assalaamu'alaikum wr. wb maaf mau tanya, berarti boleh mendoakan kepada orang yang telah meninggal (orang muslim)? atau hanya diperbolehkan mendoakan kepada kedua orangtua saja. mohon pencerahannya
wassalaamu'alaikum wr.wb -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of fsms sunnah Sent: 06 Juli 2005 0:16 To: [email protected] Subject: Re: [assunnah] TAHLIL : Mohon Pencerahan Wa'alaikumus Salam warohmatullahi wabarokatuh Sedikit memberikan secuil bantuan tak berarti, mudah-2an sedikit bermanfaat. 1. Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At-Taubah : 84). Ini ayat untuk orang munafiq, sedangkan untuk orang muslim berlaku sebaliknya (dishalatkan dan di doakan). Kami jawab : Mana wijhatun nadhor (sisi pengamatan) istidlal bolehnya tahlil?? Memang benar ayat di atas utk kaum kafir dan munafikin, sebab jika yang meninggal kaum muslimin maka dia wajib disholati dan dido'akan... Namun yang aneh adalah, sisi pendalilan bolehnya tahlil dimana?? yang ada hanya perintah disholatkan jenazah dan dido'akan, tidak ada perayaan tahlil semacam 40 harian, 1000 hari atau semacamnya... ini jelas bentuk istidlal yang ngawur... (afwan) 2. Rasulullah shalat jenazah yang hukumnya Fardu Kifayah (dalam rakaat ketiga mendoakan mayit ,"Allahummaghfirlahu ..dst") Tanggapan : Sekali lagi pemaksaan dalil dilakukan oleh teman antum... apa korelasi antara tahlil dengan do'a "Allahummagh firlahu warhamhu... dst" dengan perayaan tahlilan atau semacamnya... Ana katakan ini adalah qiyas fasid dan analog yang paling ngawur yang pernah ana dengar (afwan)... Bagaimana mungkin tahlil yang jelas-2 tdk ada dalilnya diqiyaskan dengan do'a yg warid dari Rasulillah yang dibaca di dalam sholat jenazah... oleh karena itu ana katakan : Do'a dan sholat jenazah adl sunnah, bahkan fardhu kifayah sedangkan tahlil adalah muhdats, bid'ah dholalah!!! 3. Rasul juga ziarah kubur ke Baqi hampir setiap pagi (saya ditunjukan hadistnya dari Bukhari) Tanggapan : Apa hubungannya ziarah kubur dengan tahlilan?? apakah sama ziarah kubur dengan membaca yasinan agar bacaanya sampai kepada mayit tiap 40 hari, 1000 hari dls... ana katakan lagi, ini bentuk istidlal yang mengada-ada, ngawur dan qiyas afsadil afaasid (analog yang paling ngawur)... 4. Hadist di atas "Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang shaleh (laki/perempuan) yang berdo'a untuknya (mayit)". (An-Nawawi, SYARAH MUSLIM, juz 1 hal. 90). Yang putus amal itu orang mati tapi yang mendoakan kan orang hidup. Kemudian "anak yang shaleh" tidak dikatakan "anaknya si mayit yang shaleh" atau Waladhu Shalihun tapi "anak yang shaleh" atau Waladun Shalihun (jadi siapa saja bisa yang penting anak shaleh). Tanggapan : Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... untuk keempat kalinya teman antum telah mem'perkosa' (afwan) dalil untuk melanggengkan suatu kebid'ahan... Ana katakan kepadanya, na'am ya akhy, memang benar bahwa waladun sholihun dapat mengangkat amal bagi orang tuanya yang telah meninggal dengan doanya sebagaimana di dalam hadits... fihak yang membid'ahkan tahlil tidak menolak hal ini... Namun fihak yang membid'ahkan tahlil mempertanyakan... apakah hubungan hadits ini dengan tahlilan?? dimana kalian mengumpulkan manusia di rumah duka mayit, dan membacakan ayat-2 yg dikhususkan tanpa ada dalilnya dan meyakini bahwa pahala bacaan tsb dikirimkan kpd sang mayit, membaca do'a secara berjama'ah, membagi-2kan makanan, mengkhususkan hari ke-7, ke-40, ke-100 dst... manakah dalilnya semua ini?? Apakah antum merasa lebih alim ketimbang rasulullah dan para sahabatnya?? bukankah para sahabat juga mendengarkan hadits ini, bahkan lebih dulu ketimbang antum, namun adakah mereka merayakan tahlil..??? haihata haihata mimma taquuluun... 5. Apakah ada keterangan langsung dari Allah ataupun dari Rasul yang mengatakan "tidak sampai" doa kita. Tanggapan : masalah tahlilan bukan sekedar do'a sampai atau tidak, namun masalah tahlilan diharamkan dan bid'ah dikarenakan tahlil adalah bentuk niyahah (ratapan) yg sering dilakukan oleh kaum wanita di zaman jahiliyah, dan Imam Syafi'i sendiri telah menjelaskan bahwa berkumpul-2 di rumah duka sembari membagi-2 makanan adl suatu bentuk niyahah, oleh karena itu tahlil adl bid'ah dholalah dan haram... Adapun do'a, maka do'a kaum muslimin kepada muslim lainnya isnya Allah maqbul... Bukankah Rasulullah telah mengajarkan kita dan sering dibacakan oleh khathib di minbar-2 untuk berdo'a : Allahummagh fir lil muslimiina wal muslimaat al-Ahyaa'i minhum wal amwaat Maka... dalih teman antum itu pada hakikatnya adalah lemah, bahkan lebih lemah ketimbang sarang laba-2 Kemudian... yang dimaksud oleh Imam Syafi'i sebagaimana antum nukil adalah, 'adat mengirimkan pahala bacaan al-Qur'an' bukanlah do'a... sebab orang yg tahlilan seringkali meyakini bahwa membacakan surat-2 al-Qur'an namun dipersembahkan bagi sang mayit, inilah maksud dari ucapan Imam Syafi'i di dalam menafsirkan firman Allah, "Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri" Wallahu a'lam bish showab... Afwan kalo ada kata-2 yg tak berkenan... ------------------------------------------------------------------------ Website Islam pilihan anda. http://www.assunnah.or.id http://www.almanhaj.or.id Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
