ADA APA DI BALIK GEMPA TSUNAMI?

Oleh: Syeikh. Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al Badr

 

               Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, 
ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan 
diri dan kejelekan amalan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, 
maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan Allah, 
maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.  Aku bersaksi bahwa tidak ada 
sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya. Dan 
aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, pilihan dan kekasih-
Nya, yang Dia percayai untuk menyampaikan wahyu dan syariat-Nya kepada umat 
manusia. Semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah kepada 
beliau, serta semua keluarga dan sahabatnya. 

               Kaum  mukminin dan para hamba Allah� Bertakwalah kepada Allah 
karena sesungguhnya orang yang bertakwa kepadaNya akan dijaga dan dibimbing 
oleh-Nya kepada kebaikan urusan dunia dan akhirat.

                Belakangan ini dunia seisinya membicarakan sebuah peristiwa 
besar, yaitu gempa dahsyat yang karenanya bumi tergoncang  hebat, dia berasal 
dari satu pulau di Indonesia.  Akibatnya bumipun bergoncang dahsyat kemudian 
timbul setelahnya badai besar Tsunami dan angin topan yang melumat berbagai 
kota dan banyak desa. Bahkan sebagian tenggelam tertutup air sama sekali,  
seketika itu-lah meninggal ratusan bahkan ribuan jiwa. Data terakhir 
menyebutkan bahwa korban mencapai 120 ribu jiwa. Mereka meninggal dalam satu 
waktu akibat tenggelam oleh air yang menerjang rumah, sawah, dan berbagai 
sarana hidup mereka!. Data ini bukanlah data final. Sebab diprediksi bahwa 
jumlah korban jauh lebih besar dari jumlah ini. Di samping  itu, puluhan ribu 
orang luka-luka, serta jutaan yang lain kehilangan harta benda dan tempat 
tinggal. 

               Ini adalah sebuah peristiwa besar yang  semestinya menggerakkan 
hati kita. Karenanya, dunia seisinya membicarakannya dan mengikuti berita 
serta perkembangannya. Seorang  mukmin yang dikaruniai taufiq oleh 
AllahSubhanahu wa Ta�ala, dalam kejadian dan musibah besar seperti ini, harus 
melakukan berbagai renungan keimanan, sehingga akan menambah keshalihan dan 
kedekatannya kepada AllahSubhanahu wa Ta�ala, juga menambah rasa takutnya 
untuk   bertemu dan berhadapan dengan-Nya. Selain itu ia juga akan mengambil 
hikmah dan pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan AllahSubhanahu wa Ta�ala. 
Sebab itu, setelah peristiwa besar ini kita harus merenungi beberapa hal yang 
harussenantiasa diingat dan disadari sepenuhnya oleh setiap muslim:

 

Pertama: Peristiwa ini dan semisalnya akan membimbing seorang muslim pada 
suatu perkara �yang telah dia yakini- yaitu bertambahnya keimanan dia akan 
kesempurnaan kuasa dan kekuatan AllahSubhanahu wa Ta�ala, serta meyakini bahwa 
Allah-lah yang mengatur alam ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan 
apa yang Ia inginkan. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak keputusan-Nya. 
AllahSubhanahu wa Ta�ala berfirman: 

Yang artinya : �Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu 
atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan 
(yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada 
keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-
tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)". (QS. Al An'am: 
65).

               Maksud dari "azab dari atas" dalam ayat tersebut adalah 
seperti  petir, halilintar yang menghancurkan, dan angin topan. Adapun 
makna �azab dari bawah" adalah seperti gempa dan tanah longsor. 

Jabir bin Abdillah Radhiyallahu �anhu berkata:  Ketika Rasulullah 
Shallallahu �alaihi wa Sallam membaca ayat: �Yang Berkuasa untuk mengirimkan 
azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu.� Beliau bersabda: "Aku 
berlindung dengan wajah Allah yang mulia".  Dan ketika membaca:  �atau Dia 
mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan 
merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain.� 
Beliau bersabda : "Ini lebih ringan". (HR Bukhari).

               Kemudian renungkanlah firman AllahSubhanahu wa 
Ta�ala: �Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami 
silih berganti agar mereka memahami(nya)�

               Sesungguhnya beraneka-ragamnya tanda-tanda kekuasaan Allah 
Subhanahu wa Ta�ala menuntun kita kepada pemahaman, keimanan dan kembali 
kepada AllahSubhanahu wa Ta�ala.

�Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih 
berganti agar mereka memahami(nya)� Yakni: agar mereka memahami  tujuan yang 
harus diwujudkan dari penciptaan mereka.

Kedua: Peristiwa ini betul-betul salah satu tanda-tanda agung kekuasaan 
AllahSubhanahu wa Ta�ala, yang dengannya Dia menumbuhkan rasa takut dalam jiwa 
hamba-hamba-Nya.

AllahSubhanahu wa Ta�ala  berfirman: Artinya: "Dan tidaklah kami mengirimkan 
tanda-tanda itu kecuali untuk menakuti". (QS. Al Isra: 59).  Maksudnya; 
AllahSubhanahu wa Ta�ala menumbuhkankan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya 
dengan tanda-tanda yang agung itu. 

Berkata Qatadah rahimahullah: "Sesungguhnya AllahSubhanahu wa Ta�ala menakut-
nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar mereka 
mengambil pelajaran, ingat dan  kembali (kepada AllahSubhanahu wa Ta�ala)". 
Adapun penisbatan peristiwa ini kepada alam, itu termasuk dalam 
kejahiliyahan.   

               Maka hendaknya seorang mu'min takut, merenung dan mengambil 
pelajaran; bahwasanya Yang telah menimpakan musibah kepada saudara-saudaranya, 
Maha Kuasa untuk menimpakan hal yang serupa atau lebih kepada selain mereka.  
Jatuh korban 120.000 jiwa atau lebih dalam satu waktu!. Adakah di antara kita 
yang mengambil hikmah dan pelajaran?.

 
Ketiga: Setelah kejadian ini mari kita renungi bersama nikmat AllahSubhanahu 
wa Ta�ala berupa menetapnya bumi, sebagaimana firman-Nya:  Artinya: "Allah-lah 
yang menjadikan bumi bagi kalian tetap".  (QS Ghafir: 64) Maksudnya: tidak 
bergoncang-goncang atau bergetar.

               Mari kita renungi dari sini, betapa besar Dzat yang memegang 
bumi ini, sehingga dia menetap dan tidak bergoncang atau bergoyang.  
Bayangkan  bagaimana jika bumi yang kita berjalan di atas permukaannya selalu 
bergoncang dan bergetar, bisakah kita hidup di atasnya?, bisakah kita tidur?,
bisakah kita bekerja? (tentu jawabnya adalah: tidak -pent). Jadi 
AllahSubhanahu wa Ta�ala telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita berupa 
ketenangan dan menetapnya bumi ini. Maka hendaknya kita mengambil pelajaran 
dari nikmat ini, lantas kita bandingkan dengan gempa yang diciptakan 
AllahSubhanahu wa Ta�ala dari waktu ke waktu; hingga kita bisa mengambil 
kesimpulan: betapa besar karunia ketenangan bumi dan alangkah sempurnanya 
nikmat ini. Jika bumi ini bergoncang dalam sekejap saja, telah memakan korban 
120 ribu jiwa, bagaimana jika bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa 
yang akan terjadi dengan  manusia di permukaannya???.

               Karunia Allah Subhanahu wa Ta�ala lainnya adalah tidak 
meluapnya lautan hingga menenggelamkan semua daratan. Padahal kita tahu  bahwa 
luas lautan di muka bumi ini dua pertiga luas daratan. Allah-lah yang Maha 
Kuasa untuk menahan air laut hingga tidak meluap ke daratan, padahal Dia mampu 
untuk menenggelamkan seluruh daratan!. 

