Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab adalah Sosok Pembaharu, Mengembalikan Aqidah 
ummat pada saat itu kepada aqidah ahlussunnah wal jama'ah (manhaj salaf), dan 
memerangi kesyirikan dan kebid'ahan.

Sulaiman ibnul Asy'ats As-Sijistani yang lebih dikenal dengan kunyahnya Abu 
Dawud rahimahullahu berkata: Sulaiman bin Dawud Al-Mahri telah menyampaikan 
kepadaku, ia berkata: Ibnu Wahb telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Telah 
mengabarkan kepadaku Sa'id bin Abi Ayyub, dari Syarahil bin Yazid Al-Ma'afiri, 
dari Abu 'Alqamah, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau pernah bersabda:

????? ????? ????? ??????? ???????? ???????? ?????????? ????? ?????? ????? 
?????? ?????? ???? ????????? ????? ?????????

"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus bagi umat ini di penghujung 
setiap seratus tahun (seabad) seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama 
umat ini."
Hadits ini Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani rahimahullahu dalam 
Sunan-nya no. 4291. Dikeluarkan pula oleh Al-Imam Abu 'Amr Ad-Dani dalam 
As-Sunan Al-Waridah fil Fitan no. 364, Al-Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 
4/522, dan selain mereka seperti Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Khathib, dan Al-Harawi.
Asy-Syaikh Al-'Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani 
rahimahullahu menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, Ash-Shahihah no. 
599, dan Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir no. 1874. Beliau berkata: "Sanad hadits 
ini shahih, para perawinya tsiqah (terpercaya), merupakan perawi yang 
diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (dalam Shahih-nya)." 
(Ash-Shahihah, 2/148)
Beliau juga mengatakan: "(Faidah): Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengisyaratkan 
shahihnya hadits ini. Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam Siyar A'lam An-Nubala' 
(10/46): "Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu dari beberapa jalan 
periwayatan dari beliau: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mendatangkan 
bagi manusia di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mengajari mereka 
sunnah-sunnah dan meniadakan/ menolak kedustaan dari Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam" Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata lagi: "Maka kami pun 
melihat orang yang demikian sifatnya, ternyata pada akhir seratus tahun orang 
itu adalah Amirul Mukminin 'Umar bin Abdil 'Aziz rahimahullahu dan pada akhir 
seratus tahun berikutnya (seratus tahun kemudian setelah seratus tahun yang 
pertama -pent.) orang itu adalah Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu." 
(Ash-Shahihah, 2/148-149)

Makna Hadits
Yang dimaksud dengan umat dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
yang mulia:

????? ????? ????? ??????? ???????? ???????? ??????????

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengutus bagi umat ini?"
kata Al-Qari adalah ummat ijabah (umat Islam yang telah menerima dakwah 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), namun memungkinkan juga 
dimasukkannya ummat dakwah (mencakup non muslim yang didakwahi untuk masuk ke 
dalam Islam). Kata Al-Munawi rahimahullahu, yang dimaukan dalam hadits ini 
adalah ummat ijabah dengan dalil disandarkannya (di-idhafah-kan) kata ad-din 
(agama) kepada mereka dalam ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (agama 
umat ini). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Adapun maksud dari ucapan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

????? ?????? ????? ?????? ??????

"di penghujung setiap seratus tahun", adalah akhir dari seratus tahun atau 
awalnya, ketika sedikit ilmu dan sunnah di tengah umat, sebaliknya kejahilan 
menyebar dan banyak kebid'ahan. Namun yang tepat, yang dimaukan dalam hadits 
ini adalah akhir dari seratus tahun, bukan awalnya. Dengan bukti dari Al-Imam 
Az-Zuhri dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta selain keduanya dari kalangan para 
imam yang terdahulu maupun yang belakangan rahimahumullah. Mereka sepakat bahwa 
mujaddid yang muncul pada akhir seratus tahun yang pertama[1] adalah Amirul 
Mukminin 'Umar bin Abdil 'Aziz rahimahullahu. Dan seratus tahun yang kedua[2] 
adalah Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu. Sementara 'Umar bin Abdil 'Aziz wafat 
pada tahun 101 H dalam usia 40 tahun dan masa kekhilafahan beliau 2,5 tahun. 
Sedang Al-Imam Asy-Syafi'i wafat pada tahun 204 H dalam usia 54 tahun. ('Aunul 
Ma'bud, kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi'ah)
Al-'Allamah Al-Muhaddits Al-Munawi rahimahullahu berkata: "Dimungkinkan 
perhitungan seratus tahun itu dari kelahiran Nabi, bi'tsah (diutusnya beliau 
sebagai Nabi), hijrah beliau ke Madinah, atau wafat beliau. Bila ada yang 
mengatakan bahwa yang kedua lebih dekat/tepat maka pendapat itu tidak jauh dari 
kebenaran. Akan tetapi As-Subki dan lainnya secara jelas menyatakan bahwa yang 
dimaukan adalah yang ketiga (perhitungan sejak hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam ke Madinah). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

???? ????????? ????? ?????????

"Seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini", yakni orang itu 
menerangkan tentang As-Sunnah sehingga jelas mana yang bid'ah. Ia menyebarkan 
ilmu, menolong ahlul ilmi, mematahkan dan merendahkan ahlul bid'ah. ('Aunul 
Ma'bud, kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi'ah)
Jumlah mujaddid yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tampilkan dalam setiap kurun 
bisa jadi hanya satu, namun bisa pula berbilang. Mujaddid tersebut harus 
merupakan seorang alim yang mengetahui ilmu agama secara dzahir maupun batin. 
Demikian faidah yang diambil dari ucapan Al-Munawi. (Mukaddimah Faidhul Qadir, 
1/10)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullahu berkata: "Pemahaman yang 
menyatakan bahwa jumlah mujaddid di setiap kurun itu bisa berbilang, lebih dari 
satu, memiliki sisi kebenaran. Karena terkumpulnya sifat-sifat yang dibutuhkan 
untuk men-tajdid perkara agama ini tidak dapat dibatasi pada satu jenis 
kebaikan saja. Dan tidak mesti seluruh perangai kebaikan dapat terkumpul pada 
satu orang, kecuali bila orang itu semacam 'Umar bin Abdil 'Aziz rahimahullahu, 
karena beliau bangkit menegakkan perkara agama ini pada akhir seratus tahun 
yang pertama dalam keadaan beliau mempunyai seluruh sifat-sifat kebaikan dan 
terdepan dalam sifat-sifat tersebut. Karena itu, Al-Imam Ahmad rahimahullahu 
memutlakkan bahwa ahlul ilmi membawa hadits tersebut atas 'Umar bin Abdil 'Aziz 
(yakni 'Umar bin Abdil 'Aziz merupakan mujaddid yang dimaksud hadits tersebut, 
-pen.). Adapun setelahnya adalah Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu. Walaupun 
Al-Imam Asy-Syafi'i memiliki sifat-sifat yang bagus, namun beliau bukan orang 
yang menegakkan perkara jihad, dan bukan orang yang memegang kekuasaan yang 
dapat memerintah/menghukumi dengan adil.[3] Berdasarkan hal ini, maka setiap 
alim yang memiliki salah satu sifat-sifat yang demikian di penghujung seratus 
tahun, maka dialah mujaddid yang diinginkan, baik jumlahnya berbilang atau 
hanya satu." (Fathul Bari, 13/361)
Makna tajdid sendiri adalah menghidupkan apa yang telah terkubur ataupun runtuh 
berupa pengamalan terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ataupun menghidupkan 
hukum-hukum syariat yang telah runtuh dan bendera-bendera As-Sunnah yang telah 
hilang dan ilmu-ilmu agama yang dzahir maupun batin yang telah tersembunyi.[4]
Seorang mujaddid bukanlah seorang pengacau agama. Makna inilah yang dipahami 
kebanyakan orang, bahwa mujaddid adalah seseorang yang mengajarkan jalan baru 
dalam agama, yang sebenarnya lebih pantas dikatakan pengacau agama. Seperti 
kesalahpahaman orang Indonesia yang menyatakan Nurcholish Madjid sebagai 
mujaddid, ataupun Muhammad 'Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani yang dianggap 
sebagai mujaddid. Bukan pula mujaddid adalah seorang politikus, sebagaimana 
anggapan sebagian orang bahwa mujaddid adalah seorang politikus ulung, seperti 
yang dikatakan orang terhadap Abul A'la Al-Maududi ataupun Dr. Taqiyuddin 
An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Demikian pula, mujaddid bukanlah seorang 
pemberontak yang memberontak terhadap pemerintah dan negara, seperti yang 
dikatakan orang terhadap Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, atau Sa'id Hawa. Dengan 
demikian, dapat dimengerti bahwa seorang mujaddid tidaklah membawa agama baru, 
pemikiran baru atau jalan baru. Tetapi ia mengajak manusia untuk kembali kepada 
agama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang murni setelah mereka 
melupakan agama Nabi mereka dan tenggelam dalam kebodohan, kebid'ahan, dan 
kesesatan.

Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap Agama ini, di antaranya dengan 
Menampilkan para Mujaddid Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah lama 
wafat, namun agama beliau tetap terjaga sampai hari ini dan sampai nanti ketika 
datang hari kiamat. Al-Qur'an yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada 
beliau tetap murni sebagaimana saat diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kali 
yang pertama. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menjanjikan pemeliharaannya 
sebagaimana firman-Nya:

?????? ?????? ?????????? ????????? ???????? ???? ?????????????

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikra dan Kami juga yang akan 
menjaganya." (Al-Hijr: 9)
Al-'Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullahu berkata: 
"Tidaklah dipalingkan satu makna dari makna-makna Al-Qur'an kecuali Allah akan 
mendatangkan orang yang akan menerangkan al-haq yang nyata pada Al-Qur'an 
tersebut." (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 429)
Tidak hanya Al-Qur'an yang terjaga kemurniannya, namun juga Sunnah Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan tafsir atau penjelasan dari 
Al-Qur'anul Karim. Para ulamalah yang dipilih Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk 
meneruskan dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seluruh alam, 
karena mereka adalah pewaris ilmu para Nabi. Dengan keberadaan mereka, Allah 
Subhanahu wa Ta'ala menjaga agama-Nya.
Demikianlah setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah 
Subhanahu wa Ta'ala tidak membiarkan umat ini terus tenggelam dalam kebodohan, 
lupa akan petunjuk dan bimbingan agamanya. Di tengah umat ini selalu ada 
orang-orang yang Allah munculkan untuk mengadakan perbaikan ketika manusia 
membuat kerusakan. Di tengah mereka mesti ada Ath-Tha'ifah Al-Manshurah 
Al-Firqatun Najiyah. Dan di setiap penghujung seratus tahun atau satu abad dari 
perjalanan waktu, di tengah mereka mesti akan tampil seorang atau lebih ulama 
mujaddid yang akan mengajak mereka untuk kembali kepada ajaran agama Islam yang 
murni seperti yang dibawa Nabi umat ini Shallallahu 'alaihi wa sallam, 
sebagaimana kemunculannya dipastikan dalam hadits yang telah kita bawakan di 
atas.

Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu Sosok Pembaharu
Salah seorang sosok mujaddid yang Allah Subhanahu wa Ta'ala munculkan di abad 
ke-12 Hijriyyah atau bertepatan dengan abad ke-19 Masehi adalah Syaikhul Islam 
Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin 'Ali At-Tamimi Al-Hanbali 
rahimahullahu yang bertempat di negeri Najd, Saudi Arabia. Beliau lahir pada 
tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H. Banyak karya tulis yang berbicara 
tentang beliau yang disifati sebagai seorang peng-ishlah (orang yang mengadakan 
perbaikan) yang agung, seorang mujaddid Islam, seorang yang berada di atas 
petunjuk dan cahaya dari Rabbnya dan banyak lagi kebaikan-kebaikannya yang 
sulit untuk dihitung. (Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah Asy-Syaikh Ibnu 
Baz, dalam pembahasan tentang Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab Da'watuhu wa 
Siratuhu, 1/355)
Syaikh Mujaddid ini disifati demikian tidak lain karena beliau seorang alim 
salafi dari sisi aqidah dan manhaj, hingga pantas disifati dengan sifat-sifat 
kesempurnaan dan disebut dengan sebutan yang merupakan perangai kebaikan dan 
amal kebajikan. (Qathul Janiyil Mustathab Syarhu 'Aqidah Al-Mujaddid Muhammad 
bin Abdil Wahhab, hal. 7, karya Asy-Syaikh Al-Allamah Zaid bin Muhammad bin 
Hadi Al-Madkhali). Barakah dakwah beliau terus dirasakan oleh umat Islam sampai 
hari ini walaupun beliau telah wafat 221 tahun yang lalu (dua abad lebih). 
Tidak sebatas di negerinya, tetapi juga sampai ke seluruh negeri yang ada di 
berbagai belahan bumi ini, termasuk pula negeri kita Indonesia. Kitab-kitab 
karya beliau tersebar ke segala penjuru negeri, dibaca, dipelajari dan 
dijadikan rujukan oleh para penuntut ilmu, seperti kitab Al-Ushuluts Tsalatsah, 
Kasyfusy Syubuhat, Kitabut Tauhid, Masa'ilul Jahiliyyah dan masih banyak lagi.
Para ulama setelah beliau banyak yang mensyarah karya-karya beliau menjadi satu 
atau beberapa kitab yang tebal. Satu hasil nyata dari dakwah beliau adalah 
berdirinya kerajaan tauhid Saudi Arabia dan tetap tegak sampai hari ini sebagai 
satu-satunya negara yang mengibarkan bendera tauhid dan menyatakan perang 
terhadap kesyirikan. Walillahil hamdu (Segala pujian yang sempurna hanyalah 
milik Allah).
Pada awal dakwahnya, Syaikh yang mulia ini melihat kebodohan tersebar di 
seluruh negerinya. Beliau melihat manusia berbolak-balik menuju ke pelepah 
kurma dan kuburan untuk memohon kepada penghuni kubur dan benda-benda mati 
dengan permintaan yang semestinya tidak diminta kecuali kepada Pencipta langit 
dan bumi. Beliau melihat manusia meminta ampunan dan kesembuhan kepada penghuni 
kubur, sebagaimana mereka juga dikuasai oleh ketakutan yang sangat terhadap 
para setan di mana hal itu membawa mereka untuk berlindung kepada setan.
Saat berkeliling negeri untuk menuntut ilmu, beliau juga melihat umat Islam 
hidup dalam kejahiliyahan yang sama dengan umat di negerinya. Di samping itu, 
beliau melihat Kitabullah tidak lagi menjadi rujukan dalam pengambilan hukum, 
namun justru manusia berhukum dengan selain hukum Allah. Inilah fenomena yang 
mendorong Syaikh untuk mengadakan perbaikan aqidah dan hukum sehingga hukum 
hanya milik Allah dan ibadah hanya ditujukan pada-Nya, demikian pula mutaba'ah 
(mengikuti) hanyalah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau 
menyerang kejahiliyahan dan berseru dengan lantang kepada manusia bahwa mereka 
tidak di atas agama Islam sedikitpun.
Beliau pun mengajak mereka untuk kembali kepada Islam yang hakiki, beribadah 
kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan agar ketaatan 
hanya ditujukan kepada Rasul-Nya. Beliau mengajak mereka agar beribadah kepada 
Allah dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam 
tanpa mengadakan-adakan perkara baru dalam agama, dan agar hukum yang diambil 
dari Kitabullah dan Sunnah Rasul dijadikan sebagai pokok, bukan sekedar 
pembungkus dalam pendapat-pendapat, undang-undang atau adat. Beliau membawa 
mushaf (lembaran Al-Qur'an) guna mengajak manusia agar kembali kepadanya, 
merasa cukup dengannya dan dengan As-Sunnah sebagai penjelas dan perinci apa 
yang global dalam Al-Qur'an.
Berawal dari sini, bangkitlah orang-orang yang mendukung kehidupan jahiliyyah. 
Mereka pun bereaksi dan berteriak bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab 
datang membawa agama baru dan menganut madzhab yang kelima. Namun Syaikh tetap 
berlalu dengan dakwah beliau tanpa mengindahkan apa yang mereka ucapkan dan 
sebarkan. (Masyakilud Da'wah wad Du'ah fil 'Ashril Hadits, sub judul Da'watu 
Muhammad bin Abdil Wahhab wa Shumuduha lil Musykil, hal. 45-46, karya 
Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad Aman bin 'Ali Al-Jami)
Banyak sumbangsih yang diberikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab 
rahimahullahu kepada kaum muslimin yang semestinya disyukuri. Namun ada saja 
orang yang hasad kepada beliau atau orang yang dakwahnya berseberangan dengan 
dakwah yang beliau tegakkan. Mereka menyimpan kebencian kepada beliau bahkan 
menyebarkan ucapan-ucapan jelek dan tuduhan palsu tentang beliau dan dakwahnya. 
Sehingga tidak sedikit orang awam yang termakan ucapan mereka. Akibatnya beliau 
dibenci dan dicaci oleh mereka, dan dakwah seperti yang beliau ajarkan dijauhi.
Ditempelkanlah gelar Wahabi kepada pengikut dakwah beliau, seakan beliau dan 
pengikut dakwah beliau berjalan di atas selain jalan yang haq dan membentuk 
madzhab yang kelima dalam Islam. Padahal dakwah beliau adalah dakwah kepada 
tauhid yang murni, memperingatkan dari kesyirikan dengan seluruh jenisnya, 
seperti bergantung kepada orang-orang mati dan yang lainnya, baik berupa 
pepohonan, bebatuan dan semisalnya.
Dalam masalah aqidah, beliau rahimahullahu berada di atas madzhab As-Salafus 
Shalih, dalam fiqih beliau berpegang dengan madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu 
sebagaimana ditunjukkan dalam kitab-kitab karya beliau, fatwa-fatwa beliau dan 
kitab-kitab karya pengikut beliau dari kalangan anak dan cucu-cucunya serta 
selain mereka.
Dengan demikian Wahabiyyah bukanlah madzhab kelima seperti anggapan orang-orang 
bodoh dan orang-orang yang benci. Dia hanyalah dakwah kepada aqidah salafiyyah 
dan memperbaharui apa yang telah roboh dari bendera-bendera Islam dan tauhid di 
jazirah Arab. (Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, Asy-Syaikh Ibnu Baz, 
1/374)

Aqidah dan Keyakinan Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu
Tuduhan orang-orang yang benci ataupun orang-orang bodoh bahwa Asy-Syaikh 
Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu membawa agama baru dan menyimpang dari 
ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak terbukti. 
Bahkan bukti yang ada menunjukkan bahwa beliau di atas al-haq, dan dakwah yang 
beliau sampaikan adalah dakwah yang haq, mencocoki ajaran Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Berikut ini kita bawakan aqidah yang beliau 
yakini, guna menepis tuduhan dan membuang keraguan dari orang-orang yang ragu.
Ketika penduduk Qashim menanyakan tentang aqidah beliau, beliau menyatakan 
bahwa aqidah yang beliau yakini adalah aqidah Al-Firqatun Najiyah, Ahlus Sunnah 
wal Jamaah. Dan hal ini beliau amalkan dan jalankan selama hidup beliau. Aqidah 
tersebut berupa:
1. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, 
kebangkitan setelah mati dan iman terhadap takdir yang baik maupun yang buruk.
2. Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani sifat-Nya yang yang 
disebutkan-Nya dalam kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa 
sallam tanpa tahrif (mengubah) dan tanpa ta'thil (menolak), tanpa takyif 
(menanyakan hakikat) dan tamtsil (menyamakan dengan makhluk).
3. Al-Qur'an adalah Kalamullah, yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, 
bukan makhluk. Al-Qur'an berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan akan 
kembali kepada-Nya.
4. Mengimani seluruh yang dikabarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa 
hal-hal yang terjadi setelah kematian, fitnah dan nikmat kubur, dikembalikannya 
ruh kepada jasad pada hari kiamat, adanya mizan, dibagikannya catatan amal para 
hamba, adanya telaga Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang airnya 
lebih putih dari susu, rasanya lebih manis daripada madu dan bejananya sejumlah 
bintang-bintang di langit, siapa yang meminumnya ia tidak akan haus 
selama-lamanya. Termasuk pula mengimani adanya shirath (jalan/jembatan) yang 
dibentangkan di atas dua tepi Jahannam yang akan dilewati manusia sesuai kadar 
amal mereka. Mengimani adanya syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 
adanya surga dan neraka yang telah diciptakan dan sekarang telah ada. Dan 
mengimani bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan 
mata kepala mereka pada hari kiamat.
5. Mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para 
nabi dan rasul.
6. Meyakini bahwa shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling 
afdhal adalah Abu Bakr, kemudian 'Umar, dan 'Utsman yang berikutnya, kemudian 
'Ali. Setelahnya adalah enam shahabat yang tersisa dari 10 shahabat yang 
dijanjikan masuk surga (Al-'Asyrah Al-Mubasysyaruna bil jannah)[5], lalu para 
shahabat yang mengikuti perang Badar, berikutnya para shahabat yang berbai'at 
di bawah pohon (Bai'atur Ridhwan).
7. Beliau berloyalitas kepada para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam dan menyebut mereka dengan kebaikan, ridha kepada mereka, memohonkan 
ampunan untuk mereka, menahan diri dari menyebut kesalahan mereka, dan diam 
dari perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka.
8. Sebagaimana beliau pun ridha kepada Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) 
radhiyallahu 'anhunna.
9. Menetapkan adanya karamah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta'ala.
10. Tidak mempersaksikan seseorang dari kaum muslimin dengan pernyataan "Fulan 
penduduk surga" atau "Fulan ahlun nar (penduduk neraka)", kecuali yang telah 
dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penduduk surga 
atau penduduk neraka.
11. Tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin karena dosa yang diperbuat 
dan tidak pula mengeluarkannya dari lingkaran Islam.
12. Beliau memandang jihad tetap berlangsung bersama setiap imam/pemimpin yang 
baik ataupun yang fajir/jahat.
13. Bolehnya shalat berjamaah di belakang pemimpin yang jahat.
14. Wajib mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin yang baik ataupun 
yang fajir, selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah 
Subhanahu wa Ta'ala.
15. Siapa yang memegang khilafah, manusia berkumpul dan ridha padanya, atau ia 
menguasai mereka dengan pedang hingga menjadi khalifah, maka ia wajib ditaati 
dan haram memberontak padanya.
16. Beliau berpandangan harusnya memboikot ahlul bid'ah dan memisahkan diri 
dari mereka sampai mau bertaubat. Kita menghukumi mereka secara dzahir, adapun 
batin mereka diserahkan urusannya kepada Allah.
17. Meyakini bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam agama ini merupakan 
bid'ah.
18. Iman adalah ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota badan dan pembenaran 
dengan hati, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
19. Beliau memandang wajibnya amar ma'ruf nahi mungkar sesuai bimbingan 
syariat. [Lihat Qathul Janiyil Mustathab Syarhu 'Aqidah Al-Mujaddid Muhammad 
bin Abdil Wahhab]
Demikianlah aqidah yang dianut oleh Syaikh Mujaddid tersebut, yang secara jelas 
menggambarkan beliau adalah seorang sunni salafi, yang berjalan di atas jalan 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para shahabat, tabi'in, atba'ut 
tabi'in, yakni jalan As-Salafush Shalih. Semestinya tidak ada lagi keraguan 
akan kebenaran dakwah beliau setelah adanya penjelasan ini. Dan silahkan gigit 
jari orang-orang yang benci dan hasad kepada beliau dan kepada dakwah tauhid 
yang haq ini.
Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.

Footnote:
1 Abad pertama Hijriyyah
2 Abad kedua Hijriyyah
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil 'Aziz rahimahullahu
4 'Aunul Ma'bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi'ah dan 
mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil 'Aziz rahimahullahu
4 'Aunul Ma'bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi'ah dan 
mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.
 


Abu hilmy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wa'alaikum salam waorkhmatullohi wabarokatuh.

Sesungguhnya Dakwah Salafiyah adalah Dakwah
kepada Tauhid. Sebagaimana Dakwah yang diperintah
kan kepada Seluruh rosul.

Dan Wahabi sebagaimana disebutkan orang-orang ke-
banyakan dinitsbatkan kepada Syaik Muhammad Bin Abdul
Wahab At-Tamimi. Beliau adalah Seorang ulama, Insya
Allah seorang mujaddid. yang mendakwahkan dan menga-
jak ummat ini kepada Tauhid.(muwahid).

jadi yg membedakannya adalah orang-orng yg menyebut
nya dengan tanpa pengetahuan, dan ada juga yg pura-
pura tidak tahu dan ada juga yg memang tidak mau tau
karena ta'asub pada golongan.

afwan, semoga menjadi manfaat.

Abu Hilmy.



--- [EMAIL PROTECTED] wrote:

> Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
> Ada yang tahu bedanya Da'wah Salafi dengan Wahabi?



---------------------------------
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke