|
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, Slahkan untuk di telaah, dan ana merasa gembira jika ada yang lebih tahu akan makna hadits ini dan lebih jauh untuk menjelaskannya, jazakumullah. Hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim: Akan masuk surga tujuh puluh ribu
orang tanpa hisab (dihitung amalnya). Para shahabat bertanya, "Siapakah
mereka ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Mereka adalah orang yang
tidak minta diruqyah, tidak tathayyur, tidak berobat kay (dengan menggunakan
besi panas) dan bertawakal kepada Tuhannya." Imam Ahmad, Khattabi, al-Qadhi Iyadh, Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu
Qayyim berpendapat bahwa meminta diruqyah bisa mencederai kesempurnaan tawakal.
Sedangkan Imam Thabari, al-Maziri, Ibnu Qutaibah, Ibnu Abdil Bar, Qurthubi
berpendapat bahwa orang yang meminta diruqyah tetap bisa mempunyai tawakal yang
sempurna, artinya mereka masih berhak mendapatkan janji hadits tersebut. Hanya
saja, setelah melihat dalil dari masing-masing pendapat, pendapat yang
mengatakan bahwa meminta diruqyah bisa mencederai tawakal lebih kuat
dibandingkan pendapat yang kedua. Di sini, kita bisa menarik dua kesimpulan: Pertama, Orang yang meminta
untuk diruqyah tidak bisa masuk surga tanpa hisab, tetapi masih terbuka peluang
baginya untuk masuk surga dan masih harus melalui proses hisab. Kedua, Yang
terhalang untuk masuk surga tanpa hisab adalah mereka yang meminta untuk
diruqyah, adapun orang yang meruqyah tidak masuk dalam pembahasan hadits
tersebut. Untuk point ini, memang terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa orang
yang meruqyah pun terhalang untuk masuk surga tanpa hisab. Tetapi riwayat
tersebut didhaifkan oleh para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkomentar,
"Riwayat tersebut lemah dan salah. Sesungguhnya orang yang meruqyah orang
lain dan dirinya sendiri adalah perbuatan baik, maka bagaimana dianjurkan untuk
ditinggalkan? Jibril sendiri telah meruqyah Nabi dan Nabi pun meruqyah para
shahabatnya dan mengizinkan kepada mereka untuk meruqyah dengan sabdanya, "Barangsiapa
yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka lakukanlah. Dan, memberikan
manfaat sangat dianjurkan." (Lihat Majmu' al-Fatawa 1/182). Syekh Al-Albani juga mendhaifkan riwayat tersebut, "Riwayat ini
syadz (bertentangan dengan riwayat yang kuat), hanya diriwayatkan oleh gurunya
Imam Muslim yaitu Said bin Mansur." (Lihat Tahqiq Mukhtasar al-Mundziri
Lishahih Muslim Hal. 37). Jadi, meruqyah adalah suatu kebaikan yang mendatangkan pahala dan
sangat dianjurkan. Sedangkan meminta untuk diruqyah tidak menghalangi seseorang
untuk meraih surga. Hanya saja dia kelak bisa masuk surga setelah melalui proses
hisab seperti kebanyakan penghuni surga. Wallaahua'lam Wassalaamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuhu, -----Original Message----- Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Saya sedang mencari dalil ttg ruqyah, seorang teman memberitahu bahwa
Ruqyah boleh dilakukan TETAPI menurut info dia bahwa ada hadist yg menyatakan
BAHWA BARANGSIAPA TIDAK MEMINTA DIRUQYAH OLEH ORANG LAIN, maka ia AKAN
DIMUDAHKAN DALAM HISAB KELAK. Mohon kalo ada yg mengetahui ttg hadist ini, info kpd
saya.........syukron
|