               Kita bisa ambil pelajaran dari sejarah: Artinya: "Sesungguhnya 
Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) kami bawa (nenek moyang) kamu 
ke dalam bahtera" (QS Al Haqqah: 11.) Tidak perlu jauh-jauh, bencana yang baru 
saja terjadi bisa menggambarkan bagi kita hal itu; air telah menenggelamkan 
berbagai daerah secara total, hingga semua yang berada di atasnya mati, tidak 
tersisa seorangpun jua. Dua karunia ini; menetapnya bumi dan tidak meluapnya 
lautan ke daratan haruslah kita syukuri, sembari kita panjatkan puji kepada-
Nya atas segala curahan nikmat-Nya.

Keempat: Bumi adalah milik AllahSubhanahu wa Ta�ala, Dia-lah yang telah 
menciptakannya dan menjadikannya ada. Dia pula yang telah menciptakan manusia 
dia atasnya. Maka Dia pula-lah yang berhak untuk bertindak sekehendak-Nya. 
Perhatikanlah sebagian perbuatan AllahSubhanahu wa Ta�ala terhadap bumi-Nya 
dalam ayat:

Artinya: "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi 
bumi, lalu kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan 
Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak 
ketetapan-Nya; Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya".  (QS Ar-Ra'd: 41.) 

               Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari "Kami 
kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya"  adalah dengan 
tenggelamnya (sebagian bumi -pent), gempa dan berbagai macam bencana. Jadi 
AllahSubhanahu wa Ta�ala mengurangi bumi dari tepi-tepinya sesuai dengan 
kehendak-Nya, tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya.

               Jika kita telah sadar bahwa bumi ini adalah milik 
AllahSubhanahu wa Ta�ala, dan yang berhak untuk bertindak di dalam-Nya adalah 
AllahSubhanahu wa Ta�ala juga; maka mari kita sama-sama merenungi apa hikmah 
di balik penciptaan kita di muka bumi ini?. Tidak lain dan tidak bukan adalah 
dalam rangka menegakkan kalimat tauhid AllahSubhanahu wa Ta�ala, mentaati 
perintah-Nya, mengikuti syari\'at-Nya,  merendahkan diri di hadapan-Nya, patuh 
terhadap perintah-Nya dan perintah rasul-NyaShallallahu �alaihi wa Sallam;. 
Kita wajib beriman terhadap ayat-ayat yang jelas, hujjah-hujjah yang tinggi 
serta dalil-dalil agung yang menjelaskan kesempurnaan AllahSubhanahu wa Ta�ala 
dan kewajiban untuk taat kepada-Nya lantas mengikhlaskan ibadah hanya untuk-
Nya. Hingga kita dapat menjalankan tujuan penciptaan kita dengan sempurna; 
yaitu menjalankan perintah-Nya dan mengikuti rasul-Nya Shallallahu �alaihi wa 
Sallam;.
  
Kelima: Seharusnya seorang muslim bersikap tenang dalam menghadapi musibah 
yang menimpanya atau menimpa saudaranya; yakni dengan mendekatkan diri kepada 
AllahSubhanahu wa Ta�ala, yakin dan bertawakkal kepada-Nya. Sesungguhnya 
musibah itu  akan membuahkan bertambahnya iman seorang mu'min, bertambah 
baiknya hubungan dia dengan AllahSubhanahu wa Ta�ala, serta semakin sempurna 
kedekatan dia dengan-Nya. Oleh karena itu RasulullahShallallahu �alaihi wa 
Sallam; bersabda: Artinya: "Alangkah mengagumkan kondisi seorang mu'min; 
seluruh perkaranya adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan nikmat, bersyukur, 
dan itu adalah merupakan kebaikan baginya. Dan jika dia tertimpa musibah, 
bersabar, itupun merupakan kebaikan baginya". (HR Muslim.) Dan hal ini tidak 
akan ada kecuali dalam diri seorang mu'min.       

Keenam: Sesungguhnya seorang yang beriman akan sadar bahwa musibah-musibah ini 
tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dosa-dosa. Tidaklah terjadi suatu 
malapetaka melainkan gara-gara perbuatan dosa, dan malapetaka itu tidak akan 
dicabut (oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala) kecuali dengan taubat. AllahSubhanahu 
wa Ta�ala telah menjelaskan: Artinya: "Maka masing-masing (mereka itu) Kami 
siksa disebabkan dosanya". (QS.Al-'Ankabut: 40.) 

               Saat inilah  seharusnya seorang mu'min mendekat kepada Allah 
Subhanahu wa Ta�ala dengan membawa taubat dan berserah diri kepada-Nya, 
sehingga dia dapat memetik pelajaran dari musibah yang menimpa orang 
lain. "Sesungguhnya orang yang bahagia adalah yang dapat memetik pelajaran 
dari (apa yang menimpa) saudaranya, kebalikannya orang yang merugi adalah jika 
saudaranyalah yang mengambil pelajaran dari apa yang menimpa dirinya".  

Ketujuh: Terakhir,  kita memiliki beberapa kewajiban terhadap saudara-saudara 
kita yang tertimpa musibah besar ini, di antaranya; 

-         Berdo'a agar AllahSubhanahu wa Ta�ala meringankan penderitaan 
mereka, serta menjadikan musibah ini sebagai titik tolak bagi mereka untuk 
kembali kepada kebaikan dan bertaubat kepada-Nya. Kita juga memohon agar 
AllahSubhanahu wa Ta�ala menenangkan ketakutan mereka, menutupi aurat mereka 
dan memberi rizki orang-orang yang ditimpa kelaparan.

-         Juga kita berkewajiban untuk mengulurkan tangan membantu mereka 
semampu kita. Saat ini  ribuan orang sama sekali tidak memiliki tempat 
tinggal, rumah, makanan dan minuman. Sedangkan kita hidup dalam kenikmatan. 
Bersyukurlah kepada AllahSubhanahu wa Ta�ala atas nikmat dan karunia-Nya, 
kemudian bantulah saudara-saudara kita semampunya!.

Kami tutup khutbah ini dengan sebuah doa agung dan berbarakah,  yang selalu 
dibaca oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wa Sallam; setiap malam sebelum 
merebahkan tubuhnya di peraduan: Artinya: "Segala puji bagi Allah Yang telah 
memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat 
tinggal. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi dia serta 
memberi dia tempat tinggal". (HR Muslim dari Anas bin Malik.)

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin (3X), hinakanlah kesyirikan dan 
kaum musyrikin, serta hancurkanlah musuh-musuh agama kami.

Ya Allah, ringankanlah musibah yang menimpa saudara-saudara kami di manapun 
mereka berada, kuatkanlah mereka wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah. Ya 
Allah, tenangkanlah rasa takut mereka,  obatilah kelaparan dan dahaga mereka, 
tutupilah aurat mereka, karuniakanlah kepada mereka tempat tinggal yang baik, 
wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.

Ya Allah, kembalikanlah kami dan mereka kepada-Mu dengan baik, berilah kami 
taufik untuk bertaubat kepada-Mu, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang beriman 
dan mengikuti rasul-MuShallallahu �alaihi wa Sallam;, juga karuniailah kami -
wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah- taufik untuk mengerjakan hal-hal yang 
Engkau cintai dan ridhai, bantulah kami untuk melakukan kebaikan dan 
ketakwaan, janganlah Engkau jadikan kami bergantung kepada diri sendiri, 
meskipun hanya sekejap mata.

Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, yang 
terdahulu maupun yang akan datang, serta yang tersembunyi maupun yang 
terlihat. Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendzalimi diri kami, jika Engkau 
tidak mengampuni dan mengasihi, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang 
merugi.

Hanya ini yang dapat kami sampaikan, kami mohon ampunan kepada AllahSubhanahu 
wa Ta�ala untuk kita dan seluruh kaum muslimin dari segala dosa, mintalah 
ampun kepada-Nya, niscaya Dia akan ampuni. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun 
lagi Maha Penyayang.   

 
Ditranskrip dan diterjemahkan dari khutbah Jum'at Syeikh. Prof. Dr. Abdur 
Razzak bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr �Hafizhahullahu-
oleh: Anas Burhanuddin dan Abdullah Zaen (Mahasiswa S-2 Univ. Islam Madinah)

Disebarkan oleh FSMS (Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah) Surabaya 
2004/1425


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 All your favorites on one personal page � Try My Yahoo!





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke