Firzan Faisal wrote:

>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
>maaf tambahan sedikit ikut bertanya....
>1. Tapi apakah hal ini (mengharamkan makanan dari perayaan bid'ah) bisa 
>dikategorikan mengharamkan apa2 yg telah dihalakan oleh Allah azza  wa jalla 
>(dalam hal ini makanan-nya). Ygn bid'ah kan upacara/perayaan nya bukan makanan 
>nya.
>
>2. Bagaimanakah bila makanan tersebut diantar ke rumah. Boleh kah kita  
>sedekahkan ke orang lain atau kita buang? Karena kita tentu tidak boleh  
>bersedekah dengan barang yg haram (andaikan haram).
>
>Mohon pencerahannya dari saudara/saudari semua.
>wassalamualaikum
>
>
>Ahmad Sibil <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
>
>Salafiyyin fiddin semoga Allah subhana wata'ala selalu melindungi antum semua, 
>amin.
>
>Sudah jelas buat ana bahwa kita diwajibkan berlepas diri dari orang atau kaum 
>yang berbuat atau selalu berbuat bid'ah.
>
>Ana pribadi berusaha semampu mungkin menasihati mereka terhadap  perbuatan 
>bid'ahnya itu pada hampir setiap amalan ibadah yang mereka  selenggarakan.  
>Memang, ana rasakan sangat amat berat menyampaikan  risalah yang haq itu.  Ana 
>tahu, usaha ana ini tak ada se-ujung  kukunya bila dibandingkan usaha 
>perjuangan para Salafush-sholeh semoga  Allah jalla jalaluhu memasukkan mereka 
>semua di dalam syurga yang  tertinggi bersama para Nabi Allah.
>
>Ana sangat berhati-hati dan berusaha menghindarkan perdebatan yang  tidak 
>sehat yang akan menimbulkan permusuhan.  Ana selalu  menghindari tindakan yang 
>mana ana tahu arahnya akan menjadi debat  kusir yang berkepanjangan. Hal ini 
>harus memerlukan taktik-2 dan harus  pintar-2 mencari sela-2 situasi dan 
>kondisi yang tepat (Alhmadulillah,  disamping ilmu yang selama ini ana 
>pelajari) sehingga bisa masuk ke  akal mereka di waktu kepala dan hati mereka 
>dingin.
>
>Memang, sampai sekarang, ana benar-2 tahu dan rasakan secara  lahiriahnya 
>bahwa hampir semua dari mereka membiarkan nasihat ana masuk  di telinga kanan 
>dan dikeluarkan di telinga kirinya.
>
>Dan memang sejuta alasan dan pembelaan dilontarkan dengan tujuan 
>men-justifikasi diri terhadap segala perbuatan itu.
>Sampai-2 lontarannya kepada ana: "Kamu dulu juga ikutan melaksanakan  amalan 
>yang kamu bid'ahkan ini! dan seterusnya". Tidak pernah ana  hiraukan semua 
>ejekan itu.
>
>Terus terang, lontaran itu memang benar. Ana dulu juga banyak mengamalkan 
>perbuatan-2 bid'ah, malah paling rajin.
>
>Alhamdulillah berkat pertolonganNya azza wajall ana sekarang berada  pada 
>jalannya para Salaf insya-Allah, dan semoga Allah mengaruniakan  kekuatan agar 
>ana selalu ber-Istiqomah pada jalan ini.
>
>Bila mereka melaksanakan amalan bid'ah itu, contohnya: Tahlilan,  Yasinan 
>ataupun Maulid Nabi dst, sudah tentu mereka menghidangkan  makanan yang 
>dinikmati bila acara telah usai.
>
>Beberapakali ana berada di masjid sedang mereka melaksanakan acara itu.  Ana 
>mengingkarinya dengan keluar dari ruangan tempat acara itu, duduk  di ruangan 
>lain sambil membaca literature Islam, atau kalau sempat ana  ajak ngobrol 
>beberapa dari mereka yang tidak begitu antusias akan acara  itu, sudah tentu 
>ana berusaha menasihati mereka tentang acara yang  sedang digelar itu, agar 
>mengerti dan mengetahui ajaran Islam  (amalan-2) yang sahih dari Rasulullah 
>salallahu'alayhi wasallam.
>
>Begitu acara (bid'ah) itu selesai, sebagian mereka mengajak ana untuk 
>menikmati bersama hidangan yang sengaja mereka buat.
>Wallahu musta'an, ya ikhwah, Sungguh ana tidak tahu, apakah ada dalil yang 
>sahih dari Rasulullah salallahu'alayhi wasallam?
>Ana sampai sekarang hanya menggunakan logika saja, menolak ajakan  mereka itu. 
>Ana haramkan diri dan keluarga ana memakan hidangan dari  acara bid'ah itu.
>
>Logikanya, melaksanakan atau ber-inisiatif, berpartisipasi ataupun  hanya 
>mengekor dengan berpura-pura dalam acara bid'ah saja haram  hukumnya, maka 
>memakan hidangannyapun haram.
>
>Permintaan ana pada antum semua, adakah antum tahu dalil sahih yang bisa 
>menguatkan pendirian ana ini? Tolong bantu ana?
>
>Sukron sebelumnya...
>
>Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
>ahmad ibnu alkherid, new york


washolatu wasallamu 'ala Rosullillah wa 'ala alihi wasallim,

Pada kajian siang di Masjid Al-Ikhlas Perum. Bukit Asri Ciomas, Tanggal 16 
April 2006M, Bada Dhuhur sampai 14.00  Thema Beribadah Bid'ah oleh al-Ustadz 
Arman Amri (Abu Ibrahim)

Pada Kajian Tersebut, ana menanyakan Bagaimana Hukumnya Makanan yang diberikan 
ke kita pada acara Bid'ah (kami ceritakan ada acara Maulud Nabi Shollalohu 
'alaihi wasallam di kampung kami) padahal kita sudah mengingkari mereka/panitia 
serta tidak ikut acara tersebut. Beliau menjawab jika kita sudah mengingkari 
perbuatan bid'ah mereka  serta kita wajib menasehati mereka atau dengan 
mengingkari upacara/acara mereka seperti Tahlilan dan tidak ikut serta namun 
kita diberi makanan, maka hukum makanan tersebut boleh / halal dimakan. Tapi 
acaranya tetep Bid'ah
Wallohu 'alam Bisshowab

abu ghiffary
L 1389 H




--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke