SETIAP BID'AH ADALAH KESESATAN


Oleh
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin




Apabila masalah tadi sudah jelas dan menjadi ketetapan saudara, maka 
ketahuilah bahwa siapapun yang berbuat bid'ah dalam agama, walaupun dengan 
tujuan baik, maka bid'ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu 
tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Ta'ala, yang artinya : 
" Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu ....." . Karena 
dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum 
sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan 
diri kepada Allah belum terdapat di dalamnya.

Anehnya, ada orang yang melakukan bid'ah berkenan dengan dzat, asma' dan 
sifat Allah Azza wa Jalla, kemudian ia mengatakan bahwa tujuannya adalah 
untuk mengagungkan Allah, untuk mensucikan Allah, dan untuk menuruti firman 
Allah Ta'ala.

"Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah". 
[Al-Baqarah : 22]

Aneh, bahwa orang yang melakukan bid'ah seperti ini dalam agama Allah, yang 
berkenan dengan dzat-Nya, yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, 
mengatakan bahwa dialah yang mensucikan Allah, dialah yang mengagungkan 
Allah dan dialah yang menuruti firman-Nya : "Artinya : Maka janganlah kamu 
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah", dan barangsiapa yang menyalahinya maka 
dia adalah mumatstsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan 
makhluk-Nya), atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya.

Anehnya lagi, ada orang-orang yang melakukan bid'ah dalam agama Allah 
berkenaan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan 
perbuatannya itu mereka menganggap bahwa dirinyalah orang yang paling 
mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang mengagungkan 
beliau, barangsiapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah 
orang yang membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, atau 
menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan 
terhadap orang yang menolak bid'ah mereka.

Aneh, bahwa orang-orang semacam ini mengatakan : "Kamilah yang mengagungkan 
Allah dan Rasul-Nya". Padahal dengan bid'ah yang mereka perbuat itu, mereka 
sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Allah 
Ta'ala telah berfirman.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan 
Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar 
lagi Maha Mengetahui". [Al-Hujuraat : 1]

Pembaca Yang Budiman.

Disini penulis mau bertanya, dan mohon -demi Allah- agar jawaban yang anda 
berikan berasal dari hati nurani bukan secara emosional, jawab yang sesuai 
dengan tuntunan agama anda, bukan karena taklid (ikut-ikutan).

Apa pendapat anda terhadap mereka yang melakukan bid'ah dalam agama Allah, 
baik yang berkenan dengan dzat, sifat dan asma' Allah Subhanahu wa Ta'ala 
atau yang berkenan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Kemudian mengatakan : "Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasulullah ?".

Apakah mereka ini yang lebih berhak disebut sebagai pengagung Allah dan 
Rasulullah, ataukah orang-orang yang mereka itu tidak menyimpang seujung 
jaripun dari syari'at Allah, yang berkata : "Kami beriman kepada syari'at 
Allah yang dibawa Nabi, kami mempercayai apa yang diberitakan, kami patuh 
dan tunduk terhadap perintah dan larangan ; kami menolak apa yang tidak ada 
dalam syari'at, tak patut kami berbuat lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya 
atau mengatakan dalam agama Allah apa yang tidak termasuk ajarannya ?".

Siapakah, menurut anda, yang lebih berhak untuk disebut sebagai orang yang 
mencintai serta mengagungkan Allah dan Rasul-Nya .?

Jelas golongan yang kedua, yaitu mereka yang berkata : "Kami mengimani dan 
mempercayai apa yang diberitakan kepada kami, patuh dan tunduk terhadap apa 
yang diperintahkan ; kami menolak apa yang tidak diperintahkan, dan tak 
patut kami mengada-adakan dalam syari'at Allah atau melakukan bid'ah dalam 
agama Allah". Tak syak lagi bahwa mereka inilah orang-orang yang tahu diri 
dan tahu kedudukan Khaliqnya. Merekalah yang mengagungkan Allah dan 
Rasul-Nya, dan merekalah yang menunjukkan kebenaran kecintaan mereka kepada 
Allah dan Rasul-Nya.

Bukan golongan pertama, yang melakukan bid'ah dalam agama Allah, dalam hal 
akidah, ucapan, atau perbuatan. Padahal, anehnya, mereka mengerti sabda 
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.

"Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah 
bid'ah, setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan masuk dalam 
neraka".

Sabda beliau : "setiap bid'ah " bersifat umum dan menyeluruh, dan mereka 
mengetahui hal itu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyampaikan maklumat umum 
ini, tahu akan konotasi apa yang disampaikannya. Beliau Shallallahu 'alaihi 
wa sallam adalah manusia yang paling fasih, paling tulus terhadap umatnya, 
tidak mengatakan kecuali apa yang dipahami maknanya, Maka ketika Nabi 
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Kullu bid'atin dhalalah", Beliau 
menyadari apa yang diucapkan, mengerti betul akan maknanya, dan ucapan ini 
timbul dari beliau karena beliau benar-benar tulus terhadap umatnya.

Apabila suatu perkataan memenuhi ketiga unsur ini, yaitu : diucapkan dengan 
penuh ketulusan, penuh kefasihan dan penuh pengertian, maka perkataan 
tersebut tidak mempunyai konotasi lain kecuali makna yang dikandungnya.

Dengan pernyataan umum tadi, benarkah bahwa bid'ah dapat kita bagi menjadi 
tiga bagian, atau lima bagian ?

Sama sekali tidak benar. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan 
bahwa ada bid'ah hasanah, maka pendapat tersebut tidak lepas dari dua hal.

Pertama : kemungkinan tidak termasuk bid'ah tapi dianggapnya sebagai bid'ah.
Kedua : kemungkinan termasuk bid'ah, yang tentu saja sayyi'ah (buruk), 
tetapi dia tidak mengetahui keburukannya.

Jadi setiap perkara yang dianggapnya sebagai bid'ah hasanah, maka Jawabannya 
adalah demikian tadi.

Dengan demikian, tak ada jalan lagi bagi ahli bid'ah untuk menjadikan 
sesuatu bid'ah mereka sebagai bid'ah hasanah, karena kita telah mempunyai 
senjata ampuh dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu :

"Artinya : Setiap bid'ah adalah kesesatan"

Senjata itu bukan dibuat di sembarang pabrik, melainkan datang dari Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dibuat sedemikian sempurna. Maka 
barangsiapa yang memegang senjata ini tidak akan dapat dilawan oleh siapapun 
dengan bid'ah yang dikatakannya sebagai hasanah, sementara Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyatakan : "Setiap bid'ah adalah 
kesesatan".


[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi 
Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin 
Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus 
Sunnah, Bogor - Jabar]

sumber http://www.almanhaj.or.id

_________________________________________________________________
Don't just search. Find. Check out the new MSN Search! 
http://search.msn.click-url.com/go/onm00200636ave/direct/01/






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke