Wa'alaykumussalamu Warahmatullahi Wabarakautuh

Saran saja;
Lebih baik kita menyibukkan diri dalam menuntut ilmu. Soal tahdzir 
adalah persoalan 'ulama. (Teringat nashihat syaikh Ibrahim ar Ruhaily 
hafidzohullah tentang ikhtilaf diantara salafiyyin). Jujur saja, saya 
juga mempunyai informasi 'miring' seputar Yayasan Al-Sofwa. Namun, 
itu bukan konsumsi saya. Dan saya sepakat, tiap kita punya sisi 
kelemahan, makanya saling nashihat adalah keniscayaan.

Soal 'Aidh al Qarny, sampai hari ini saya mengkhususkan diri saya 
untuk tidak membeli/memiliki dan membaca buku-buku beliau. Allahu 
A'lam. Yang saya cermati, maraknya buku-buku beliau (yang terjemahan) 
di pasaran kini, hanyalah sebagai booming sesaat. Kita bertawakkal 
semoga booming seperti itu terjadi juga untuk buku2 aqidah/tauhid 
dari ulama ahlussunnah.

Cukupkan kita dengan ulama yang sudah kita kenal da'wahnya. Mereka 
bukan sekedar 'penulis' yang hanya memperindah ucapan mereka di buku-
buku tanpa pengarahan dan bimbingan yang ilmiyah pada ummat, namun 
mereka yang jelas-jelas ahlul hadits. Sebab Ahlussunnah adalah ahlul 
hadits. Alhamdulillah, Allah masih belum mengambil seluruh ulama. 
Sebagian mereka masih hidup, walillahilhamd.

Satu sisi, harus difahami bahwa da'wah menentang ahlul bid'ah dan 
bid'ah adalah jihad yang besar. Termasuk melalui tulisan. Jadi, 
kebencian kita kepada bid'ah dan pelakunya adalah kebencian yang 
dibenarkan syari'at. Dan itulah yang dilakukan salafush shalih. 
Namun, salafush shalih tidak mengeluarkan ahlul bid'ah dari Islam. 
Kecuali bid'ah mukaffarah. Dari kalangan imam-imam, diantara mereka 
mengkafirkan Syi'ah (Rafidlah).

Satu lagi, kalimat ulama (salafush shalih dan salafiyyin dari 
golongan ulama) tidak serta merta kita catut/kutip dan kita fahami 
dan sebarkan sesuai dengan cara kita memahami. Bacalah Mawqif 
Ahlussunnah (Syaikh Ibrahim ar Ruhaily). Beliau mewanti-wanti thulab 
agar tidak berbuat demikian. 

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Abu Nidia Aidin Alaik Bachtiar
L. 19 Shawwal 1399H


--- In [email protected], "iip_sh" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Assalamu'alaikum,
> 
> Apa khabar akh Mirza ? Afwan ana blm sempat ketemu antum
> lagi. Saat ini sedang safar 1 bulan. Nanti kalau sdh
> kembali, silahkan antum kapan saja datang ke kantor, ahsan
> kalau hari senin siang (pekan ke-1,3 atau 5) sambil 
> sama-sama dengerin kajian Ustadz Abu Haidar.
> 
> Usulan akhi bagus sekali, ini utk menjaga perasaan kita
> masing-masing agar yg tua tdk merasa dilecehkan dan yg
> muda juga tdk merasa disepelekan. Maklum, milis kita 
> ini milis umum yg tidak semuanya rajin mengikuti kajian.
> Bahkan, yg sering mengikuti kajian di darat saja tdk
> dijamin akhlak dan ucapannya bagus. Bagi yg berlapang
> dada mungkin tidak masalah, tapi terkadang yg namanya
> manusia wajar-wajar saja ada yg tersinggung.
> 
> Menanggapi soal penerbit sofwa dan yayasan al-sofwa,
> ana sarankan antum tanyakan saja kepada ustadz yg
> memang TAHU BANYAK ttg al-sofwa.  Yg perlu diketahui,
> tidak semua ustadz tahu manajemen didalam al-sofwa.
> Dan, yg perlu kita ketahui adalah bhw diantara byk 
> yayasan-yayasan yg mensupport da'wah ahlussunnah 
> diatas manhaj salafussoleh ini TDK ADA yg sempurna, 
> masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan, 
> sebagaimana juga kita. Tetapi yg namanya nasehat
> tetap menjadi hak kita semua utk diberi dan memberi
> sebagaimana mafhum dlm hadits shahih.
> 
> Dalam e-mail salah satu saudara kita, memang ada yg
> perlu diluruskan ttg ucapan:
> 
> "Subhanallah, betapa bencinya Syaikh Zaid ini pada saudara
> seaqidahnya, apakah kebencian antum terhadap saudara antum sendiri
> lebih besar dari pada kebencian antum kepada orang-orang kafir???
> mengapa engkau wahai syaikh sangat membenci hizbiyyun..? mengapa
> engkau peringatkan kami dari al Qorni ini wahai Syaikh? apakah
> engkau sudah tabayyun atau hanya mendengar isu-isu itu dari teman
> teman antum wahai syaikh? "
> 
> Hendaknya kita tdk menafsirkan terlalu jauh nasihat yg 
> diberikan kepada ulama kepada para duat yg tergelincir dg
> kemudian berfikir seakan Ulama itu lebih membenci suadaranya 
> dr pd kekafiran. Sungguh ini penyakit kaum hizbi kalau sepak
> terjang da'wahnya dikritik yg muncul adalah tafsiran2
> bathil spt itu.
> Dan, utk saudaraku yg berkata spt diatas, marilah kita
> tawadhu dg bersikap bhw sesunggguhnya ulama itu lebih
> berilmu dr kita sehingga apa yg mgkn menurut kita bahayanya
> "kecil" tapi tidak dalam pandangan ahlul 'ilm.
> Sesungguhnya mereka telah berjihad dg Ilmu, memperingatkan
> ummat TDK HANYA dari bahaya kekafiran, tapi juga bahaya
> bid'ah, bahaya maksiat dan bahaya-bahaya ketergelinciran
> manhaj da'wah. Sebagai penuntut ilmu, kita pelajari saja
> hujjah-hujjah yg disampaikan dg lapang dada dan ikhlas.
> 
> Wassalamualaikum,
> abu mu'adz (35 thn)..:)
> 
> 
> --- In [email protected], "Mirza" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> > Assalamu'alaikum.
> > Ikhwah sekalian, sudah lebih kurang dua atau tiga tahun ana 
> mengikuti milis
> > ini, tapi rasanya ada 'sesuatu' yang kurang mempererat tali 
> silaturrahim di
> > antara kita. Memang di 'dunia maya' ini kita tidak bisa saling 
> bertatap muka
> > langsung, sehingga kita tidak pernah tahu apakah lawan bicara 
kita 
> itu lebih
> > tua, sebaya atau lebih muda umurnya daripada kita.
> > Sering ana melihat saling "adu argumen" diantara sesama anggota 
> milis.
> > Beberapa di antaranya bahkan ada yang mengeluarkan kata-kata 
> cukup "pedas"
> > kepada yang lain, tanpa memperhatikan adab yang santun. Apakah 
> orang yang
> > "diserang" itu usianya lebih tua, lebih muda atau sebaya dengan 
> kita, kita
> > tidak pernah tahu.  Tentunya hal ini selain menimbulkan gejolak, 
> juga akan
> > menjadi fitnah mulut yang bisa menimbulkan penyesalan di yaumil 
> hisab nanti.
> > Naudzubillah.
> > Nah, oleh sebab itu bagaimana jika para milister meniru kebiasaan 
> akh Ahmad
> > Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim (l.1980M/1400H), yang 
> selalu
> > mencantumkan tahun kelahirannya (?).  Jika  tanda di dalam kurung 
> itu memang
> > tahun kelahirannya, maka kita bisa menggambarkan usianya tahun 
ini 
> kira-kira
> > 25 tahun-an, begitu kan akh? Tapi afwan jika bukan itu yang 
> dimaksud.
> > 
> > Jadi dalam saling berbalas e-mail,  kita bisa tahu lawan bicara 
> kita, apakah
> > usianya itu lebih tua, lebih muda ataukah sebaya.  Kepada yang 
> lebih tua
> > hendaknya bisa bersikap lebih santun; kepada yang lebih muda 
> hendaknya bisa
> > lebih membimbing ;  kepada yang sebaya hendaknya bisa saling 
> menyayangi.
> > Walaupun dalamnya 'ilmu seseorang tidak ditentukan oleh usia, 
> namun  tidak
> > ada salahnya, bukan?, jika kita memperhatikan adabyang santun 
dalam
> > menanggapi satu masalah. Tidak "bernafsu" dalam menulis bantahan, 
> sehingga
> > menyinggung dan melukai hati sesama saudara seiman, apalagi yang 
> satu manhaj
> > dengan kita.
> > 
> > Sekali lagi  ini hanya sekadar usul. Afwan jika terasa tidak 
> populer dan
> > mengada-ada.
> > 
> > Wallahu waliyyut taufiq.
> > 
> > Hatur nuhun.
> > Abu Iqbal (Bandung)
> > L. 1965M.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke