Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh,
Al Ustadz Yazid bi Abdul Qadir jawas dalam kitabnya “Prinsip Dasar Islam menurut Al Qur-an dan As Sunnah yang Shahih” halaman 95 menulis mengenai larangan ghuluw (berlebihan) dalam memuji Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seperti diantaranya adalah menambahkan lafazh “sayyidinaa” dalam ucapan sholawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sampai detik ini masih banyak diucapkan oleh kaum muslimin (para da’i) terutama di mimbar2 jum’at, mimbar2 taklim atau kesempatan lainnya.
Berikut ini adalah nukilan dari kitab tersebut :
 
Larangan Ghuluw (Berlebih-lebihan) dalam Memuji Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh :  Yazid bi Abdul Qadir jawas
 
Ghuluw artinya melampaui batas.
Dikatakan: “gholaa, yaghluu, ghuluw “ jika ia melampaui batas dalam ukuran.
Allah azza wa jall berfirman:
 “Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu” (QS. An-Nisaa’: 171)
 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” [1]
 
Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.
Sedangkan ithra’ artinya melampaui batas (berlebih lebihan) dalam memuji serta berbohong karenanya. Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah Subhaanahu wa ta’aala, menisbatkan kepada-nya sebagian dan sifat sifat Ilahiyyah. Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau, atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau, bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah Subhaanahu wa ta’aala, perbuatan ini  adalah syirik.
Dan yang dimaksud dengan ithra’ dalam hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘ ‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).” [2]
 
Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa ‘alaihis salam sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagai mana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka atakanlah:
“Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.” [3]
 
‘Abdullah bin asy-Syikhkhir rodhiallaahu ‘anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam , kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penghulu) kami! (sayyidinaa-pen Spontan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Sayyid (penghulu) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta ‘aala!”
Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Serta merta beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaitan.” [4]
 
Anas bin Malik rodhiallaahu ‘anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami (sayyidinaa-pen) dan putera penghulu kami!’ Maka seketika itu juga Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaitan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.” [5]
 
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam membenci jika orang-orang memujinya dengan berbagai ungkapan seperti: “Engkau adalah sayyidku, engkau adalah orang yang terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami, engkau adalah orang yang paling agung di antara kami.” Padahal sesungguhnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak. Meskipun demikian, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka agar menjauhkan mereka dan sikap melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam menyanjung hak beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, juga untuk menjaga kemurnian tauhid. Selanjutnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan mereka agar menyifati beliau dengan dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba yang di dalamnya tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan ‘aqidah. Dua sifat itu adalah ‘Abdullaah wa Rasuuluh (hamba dan utusan Allah).
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam  tidak suka disanjung melebihi dan apa yang Allah Subhaanahu wa ta’aala berikan dan Allah ridhai. Tetapi banyak manusia yang melanggar larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut, sehingga mereka berdo’a kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, bersumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala. Hal itu sebagaimana yang mereka lakukan ketika peringatan maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dalam kasidah atau anasyid, dimana mereka tidak membedakan antara hak Allah Subhaanahu wa ta’aala dengan hak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
 
Foot Note : 
 
[1] HR. Ahmad (1/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Jbnu Majah (no. 3029),
Ibnu Khuzaimah (no. 2867) dan lainnya, dan Sahabat Ibnu ‘Abbas . Sanad hadits mi shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan oleh Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
 
[2] HR. A1-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhzashamsy Syamaa-il al-Muhammadiyyah (no. 284), Ahmad (1/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (111/320) dan yang lainnya, dan Sahabat ‘TJmar bin al-Khaththab
 
[3] ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 151).
 
[4] HR. Abu Dawud (no 4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhari dalam al-A dabul Mufrad (no 1/ ShahiihulAdabil Mufrad no 155), an- Nasa-i dalam Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). A1-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata: “Rawi-rawinya shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul Baari V/179)
 
[5] HR. Ahmad (111/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam. ‘Amalul Yaum wal Lailab (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadriya shahih dan Sahabat Anas bin Malik .
 
 
 
 
 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------




SPONSORED LINKS
Sunnah Islam Islam empire of faith
Islam music Islam video Islam for child


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke