Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Kategori Qadha & Qadar
Rabu, 18 Februari 2004 16:08:16 WIB

SEGALA SESUATU TELAH DITENTUKAN DAN MANUSIA DIBERI PILIHAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Tentang Qadar ; apakah pokok 
perbuatan telah di takdirkan, sementara manusia diberi kebebasan memilih (punya 
kebebasan) cara pelaksanaannya ? Sebagai contoh apabila Allah telah 
mentakdirkan seorang hamba untuk membangun masjid, maka dia pasti membangun 
masjid, akan tetapi Dia (Allah) membiarkan akalnya untuk memilih cara 
membangun. Begitu juga, apabila Allah telah mentakdirkan kema'syiatan, maka 
manusia sudah barang tentu melakukannya, akan tetapi Dia membiarkan akalnya 
untuk memilih cara melaksanakannya. Ringkasnya manusia itu diberi kebebasan 
memilih cara melaksanakan sesuatu yang telah ditakdirkan kepadanya. Apakah itu 
benar ?"

Jawaban
Masalah ini (Qadar) memang menjadi pusat perdebatan di kalangan umat manusia 
sejak zaman dahulu. Oleh karena itu, dalam hal ini mereka dapat 
diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu dua kelompok saling 
kontroversial dan satu kelompok sebagai penengah.

Kelompok Pertama.
Memandang pada keumuman Qadar Allah, sehingga dia buta tentang kebebasan 
memilih hamba. Dia mengatakan : "Sesungguhnya dia dipaksa dalam segala 
perbuatannya dan tidak mempunyai kebebasan memilih jalannya sendiri. Maka 
jatuhnya seseorang dari atap bersama angin dan sebagainya sama dengan turun 
dari atap tersebut dengan tangga sesuai dengan pilihannya sendiri.

Kelompok Kedua.
Memandang bahwa seorang hamba melakukan dan meninggalkan sesuatu dengan 
pilihannya sendiri, sehingga dia buta dari Qadar Allah. Dia mengatakan bahwa 
seorang hamba bebas memilih semua perbuatannya dan tidak ada hubungannya dengan 
Qadar Allah.

Kelompok Penengah.
Maka mereka melihat dua sebab. Mereka memandang pada keumuman Qadar Allah dan 
sekaligus kebebasan memilih hamba-Nya. Maka mereka mengatakan : "Sesungguhnya 
perbuatan hamba terjadi karena Qadar Allah dan dengan pilihan hamba itu 
sendiri. Dia tentu tahu perbedaan antara jatuhnya seseorang dari atap karena 
angin dan semisalnya dengan turun melalui tangga atas pilihannya sendiri. Yang 
pertama adalah orang yang melakukannya diluar pilihannya dan yang kedua dengan 
pilihannya sendiri. Masing-masing dari keduanya terjadi karena Qadha' dan Qadar 
Allah yang tidak akan terjadi dalam kerajaan-Nya apa yang tidak Dia kehendaki, 
akan tetapi sesuatu yang terjadi dengan pilihan seorang berhubungan dengan 
taklif (pembebanan/hukum) dan dia tidak punya alasan Qadar dalam melanggar apa 
yang telah dibebankan kepadanya, baik berupa perintah maupun larangan. Karena 
dia melakukan sesuatu yang menyalahi (hukum Allah) dan ketika melakukannya dia 
belum tahu apa yang ditakdirkan kepadanya. Maka perlakuan tersebut menjadi 
sebab siksaan, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, ketika dia 
dipaksa oleh seseorang untuk melakukan sesuatu yang menyalahi (hukum Allah), 
maka tidak ada hukum dan siksaan atas perbuatan tersebut karena 
keterpaksaannya, Apabila manusia mengetahui bahwa melarikan diri dari api ke 
tempat yang lebih aman adalah pilihannya sendiri dan bahwa kedatangan ke rumah 
bagus, luas dan layak tinggal juga merupakan pilihannya, di sisi lain dia juga 
meyakini bahwa melarikan diri dan kedatangan tersebut terjadi karena Qadha' dan 
Qadar Allah. Sedangkan tetap tinggal (di rumah tersebut) sehingga ditelan api 
dan ketelatannya untuk menempati rumah dapat dikatakan menyia-nyiakan 
kesempatan yang berakibat penyesalan. Maka kenapa dia tidak memahami ini dalam 
hal kecerobohannya dengan meninggalkan sebab-sebab yang bisa menyelamatkan 
dirinya dari neraka akhirat dan menggiringnya untuk masuk jannah.?

Adapun gambaran bahwa ketika Allah telah mentakdirkan seorang hamba untuk 
membangun masjid, maka dia pasti akan membangun masjid, akan tetapi Dia (Allah) 
membiarkan akalnya dalam menentukan cara membangun, adalah gambaran yang kurang 
tepat. Karena gambaran tersebut mengindikasikan bahwa cara membangun adalah 
kebebasan akal dan tidak terkait dengan Qadar Allah di dalamnya dan sumber 
pikiran (untuk membangun) semata-mata karena kekuasaan Qadar dan tidak ada 
kaitannya pilihan (hamba) di dalamnya. Hal yang benar adalah sumber pikiran 
membangun merupakan bagian dari pilihan manusia karena dia tidak dipaksakan, 
sebagaimana dia tidak dipaksa untuk merenovasi rumahnya atau membongkarnya, 
Akan tetapi munculnya pikiran tersebut, sebenarnya telah ditakdirkan oleh Allah 
tanpa ia sadari, karena dia belum tahu bahwa Allah telah mentakdirkan apapun 
kecuali setelah terjadinya, karena Qadar itu rahasia dan tertutup yang tak 
dapat diketahui kecuali melalui petunjuk Allah dalam bentuk wahyu atau kejadian 
nyata. Begitu juga cara membangun tetap dalam Qadar Allah, karena Allah telah 
menetapkan segala sesuatu, baik secara global maupun rinci dan tidak mungkin 
menusia bisa memilih sesuatu yang tidak dikehendaki dan ditetapkan Allah, akan 
tetapi bila seseorang memilih sesuatu dan melakukannnya maka dia baru tahu 
dengan yakin bahwa hal tersebut telah ditetapkan Allah. Dengan demikian, 
manusia diberi kebebasan memilih berbagai sebab nyata yang telah ditetapkan 
Allah sebagai sebab terjadinya perbuatan dan ketika melakukannya manusia tidak 
merasa dipaksa oleh siapapun. Akan tetapi, bila dia telah melakukan perbuatan 
tersebut berdasarkan sebab-sebab yang telah dijadikan Allah sebagai sebab, maka 
kita baru tahu dengan yakin bahwa Allah telah menetapkannya (mentadkdirkan), 
baik secara global maupun rinci.

Demikian juga, kami bisa berbicara tentang perbuatan ma'siyat manusia, dimana 
kamu mengatakan : "Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan kepadanya perbuatan 
ma'siyat, sehingga dia pasti melakukannya. Akan tetapi Dia (Allah) membiarkan 
(menyerahkan) kepada akalnya tentang cara pelaksanaannya".

Maka dalam hal ini, kami katakan sebagaimana yang telah kami sampaiakan dalam 
hal pembangunan masjid di atas ; Sesungguhnya Qadar Allah kepadanya untuk 
melakukan ma'siyat tidak berarti menghilangkan kebebasan (memilih)nya. Karena 
ketika dia memilih perbuatan tersebut (ma'siyat) dia belum tahu apa yang 
ditakdirkan Allah kepadanya, lalu dia melakukan perbuatan tersebut sesuai 
dengan pilihannya dan tidak merasa dipaksa oleh siapapun. Akan tetapi ketika 
dia telah melakukannya, maka kita baru mengetahui bahwa Allah telah 
mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. begitu juga, cara pelaksanaan 
mas'iyat dan proses menuju ke sana yang terjadi dengan pilihan manusia tidak 
berarti menghilangkan Qadar Allah. Karena Allah telah mentakdirkan segala 
sesuatu, baik secara global maupun rinci dan telah menetapkan sebab-sebab 
menuju ke sana dan seluruh perbuatan-Nya tidak terlepas dari Qadar-Nya dan 
begitu juga perbuatan hamba-Nya, baik yang bersifat ikhtiyari (sesuai pilihan) 
maupun idhthirari (terpaksa), 

Allah berfirman.

"Artinya : Apakah kamu belum tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit 
dan bumi, sesungguhnya hal itu telah ada dalam Kitab, sesungguhnya itu bagi 
Allah sangat mudah" [Al-Hajj : 70]

Allah juga berfirman.

"Artinya : Begitu juga Aku telah menjadikan bagi setiap nabi musuh yang berupa 
syetan-syetan dari bangsa Manusia dan Jin yang sebagian menyampaikan kepada 
sebagian lain ucapan palsu. Dan apabila Rabb-mu menghendaki, maka mereka tidak 
melakukannya (kebohongan). Maka tinggalkanlah mereka dan kebohongannya" 
[Al-An'am : 12]

Allah juga berfirman.

"Artinya : Begitu juga Allah telah menghiasi kebanyakan orang-orang musyrik 
dengan pembunuhan anak-anak mereka kepada teman-teman mereka untuk menarik 
mereka dan meremangkan agama mereka. Apabila Allah menghendaki, maka mereka 
tidak melakukannya. Maka tinggalkanlah mereka dan kebohongan mereka" [Al-An'am 
: 137]

Dia juga berfirman.

"Artinya : Kalau Allah menghendaki, maka tidaklah saling membunuh orang-orang 
setelah mereka setelah datang penjelasan kepada mereka. Akan tetapi mereka 
saling berselisih, sehingga sebagian mereka ada yang beriman dan sebagian ada 
yang kafir. Kalau Allah menghendaki, maka mereka tidak saling membunuh" 
[Al-Baqarah : 253]

Setelah itu, maka sebaiknya seseorang tidak membicarakan dengan diri sendiri 
atau dengan orang lain tentang persoalan seperti ini yang akan berakibat 
gangguan dan menimbulkan prasangka adanya pertentangan antara Syari'ah dengan 
Qadar. Karena hal itu bukanlah merupakan kebiasaan sahabat, padahal mereka 
orang yang paling semangat untuk mengetahui berbagai kebenaran dan lebih dekat 
dengan nara sumber dan pemecahan kesedihan. Disebutkan dalam Shahihul Bukhari 
dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tak seorangpun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga 
atau tempatnya di neraka" Kemudian (sahabat) bertanya : "Ya Rasulullah, apakah 
kita tidak menyerah saja" (Dalam suatu riwayat disebutkan :'Apakah kita tidak 
menyerah saja pada catatan kita dan meninggalkan amal). Beliau menjawab : 
"Jangan, beramallah, setiap orang dipermudah (menuju takdirnya)". (Dalam suatu 
riwayat disebutkan : "Beramallah, karena setiap orang dipermudah menuju sesuatu 
yang telah diciptakan untuknya"). Orang yang termasuk ahli kebahagiaan, maka 
dia dipermudah menuju perbuatan ahli kebahagiaan. Adapun orang yang termasuk 
ahli celaka, maka dia dipermudah menuju perbuatan ahli celaka". Kemudian beliau 
membaca ayat : "Adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan 
kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang 
bakhil dan menumpuk kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan 
mempermudahnya menuju kesulitan".

Dari hadits di atas, jelaslah bahwa Nabi melarang sikap menyerah pada catatan 
(takdir) dan meninggalkan beramal, karena tak ada peluang untuk mengetahuinya 
dan beliau menyuruh hamba untuk berbuat semampu mungkin, yang berupa amal. 
Beliau mengambil dalil dengan ayat yang menunjukkan bahwa orang yang beramal 
shalih dan beriman, amal dia akan dipermudah menuju kemudahan. Ini merupakan 
obat yang berharga dan mujarab, di mana seorang hamba akan mendapatkan puncak 
kesejahteraan dan kebahagiaannya dengan mendorong untuk beramal shalih yang 
dibangun di atas landasan iman dan dia akan bergembira dengannya karena ia akan 
didekatkan dengan taufiq menuju kemudahan di dunia dan akhirat.

Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufiq kepada kita semua untuk 
melakukan amal shalih dan mempermudah kita menuju kemudahan dan menajauhkan 
kita dari kesulitan dan mengampuni dia akhirat dan dunia. Sesungguhnya Dia Maha 
Pemurah lagi Maha Mulia.

[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha 
dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka 
At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Sumber :
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=236&bagian=0

wassalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh


--- Nkurnia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bismillahirrahmaanirrahiim,
> 
> 
> Adakah doa yng dicontohkan Nabi Muhammad  ketika
> kita  berangkat 
> menuju masjid
> 
> Wassalaamu 'alaikum,

                
________________ 
How much free photo storage do you get? Store your holiday 
snaps for FREE with Yahoo! Photos http://uk.photos.yahoo.com




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke