Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,
 
Pak, saya jawab yang no. 4 ya,
 
Amalan yang dapat dilakukan oleh anak kandung setelah orangtuanya meninggal, sehingga orangtua yang meninggal tersebut mendapatkan pahala, sepanjang pengetahuan saya berdasarkan hadits - hadits yang sah ada 4 : sedekah, puasa nazar, haji nazar dan haji fardhu.
 
Berikut penjelasannya,
 
Adapun amalan yang pahalanya bisa sampai kepada si mayit adalah amalan sedekah atas namanya yang dilakukan oleh anak kandungnya sebagaimana hadits berikut ini,
 
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Ada seorang yang berkata pada Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, ‘Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi beliau tidak berwasiat, apakah dia akan diberikan ampunan kepadanya jika aku bersedekah atas namanya ?’, Beliau ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam menjawab, ‘Ya’” (HR. Muslim V/73, An Nasa-i II/129, Ibnu Majah II/160, al Baihaqi VI/278 dan Ahmad II/371), hadits – hadits shahih dan hasan yang semakna juga diriwayatkan dari jalur Aisyah ra., Abdullah bin Abbas ra., dan Abdullah bin Amr ra. (lihat Ahkaamul Janaa-iz oleh Syaikh Albani)
 
Begitu pula dengan amalan puasa nazar, haji nazar maupun haji fardhu yang dilakukan oleh anak kandungnya, maka pahalanya dapat juga sampai kepada si mayit.  Berikut dalil – dalilnya :
 
Yang berkaitan dengan puasa nazar,
 
Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata,
 
“Datang seorang wanita kepada Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam dan ia bertanya, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah wafat dan dia mempunyai hutang puasa nazar, apakah boleh aku berpuasa untuknya ?’.
 
Jawab Rasulullah, ‘Bagaimana pendapatmu kalau sekiranya ibumu mempunyai hutang lalu engkau bayar hutang tersebut, apakah hutang tersebut terlunasi darinya ?
 
Jawab wanita itu, ‘Ya’.
 
Bersabda Rasulullah, ‘Maka puasalah untuk ibumu, karena hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan’” (HR. al Bukhari no. 1953, Muslim 3/155-156 dan lainnya)
 
Yang berkaitan dengan haji nazar,
 
Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata,
 
“Sesungguhnya ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, lalu ia bertanya, ‘Sesungguhnya ibuku bernazar haji, akan tetapi sampai wafat ia belum menunaikan haji, maka bolehkah aku menghajikannya ?’
 
Jawab Nabi, ‘Ya, hajikanlah untuknya ! Bagaimana pendapatmu kalau sekiranya ibumu mempunyai hutang apakah engkau akan melunasinya ? Tunaikanlah hak Allah ! Karena (hak) Allah lebih berhak untuk ditunaikan’” (HR. al Bukhari no. 1852)
 
Dan yang berkaitan dengan haji fardhu,
 
Dari Buraidah ra., ia berkata,
 
“ … perempuan itu bertanya lagi, ‘Sesungguhnya ibuku belum melaksanakan haji sama sekali, maka apakah boleh aku menghajikannya ?’
 
Jawab Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, ‘Hajikanlah ia’” (HR. Muslim 3/156)
 
semoga bermanfaat.

"Isal Murandi Artha (JA/EID)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Saudara2 member milis As-sunnah, saya memiliki beberapa pertanyaan
perihal kehidupan di alam kubur. Mohon jawabannya dengan nash yang
terpercaya dan kuat.

1. Ada beberapa cerita yang sudah menyebar dari mulut ke mulut mengenai
azab kubur, seperti mayit yang sudah di masukkan ke kubur, lalu tidak
lama berselang kuburan di buka dan mendapati tubuh mayit sudah terbakar
dan ada bekas siksaan. Ada juga di temukan tubuh mayit yang masih utuh
walaupun sudah lama meninggal. Mengingat adanya isu2 cerita seperti ini,
bagaimana sebenarnya menurut Islam dengan pemahaman salaf mengenai
fenomena2 yang sudah menjadi cerita memasyarakat dan bahkan banyak
sekali sinetron yang di buat berdasar cerita ini?

2. Ibu saya sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Kemudian bibi saya
menunaikan umroh, dan pada saat di mekkah bibi saya berdoa ingin sekali
mengetahui kabar dari ibu saya yg sudah meninggal. Dan alhamdulilah
doanya langsung terkabul, pada saat tidur di hotel (masih di mekkah)
beliau bermimpi berjumpa dengan ibu saya, dan malah menurut bibi saya,
ibu saya tahu kalo bibi saya ingin bertemu. Kabar yang di dapat adalah,
ibu saya memiliki rumah yang sangat bagus di alam kubur. Saya sangat
bahagia mendengarnya, namun yang ingin saya tanyakan adalah bolehkah
kita percaya pada mimpi seperti itu? dan bagaimanakah derajat mimpi
seperti itu? Mohon bantuannya dengan dalil2 yang shahih.
Sebagai tambahan informasi Isya Allah ibu saya pada saat meninggal dalam
keadaan husnul khatimah karena saya mendampingi beliau pada saat
sakaratul maut dan saya dapati keningnya berkeringat, beliau meninggal
pada hari jumat dan sakit TBC otak.

3. Bibi saya melakukan amal jariyah untuk kakek, nenek dan ibu saya,
dengan harta beliau sendiri. Kejadian ini mirip dengan poin 2, pada saat
setelah melakukan amal jariyah, tidak lama berselang bibi saya bermimpi
bertemu ibu saya dan ibu saya mengatakan terima kasih karena amal
jariyah telah sampai padanya. Bibi saya kaget dan dia bertanya, kok bisa
tahu, ibu saya mengatakan bahwa setiap amal yang kita buat untuk mayit
akan di sampaikan dari siapa amal itu berasal. Saya ingin menanyakan
pula bagaimana derajat mimpi tersebut? Dan bolehkah kita percaya? Mohon
bantuannya dengan dalil2 yang shahih.

4. Bagaimanakah akhlak seorang anak pada orang tua nya yang telah
meninggal, amalan2 apakah dan doa2 seperti apakah yang bermanfaat pada
orang tua kita yang telah meninggal? Tentunya dengan dalil yang shahih
dan terpercaya.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah membaca beberapa pertanyaan
dan menjawabnya.

Jazakumullah khairan

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh





 


Ring'em or ping'em. Make PC-to-phone calls as low as 1¢/min with Yahoo! Messenger with Voice.

--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------




SPONSORED LINKS
Islam Beliefs Religion


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke