ULAMA-ULAMA PEMBELA DAKWAH SALAFIYAH DAHULU HINGGA SEKARANG
 -MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB RAHIMAHULLAH -

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi
Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan 3/3
  
[Insya Allah Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, ceramah di Masjid Istiqlal,
Ahad 20-Muharram 1427H/ 19-Ferbruari 2006, jam 09.00 - 12.00,
terbuka untuk umum (pria dan wanita), sumber
http://www.almanhaj.or.id]


MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB RAHIMAHULLAH

Beliau hidup tiga abad yang lampau. Pada saat dunia dipenuhi syirik, 
bid’ah dan kesesatan. Orang-orang bertawajjuh (menghadapkan wajah 
mereka) kepada selain Allah, kepada wali-wali Allah, berdo’a dan 
beristighatsah kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada 
selain Allah. Mereka menggantungkan hati kepada pohon, batu, kain-
kain, pakaian-pakaian, dan peninggalan-peninggalan (yang 
dikeramatkan). Mereka mencari berkah dari semua hal di atas.

Maka imam ini melaksanakan apa yang Allah ilhamkan kepadanya, dan 
apa yang Allah telah ilhamkan kepada imam lainnya, Amir yang 
bersamanya. Sehingga bersatulah ilmu dan jihad, pena dan tombak. 
Keduanya saling menguatkan dan saling menolong untuk membela tauhid 
dan aqidah yang lurus.

Beliau berdakwah menuju Allah Ta’ala dan menuju tauhid yang murni. 
Membuang bid’ah dan khurafat, membantah syirik dan muhdatsat 
(perkara baru dalam agama), dengan kekuatan yang Allah berikan 
kepada beliau. Terjadilah berbagai bantahan, perdebatan dan disukusi 
diantara beliau dengan musuh-musuh dakwah al-haq di zaman beliau. 
Beliau mendapatkan kemenangan yang nyata, dan kalimat beliau muncul. 
Allah meninggikan namanya, karena beliau telah meninggikan Sunnah 
dan Tauhid.

Beliau juga menyusun kitab-kitab yang mengagumkan, bagus, dan setiap 
rumah wajib memiliki kitab-kitab tersebut. Seorang tholabul ilmi –
juga orang awam- jangan sampai tidak memilikinya, seperti kitab 
Tauhid Alladzi Haqqullahi Alal Abid (Tauhid Merupakan Haq Allah Atas 
Para HambaNya). Kitab ini, kitab yang diberkahi, mudah bahasanya, 
indah penjelasannya, kuat ungkapannya. Yang ada hanyalah firman 
Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian 
beliau sebutkkan faidah-faidah yang dapat dipetik dari ayat-ayat 
atau dari hadits-hadits.

Sebagian ulama menyebutkan kisah yang mengandung pelajaran berkenan 
dengan kitab ini dan penulisnya. Ada seseorang diantara penduduk 
Afrika. Disana tersebar pemikiran Sufi yang menyelisihi kitab Allah 
dan sunnah Nabi. Dia (seorang Afrika) berkata : “Ada seorang syaikh, 
di antara syaikh Thariqah Sufi. Setiap selesai melakukan shalat, dia 
mengangkat tangannya dan mendo’akan kecelakaan untuk Syaikh Muhammad 
bin Abdul Wahhab. Dia memohon kepada Allah, agar Allah menimpakan 
kerburukan kepadanya …dan seterusnya”. Do’a yang menjadikan bergidik 
hati orang-orang yang bertauhid. Seorang Afrika tadi 
berkata : “Suatu kali aku mendatanginya, aku membawa kitab tauhid, 
tetapi aku melepaskan sampulnya dan aku buang judulnya. Aku 
menemuinya, duduk bersamanya, dan mulai mengobrol. Dia (syaikh Sufi) 
berkata kepadaku : ‘Kitab apa ini ?’. Aku jawab : ‘Kitab yang berisi 
ayat dan hadits, ditulis oleh seorang ulama’. Dia 
berkata : ‘Bolehkah aku membacanya?’. Maka seolah-olah aku berharap 
agar dia tambah  meminta dan penasaran. Aku lalu memberikannya, dan 
berkata : “Tetapi aku ingin engkau meringkaskan kitab ini untukku, 
karena aku tidaklah seperti anda, seorang alim yang agung, sehingga 
aku mendapatkan manfaat”. Maka besoknya dia kembali, lalu syaikh itu 
mengatakan : “Kitab ini sangat bagus, kitab ini menjelaskan 
berdasarkan ayat dan hadits, bahwa kita berada di atas kesesatan, 
kebodohan, dan penyimpangan. Didalamnya hanya ada firman Allah dan 
sabda Rasul. Siapakah yang menyusunnya ?” Dia menjawab : “Inilah 
penyusunnya, orang yang selalu engkau do’akan kecelakaan pada waktu 
malam dan siang”. Maka syaikh itu bertaubat kepada Allah saat itu 
juga. Dahulu dia selalu mendo’akan kecelakaan untuknya, kemudian dia 
lalu mendo’akan kebaikan untuknya. Inilah Imam Muhammad bin Abdul 
Wahhab.

