|| Assalamualaikum Wr Wb..
---------------------------------

Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Pak Sarwani…. Semoga Allah mengaruniakan bapak ilmu, hidayah dan taufiqNya.

---------------------------------
|| Rekan2 milist yang semoga dimuliakan Allah...
||
|| Menyikapi perbedaan pendapat yang ada di milist ini, yang
|| sampai menjatuhkan vonis sesat pada ulama2 tertentu, saya
|| secara peribadi menyesalkan hal tersebut.
---------------------------------

Kalaulah bapak benar-2 mempelajari para neter salafiyyin (pengikut yang 
berusaha mengikuti para Pendahulu kita yang terbimbing) di mailist ini 
memposting, mengutip, menyanggah, merinci, mengupas, membahas dan seterusnya, 
sesungguhnya tidak lain dan tidak diragukan lagi inti dari semua itu adalah 
nasihat atau da'wah yang haq yang berusaha mengikuti pijakan Rasulullah 
salallahu'alayhi wasallam dan para sahabatnya ridwanallahu 'alahim dan tabi'in 
dan ataba'ut tabi'in dan para imam dan para ulama sampai sekarang yang selalu 
berpegang erat dengannya.

Mereka pada dasarnya mempunyai niat mulia dan hanya ingin mangamalkan:
"Artinya : "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian 
mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh 
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, 
menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah (kitabullah) dan Rasul-Nya 
(Sunnah)." [At-Taubah : 71].

Sudah kurang lebih 6 tahun saya mengikuti mailist ini, awalnya saya cukup 
tersentak dengan sanggahan tajam dari hanya segelintir neter, sedangkan 
kebanyakannya tidak demikian. Kenapa demikian? menurut saya mungkin karena 
belum cukup mendalami dan memahami ilmu sehingga gairah dan tekad hawa nafsu 
yang lebih dulu tampak kemudian didukung dengan belum cukup kesabaran. Saya 
akui ini karena terjadi pada diri saya juga.

Akan tetapi bila kita ketahui bahwa tokoh yang telah dinyatakan bahaya 
bid'ahnya melalui ulama kibar yang selalu memegang kebenaran pada Kitabullah 
dan Sunnah dengan metode memahami sesuai dengan pemahaman para sahabat yang 
telah diridloi pemahaman dan pengamalannya oleh Allah azza wajall dan dicintai 
oleh Rasulullah salallahu'alayhi wasallam, maka bagi kita yang baru segenggam 
ilmu sebaiknya menjauhinya jangan mengikuti atau mendengarkannya agar kita 
tidak terpedaya oleh untaian alunan subhatnya yang bisa memabukkan dan 
menjerumuskan. Kita tidaklah mencemoohkan tapi memperingatkan pada teman atau 
karabat akan bahayanya melalui penjelasan ilmiah para ulama yang haq.

---------------------------------
|| Karena apa? bukankah kita semua sama2 bernaung di bawah
|| panji2 Islam.
---------------------------------

PANJI ISLAM???  Bagaimana menurut bapak Islam itu? Apakah cukup berdasarkan 
dengan Kitabullah saja? Ataukah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah saja, 
sedangkan pemahaman, penafsiran dan pengamalannya terserah pada diri kita 
masing-2 yang hidup pada setiap perbedaan kebudayaan adat istiadat, waktu dan 
zaman?

Kalau demikian yang kebanyakan orang menginginkan, maka boleh-2 saja kita 
terima dan sah pemahaman para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibn 
Mas'ud, dll. tidak mengapa berbeda dengan kaum barat yang adat asalnya kaum 
wanitanya obral lubang pusar (bikini) sedang kaum prianya gemar demo, 
darwinisme, dll.
Sungguh tidak demikian Pak Sarwani, Islam itu tidak demikian.

Risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah salallahu'alayhi wasallam adalah satu 
saja tidak berbilang, sudah amat sempurna tidak perlu adanya tambahan, 
perubahan, atau penafsiran menurut masing-2 orang atau group atau golongan, 
bangsa atau daerah atau kebudayaan adat istiadat. Allah berfirman: "Pada hari 
ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu 
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." [Al-Maidah:3]

Tapi kalau pernyataan ini sebaliknya maka rusaklah risalah yang mulia itu.
Sangat berelasi dengan ayat 116 pada Surat Al-An'aam:
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya 
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah 
mengikuti persangkaan belaka".

Begitu seseorang mengakui memeluk Islam yang dibawa Rasulullah yang diajarkan 
kepada para sahabatnya yang dirodloi oleh Allah, dan diikuti oleh generasi 
penerusnya yang selalu mengikuti, kemudian diikuti pula oleh generasi 
berikutnya yang selalu mengikuti, kemudian generasi penerus yang selalu 
mengikuti dengan benar, seperti tercantum dalam surat At-Taubah ayat 100:

Yang artinya: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) 
dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan 
baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah 
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya 
selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Maka tidak sepatutnya kita masih berkeras diri membawa dan memegang baik itu 
ajaran adat istiadat asal atau kebiasaan kita yang berlagak intelek (educated) 
yang segala harus diterima dengan rasio, kebiasaan yang selalu mengekor tanpa 
mengetahui asal ajaran itu didapat, dst. Maka kita harus ridha, baik senang 
maupun tidak, meninggalkan semua yang tidak sesuai dengan ajaran para pendahulu 
kita yang salih dan terbimbing, apalagi yang bertentangan. Apakah tidak cukup 
Allah azza wajall berfirman pada ayat 115 surat An-Nisa':

Yang artinya: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran 
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (orang-2 
mukmin diwaktu zaman Nabi tidak lain adalah generasi sahabat), Kami biarkan ia 
leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke 
dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali."

---------------------------------
|| Lantas kenapa hanya karena berbeda penafsiran aja kita
|| sampai menganggap bahwa kitalah yang benar dan yang lain
|| salah. Bukankah di dunia ini tiada manusia yang sempurna
|| keimanannya selain Rasulullah?
---------------------------------

Berbeda penafsiran? Kalaulah masalah pokok Islam seperti Aqidah dan pokok-2 
Ibadah, maka inilah kenyataan yang terjadi. Hal yang tidak bisa dianggap 
sepele, perhitungannya selamat atau terjerumus dalam neraka. Sudah terungkap 
pada penjelasan di atas.

Tapi boleh saya tambahkan lebih rinci yaitu:
"Sebaik-sebaik (generasi) di umatku ini adalah generasiku (para sahabat), 
kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (tabi'in), dan kemudian 
orang-orang yang datang setelah mereka (tabi'ut tabi'in)" (HSR Bukhari dan 
Muslim).

Dan seperti yang kita ketahui dalam hadits yang cukup populer dan sahih dimana 
Rasulullah salallahu'alayhi wasallam mengabarkan akan adanya perpecahan 
diantara ummatnya yang menjadi 73 golongan, "Semua golongan itu masuk neraka 
kecuali satu golongan, yaitu Al Jama'ah", kemudian Beliau salallahu'alayhi 
wasallam perjelas lagi golongan jama'ah mana yang selamat dari nereka yaitu: 
"Mereka adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para 
sahabatku" [HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad-Darimi, Al-Hakim, yang dinyatakan sahih 
oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan Albani]

Maka dari itu harus kita kembalikan ke tolak ukur kebenaran kita beragama, 
yaitu tolak ukur sudah ada dan jelas yang seperti di atas. Jangan membandingkan 
dengan kita sebagai pengikut mereka (insya-Allah), tapi bandingkan dengan tolak 
ukur yang sudah jelas itu. Nah fahamkah kita sampai disini?

Barangsiapa yang menyelisihi mereka, yaitu golongan yang Allah subhana wata'ala 
dan Rasulullah salallahu'alayhi wasallam uraikan di atas, maka tanpa pandang 
bulu mereka adalah sesat. Dan barangsiapa masih bersikeras tetap tidak mau 
rujuk pada golongan yang Najiyah (selamat) sesudah jelas petunjuk kebenaran 
didepan matanya, malah berusaha mepropagandakan perbedaannya terhadap mereka 
yang mahdiyyin, maka mereka yang menyelisihi ini sangat berbahaya dan 
menyesatkan orang awam.

Tanpa pandang bulu, baik itu dari keturunan nabi atau alawiyyin (habib-habib) 
yang merasa suci darahnya, atau ustadz atau kyai yang lagi kondang dan naik 
daun, atau baik itu ternama dan terkenal jago orator orangnya, tanpa perbedaan, 
bagi siapa yang telah menyelisihi golongan yang Rasulullah uraikan di atas 
mereka adalah sesat dan menyesatkan.

Saya ingatkan lagi, jangan membandingkan dengan kita di mailist ini, atau orang 
yang berusaha mengikuti mereka gologan Najiyah di zaman ini, tapi bandingkan 
dengan tolak ukur utama itu.

---------------------------------
|| Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada
|| di pertengahan antara dua hal yang berdekatan. Bagi
|| seseorang sesuatu itu warnanya putih saja, sebagian yang
|| lain hitam saja, mereka melupakan ada warna yang lain,
|| tidak putih dan tidak pula hitam.
---------------------------------

Bapak mengambil perumpamaan antara warna putih dan hitam, juga adanya antara 
keduanya tidak putih dan tidak hitam yaitu abu-abu (grey color).
Kebiasaan orang melayu adalah warna putih melambangkan kesucian bisa murni dan 
jelas ini adalah lambang kebaikan dan kebenaran kan?
Sedangkan warna hitam adalah sebaliknya 'kan?
Nah bila warna diantaranya yaitu abu-abu (grey color) tidak putih dan tidak 
pula hitam, bisa kita artikan tidak baik atau benar tidak juga buruk atau sesat 
atau juga terjerumus, yaitu "keragu-raguan" atau SUBHAT.
Ya Allah! Malah Rasulullah salallahu'alayhi wasallam memerintahkan ummatnya 
untuk menghindari GREY AREA ini yaitu SUBHAT (ragu-ragu)

---------------------------------
|Nabi SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar r.a., beliau bersabda, "Engkau 
seorang yang |masih ada padamu sifat Jahiliyah."
|Abu Dzar adalah seorang sahabat yang utama, termasuk dari orang2 yang pertama 
yang |beriman dan berjihad, tetapi masih ada kekurangannya.
|
|Juga di dalam Shahih Bukhari diterangkan oleh Nabi SAW.:
|"Barangsiapa yang meninggal bukan karena melakukan jihad dan tidak 
dirasakannya (tidak |ingin) di dalam jiwanya maksud akan berjihad, maka dia 
mati dalam keadaan sedikit ada |nifaknya."
|
|Dalam sunnah Rasul SAW sendiri terdapat sesuatu yang mendukung diterimanya 
perbedaan |pendapat dalam suatu peristiwa yang terkenal, yaitu peristiwa shalat 
Ashar di Bani Quraizhah, |setelah usai perang Ahzab:
|
|Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., ia berkata:
|Rasulullah SAW bersabda pada hari perang Ahzab:
|"Jangan sekali-kali seseorang melakukan shalat Ashar kecuali di (perkampungan) 
Bani |Quraizhah."
|
|Sebagian mereka mendapatkan waktu Ashar di tengah perjalanan. Lau mereka 
berkata, "Kami |tidak akan shalat Ashar kecuali setelah kami datang di Bani 
Quraizhah." Dan sebagian lagi |berkata, "Kami akan melakukan shalat Ashar, 
karena bukan itu yang dimaksudkan Rasulullah |SAW terhadap kita." Kemudian 
peristiwa itu dilaporkan kepada Rasulullah SAW, maka beliau |tidak mencela 
salah satunya."
|
|Mungkin dari kisah di atas, kita dapat merenungkan bahwa Rasulullah sendiri 
tidak mencela |umatnya lantaran berbeda penafsiran/pendapat, tetapi mengapa 
kita yang hanya manusia biasa, |yang hidup jauh dari masa2 Rasulullah 
bisa-bisanya menganggap pendapat saudara kita |sesama muslim itu salah atau 
bahkan sesat (selagi pendapat tersebut tidak keluar dari Al Qur'an |dan sunnah)
|
---------------------------------

Sesungguhnya perbedaan antara para sahabat Rasulullah salallahu'alayhi wasallam 
adalah tidak sama dengan perbedaan pada ummat jauh sesudahnya, apalagi pada era 
kita hidup sekarang. Jikalau memang ada perbedaan antara para sahabat terjadi, 
maka perbedaan itu adalah bukan masalah-2 pokok aqidah atau pokok ibadah tapi 
masalah-2 furu' dan itupun terselelesaikan oleh Nabi di waktu beliau hidup dan 
tidak sampai terjadi perpecahan sehingga yang satu mengkafirkan yang lainnya 
setelah Nabi wafat.

Tentunya, tidak mungkin terjadi perbedaan pada masalah-2 pokok Islam, kalau 
terjadi dengan pasti menurut syariat dan logika mereka yang menyelisihi ajaran 
pokok Islam tidak akan menjadi sahabat Nabi salallahu'alayhi wasallam, dan 
tidak akan disebut dengan sebutan "Sahabat", orang menyelisihi akan dikecam 
oleh Allah dan RasulNya. Jadi tidak mungkin para sahabat mempunyai perbedaan 
penafsiran masalah ajaran-2 pokok Islam. Seluruh jumhur ulama sepakat, 
barangsiapa yang menyelisihi dalam masalah-2 pokok Islam mereka bukanlah 
sahabat dan keluar dari Islam. Jadi tidak ada yang namanya sahabat nabi murtad, 
munafiq, atau khawarij, qodariyyah atau yang berfahaman rafidah atau syi'ah.

Lain dengan perbedaan yang terjadi di zaman kita hidup, perbedaannya adalah 
masalah-2 pokok aqidah dan pokok ibadah yang amat ekstrim dari tolak ukur utama 
golongan Mahdiyyin di atas. Yang satu, mengkafirkan seluruh sahabat kecuali 
empat, yang satu tidak beriman bahwa iman itu naik turun yang diucapkan dengan 
lidah, diimani dengan hati dan direalisasikan dengan tindakan, yang satu lagi 
tidak beriman akan Qada dan Qadar, yang satu lagi menghalalkan bertabarruq 
dengan kubur-2 wali, habib dan tokoh pahlawan, yang satu agama harus bisa 
diterima dengan rasio 100% sehingga banyak ayat Qur'an dipelintir dan hadits 
mutawatir ditolaknya, yang satu lagi masih mempercayai adanya nabi setelah nabi 
Muhammad salallahu'alayhi wasallam, yang satu lagi mempunyai cara, tempat, 
waktu, sifat dan jumlah tertentu dalam melaksanakan macam-2 ibadah yang jelas 
berbeda dengan tuntunan golongan Najiyah yang Mahdiyyin itu, yang satu lagi 
mengada-adakan amalan ibadah serta mengharamkan yang dihalalkan dan 
menghalalkan yang diharamkankan oleh Allah dan RasulNya, yang satu lagi 
Tasyabbuh melata meniru kebarat-baratan orang kuffar dengan berpartai, 
demokrasi, demonstrasi, kudeta, memberontak dan mencaci para penguasa. Sungguh 
masih banyak lagi Pak Sarwani.

Perbedaan yang demikian tidak pernah terjadi pada zamannya Rasulullah dan para 
Sahabat tapi ada perbedaan yang minor (furu' yang kecil) yang tidak 
mengakibatkan perseteruan.
Sedangkan pada zaman sekarang segala macam perbedaan ekstrim bejibun tak 
terhitung, sehingga satu sama lain tidak mungkin bersatu, mustahil menurut 
logika dan tentu amat musrtahil menurut syari'at.

Bacalah sumber-2 sejarah yang adil dan terpercaya, seperti Al-Bidayah 
Wan-Nihayah oleh Ibnu Katsir atau "The Madinan Way – The Soundness of the 
Basics Premises of the School of the People of Madina" oleh Ibnu Taymiyyah 
(kebetulan saya mempunyai terjemahan Inggris). Dll.

---------------------------------
|| Jadi, saya mengajak, marilah kita pererat ukhuwah islamiah
|| kita. Kita lupakan semua perbedaan yang sifatnya khilafiyah.
|| Dan kita serahkan semuanya kepada Allah SWT.
---------------------------------

Seperti yang saya uraikan di atas Khilafiyahnya sangat amat ekstrim sudah tidak 
mungkin tertolong sampai mereka kembali kepada jalannya para pendahulu kita 
yang salih yang selamat dan terbimbing. Bukan khilafiyah seperti yang terjadi 
zaman sahabat ridwanullahu'alayhim ajma'in.

"... Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang 
demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti." 
[Al-Hasyr:14]

Kalau kita menginginkan bersatu, maka kita harus mempunyai satu PLATFORM yaitu 
bersih Aqidahnya, benar Ibadah dan bagus Akhlaqnya dengan cara Tasfiyah dan 
Tarbiyah.
Memang untuk mencapai tujuan itu harus berusaha dan berjuang dan bersabar, 
sebagaimana para pendahulu kita para sahabat Rasulullah salallahu'alayhi 
wasallam berusaha dan berjuang dan bersabar.

Mohon ma'af kalau memang ini tidak berkenan dihati bapak, dan mohon ma'af bila 
saya menggunakan bahasa yang cukup kasar dan tajam.

Bila memang ada kebenaran maka tentunya itu datang tidak lain dari Allah 
tabaraka wata'ala dan bila ada kekurangan dan keburukan maka tidak lain itu 
memang timbul dari saya.

Saya memohon pertolongan Allah subhana wata'ala agar membimbing saya dan 
saudara-2 kita yang se-Iman agar selalu dikaruniakan hidayah serta dibukakan 
mata hati sehingga menjadi terang menempuh jalan yang diridhai dan tetap 
beristiqomah pada jalan yang benar dan lurus sesuai dengan jalannya para 
pendahulu kita yang Salih, amin.

Wallahu musta'an
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
ahmad ibnu muhammad alkherid



[EMAIL PROTECTED] wrote:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Mungkin disatu sisi antum benar, bahwa kita berada disatu panji yaitu
islam, perbedaan dalam masalah furu' memang hal yang biasa terjadi,
tetapi ketika perbedaan itu telah sampai kepada yang pokok maka
pernyataan antum perlu dikoreksi lagi. Kita ambil contoh sederhana
saja, coba antum tanyakan kepada sebagian manusia tentang "dimanakah
dzat Allah?" kalo pertanyaan ini nt tanyakan pada orang sufi maka
mungkin mereka akan menjawab bahwa Allah ada dalam diri kita, sebagai
realisasi dari aqidah wihdatul wujud mereka yang sesat, tp kalo nt
tanyakan pada sebagian golongan lain maka mereka akan menjawab Allah
ada dimana2x, atau kalo ditanyakan pada sebagian orang yang
kebingungan dan pusing kepalanya mereka menjawab Allah tidak dimana2x,
lihat antum akan temukan 3 jawaban yang berbeda, yang ketiga-tiganya
jelas-jelas menyelisihi ayat2x dalam alqur'an yang banyak dan hadits
nabi yang shahih, sekarang katakanlah apakah perbedaan prinsip semacam
ini akan antum biarkan..??

Padahal Alquran dengan tegas mengatakan bahwa Allah berada diatas arsy
[thahaa:5],[yunus:3] dll, juga bertentangan dengan hadits yang kalo
tidak salah ada di shahih muslim tentang pertanyaan Nabi
salalahualaihiwasallam kepada budak wanita tentang dimana Allah,
kemudian budak tsb menjawab Allah diatas langit, dan hadits lain yang
menyatakan hal-hal yang semakna dengan ini.

perbedaan semacam ini yang hendaknya kita hilangkan karena menyangkut
sah dan tidaknya agama seseorang, yang menjadikan seseorang itu islam
atau bukan, bahkan ana pernah liat sebuah iklan sinetron judulnya :
"Allah dimana-mana", jelas ini sebuah cara untuk menyeru manusia
kepada neraka jahannam.

perbedaan-perbedaan seperti ini sesungguhnya yang membuat ummat ini
berpecah belah, karena mereka tidak mengembalikan pemahaman agamanya
kepada khairul umma yaitu para shahabat nabi salallahualaihi wasallam.

Persatuan yang tanpa didasari dengan aqidah yang benar adalah semu
belaka, kelihatannya mereka bersatu tapi hati mereka berpecah belah.

Mungkin antum perlu cermati sebuah hadits berikut:
"Akan selalu membawa ilmu ini orang-orang yang adil dari para penerus,
mereka menghilangkan daripadanya perubahan dari orang yang melampaui
batas (terhadap Dien), kebohongan ahlul bathil, dan pentakwilan orang-
orang jahil." [HR Ahmad]

wallahu a'lam.


> Sarwani wrote:
DELETED..............


---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger's low  PC-to-Phone call rates.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke