh menghadapi berbagai benturan yang terus menerus
dilancarkan musuh-musuh Islam, baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi maupun yang
lainnya. Ia adalah akidah yang kekal hingga hari kiamat. Ia akan dijaga oleh
Allah sepanjang generasi. Tak akan terjadi penyimpangan, penambahan,
pengurangan atau penggantian. Betapa tidak, karena Allah-lah yang menjamin
penjagaan dan kekalannya. Ia tidak menyerahkan penjagaan itu kepada seorangpun
dari mahluk-Nya, Alah berfirman : "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan
Al-Qur'an dan Kamilah yang akan menjaganya".[Al-Hijr : 9]
-
Ia adalah sebab adanya pertolongan,
kemenangan dan keteguhan. Hal itu karena ia adalah akidah yang benar. Maka
orang yang berpegang teguh kepadanya akan menang, berhasil dan ditolong. Hal
itu sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Akan
senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran, yang tidak akan
membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka sampai datangnya keputusan
Allah, dan mereka dalam keadaan demikian". [Hadits Riwayat Muslim
3/1524]. Maka barangsiapa mengambil akidah tersebut, niscaya Allah akan
memuliakannya dan barangsiapa meninggalkannya, niscaya Allah akan
menghinakannya. Hal itu telah diketahui oleh setiap orang yang membaca
sejarah. Sehingga, ketika umat Islam menjauhi agamanya, terjadilah apa yang
terjadi, sebagaimana yang menimpa Andalusia (Spanyol) dan yang
lain.
-
Ia mengangkat derajat para
pengikutnya. Barangsiapa memegang teguh akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah,
semakin mendalami ilmu tentangnya, mengamalkan segala konsekwensinya, serta
mendakwahkannya kepada manusia, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya,
meluaskan kemasyhuranya serta keutamaannya akan tersebar, baik sebagai pribadi
maupun jama'ah. Hal itu karena akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah akidah
terbaik yang sesuai dengan segenap hati dan sebaik-baik yang diketahui akal.
Ia menghasilkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat dan akhlak yang
tinggi.
-
Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah kapal keselamatan. Maka barangsiapa berpegang teguh dengannya, niscaya
akan selamat. Sebaliknya barangsiapa meninggalkannya, niscaya tenggelam dan
binasa.
-
Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
adalah akidah kasih sayang dan persatuan. Karena, tidaklah umat Islam itu
bersatu dalam kalimat yang sama di berbagai masa dan tempat kecuali karena
mereka berpegang teguh dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebaliknya,
mereka akan berpecah belah dan saling berselisih pendapat jika menjauh
darinya.
-
Akidah Ahlus Suannah wal Jama'ah
adalah akidah istimewa. Para pengikutnya adalah orang-orang istimewa, jalan
mereka lurus dan tujuan-tujuannya jelas.
-
Ia menjaga para pengikutnya dari
bertindak tanpa petunjuk, mengacau dan sikap sia-sia. Manhaj mereka satu,
prinsip mereka jelas, tetap dan tidak berubah. Karena itu para pengikutnya
selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari bertindak tanpa petunjuk dalam
soal wala' wal bara' (setia dan berlepas diri dari orang lain),
kecintaan dan kebencian kepada orang lain. Sebaliknya, ia memberikan
ukuran yang jelas, sehingga tidak akan keliru selamanya. Dengan demikian ia
akan selamat dari perpecahan, bercerai berai dan kesia-siaan. Ia akan tahu
kepada siapa harus membenci, dan mengetahui pula hak serta
kewajibannya.
-
Ia akan memberikan ketenangan jiwa
dan pikiran kepada pengikutnya. Jiwa tidak akan gelisah, tidak akan ada
kekacauan dalam pikirannya. Sebab akidah ini menghubungkan antara orang mukmin
dengan Tuhannya. Ia akan rela Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Hakim dan Pembuat
Syari'at. Maka hatinya akan merasa aman dengan takdir-Nya, dadanya akan lapang
atas ketentuan-ketentuan hukum-Nya, dan pikirannya akan jernih dengan
mengetahui-Nya.
-
Tujuan dan amal pengikut akidah ini
mejadi selamat. Yakni selamat dari penyimpangan dalam beribadah. Ia tidak akan
menyembah selain Allah dan akan mengharapkan kepada selain-Nya.
-
Ia akan mempengaruhi prilaku,
akhlak dan mua'malah. Akidah ini memerintahkan pengikutnya melakukan setiap
kebaikan dan mencegah mereka melakukan setiap kejahatan. Ia memerintahkan
keadilan dan berlaku lurus serta mencegah mereka dari kezhaliman dan
penyimpangan.
-
Ia mendorong setiap pengikutnya
bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam segala sesuatu.
-
Ia membangkitkan jiwa mukmin agar
mengagungkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab ia mengetahui bahwa Al-Qur'an dan
As-Sunnah adalah haq, petunjuk dan rahmat, karena itu mereka mengagungkan dan
berpegang teguh pada keduanya.
-
Ia menjamin kehidupan yang mulia
bagi pengikutnya. Di bawah naungan akidah ini akan terwujud keamanan dan hidup
mulia. Sebab ia tegak atas dasar iman kepada Allah dan kewajiban beribadah
kepada-Nya, dan tidak kepada yang lain. Dan hal itu -dengan tidak diragukan
lagi- menjadi sebab keamanan, kebaikan dan kebahagiaan dunia-akhirat. Keamanan
adalah sesuatu yang mengiringi iman. Maka, barangsiapa kehilangan iman, ia
akan kehilangan keamanan. Allah berfirman : "Orang-orang yang beriman dan
tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah
orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk". (Al-An'am : 82). Jadi orang-orang yang bertakwa dan beriman
adalah mereka yang memiliki kemanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna
pula, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang-orang musyrik dan
pelaku maksiat adalah orang-orang yang selalu ketakutan. Mereka senantiasa
diancam dengan berbagai siksaan di setiap saat.
-
Akidah ini menghimpun semua
kebutuhan ruh, hati dan jasmani.
-
Mengakui akal, tetapi membatasi
perannya. Ia adalah akidah yang menghormati akal yang lurus dan tidak
mengingkari perannya. Jadi, Islam justru tidak rela jika seorang muslim
memadamkan cahaya akalnya, lalu hanya bertaklid buta dalam persoalan akidah
dan lainnya. Meskipun begitu, peran akal tetaplah terbatas.
-
Mengakui perasaan manusia dan
membimbingnya pada jalan yang benar. Perasaan adalah sesuatu yang alami pada
diri manusia dan tak seorangpun manusia yang tidak memilikinya. Akidah ini
adalah akidah yang dinamis, tidak kaku dan beku, ia mengaku adanya perasaan
manusia serta menghormatinya, tetapi bukan berarti ia mengumbarnya. Sebaliknya
ia meluruskan dan membimbingnya sehingga menjadi sarana perbaikan dan
pembangunan, tidak sebagai alat perusak dan penghancur.
-
Ia menjamin untuk memberi jalan
keluar setiap persoalan, baik sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau
persoalan lainnya.
Dengan akidah ini, Allah telah
menyatukan hati umat Islam yang berpecah belah, hawa nafsu yang bercerai berai,
mencukupkan setelah kemiskinan, mengajari ilmu setelah kebodohan, memberi
penglihatan setelah buta, memberi makan dari kelaparan dan memberi mereka
keamanan dari ketakutan.
Tasharrufan (saduran) dari Mukhtasar Aqidah
Ahlis Sunnah wal Jama'ah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Buletin AN NUR
Thn. IV/No. 139/Jum'at I/R.Awal 1419H [Artikel ini dapat dilihat di http://www.almanhaj.or.id]
------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------
| Yahoo! Groups Sponsor |
|
![]() |
Yahoo! Groups Links
|