Wa'alaykumussalamu Warahmatullahi Wabarakatuh.
Walillahilhamd. Ash shalaatu was sallamu 'ala rasulillah.

Jazakallahu khayran akhi (mas) Irfan atas koreksi dan share ilmunya 
kepada kita semua. Inilah Islam, inilah manhaj kita.. Sekali-kali 
kita tidak mencela, namun kita meluruskan. Sungguh aneh persangkaan 
dan perkataan orang-orang yang tidak tahu (jahil), mereka berkata 
bahwa salafy hobi membid'ah-bid'ahkan, mengkafir-kafirkan, 
menyalahkan.. Dan hanya mereka saja yang benar!!

Al Iyadzubillah. Saling menashihati adalah bentuk nyata adanya 
ukhuwwah islam. Berikut salinan ana dari sebuah buku:

Kaidah-kaidah Ilmiyah Untuk Mengetahui Bid'ah

Penelitian al Imam al Albany pada bab ini antara lain adalah tentang 
kaidah-kaidah yang sangat penting dalam mengetahui bid'ah dan cara 
membedakan antara bid'ah dengan Sunnah.

Beliau rahimahullah menyebutkan dalam Ahkamul Janaiz wa Bida'uha.
Beliau berkata (hal. 43):
Bid'ah yang telah dinash kesesatannya oleh Pembuat syariat adalah:

1. Setiap yang menyelisihi sunnah, baik berupa perkataan, perbuatan 
maupun akidah, walaupun berasal dari ijtihad seseorang.
2. Setiap perkara yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah 
ta'ala, padahla itu dilarang Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.
3. Setiap perkara yang tidak mungkin disyariatkan kecuali dengan nash 
atau ketetapn, dan pada perkara tersebut tidak ada nashnya, maka hal 
itu merupakan bid'ah. Kecuali ada dalil dari shahabat dan telah 
diamalkan berulangkali tanpa ada yang mengingkari.
4. Adat orang kafir yang disandarkan kepada ibadah.
5. Sesuatu yang ditetapkan sebagai Sunnah oleh sebagian ulama (tetapi 
tidak ada dalilnya), apalagi oleh ulama belakangan seperti sekarang.
6. Setiap ibadah yang keterangan tentang tata caranya berasal dari 
hadist dha'if (lemah) atau maudhu' (palsu).
7. Berlebihan dalam ibadah.
8. Setiap iabdah yang umum menurut syar'i dan dibatasi manusia dengan 
berbagai batasan, seperti batasan tempat, waktu, sifat, dan bilanga.

[ditulis ulang dari buku: Al Albani dan Manhaj Salaf. Penyusun Amru 
Abdul Mun'im Salim. Terjemahan ini diterbitkan oleh Najla Press].
====

Dalam buku ini, al Imam juga mengingkari pembagian bid'ah mukaffirah 
dan mufassiqah. Benar, beliau juga menegaskan hanya ada dua 
pengertian bid'ah; secara bahasa dan istilah.

Adapun kalimat Ana "Jika kita berdo'a dengan bahasa ajam (selain 
arab), tidak apa-apa...", maka yang dimaksud adalah do'a diluar 
shalat. Karena, keterangan pelarangan do'a dalam shalat telah lalu 
dalam kalimat Ana. Alhamdulillah.

Adapun keterangan Ana soal pembukuan Al Qur'an, maka Ana pribadi 
tanyakan kepada ikhwah, kapankah usaha untuk pembukuan Al Qur'an ini 
mulai? Sebab yang Ana jelaskan adalah upaya/usaha untuk pembukuan 
AlQur'an ada mulai sejak Abu Bakar radliyallahu anhu menjadi khalifah 
dan baru terlaksana hingga selesai pada zaman Utsman bin 'Affan 
radliyallahu anhu. Bila ada keterangan lain, mohon penjelasannya. 
Bantahan Ana bahwa Pembukuan Alqur'an bukan Bid'ah, adalah dari 
footnote permulaan ayat QS. Al Baqarah di AlQur'an terjemah [edisi 
baru] yang telah keluar di tengah masyarakat. Ana lupa penerbitnya. 
Mudah-mudahan lain waktu Ana bisa memberitahukannya.

Jazakumullah khayr
Billahittawfiq wal hidayah.
Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Abu Nidia Aidin Alaik
B @ 1399 H.

--- In [email protected], "Irfan H. Al-Atsari" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Bismillahirrahmanirrahim 
> Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh. 
> Innal hamda lillahi nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruhu. Wa 
na'udzu billahi min syururi anfusina wamin sayyiaati a'maalina. Man 
yahdihillahu falaa mudhilla lahu waman yudhlil falaa haadiya lahu. 
Asyhadu allaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu wa asyhadu 
anna muhammadan 'abduhu wa rasuluhu laa nabiyya ba'dahu. Shallallahu 
alaih wa 'ala aalihi washohbihi ajma'in waman tabi'ahum bi-ihsan ila 
yaumid diin wasallama tasliman katsira. Amma ba'du; fa inna ahsanal 
kalam kalamullah wa khairal hadyi hadyu muhammadin shallallahu alaihi 
wasallam wa syarral umuuri muhdatsaatuha fa-inna kulla muhdatsatin 
bid'ah wa kulla bid'atin dholalah wa kulla dholalatin fin naar. 
> Wa ba'du;
> Ada yang harus dicermati dari penjelasan al-
akh "Isyhadubiannamuslim". Ana akan kupas satu persatu. 
> 1. Imam al Albany di salah satu kitabnya 
> menerangkan katagorisasi kenapa suatu amalan disebut bid'ah. 
> ANA KATAKAN : 
> Untuk memenuhi kaidah ilmiyah, ada baiknya antum cantumkan nama 
kitab dimaksud. Ini penting untuk menjadi bahan rujukan (muraja'ah). 
Sebagaimana ucapan Syaikh Al-Albani sendiri: "Min 
barakatil 'ilmi 'azwul qaul ila shahibih" [Termasuk barokahnya ilmu 
ialah menyandarkan ucapan kepada yang mengatakannya] Lihat Jilbab al-
Mar'ah al-Muslimah, bag. foonote hal.223. 
> 2. - Tidak ada dalil sama sekali, kemudian diamalkan. (mis. puasa 
mutih)
> ANA KATAKAN : 
> Para ulama Salaf membagi bid'ah -berdasarkan ada tidaknya dalil- 
menjadi dua: Bid'ah Haqiqiyah (sama sekali tidak ada dalil syar'i) 
dan Bid'ah Idhafiyah (asalnya ada dalil secara umum, tetapi tidak 
pada kaifiyatnya/tatacaranya, keadaannya, atau rinciannya). Nah, 
perihal puasa mutih. Puasa jelas ada dalilnya, tetapi puasa dengan 
cara tidak makan nasi (puasa mutih) tidak ada dalilnya! Jadi, ini 
termasuk bid'ah Idhafiyah, bukan bid'ah Haqiqiyah yg tdk ada dalilnya 
sama sekali. Tanabbah ya akhi fillah.. 
> 3. - Ada dalil umum, dipakai pada kasus khusus. (mis. dzikir 
berjama'ah. Bisakah menggunakan dalil "shalat berjama'ah lebih utama 
27 derajat daripada shalat sendirian"  untuk dalil shalat tahyatul 
masjid? Jelas pengambilan dalil umum pada kasus khusus. Ini bid'ah.)
> ANA KATAKAN : 
> Sebenarnya, kalo antum berhenti pada kata2 "mis. dzikir berjama'ah 
(dengan dipimpin satu orang, pen)" titik! Ini sudah benar. Adapun 
kalimat "dalil shalat berjama'ah lebih utama 27 derajat daripada 
shalat sendirian untuk dalil shalat tahyatul masjid?", sudah keluar 
dari kaidah pembahasan bid'ah dan sebuah ini contoh yg sangat keliru 
yg tdk pernah dicontohkan oleh Ulama Salaf! Karena seorang yg ngaji 
(muta'allim) akan tahu bahwa dalil shalat berjamaah ada sendiri dan 
dalil shalat tahiyatul masjid ada sendiri! Fa tanabbah ya akhi ...
> 4. Apalagi jika do'a tersebut dilafadzkan pada saat kita shalat. 
Jika kita berdo'a dengan bahasa ajam (selain arab), tidak apa-apa. 
Misalnya untuk do'a yang kita belum mengilmui lafaz arabnya.  
> ANA KATAKAN : 
> Berdoa dengan bahasa 'ajam dalam shalat hukumnya tidak boleh karena 
termasuk kalam (ucapan) yang tidak dicontohkan Nabi shallallahu 
alaihi wasallam. Harap diingat, shalat merupakan ibadah mahdhoh yang 
bersifat tauqifiyah (aturan baku yang diatur rinci oleh dalil 
syar'i). Dalilnya, sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : "inna 
hadzihis sholata laa yashluhu fiha syai-un min kalamin naas" HR 
Muslim [Sesungguhnya sholat ini tidak boleh ada padanya sedikitpun 
dari ucapan manusia]. 
> 5. Justru pembagian bid'ah ke hasanah adalah bid'ah! 
> 
> ANA KATAKAN : 
> Mahlan ya akhi... Para ulama sepakat semua bid'ah adalah sesat 
(kullu bid'atin dholalah) meskipun dipandang baik (hasanah) oleh 
sebagian orang. Hanya saja, kalau ada ulama Salaf yg membagi bid'ah 
kepada hasan dan ghairu hasan maka yg dimaksud adalah bid'ah 
lughawiyah (secara bahasa). Lihat kitab "Ushul al-Bida' was Sunan", 
Syaikh Muh. Ahmad al-'Adawi. 
> 6. Tapi, pembukuan Al Qur'an apakah bid'ah? Tidak. Bahkan Allah 
ta'ala sendiri menyebut Al Qur'an sebagai 'dzalikal kitabu laa rayba 
fiihi', yakni menggunakan lafal 'kitab', yang artinya sesuatu yang 
ditulis. jadi pembukuan al qur'an di masa Abu Bakar ash Shidiq 
radliyallahu anhu, adalah sesuatu yang telah Allah tentukan. Takdir 
Allah, pembukuan Al Qur'an dimulai seak zaman beliau radliyallahu 
anhu.
> 
> 
> ANA KATAKAN : 
> Argumen akhi bhw "pembukuan al qur'an di masa Abu Bakar ash Shidiq 
radliyallahu anhu(?!!), adalah sesuatu yang telah Allah tentukan" 
untuk memperkuat pendapat akhi ttg pembukuan Al-Qur'an bukan bid'ah, 
merupakan argumen yg sangat lemah sekali dan cenderung berdasarkan 
ra'yu! Hal ini dapat ditinjau dari beberapa segi :  
> 1. Pembukuan Al-Qur'an dimulai dari zaman khalifah Utsman bin Affan 
radhiyallahu anhu (bukan pada masa khalifah Abu Bakar as-Shiddiq!). 
Semua shahabat yg masih hidup -ketika itu- sepakat dengan apa yg 
dilakukan oleh khalifah sehingga ini menjadi Ijma' Shahabat!  Dan 
Ijma' Shahabat adalah hujjah, apalagi Utsman bin Affan adalah salah 
satu khulafaur rasyidin. Nabi bersabda: "Alaikum bi-sunnati 
wasunnatil khulafaa-ir raasyidin al-mahdiyyin..." [Kalian wajib 
berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin] 
HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dll, shahih. 
> 2. Ttg ayat "dzalika al-kitabu laa raiba fiihi" QS. Al-Baqarah : 2, 
para mufassirin sepakat lafal "al-kitab" disini artinya Al-Qur'an! 
[Lihat tafsir At-Tabhari, tafsir Ibnu Katsir dll]. Jangan sekali-kali 
mengartikan ayat Qur'an secara bahasa semata!! 
> 3. Segala peristiwa di langit dan bumi semuanya adalah sesuatu yang 
telah Allah tentukan. Perbuatan bid'ah/maksiat seseorang -sebagaimana 
amal kebaikan- juga telah ditakdirkan Allah dan sudah tercatat sejak 
50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit & bumi! HR Muslim. Hanya 
saja, manusia tidak boleh berbuat bid'ah/maksiat dengan dalih karena 
sudah ditakdirkan Allah. Ini merupakan kaidah Ahlus Sunnah wal 
Jamaah! Jadi, sangat tidak relevan argumentasi antum bhw pembukuan Al-
Qur'an bukan termasuk bid'ah karena telah Allah tentukan/takdirkan. 
>  
> Demikian ana sampaikan hal ini semata-mata dalam rangka mengamalkan 
ayat "tawaashau bil haq wa tawaashau bis shabr" dengan didasari 
sikap "innamal mu'minuuna ikhwah". Mohon maaf jika ada kata2 yg 
kurang berkenan dan aku mohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 
Wa shallallahu ala nabiyyina muhammad wa 'ala aalihi washohbih wa 
sallam. Wa aakhiru da'waana anil hamdu lillahi rabbil aalamin.. 
> Wassalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh. 
> 
>  
> Irfan Helmi bin Abdul Quddus (l. 1970)
>  
> isyhadubiannamuslim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Wa'alaykumussalamu Warahmatullahi Wabarakatuh
> 
> Yang ditanyakan sebab? Imam al Albany di salah satu kitabnya 
> menerangkan katagorisasi kenapa suatu amalan disebut bid'ah. Ada 
> beberapa penyebabnya. Diantaranya,.. (ini diantaranya lho)..
> 
> - Tidak ada dalil sama sekali, kemudian diamalkan. (mis. puasa 
mutih)
> 
> - Ada dalil umum, dipakai pada kasus khusus. (mis. dzikir 
berjama'ah. 
> Bisakah menggunakan dalil "shalat berjama'ah lebih utama 27 derajat 
> daripada shalat sendirian"  untuk dalil shalat tahyatul masjid? 
Jelas 
> pengambilan dalil umum pada kasus khusus. Ini bid'ah.)
> 
> - Ada dalil, tapi dikhususkan pada tempat, waktu dan kondisi 
> tertentu. (mis. bersalaman seusai salam shalat. Bersalaman adalah 
> sunnah yang sangat dianjurkan. Tapi sayang orang-orang belakangan 
> membuat sunnah baru, mereka mengkhususkan salaman di waktu, tempat, 
> dan kondisi tertentu)
> 
> Berdo'a adalah ibadah, alangkah baiknya jika menggunakan doa-doa 
yang 
> sudah dicontohkan Nabi Muhammad shalallahu 'alayhi wa sallam. 
Apalagi 
> jika do'a tersebut dilafadzkan pada saat kita shalat. 
> 
> Jika kita berdo'a dengan bahasa ajam (selain arab), tidak apa-apa. 
> Misalnya untuk do'a yang kita belum mengilmui lafaz arabnya. Tapi 
> kita harus tetap belajar dan berusaha untuk menguasai do'a dalam 
> bahasa arab sesuai as sunnah.
> 
> Bid'ah tidak ada yang hasanah. Semua dlalal (sesat). Justru 
pembagian 
> bid'ah ke hasanah adalah bid'ah!
> Logika saja, kalau kita benarkan ada bid'ah hasanah,... Maka tiap 
> ahlul bid'ah akan mengklaim bid'ahnya hasanah. Berarti tidak ada 
> bid'ah sama sekali, karena kita akan klaim semua bid'ah hasanah.
> 
> Yang ada hanyalah bid'ah secara bahasa dan bid'ah secara istilah. 
> Komputer jelas bid'ah (secara bahasa), karena komputer tidak ada di 
> zaman Nabi dan shahabat.
> 
> Tapi, pembukuan Al Qur'an apakah bid'ah? Tidak. Bahkan Allah ta'ala 
> sendiri menyebut Al Qur'an sebagai 'dzalikal kitabu laa rayba 
fiihi', 
> yakni menggunakan lafal 'kitab', yang artinya sesuatu yang ditulis. 
> 
> jadi pembukuan al qur'an di masa Abu Bakar ash Shidiq radliyallahu 
> anhu, adalah sesuatu yang telah Allah tentukan. Takdir Allah, 
> pembukuan Al Qur'an dimulai seak zaman beliau radliyallahu anhu.
> 
> Walillahilhamd atas sempurnanya Diin kita.
> Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
> 
>               
> ---------------------------------
> Celebrate Yahoo!'s 10th Birthday! 
>  Yahoo! Netrospective: 100 Moments of the Web








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke