assalamu'alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh pustaka alkautsar bukannya campur2?
On 5/30/06, Rostiyan N <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalaamu 'alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh > Ana spendapat dengan rekan Beta Andri.Selain itu ana juga punya sedikit > masukan, mudah2an ini bermanfaat dan semakin memantapkan tholabul ilmu > antum. > > 1. Buku2 bermanhaj salaf biasanya dalam mukadimahnya baik itu > mukadimah dari penerbit, mukadimah penterjemah maupun mukadimah isi, diawali > dengan khutbah hajat (Innal hamdalillaahi nahmaduhu…dst2), dan baik penerbit > maupun penulisnya sudah benar2 memahami bahwa mengawali tulisan dengan > khutbah hajat adalah memang sesuai sunnah. > 2. Penulis buku2 salaf (yang notabene orang2 bermanhaj salaf) > tidaklah sepatutnya berdusta, karena mereka benar2 takut dengan ancaman Nabi > shallallaahu 'alahi wa sallam dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh > Bukhari dan Muslim : " *Barang siapa yang berdusta atas namaku, > hendaknya ia menyiapkan tempatnya di neraka*". Jadi antum nggak usah > lagi curiga bahwa ini hadits shahih atau dho'if. Karena kalau penulis berani > mengatakan shahih, itu artinya memang dia mendapatinya shahih. Dan penulis > tidak akan berani berdusta dengan mengatakan hadits yang dho'if sebagai > hadits yang shahih…. dst. > 3. Buku2 salaf biasanya (selalu) memegang teguh amanat ilmiah, salah > satu cirinya adalah dimana selalu ada catatan kaki yang menerangkan tentang > hadits2 yang dinukil di halaman tersebut (seperti, periwayat, sanad, sumber > kitab nukilan, derajat hadits, no hadits dll). > 4. Seandainya sang penulis kurang teliti-pun atau melakukan > kesalahan dalam menyampaikan derajat hadits, tentunya hal ini akan segera > dikoreksi dan dibicarakan oleh bagian team editor naskah dari penerbit salaf > (yang mana penerbit salaf inipun seyogyanya ber anggotakan orang2 salaf yang > berilmu). > 5. Buku2 salaf yang penulisnya adalah orang indonesia, biasanya > dalam buku tersebut dibagian akhir terdapat Maroji' (daftar pustaka), dimana > dibagian ini penulis meyebutkan kitab2 rujukan dalam menulis buku tersebut. > Sehingga kitapun dapat mengecek kebenaran dari apa2 yang dinukil oleh sang > penulis dalam bukunya itu. > 6. Berikut ini adalah beberapa nama penerbit yang ana ingat yang > biasa menerbitkan buku2 salaf, dan Insya Allah mereka adalah penerbit yang > dapat dipercaya dalam memegang amanat ilmiah sehingga mustahil bagi mereka > untuk berdusta dengan sepengetahuan mereka :. > 1. Pustaka Imam Asy Syafi'i > 2. Pustaka Ibnu Katsir > 3. Pustaka Al Kautsar > 4. Darul Qolam > 5. Darul Haq > 6. Media Hidayah > 7. Pustaka Abdulah > 8. Pustaka At Taqwa > 9. At Tibyan > 10. Pustaka Azzam > 11. Darul Falah > 12. dll…masih banyak lainnya yang ana nggal hafal. > > Demikian yang dapat ana sharing-kan, mungkin ada rekan2 lain yang mau > mengkoreksi atau menambahkan. > Wasalaamu 'alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh. > > Akh Novy > > > *Beta Andri <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Waalaykum salaam warahmatullahi wabarakaatuh, > > ya begitulah gunanya ikut taklim. Insya Allah pemahaman yang didapat > dalam taklim, lebih mudah dicerna daripada dari hasil membaca buku. > Apalagi kalau ada kesempatan tanya-jawab dengan nara sumber. Memang > ada hadis untuk menyampaikan hadits kepada yang tidak hadir dalam > majels Nabi shalallahu ayahi wa sallam karena berapa banyak orang yang > yang mendengar hadis dari orang lain tetapi dia lebih paham dari si > pembawa hadits. Namun bukankah keutamaan hadir dalam majelis juga ada? > Seperti: 1) Barang siapa mencari ilmu maka Allah akan memudahkan > jalannya ke surga; 2) Orang yang mencari ilmu mendapat balasan seperti > orang yang berjihad, sejak keluar rumah sampai kembali lagi dari > majelis; 3) Orang2 yang ikut dalam majelis akan dinaungi oleh sayap2 > Malaikat, 4) dll. > > Kalau dibandingkan antara yg hadir dan tidak hadir (dalam argumen diatas): > - orang yang hadir taklim sudah dipastikan mendapat ganjaran dan > keutamaan seperti yang disebut diatas. > - tidak semua orang yang mendengar hadits secara tidak langsung, mampu > mencapai kedudukan orang yang "lebih paham dari pembawa hadits" > seperti yang disebutkan diatas. > > Mungkin antum perlu mencari orang yang tsiqoh (terpercaya) dalam > agama, untuk antum jadikan sumber referensi bertanya. Lebih baik lagi > kalau antum bisa bersikap kritis (yang syar'i tentunya) terhadap nara > sumber yang antum percayai itu. Supaya antum terhindar dari taklid dan > bisa mendapat manfaat dari orang lain. > > Kalau masih belum puas juga, dalam masalah memahami hadits shahih dan > dhaif, antum sekalian belajar hadits saja. Supaya nantinya bisa > memisahkan sendiri mana hadits yang shahih dan hadits yang dhaif. > > Mudah-mudahan bermanfaat. > > Wassalamualaykum warahamatullahi wabarakaatuh, > > Abu abbas > > > --- In [email protected], "vivadivas" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Assalamu'alaikum warahmatullah Wabarakaatuh > > > > selama ini saya belajar dengan membaca buku2 salaf, itupun karena > info dari teman2 juga (mana penerbit yg baik dan mana penerbit yg > tidak baik), jadi saya masih belum bisa memilih sendiri mana yang > baik. hal ini dikarenakan saya belum bisa membedakan mana yang shahih > dan tidak, saya juga belum bisa baca dan memahami urutan2 dan > periwayatan. selama saya baca buku2 salafy (yg infonya dari teman > salafy juga), saya hanya percaya dan ngikut aja. selama di buku itu > ada keterangan seperti : hadist ini shahih atau hasan. dan saya > tinggalkan hadist yg mengatakan dhaif/lemah. > > kemudian timbul pertanyaan dalam hati: > > Bagaimana jika saya dapat info buku yg salah. dan didalamnya > terdapat keterangan bahwa hadist itu shahih. padahal yang sebenarnya > tidak. > > sebagai orang masih awam, bagaimana saya harus percaya dan tidak? > > apalagi kalau ada keterangan seperti : lihat kitab ini dan itu.. > > bagaimana saya harus percaya, karena saya tidak bisa mengecek > sendiri kebenarannya dikarenakan saya tidak memiliki kitab2 tersebut. > > mungkin saat ini saya masih beruntung dikarenakan info dari teman > itu benar. tapi jika suatu saat, ada buku (salafy) yg tidak sengaja > ada kesalahan redaksional ttg suatu hadist, apakah saya harus percaya > begitu saja.. karena mengingat buku itu biasanya benar. > > > > selain itu, saya juga kebingungan menjawab pertanyaan adik dan > teman, jika saya memberi suatu file.. dan mereka bertanya : yg > mengatakan shahih ini orang mana dan siapa? > > > > Afwan jika pertanyaan saya ngawur, rasa bingung ini mengganggu sekali. > > jadi mohon penjelasan dan nasehatnya. terutama agar saya bisa > mempercayai keshahihan hadist tanpa selalu mengandalkan info dari > teman itu. > > > > Wassalamu'alaikum > > Alivia F. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Everything you need is one click away. Make Yahoo! your home page now. http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG TERPERCAYA -------------------------------------------- Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
