Assalamu'alaikum, Ana setuju sekali dengan pendapat dari Akhi Suroso (Abu Farhan), karena dalam kenyataan masyarakat awam sudah phobi dahulu ketika melihat akhuna salafy memakai gamis, jenggot yang panjang, kemudian sebagian ada tampang yang kurang sumeh (banyak senyum) sehingga masyarakat awam ketika bertemupun takut apalagi mau kita da'wahi. Mungkin sebagai masukan saja, sepertinya kita perlu mengubah image seperti itu yang bisa menjauhkan objek da'wah dari kita. Secara prinsip kita sudah benar dan tidak perlu kita ubah lagi, tetapi keluwesan dan fleksibilitas kita dalam berda'wah sebagaimana yang disampaikan Akhi Suroso perlu kita perbaiki. Sebagian dari saudara kita masih belum mau atau masih menghindar untuk berinteraksi dengan masyarakat awam ketika berada dilingkungan masyarakat mereka masing-masing, sehingga masyarakat masih merasa asing dan menganggap kita ini sebuah aliran apa dsb. Untuk itu kita harus bisa lebih sosialisasi terhadap masyarakat supaya da'wah kita sampai dan syia'r Islam kembali bersinar dimuka bumi ini. Kemudian kajian-kajian salaf juga masih sedikit didaerah daerah tertentu karena masih sulit masuk kedalam masyarakat dikarenakan kurangnya sosialisasi kita terhadap masyarakat tentang berIslam yang benar sesuai dengan salafusholeh, sehingga masyarakat masih belum mau menerima atau bahkan tidak senang ketika dilingkungannya ada kajian salaf, sebagian masih kaku dalam berda'wah dan terlalu memaksakan prinsip kita yang sudah mantap kepada masyarakat yang masih belum tahu tentang ilmu tersebut. Ana pribadi yang kebetulan pengurus DKM dilingkungan ana sendiri masih dalam taraf sosialisasi dan mengadakan kajian dari Asatidz yang masih belum 100% manhaj salaf untuk bisa mengajak dan menarik jama'ah supaya mau datang ikut kajian dan sholat berjama'ah dimasjid, itupun masih sulit apalagi kita menerapkanya secara saklek dan frontal mungkin tidak ada yang mau datang. Tapi alhamdulillah setelah 3 tahun ana tinggal masyarakat sudah mulai sedikit menerima da'wah kami dan hal-hal yang masih berbau bid'ah sudah bisa sedikit2 kita hilangkan.
semoga kita bisa lebih merapatkan barisan untuk bisa lebih kuat dalam menjalankan da'wah salafusholeh. sebagaimana dalam surat Ash-shof " Innallaha yuhibulladziina yuqotiluuna fii sabiilihi soffan kaannahum bunyaanu marsuus " sebelum dan sesudahnya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam menyampaikan, mohon do'anya dari akhi wa ukhti semua dimilis ini semoga Allah swt. memberikan kekuatan dan keistiqomahan kepada kami dalam menda'wahkan Islam berdasarkan manhaj salaf kepada umat Islam pada umumnya dan masyarakat dilingkungan kami pada khususnya. Jazakallahu khoiron katsiron Abu Hanifah w_suroso wrote: >Saya hendak mengulas sekilas cara da'wah yang dilakukan oleh para >salafi. Dalam hal berda'wah ini, saya lebih menekankan >pada "mengislamkan orang Islam" atau dengan kata lain, "mengajak >agar muslim menjalankan agamanya secara benar". Saya lihat beragam >cara berda'wah yang dijalankan. >(1) Sebagian teguh dalam memegang prinsip manhaj salafi dan kaku >dalam berda'wah. >(2) Sebagian lagi teguh dalam memegang prinsip manhaj salafi, tetapi >luwes dalam berda'wah, tanpa meninggalkan prinsip. > >Kiat yang diajarkan oleh ustadz kami selalu kami ingat, >yaitu "bagaimana cara terbaik agar kebenaran yang kita sampaikan >dapat diterima". Dengan demikian, yang penting ialah bukan pada >sekadar berda'wah, melainkan mengarah pada sasaran berda'wah, >yaitu "berhasil". > >Sebagai contoh sederhana, bilamana kita telah menyampaikan >kebenaran, maka kita memperoleh pahala 1. Namun, bilamana kebenaran >tersebut telah diterima dan diamalkan oleh orang yang kita da'wahi, >maka kita memperoleh tambahan pahala 1 lagi. Adapun bila orang >tersebut tidak menerima da'wah kita, maka kita tidak memperoleh >tambahan pahala. Mestinya, setiap orang ingin memperoleh pahala 2 >dibandingkan hanya 1. > >Jikalau ada sekelompok muslim yang menjalankan agama tidak mengikuti >ajaran Rasulullah salallahu `alaihi wassalam dan kita menjauhi >mereka karena menganggap mereka sulit menerima kebenaran, maka kita >berdosa karena tidak menjalankan kewajiban untuk berda'wah. Tidak >ada nabi/rasul yang meninggalkan ummatnya apabila telah diperintah >oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk memperbaiki aqidah ummatnya >masing-masing. Nabi Yunus `alaihis salam yang semula berniat menjauh >dari ummatnya (karena sulit diajak pada kebenaran) oleh Allah >subhanahu wa ta'ala dikembalikan lagi kepada umatnya setelah >mengalami peristiwa ditelan ikan besar, lalu bertobat. > >Boleh jadi, sebelum kita menda'wahi, mereka sudah menjauhi kita >karena -sebagaimana mereka amati- menganggap kita kaku dalam >berda'wah dan menyalah-nyalahkan mereka. Berarti kita tidak >memperoleh pintu masuk untuk berda'wah. Bagaimana akan berda'wah >apabila objek da'wah menghindar. Artinya, da'wah kita tidak berhasil >mencapai sasaran. > >Rasulullah salallahu `alaihi wassalam mengajarkan kita untuk >berda'wah secara bijak (dengan hikmah) dan melalui tindakan atau >keteladanan perilaku sehari-hari. Cara ini jauh lebih berhasil >dibandingkan dengan hanya berda'wah melalui lisan, apalagi bila >kaku. Saya perhatikan, cara yang efektif ini telah lama diterapkan >oleh para pastur dan berhasil. > >Memang tepat bahwa kebenaran itu tidak dapat dikompromikan. Menurut >pendapat saya, itu adalah prinsip yang harus dipegang teguh untuk >pribadi. Yang menjadi pertanyaan ialah haruskah prinsip itu >dijalankan secara kaku dalam berda'wah kepada orang lain mengingat >bahwa orang lain pun menganggap prinsip mereka sudah benar. >Pengalaman mengajarkan kepada kita bahwa da'wah pun harus melalui >tahapan-tahapan, yang pasti perlu waktu dan kesabaran tinggi. >Bukankah ada peribahasa bahwa batu sekeras apapun akan berlubang >juga jikalau air menetes terus-menerus di atasnya. > >Oleh karena itu, saya mengajak diri saya dan kita semua untuk >meninjau kembali dan memantapkan cara da'wah kita dengan sasaran >untuk berhasil. > >Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu memberi kekuatan kepada kita >untuk menyampaikan kebenaran dan menyebarkan kebaikan kepada siapa >pun yang membutuhkan. Dan semoga Dia mencatat itu semua sebagai amal >shalih. > >Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, >Abu Farhan > > >--- In [email protected], ummi fathia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>Bagimana dengan seruan MUI-NTB untuk mengubah cara ber da'wah, >apakah artinya cara yang selama ini dipakai tidak dengan ilmu atau >kurang belajar. > > >>Beta Sagita <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan cara yang sebaiknya. >>Artinya dakwah harus tahu ilmunya dulu. untuk lebih jelas, beli >aja buku >>Fiqh Nasihat, ustadz Fariq bin Gazim Anuz. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> You can search right from your browser? It's easy and it's free. See how. http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG TERPERCAYA -------------------------------------------- Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