Dakwahnya yang diberkahi terus berlanjut, juga riwayat beliau yang 
semerbak wangi. Sampai sekarang, keturunan beliau masih meninggikan 
bendera Sunnah, membela manhaj yang haq, semampu mereka. Kita mohon 
kepada Allah Ta’ala agar merahmati di antara mereka yang sudah 
wafat, dan menjaga dengan kebenaran di antara mereka yang masih 
hidup.

Saudara-saudaraku, membahas secara sempurna tentang imam ini, 
karyanya, risalahnya, jawabannya, dan hidupnya, sangat luas. Akan 
tetapi -yang kami sampaikan ini– adalah inti yang menyinari untuk 
mendorong kita dengan cepat guna memahami riwayat imam-imam kita dan 
berita-berita pembesar kita.

Pada zaman ini banyak ulama dan pembela dakwah. Alhamdulillah, 
karena dakwah ini membawa banyak kebaikan, keutamaan yang berlimpah. 
Cahayanya menyebar ke seluruh dunia. Di Afrika, Asia, Amerika, Eropa 
dan disegala tempat kita lihat muwahhidin (orang-orang yang 
bertauhid). Kita lihat Ahlus Sunnah yang baik, para da’i Salafi. 
Mereka tidaklah disatukan oleh hizb (kelompok), diorganisasi oleh 
thariqah, atau harakah. Akan tetapi mereka disatukan oleh 
tauhidullah. Maka tauhidullah, dan kalimat tauhid merupakan asas 
tauhidul kalimat (persatuan). Setiap kita menjauhi kalimat tauhid, 
kita menjauhi tauhidul kalimat.

Pada zaman ini, mulai abad ini, terdapat ulama-ulama pembela dakwah 
yang diberkahi. Di antara mereka, yang pertama adalah Imam Allamah 
Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’alimi Al-Yamani, kemudian Allamah Mahmud 
Syakir Al-Mishri, juga para saudara dan kawan mereka, Abdurrahman Al-
Wakil, Abdurrahman Hamzah, Muhammad Khalil Harras.

Sampai perkara ini pada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, beliau adalah 
salah satu keturunan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, sampai kemudian 
muridnya Imam Allamah Al-Bashir Abu Abdullah Abdul Aziz bin Abdullah 
bin Baz.

Bersamanya juga ada saudaranya, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-
Albani, imam, alamah, ustadz kami yang mulia, muhadits umat yang 
agung. Juga kawannya, saudaranya, temannya yang serupa dengannnya, 
imam, allamah, Abu Abdullah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ahli 
fikih yang teliti, memiliki pandangan yang dalam, yang diiringi 
taufik dan tahqiq. Aku katakan, bahwa beliau memiliki keistimewaan 
daripada seluruh ulama pada zaman ini semuanya. Dengan sesuatu yang 
Allah anugrahkan kepadanya, yang tidak diberikan kepada orang lain. 
Bahwa ceramahnya merupakan karya. Hampir semua pembicaraannya, 
syarahnya, pelajarannya, seolah-olah beliau memegangi penanya, buku 
tulisnya, dan menulis dengan susunan yang bagus, penggabungan, 
pembagian, dengan gaya yang istimewa, luar biasa. Alhamdulillah, 
mereka semua diatas satu jalan, yang cemerlang dan bersih, dalam 
membela sunnah Nabi. Meninggikan bendera aqidah Salafiyyah. Mereka 
berjihad dalam hal itu dengan sebenar-benarnya, membelanya di 
kalangan hamba  Allah dan di berbagai negeri. Kemudian mereka wafat 
pada satu rangkaian. Mereka telah menyelesaikan kewajiban. Kita 
bersikap kurang jika kita berhenti dibelakang mereka, tidak 
melanjutkan dakwah mereka, tidak mencari kemenengan dengan manhaj 
mereka, dan tidak mengangkat bendera mereka. Kalau demikian jadilah 
musibah yang besar. Kita mohon perlindungan kepada Allah.

Dengan semua ini kita mendengar orang bodoh dari sana-sini mencela 
ulama kita. Engkau dengar salah seorang dari mereka 
mengatakan : “Ibnu Baz termasuk ulama penguasa”. Wahai miskin, apa 
yang kau inginkan terhadap beliau, seorang laki-laki yang ‘alim, 
zuhud, banyak beribadah! Apa yang beliau kehendaki dari dunia ini, 
-sedangkan beliau menganggap remeh dunia ini, merasa cukup dengan 
sedikit dunia- sampai beliau menjilat penguasa, dan menjadi ulama 
penguasa yang mengikuti hawa nafsu.

Engkau lihat salah seorang dari mereka mengatakan “Ibnu Utsaimin 
tidak memahami waqi (kenyataan/situasi dan kondisi)”. Wahai miskin, 
Ibnu Utsaimin adalah seorang alim, tegar bagaikan gunung, beliau 
mengetahui kaidah-kaidah ilmu. Seperti perkataan ulama : “Hukum 
(keputusan) terhadap sesuatu merupakan cabang dari persepsi (ilmu) 
terhadap sesuatu itu”. Apakah mungkin, beliau akan atau telah 
memutuskan hukuman terhadap sesuatu masalah, tanpa memahami waqi, 
tanpa melihat sisi-sisinya, dan tanpa meliputi detail-detailnya. 
Memang istilah “memahami waqi” yang dikehendaki oleh orang-orang 
bodoh itu adalah kondisi politik zaman ini, yang sumbernya hanyalah 
dari orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam. Apakah karena imam ini 
(Syaikh Ibnu Utsaimin) dan saudara-saudaranya (para ulama lainnya) 
berada di atas kebenaran, yang berupa pengambilan sumber yang baik, 
pemikiran yang baik, pengambilan pelajaran yang baik dari beriat-
berita yang ada, lalu hal-hal itu berbalik menjadi tuduhan terhadap 
mereka  (sebagaimana di atas ?). Kita mohon perlindungan kepada 
Allah Ta’ala.

Kemudian, ada orang ketiga dari golongan yang mencela ulama kita 
itu. Mungkin dia seorang yang bodoh, tolol, berakhlak buruk. Dia 
menuduh Syaikh Al-Albani, bahwa beliau Murji’ah. Demi Allah, demi 
Allah, demi Allah. Seandainya si bodoh ini hidup sepanjang waktunya, 
nisacaya dia tidak mengetahui makna irja’ secara benar, makna yang 
tertolak, ataupun yang tidak tetolak. Demi Allah sesungguhnya zaman 
ini, Syaikh Al-Albani termasuk ulama yang pertama-tama membantah 
pemikiran, pendapat, kesesatan, dan penyimpangan Murji’ah. Bahkan 
beliau menyelisihi sebagian ulama yang menganggap perselisihan 
antara Ahlus Sunnah dengan para ahli fiqih Murji’ah sebagai 
perselisihan semu, (tidak sebenarnya). Syaikh Al-Albani menyatakan, 
perselisihan itu benar-benar ada, bukan hanya semu.

Bantahan-bantahan Syaikh Al-Albani terhadap Murji’ah tersebut telah 
berlalu 30 tahun lalu, bahkan lebih. Sedangkan orang yang membantah 
beliau, jika engkau Tanya umurnya, aku hampir pasti bahwa umurnya 
tidak lebih 40 tahun. Maka ketika Syaikh Al-Albani membantah 
Murji’ah, engkau –wahai miskin- (yang membantah beliau) sedang 
bermain-main bersama anak-anak di jalan-jalan. Saat itu engkau 
sedang membaca alif, ba’, di Taman Kanak-kanak !. Kemudian ketika 
wajahmu tumbuh sebagian rambut, tiba-tiba engkau mencela dengan 
kebodohanmu, bersikap kurang dengan akalmu, engkau katakana bahwa 
Syaikh Al-Albani Murji’. Ini adalah musibah yang hebar, dan dosa 
besar yang gelap. Kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala.

Tetapi ahlul haq selalu ditolong (oleh Allah). Bendera mereka 
berkibar, kalimat mereka tinggi, baik kita suka atau tidak. Jika 
kita tidak membela mereka, niscaya Allah akan membela dengan saudara-
saudara kita, murid-murid kita, anak-anak kita, atau cucu-cucu kita.

Kebaikan itu terus berlanjut. Walaupun ketiga ulama besar tersebut 
telah wafat, (Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani dan Syaikh 
Utsaimin,-pent) bukan berarti dakwah mereka juga berhenti. Karena 
sanad masih terus shahih (benar), seolah-olah mata rantai emas, 
seolah-olah mutiara yang dirangkaikan dengan kebenaran dan cahaya. 
Hendaklah kita lihat pada ahli ilmu dan sunnah yang mengiringi 
mereka. Hendaklah kita lihat Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh 
Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Hushain bin 
Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh. 
Mereka semua berada di atas jalan dan kaidah yang sama. Kalimat 
mereka satu, manhaj mereka satu, dan aqidah mereka satu. Walaupun 
nampak perkara-perkara yang disangka oleh sebagain orang sebagai 
perselisihan di antara mereka. Padahal itu bukanlah perselisihan, 
dan kalimat mereka akan menjadi satu. Baik dalam hakekat dan 
kenyataan, di dalam pandangan dan bentuk. Aku melihat hal itu dengan 
penuh  keyakinan dan tawakkal kepada Allah, wahai saudara-saudaraku, 
sebagaimana anda sekalian melihat.

Maka hinalah orang-orang Hizbiyyun, orang-orang zhalim, dan orang-
orang bodoh. Teruslah dakwah ini dengan karunianya, kebersihannya, 
keindahannya, dan kesempurnaannya. Semoga kita pantas menjadi para 
pengikutnya, dan para pengembannya. Setelah itu kita berharap 
menjadi para pembelanya. Aku memohon taufik dan ketetapan, petunjuk 
dan ketetapan, kepada Allah untuk diriku dan anda semua. 
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu. Semoga shalawat dan 
salam tercurahkan kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 
keluarganya, sahabatnya semua. Akhir ucapan kami Alhamdulillahi 
Rabbil Alamin.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M, 
Diambil dari materi ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul 
Hamid Al-Halabi Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsayd 
Surabaya dengan judul A’lam Dakwah Salafiyah Diterjemahkan oleh 
Azhar Rabbani dan Muslim Atsari]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------
HADIRILAH.. SILATURAHMI ULAMA DAN UMMAT KE II BERSAMA MURID-MURID SENIOR
ULAMA AHLI HADITS ABAD INI SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI, MASJID
ISTIQLAL, AHAD 20 MUHARRAM 1427H/19 FEBRUARI 2006M JAM 08.00 – 12.00
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke