Dasar-dasar Dakwah

Ditulis Oleh: Syaikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah

PERTAMA : Al Quranul Karim

KEDUA : Sunnah shahihah (hadits-hadits shahih)

Para Salafiyyin di seluruh penjuru negeri memusatkan pada hadits  shahih, 
(mengapa demikian?) karena didalam sunnah (dengan kesepakatan  para ulama) 
terdapat hadits-hadits palsu (maudhu) atau hadits-hadits  lemah (dhaif), (yang 
bercampur dengan hadits shahih) semenjak sepuluh  abad yang lalu, dan hal ini 
adalah perkara yang tidak ada perselisihan.  Para ulama juga bersepakat atas 
perlunya mentasfiyah (menyeleksi) mana  yang hadits dan mana yang bukan hadits. 
Oleh karena itu para Salafiyyin  “bersepakat” bahwa dasar yang kedua ini (yaitu 
Sunnah), tidak  sepatutnya diambil apa adanya (tanpa melihat shahih atau 
tidaknya),  karena dalam hadits-hadits tersebut terdapat hadits dhaif maupun 
maudhu  yang tidak boleh di amalkan sekalipun dalam fadhailul amal.

KETIGA :
Al Qur’an dan Sunnah wajib difahami dengan pemahaman sahabat Nabi  shallallahu 
alaihi wa sallam, tabiin serta tabiut tabiin.
Inilah yang membedakan dakwah salafiyyah atas seluruh dakwah-dakwah  yang tegak 
diatas bumi hari ini, dalam dakwah-dakwah itu, ada ajaran  Islam dan ada juga 
ajaran-ajaran yang bukan berasal dari Islam.

Dakwah salafiyyah mempunyai keistimewaan dengan dasar yang ketiga ini  yaitu 
bahwa Al qur’an dan sunnah wajib difahami diatas manhaj salafus  shalih dari 
kalangan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tabiin (orang yang 
berguru  kepada sahabat Nabi r) dan tabiut tabi’in (orang yang berguru kepada  
tabi’in), yaitu pada tiga masa yang pertama (100H-300H) yang telah  
dipersaksikan dengan hadits-hadits yang telah diketahui, bahwa masa itu  adalah 
masa sebaik-baik umat. Dan ini adalah dalil yang cukup yang  menjadikan kita 
mengatakan dengan pasti bahwa setiap orang yang  memahami Islam dari Al Qur’an 
dan hadits tanpa disertai landasan yang  ketiga ini, akan “datang” dengan 
membawa ajaran agama Islam yang baru.

Dalil yang terbesar dari hal ini, adanya kelompok-kelompok Islam yang  
(semakin) bertambah tiap hari. Penyebabnya adalah tidak berpegang teguh  pada 
tiga landasan ini, yaitu Al Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa 
sallam dan  pemahaman Salafus Shalih. Oleh karena itu kita dapati sekarang di  
negeri-negeri Islam, satu kelompok yang belum lama munculnya di Mesir  (yaitu 
jama’ah takfir wal hijrah). Kelompok ini menyebarkan  pemikiran-pemikiran dan 
racun-racunnya diberbagai negeri Islam dan  mendakwakan berada diatas Al Qur’an 
dan Sunnah. Alangkah serupanya  dakwaan mereka itu dengan dakwaan kelompok 
khawarij. Karena kelompok  khawarij juga mengajak kepada Al Qur’an dan Sunnah, 
akan tetapi mereka  menafsirkan Al Qur’an dengan hawa nafsu mereka dengan tanpa 
melihat  pemahaman Salafus Shalih khususnya sahabat Nabi shallallahu alaihi wa 
sallam.

Dan saya telah bertemu dengan banyak dari anggota mereka serta berdebat  dengan 
salah seorang pemimpin mereka, yang mengatakan bahwa ia tidak  menerima tafsir 
ayat walaupun datang dari puluhan sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam , 
ia  tidak menerima tafsir itu jika tidak sesuai dengan pendapatnya. Dan  yang 
mengatakan perkataan ini tidak mampu membaca ayat Al Quran dengan  tanpa 
kesalahan. Inilah sebab penyelewengan khawarij terdahulu yang  mereka orang 
Arab asli, maka apa yang kita katakan pada orang khawarij  pada masa kini yang 
mereka itu jika bukan orang-orang non Arab secara  nyata tetapi mereka adalah 
orang-orang Arab yang tidak fasih, dan bukan  orang-orang Ajam yang fasih 
bahasa Arab?

Inilah kenyataan mereka, maka mereka itu menjelaskan bahwa mereka tidak  
menerima tafsir nash secara mutlak kecuali jika Salafush Shalih  bersepakat 
atasnya, demikianlah yang dikatakan salah seorang di antara  mereka (sebagai 
usaha penyesata dan pengkaburan). Maka aku berkata  (Syekh Al albani) : “Apakah 
kamu meyakini kesepakatan Salafush Shalih  dalam memahami penafsiran suatu nash 
dari Al Qur’an?” dia berkata :  “tidak ini mustahil” maka kukatakan : “jika 
demikian engkau ingin  berpegang dengan yang mustahil atau engkau 
menyembunyikan” lalu diapun  terdiam.

Inti masalahnya, bahwa penyebab kesesatan seluruh kelompok-kelompok  dari masa 
lampau maupun sekarang, adalah tidak berpegang pada landasan  yang ketiga ini, 
yaitu bahwa kita harus memahami Al Qur’an Dan Sunnah  dengan pemahaman Salafush 
Shalih. Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariyyah,  Asy’ariyyah, Maturidiyyah dan 
seluruh penyelewengan yang terdapat pada  kelompok-kelompok itu penyebabnya 
adalah bahwa mereka tidak berpegang  teguh pada pemahaman Salafush Shalih, oleh 
karena itu para ulama’  berkata :

“Segala kebaikan adalah dengan mengikuti Salafush Shalih”
“Segala kejahatan adalah dengan (mengikuti) perbuatan yang dibikin khalaf 
(generasi sesudah salafus shalih)”.

Ini bukanlah si’ir, ini adalah perkataan yang diambil dari kitab dan Sunnah, 
Allah berfirman :

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran  baginya, dan 
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami  biarkan ia leluasa 
terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan  Kami masukkan ia ke dalam 
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk  tempat kembali." (QS, An Nisa’ : 115)
Mengapa Allah Ta'ala berfirman :

“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min”.
Padahal Allah Ta'ala mampu untuk berfirman :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran  baginya, Kami 
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah  dikuasinya itu dan Kami 
masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu  seburuk-buruk tempat kembali”.
Mengapa Alah berfirman :

“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min”.
Yaitu agar seseorang tidak mengatakan saya memahmi Al Qur’an begini,  dan 
memahami Hadits ini begini. Maka dikatakan kepadanya wajib bagi  kamu memahami 
Al Qur’an dengan pemahaman orang-orang yang beriman  (Salafush Shalih) dan 
(ada) hadits-hadits dari Rasulullah r, yang  menguatkan ayat diatas, seperti 
sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang perpecahan  umatnya, 
beliau r bersabda :

“Semuanya di neraka kecuali satu kelompok” para sahabat bertanya siapa kelompok 
itu ya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Al Jama’ah”. 
Dalam riwayat yang lain : “Ajaran dan pemahaman yang aku dan sahabatku di 
atasnya”

Mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan kelompok yang 
selamat itu berada di  atas pemahaman jama’ah ?! yaitu jama’ah Rasulullah 
shallallahu alaihi wa sallam, (yang demikian  itu) agar tertutup jalan 
orang-orang ahli ta’wil dan orang-orang yang  mempermainkan dalil-dalil dan 
nash-nash.
Seperti contohnya (kesesatan mereka) , Allah berfirman :

"Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah 
mereka melihat." (QS. Al Qiyamah : 19-20)

Ayat yang jelas dalam Al Qur’an bahwa Allah Ta'ala memberikan  karuniaNya  
kepada Hamba-hambaNya pada hari kiamat, mereka akan melihat wajah Allah  Ta'ala 
yang mulia, sebagaimana dikatakan oleh seorang ulama’ salaf ahli  sya’ir :

“Kaum muslimin melihat Allah tanpa takyif (menanyakan), tasbih (menyerupakan) 
dan memisalkan”
Mu’tazilah berkata : “Tidak mungkin seorang hamba bisa melihat Rabbnya  di 
dunia maupun di akhirat”. (Jika ditanyakan kepadanya): “Akan tetapi  bagaimana 
pemahamanmu terhadap ayat di atas?” dia berkata : “Ayat itu  maknanya wajah 
orang-orang mukmin melihat kenikmatan Rabbnya”. Maka  jika ditanya “Anda 
menakwilkan makna melihat Allah dengan arti (melihat  kenikmatan Rabbnya) 
sedangkan Allah Ta'ala berfirman : “Kepada Rabbnyalah  mereka melihat?” 
darimana kata-kata kenikmatan? Ia berkata : Ini adalah  majas (kiasan).
Oleh karena itu Ibnu Taimiyyah mengingkari majas di adalam Al Qur’an  Karena 
hal itu merupakan takwil yang terbesar dan penghancur yang  paling dahsyat bagi 
Aqidah Islamiyyah. Ayat diatas, menetapkan suatu  karunia dari Allah Ta'ala 
kepada hambaNya yaitu mereka akan melihat wajah  Allah Ta'ala pada hari kiamat, 
tetapi orang-orang Mu’tazilah mengatakan ini  tidak mungkin.
Dan demikian pula Firman Allah Ta'ala :

“Tidak ada sesuatupun yang semisal-Nya dan Dia maha mendengar lagi maha 
melihat”.(QS. َAs Syuura :11)
(Orang yang berpemahaman mu’tazilah akan berkata) : “(Ayat itu )  maknanya 
bukan mendengar dan melihat ! Jika ditanyakan : “Mengapa ?”  orang-orang 
mu’tazilah berkata : “Karena jika kita mengatakan melihat  dan mendengar maka 
kita telah menyerupakan Allah dengan kita”. Lalu  ditanya pula: “Jadi apa makna 
mendengar dan melihat?”. Yaitu mendengar  dan melihat adalah dua lafadz dalam 
bahasa Arab. Mendengar dan melihat  sama maknanya menurut mereka dengan 
mengetahui. Akan tetapi apakah  masalahnya akan selesai hingga disini?.

(Jika) dikatakan fulan alim dalam bahasa arab ini adalah ungkapan yang  
diperbolehkan. Dan kita boleh menyebut seorang manusia alim, yang  bermakna 
“ungkapan lebih tentang sifat”. (Lalu) apakah boleh kita  mengatakan bahwa 
fulan seorang alim?. Ya, boleh. Kalau begitu, kita  tidak mengatakan bahwa 
Allah Ta'alaalim (mengetahui), karena hal itu akan  menjadikan penyerupaan 
Allah Ta'ala terhadap hamba Allah Ta'ala.

Dan seperti inilah orang-orang mu’tazilah “menolak” sifat-sifat Allah  Azza wa 
Jalla. Hingga perkaranya sampai kepada pengingkaran mereka  kepada wujud  
Allah, baik mereka mengakui atau tidak mengakui. Karena yang demikian  itu 
menetapkan mereka (termasuk orang yang mengingkari wujud Allah).

Dan semoga Allah merahmati Ibnul Qayyim yang berkata:

“Orang yang menyerupakan Allah dengan mahluk menyembah patung,  sedangkan Al 
muatthil (orang yang menolak penyerupaan Allah tapi  menakwilkannya) menyembah 
sesuatu yang tidak ada”.
Oleh karena itu (orang-orang yang menolak penyerupaan Allah tapi  
menakwilkannya) dari kalangan orang-orang yang tidak beriltizam kepada  manhaj 
salafus shalih tentang ayat-ayat dan hadts-hadits yang  menjelaskan sifat Allah 
berkata, “Allah tidak berada diatas, apakah  engkau dapati dalam Al Qur’an 
bahwa Allah diatas? Kita mendapati dalam  Al Qur’an Allah mensifati hambaNya :

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka. An Nahl : 50

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Thaha : 5

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan. Al maarij : 4
Hingga akhir hal itu, Allah tidak berada diatas!! kalau begitu dibawah  ?? 
bukan berada dibawah!! Kalau begitu disebelah kanan?? Bukan !! bukan  berada 
dikanan, dikiri, didepan, dibelakang!? Dan tidak juga berada  dalam alam ini 
atau diluarnya?! Kalau begitu apa yang kita katakan  tentang wujud Allah?! 
Tidak ada !!!?
Inilah ilmu yang mana para ulama ahli kalam tanpa terkecuali “binasa”  
didalamnya, kecuali ulama yang berada diatas manhaj salafus shalih.  Semua para 
ulama ahli kalam tanpa terkecuali, baik itu yang  berpemahaman As ‘ariyah atau 
maturidiah, masing-masing diantara mereka  beriman kepada apa yang dipahami 
oleh salafus shalih, sebagaimana  perkataan sebagian dari mereka :

“Rabbul Arsy diatas Arsy, akan tetapi tanpa sifat menetap dan menempel”
Yaitu artinya :”Tiadalah Allah serupa dengan sesuatupun”. Allah  mensifati 
dirinya bahwa Dia berada diatas Arsy bersemayam, dan Rabbul  Arsy (pencipta 
Arsy) berada diatas Arsy akan tetapi tanpa disifati  menetap dan menempel.
Lihatlah wahai saudara-saudara kami para pemuda ! bukankah kita  menginginkan 
untuk mewujudkan masyarakat Islami, dan menginginkan  berdiri didepan 
(menghadapi) kelompok atheis dan komunis ?! dan  kelompok-kelompok semisal 
mereka?! Dengan apa kita berdiri didepan  (menghadapi) mereka ? Apakah dengan 
ilmu yang diambil dari kitabullah  dan hadits Rasulullah serta manhaj salafus 
shalih ataukah dengan ilmu  kalam ?

Akan tetapi aku (Syekh Albani) katakan dengan (sangka baik) kepada  kalian atau 
sebagian kalian, bahwasanya (kalian atau sebagian kalian)  belum pernah membaca 
ilmu kalam, dan tidak mengetahui bahwa ia  kadang-kadang mendengar perkataan 
ini. Lalu ia heran apakah ada kaum  muslimin yang beraqidah semacam ini ?? 
(jawabannya) : “ya, ada”.  Bacalah kitab “Ihya Ulumudin” karya Al Ghazali, dan 
beberapa  tulisan-tulisan yang baru “dengan nama Aqidah” dan telah tercetak 
serta  tersebar pada hari ini. Kalian akan dapati didalamnya pengingkaran dan  
dicetak dengan cetakan baru pada masa kini, dan bahwasanya Allah tidak  berada 
diatas, tidak juga dibawah, tidak juga disebelah kanan dan kiri,  dst.

Oleh karena itu, semoga Allah merahmati salah seorang umara’ di  Damaskus yang 
hadir dalam dialog antara Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah  dan orang-orang yang 
berpemahaman muatthilah (orang-orang yang menolak  penyerupaan Allah tapi 
menakwilkannya), tatkala ia mendengarkan  perkataan mereka dan juga perkataan 
Ibnu taimiyyah yang bersandar pada  Al Qur’an dan Sunnah serta perkataan 
salafus shalih, iapun merasakan  puas dan yakin bahwa hal ini (yaitu perkataan 
Ibnu Taimiyyah yang  bersandar pada Al Qur’an dan Sunnah serta perkataan 
salafus shalih)  adalah aqidah yang benar. Lalu ia menoleh kepada Ibnu 
Taimiyyah dan  berkata :

“Mereka itu (ia menunjuk kepada lawan dialog Ibnu Taimiyyah) adalah suatu kaum 
yang menyia-nyiakan Rabb mereka”.
Ini adalah perkataan yang benar, mereka adalah kaum yang menyianyiakan  Rabb 
mereka. Mengapa (mereka berkata): “Allah tidak berada diatas,  tidak juga 
dibawah, disebelah kanan serta disebelah kiri, dst?”

Inti dari masalah yang saya sebutkan diatas “Apakah yang membinasakan  ulama 
kaum muslimin??” terlebih lagi penuntut ilmu mereka?? terlebih  lagi orang awam 
mereka kepada “kerendahan” dan “kesesatan yang nyata??”
Kami menasehati setiap kaum muslimin didunia ini agar “menggambungkan”  
keharusan berpegang kepada kitab dan sunnah dengan pemahaman salafus  shalih. 
Dan kalau tidak demikian halnya maka setiap kelompok didunia  ini akan berkata: 
“Kita diatas Al Qur’an & Sunnah”.

Satu kelompok yang paling sesat pada saat ini, (yang mana mereka  mengaku 
Islam, melaksanakan shalat lima waktu, menunaikan haji ke  Baitul Haram) yaitu 
Ahmadiyah Al Qadaniyah. Walaupun mengaku Islam dan  melaksanakan kewajibannya, 
mereka mengingkari hakikat-hakikat agama  Islam itu sendiri dengan nama takwil. 
Dan mereka juga tidak berpegang  dengan pemahaman kaum muslimin terdahulu 
maupun sekarang. Karena  seluruh kaum muslimin bersepakat bahwa tidak ada nabi 
setelah  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam , maka bagaimana mereka 
(Ahmadiyah Qadaniyah) yang mengaku  beragama Islam berkata: “Telah datang 
seorang nabi yang bernama MIRZA  GHULAM AHMAD al qadiyani. Dan akan datang 
banyak para nabi sesudahnya”.

Dan salah seorang muridnya berusaha menyebarkan pemikiran ini, dan  
Alhamdulillah para ulama “bangun” membantahnya, kadang-kadang dengan  “cemeti”, 
kadang-kadang dengan “teriakan”, kadang-kadang dengan  “perkataan”. Segala puji 
bagi Allah, kita dipelihara dari kejahatan  mereka, dan saya banyak juga 
terlibat dalam membantah mereka.
Inti dari kisah diatas, bagaimana mereka (bisa) tersesat ? Rasulullah 
shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak ada nabi sesudahku”.
Kalian tahu apa makna “Tidak ada nabi sesudahku?” mereka (ahmadiyah  qadaniyah) 
mengartikan hadits itu : “Bersamaku tidak ada nabi, akan  tetapi jika aku mati 
akan ada nabi”. (Demikianlah) mereka mentakwilkan  nash hadits. Mereka (juga 
berkata) : “Akan tetapi Rasulullah adalah  “khotimun nabiyyin”, apakah makna 
khotimun nabiyyin ? (mereka menjawab  sendiri) : “perhiasan para nabi”. Karena 
makna khotim adalah cincin di  jari, maka Rasulullah adalah perhiasan para nabi 
dan bukanlah maknanya  tidak ada lagi sesudah Rasulullah, bukan itu.

Jika demikian maknanya, apakah seluruh kaum muslimin salah dalam  memahami 
nash-nash itu? Pembahasan ini banyak dan panjang sekali, maka  cukuplah bagi 
kita sekarang tiga landasan salafiyyah : Al Qur’an,  hadits-hadits yang shahih 
serta diatas pemahaman salafus shalih.

Adapun dari tujuan-tujuannya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang  mana 
dengan masyarakat yang Islami itu akan mungkin untuk  merealisasikan hukum 
agama Islam dan bukannya merealisasikan hukum  selainnya. (Karena) suatu hukum 
Islam pada masyarakat yang tidak Islami  adalah dua hal yang tidak akan 
berkumpul.

Ringkasan :
Maka wajib berpegang teguh kepada manhaj salaf, karena dialah penjamin  seorang 
muslim untuk menjadi firqatun najiyah (kelompok yang selamat)  dan tidak masuk 
dalam kelompok yang sesat. Inilah penjagaan.
Dan terakhir, hendaknya kita menolehkan pandangan ketika mengajak  seluruh kaum 
muslimin untuk berpegang kepada kitab dan sunnah diatas  manhaj salafus shalih 
sebagaimana yang telah kita jelaskan dengan  keterangan dan dalil-dalil yang 
shahih. Dan kita tidak menjauhi mereka  (kelompok yang sesat) akan tetapi kita 
mendakwahi mereka dengan baik  kepada Al Qur’an dan sunnah. Karena kita 
meyakini bahwa mereka adalah  “orang-orang yang sakit” dalam aqidah mereka yang 
mana mereka  menyimpang dari Al qur’an dan sunnah. Maka kami mendakwahi mereka  
sebagaimana kewajiban dakwah yaitu kaidah dasar pada setiap orang  mengajak 
kepada Islam, yaitu firman Allah,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran  yang baik 
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya  Tuhanmu Dialah yang 
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari  jalan-Nya dan Dialah yang 
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat  petunjuk”. An nahl :125
Maka wajib bagi kita untuk tidak menganggap remeh (bersama orang-orang  yang 
menyimpang dari manhaj salafus shalih) tidak hanya dalam masalah  hukum-hukum, 
bahkan dalam masalah aqidah-aqidah, sebagaimana kami  sebutkan diatas pada 
hal-hal yang berhubungan dengan sifat-sifat dan  semisal itu. Maka kami 
mendakwahi mereka dengan cara yang terbaik,  tidaklah kita meninggalkan dan 
menceraikan mereka, (hal ini) karena  sabda Rasulullah r :

“Bahwa Allah memberi petunjuk seseorang melaluimu (maka hal ini) lebih aku 
sukai dari (mendapatkan) unta merah”.
Maraji':
Diterjemahkan dari majalah Al Ashalah 27/74-78.

sumber: http://www.salafindo.com/viewartikel.php?ID=40



---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke