Wa'alaikumus salamw arohmatullahi wabarokatuh

Hasan Al-Banna
Kelahirannya
Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 M, di sebuah desa bernama 
Al-Mahmudiyyah, yang masuk wilayah Al-Buhairah. Ayahnya seorang yang cukup 
terkenal dan memiliki sejumlah peninggalan ilmiah seperti Al-Fathurrabbani Fi 
Tartib Musnad Al-Imam Ahmad Asy-Syaibani, beliau adalah Ahmad bin Abdurrahman 
Al-Banna yang lebih dikenal dengan As-Sa’ati.

Pendidikannya
Ia mulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah dengan menghafal 
Al-Qur`an dan sebagian hadits-hadits Nabi serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, 
di bawah bimbingan Asy-Syaikh Zahran seo-rang pengikut tarekat shufi 
Al-Hashafiyyah. Al-Banna benar-benar terkesan dengan sifat-sifat gurunya yang 
mendidik, sehingga ketika Asy-Syaikh Zahran menyerahkan kepemim-pinan Madrasah 
itu kepada orang lain, Hasan Al-Banna pun ikut meninggalkan madrasah.
Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah, setelah berjanji 
kepada ayahnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur`an-nya di rumah. Tahun ketiga 
di madrasah ini adalah awal perke-nalannya dengan gerakan-gerakan dakwah 
melalui sebuah organisasi, Jum’iyyatul Akhlaq Al-Adabiyyah, yang dibentuk oleh 
guru matematika di madrasah tersebut. Bahkan Al-Banna sendiri terpilih sebagai 
ketuanya. Aktivitasnya terus berlanjut hingga ia bergabung dengan organisasi 
Man’ul Muharramat.
Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-Mu’allimin Al-Ula di kota 
Damanhur. Di sinilah ia berkenalan dengan tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Ia 
terkagum-kagum dengan majelis-majelis dzikir dan lantunan nasyid yang 
didendangkan secara bersamaan oleh pengikut tarekat tersebut. Lebih tercengang 
lagi ketika ia dapati bahwa di antara pengikut tarekat tersebut ada guru 
lamanya yang ia kagumi, Asy-Syaikh Zahran. Akhirnya Al-Banna bergabung dengan 
tarekat tersebut. Sehingga ia pun aktif dan rutin mengamalkan dzikir-dzikir 
Ar-Ruzuqiyyah pagi dan petang hari. Tak ketinggalan, acara maulud Nabipun rutin 
ia ikuti: “…Dan kami pergi bersama-sama di setiap malam ke masjid Sayyidah 
Zainab, lalu melakukan shalat ‘Isya di sana. Kemudian kami keluar dari masjid 
dan membuat barisan-barisan. Pimpinan umum Al-Ustadz Hasan Al-Banna maju dan 
melantunkan sebuah nasyid dari nasyid-nasyid maulud Nabi, dan kamipun 
mengikutinya secara bersamaan dengan suara yang nyaring, membuat orang
melihat kami,” ujar Mahmud Abdul Halim dalam bukunya. (Al-Ikhwanul Muslimun 
Ahdats Shana’at Tarikh, 1/109)
Di antara aktivitas selama bergabung dengan tarekat ini ialah pergi bersama 
teman-teman se-tarekat ke kuburan, untuk meng-ingatkan mereka tentang kematian 
dan hisab (perhitungan amal). Mereka duduk di depan kuburan yang masih terbuka, 
bahkan salah seorang mereka terkadang masuk ke liang kubur tersebut dan 
berbaring di dalamnya agar lebih menghayati hakekat kematian nanti.
Al-Banna terus bergabung dengan tarekat tersebut sampai pada akhirnya ia 
berbai’at kepada syaikh tarekat saat itu yaitu Asy-Syaikh Basyuni Al-’Abd. 
Jabir Rizq mengatakan: “…(Hasan Al-Banna) sangat berkeinginan mengambil ajaran 
tarekat itu, sampai-sampai ia meningkat dari sekedar simpatisan ke pengikut 
yang berbai’at.” Sepeninggal Basyuni, Al-Banna berbai’at kepada Asy-Syaikh 
Abdul Wahhab Al-Hashafi, pengganti pendiri tarekat tersebut. Ia diberi ijazah 
wirid-wirid tarekat tersebut. Dengan bangga Al-Banna mengungkapkan: “Dan saya 
berteman dengan saudara-saudara dari tarekat Al-Hashafiyyah di Damanhur. Saya 
rutin mengikuti acara al-hadhrah di Masjid Taubah setiap malam… Sayyid Abdul 
Wahhab-pun datang, dialah yang memberikan ijazah di kelompok tarekat 
Hashafiyyah Syadziliyyah, dan saya menda-pat ajaran tarekat ini darinya. Ia 
juga mem-beri saya wirid dan amalan tarekat itu.”
Karena faktor tertentu, akhirnya kelompok tarekat ini mendirikan sebuah 
organisasi, bernama Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah yang diketuai oleh 
teman lamanya, Ahmad As-Sukkari. Sementara Hasan Al-Banna menjadi 
sekretarisnya. Al-Banna mengatakan: “Di saat-saat ini, nampak pada kami untuk 
mendirikan organisasi perbaikan yaitu Al-Jum’iyyah Al-Hashafiyyah 
Al-Khairiyyah, dan aku terpilih sebagai sekretarisnya… Lalu dalam perjuangan 
ini, aku menggantikannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin setelah itu.”
Al-Banna menghabiskan waktunya di madrasah Al-Mu’allimin dari tahun 1920-1923 
M. Di sela-sela masa itu, ia juga banyak membaca majalah Al-Manar yang 
diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha, salah seorang tokoh gerakan Ishlahiyyah 
yang banyak dipengaruhi pemikiran Mu’ta-zilah. Di sisi lain, iapun suka 
mendatangi Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib di perpustakaan salafinya.
Al-Banna, ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke Darul Ulum, sempat bimbang 
antara melanjutkan atau menekuni dakwah dan amal. Ini dikarenakan interaksinya 
dengan buku Ihya‘ Ulumuddin. Namun bermodalkan nasehat dari salah seorang 
gurunya, ia mantap untuk melanjutkan pendidikan.
Ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum. Di sini, ia 
sangat giat membentuk jamaah-jamaah dakwah, sehingga di tengah-tengah 
aktivitasnya tercetus dalam benaknya, ide untuk menjalin hubungan dengan 
orang-orang yang duduk di warung-warung kopi dan di desa-desa terpencil untuk 
mendakwahi mereka. Pada akhirnya Al-Banna lulus dari Darul Ulum pada tahun 1927 
M.
Usai pendidikannya di Darul Ulum, ia diangkat menjadi guru di daerah 
Al-Isma’iliyyah. Iapun mengajar di sekolah dasar selama 19 tahun. Sebelumnya, 
ia datang ke daerah itu pada tanggal 19 September 1927 dan tinggal di sana 
selama 40 hari untuk mempelajari seluk-beluk lingkungan tersebut. Ternyata, ia 
dapati banyak terjadi perselisihan di antara masyarakat, sementara ia 
berkehendak agar dapat berkomunikasi, bergaul dengan semua pihak, dan 
mempersatukannya. Usai berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menjauh 
dari semua kelompok yang ada dan berkonsentrasi mendakwahi mereka yang berada 
di warung-warung kopi. Lambat laun dakwahnya-pun tersebar dan semakin bertambah 
jumlah pengikutnya.

Pembentukan Gerakan Ikhwanul Muslimin
Pada bulan Dzulqa’dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret 1928, enam orang dari 
pengikutnya mendatangi rumahnya, membai’atnya demi beramal untuk Islam dan 
sama-sama bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan jihad. 
Dengan itu muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul Muslimin. Selang empat 
tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia pindah ke ibukota Kairo, bersama markas 
besar Ikhwanul Muslimin. Dengan bergulirnya waktu, jangkauan dakwah semakin 
lebar. Kini saatnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya melakukan jihad 
amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia membentuk pasukan khusus untuk 
melindungi jamaahnya. Pada tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk 
mencalonkan dirinya dalam pemilihan umum, tapi ia mencabutnya setelah maju, 
karena ada ancaman dari Musthafa Al-Basya, yang waktu itu menjabat sebagai 
pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri, ed.). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan 
diri kembali, namun Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum.

Wafatnya
Pada tahun 1949 M, Al-Banna mendapat undangan gelap untuk hadir di kantor pusat 
organisasi Jum’iyyatusy Syubban Al-Muslimin beberapa saat sebelum maghrib. 
Ketika ia hendak naik taksi bersama Abdul Karim Manshur, tiba-tiba lampu 
penerang jalan tersebut dipadamkan. Bersamaan dengan itu peluru-peluru 
beterbangan mengarah ke tubuhnya. Ia sempat dievakuasi dengan ambulans. Namun 
karena pendarahan yang hebat, ajal menjemputnya. Dengan itu, tertutuplah 
lembaran kehidupannya.
Demikian sejarah ringkas Hasan Al-Banna bersama gerakan dakwah yang ia dirikan. 
Pembaca mungkin berbeda-beda dalam menanggapi sejarah tersebut, sesuai dengan 
sudut pandang yang digunakan. Namun bila kita melihatnya dengan kacamata 
syar’i, menimbangnya dengan timbangan Ahlus Sunnah, maka kita akan mendapatinya 
sebagai sejarah yang suram. Mengapa? Karena kita melihat, ternyata gerakan 
tersebut lahir dari sebuah sosok yang berlatar belakang aliran shufi Hashafi 
dengan berbagai kegiatan bid’ahnya, seperti bai’at kepada syaikh tarekat dan 
kepada Al-Banna sendiri sebagai pimpinan gerakan, amalan wirid-wirid Ruzuqiyyah 
yang diada-adakan, dzikir berjamaah, maulud Nabi, ziarah-ziarah kubur dengan 
cara bid’ah sampai pada praktek politik praktis di atas asas demokrasi. 
Gurunyapun campur aduk, dari syaikh tarekat, seorang yang terpengaruh madzhab 
Mu’tazilah, dan seorang yang berakidah salafi.
Warna-warni sosok pendiri tersebut sangat berpengaruh dalam menentukan corak 
gerakan tersebut, sehingga warnanyapun tidak jelas, buram. Tidak seperti 
Ash-Shirathul Mustaqim yang Nabi n katakan:

“Aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya.” 
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh 
Al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 33)



febrik2002 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

apakah ada ikhwan/akhwat yang mempunyai artikel tentang
penyimpangan-penyimpangan Al Hasan Al bana atau tokoh-tokoh ikhwanul
muslim lainnya?

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh



---------------------------------
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.





--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke