waâalaykumussalaam wa rahmatullahi wa barakatuh. alhamdulillah... kebetulan ana baru dipinjamkan rekaman kajian Ustadz Abdul Hakim tentang qabla nikah. kalau tidak salah kajian itu diadakan sekitar tahun 2003, allahuaâlam.
pada sesi tanya jawab, cukup banyak yang bertanya tentang taâaruf. dan kesimpulan yang ana ambil waktu itu adalah bahwa sebenarnya tidak ada istilah taâaruf dalam islam bagi seseorang yang ingin menikah dengan orang lain. karena sesungguhnya setiap muslim itu memang harus taâaruf atau saling mengenal, dalam arti setiap muslim itu harus terbedakan dari yang kafir alias mudah dikenali sebagai muslim sehingga kita bisa mengucapkan salam, menjawab salam, mendoakan dan menunaikan hak2 sesama muslim lainnya. allahuaâalam. jadi... adapun kalau kita ingin menikah, bisa saja kita tidak mengenal calon kita itu sebelumnya. dan boleh saja kalau kita merasa tidak perlu melihatnya karena mungkin -insya Alloh- kita sudah yakin sama dia atau kita hanya ingin menikah! tetapi bila kita ingin mengenalnya dan atau ingin melihatnya supaya kita akan semakin tambah yakin, maka itu pun diperbolehkan -insya Alloh-, bahkan disunnahkan. diriwayatkan dari al mughirah bin syuâbah, ia berkata: âaku berniat melamar seorang wanita. Rasulullah -shallallahuâalayhi wa sallam- bertanya kepadaku: âapakah engkau sudah melihatnya?â âbelumâ jawabku. beliau bersabda: âlihatlah dia, karena hal itu dapat melanggengkan rumah tangga kalian berdua.â [HR. An Nasai dan selainnya, At tirmidzi berkata: hadits ini hasan] bagi ana, hadits di atas, selain menunjukkan disunnahkannya melihat calon isteri sebelum menikahinya, menunjukkan pula bahwa sahabat tersebut berniat melamar calon isterinya itu walaupun belum pernah melihatnya, apalagi mengenalnya. -mungkin- hal itu adalah kebiasaan zaman itu dulu ya... apalagi saat itu belum ada telfon, sms, internet atau alat komunikasi lainnya yang memungkinkan untuk saling mengenal melainkan dengan bertemu, sampai akhirnya sahabat tersebut diperintahkan Rasulullah -shallallahuâalayhi wa sallam- untuk melakukannya. allahuaâlam. intinya... kalau kita ingin menikah, kita nggak perlu risau kalau kita belum cukup mengenal calon kita dengan baik sebelumnya atau belum cukup âbersahabatâ dengannya. insya Alloh, itu lah kenapa kita harus segera menikahinya! kalau masalah kekurangan ya... siapa sih yang sempurna?! kalau masalah kecocokan ya... jalan mana sih yang mulus2 aja?! itu lah kenapa yang lebih diutamakan bagi seseorang dalam mencari pasangan hidup itu adalah yang baik agama dan akhlaknya agar bila ditemukan suatu kelebihan pada masing2, maka masing2 akan bersyukur. dan bila ditemukan kesalahan pada masing2, maka masing2 akan bersabar â"insya Alloh-. dan pertanyaan pun bergulir lagi: bagaimana caranya kita tahu agama dan akhlak seseorang itu baik? yang jelas... kita nggak perlu bertanya sama orangnya bukan?!. wallahuaâlam. wassalaamuâalaykum wa rahmatullahi wa barakatuh, luluan m --- In [email protected], Novareza Klifartha <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh > > ehm.. sebenarnya saya juga masih merasa kurang paham batasan dalam ta'aruf, maksudnya apa saja yang perlu kita lakukan dalam ta'aruf agar efektif dan efisien, atau memang banyak unsur 'gambling'nya karena jdoh itu masalah ghaib di tangan Allah SWT. saya pernah ditanya seperti ini oleh seorang akhwat, agak bingung juga jawabnya, soalnya dia bilang temenan lama... ada rasa suka, tapi gak pacaran - karena menurut dia pacaran itu tidak sesuai tuntunan agama, meski pernah (katanya).- dan menurut dia temenan buat cari jodoh itu lebih sesuai. mungkin ada yang bisa memberikan masukan lagi. > > terima kasih. > > o ya, saya ikhwan lho (soalnya ada beberapa yg sempat menganggap saya akhwat) > > > wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh > > On 5/28/05, Chandraleka <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Wa'alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh > > > > Masalah ini memang menarik untuk dibahas. Apa yang harus dipersiapkan untuk > > menikah? > > Yang terpenting adalah kesiapan mental untuk memegang tanggung jawab. > > Baik dari si ikhwan maupun si akhwat nya. Sang ikhwan akan memegang tanggung > > jawab menafkahi, melindungi, membimbing, dst. Yang tadinya beban tanggung > > jawab ada pada wali akhwat tsb maka akan berpindah pada sang ikhwan > > (suaminya). > > Sang akhwat juga harus siap dengan beban tanggung jawab sebagai istri dan > > ibu rumah tangga. Ia harus melayani suami, bahkan ketika harus puasa sunnah > > harus dengan izin suami. Ia juga harus membantu suami mengurusi rumah, juga > > tidak menjadikan dirinya sebagai pemimpin suaminya. Dst. > > Ini yang perlu disadari, karena pernikahan bukan melulu masalah kenikmatan. > > Tapi lebih banyak masalah tanggung jawab. Dan bila tanggung jawabnya makin > > besar, insya Allah ganjarannya juga besar. Allah Maha Adil. Maka tepat > > sekali bila dikatakan bahwa pernikahan adalah ladang untuk meraih pahala. > > > > Yang lainnya adalah kesiapan menerima pasangan kita apa adanya. > > Harus diingat, tidak mungkin mencari pasangan hidup yang sempurna. Bahkan > > dalam masalah agama pun, ikhwan dan akhwat itu plus minus. Ada yang baik di > > satu sisi tapi lemah disisi yang lain. Jadi apa kriteria pokok seorang > > pendamping kita? Cari yang agamanya baik. Tandanya ia berusaha mempelajari > > dan mengamalkan Islam. Misalnya, rajin ikut taklim, pengajian, baca buku, > > dll. Insya Allah kekurangan kekurangan yang lain (misal masih suka nonton > > sinetron, dll) bisa diperbaiki. > > > > Menerima pasangan apa adanya bukan berarti dibiarkan kelemahan yang ada. > > Inilah pentingnya KOMUNIKASI, SALING MEMAHAMI, DAN SALING MENASEHATI setelah > > pernikahan. Wah, tentu sang ikhwan / akhwat akan berbunga sekali bila > > pasangannya sering menasehatinya. Karena nasehat (masalah agama) merupakan > > bentuk perhatian yang serius. Makanya jangan marah kalau suami / istri > > menasehati. > > > > AKHWAT NEMBAK IKHWAN > > Tsabit al Bunnani berkata, "Aku berada di sisi Anas dan disebelahnya ada > > anak perempuannya. Anas berkata, 'Seorang wanita datang kepada Rasulullah > > Shallallahu 'alaihi wa sallam menawarkan dirinya seraya berkata, 'Wahai > > Rasulullah, apakah engkau berhasrat kepadaku?' Maka anak perempuan Anas > > berkata, 'Alangkah sedikit perasaan malunya. Idiih..., idiih.. 'Anas > > berkata, 'Dia lebih baik daripada engkau. Dia menginginkan Nabi Shallallahu > > 'alaihi wa sallam lalu menawarkan dirinya kepada beliau." (HR. Bukhari). > > > > Boleh saja sang akhwat 'nembung' atau menembak (istilah gaulnya) si ikhwan, > > meminta agar si ikhwan melamarnya. Tentunya dengan cara cara yang baik dan > > sopan. Bisa melalui pihak ketiga (teman, saudara, atau orang yang dipercaya) > > untuk menyampaikan maksudnya. Kemudian beri waktu sang ikhwan untuk > > menimbang nimbang tawaran tersebut, dengan lapang, jernih. Kalo menurut saya > > baiknya sang akhwat yang nembak ini menawarkan diri untuk TA'ARUF, jadi > > bukan tawaran skala berat yaitu Langsung MELAMAR. > > Akhirnya kalo diterima ya alhamdulillah. Dan kalo pun di tolak ya > > alhamdulillah, karena perjodohan adalah hal yang ghaib, manusia hanya > > berusaha, karena berdiam diri tidak menghasilkan apa apa. Penolakan pun pada > > hakikatnya adalah kebaikan juga buat kita. Yang perlu dilakukan adalah > > sampaikan kepadanya bahwa jangan sampai proses yang telah dilalui ini > > membuat kedua pihak merasa tidak enak, cenderung menghindar, atau bahkan > > marah dan dendam. Niat awalnya adalah kebaikan dan diakhiri dengan kebaikan > > juga. > > > > Ini sekedar masukan saja dari seorang yang belum berpengalaman. Semoga > > bermanfaat. > > > > Wassalamu'alaikum > > > > Chandraleka > > Independent IT Writer > > > > > > ----- Original Message ----- > > > Date: Wed, 25 May 2005 18:28:37 -0700 (PDT) > > > From: Ghariza Muqorobbin <[EMAIL PROTECTED]> > > > Subject: Apa yang harus dipersiapkan untuk menikah? > > > > > > assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh > > > > > > ana bertanya, ya mungkin untuk sudah menikah, berpengalaman dan yang > > > sudah tahu apa sih yang harus dipersiapkan untuk menuju ke pernikahan? > > > baik untuk akhwat maupun ikhwan > > > > > > terus terang ana agak kebingungan masalah definisi "SIAP MENIKAH" > > > > > > Dan hal ini, (mungkin) selalu ditanyakan di dalam hati setiap para ikhwan > > > dan para akhwat yang belum menikah tapi sangat ingin. hanya saja bingung > > > "SIAP" itu apa sih sehingga para pemuda menunda mengkhitbah calon > > > istrinya > > > > > > Dan mungkin ada yang bisa berbagi pengalaman (kalo ada), akhwat yang > > > "maju" duluan "nembung" ke ikhwan. > > > > > > atas jawabannya ana ucapkan terima kasih > > > > > > jazakumullah khairan katsira > > > > > > wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ------------------------------------------------------------------------ Website Islam pilihan anda. http://www.assunnah.or.id http://www.almanhaj.or.id Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
