Assalamu'alaikum warohmatullohiwabarokatuhu,
Sekedar saling mengingatkan, dalam berdakwah itu harus benar caranya, jangan 
sampai karena kita salah dalam berdakwah, orang jadi takut dan lari dari 
sunnah/islam itu sendiri..
Banyak diantara kita yang sangat keras kepada sesama muslim yang diangap 
melakukan bid'ah, namun kita tidak meneliti dulu, apakah orang yang melakukan 
bid'ah itu sudah sampai ilmu yang haq kepadanya, apakah sekedar ikut-ikutan 
atau memang sudah mencapai taraf ahli bid'ah...
Dakwah itu tidak cukup dengan kata-kata, tapi akhlaq juga sangat perlu...
contoh sederhana, sering ana jumpai ikhwan yang sangat ramah pada ikhwan 
lainnya tapi bermuka masam pada saudara kita yang belum bermanhaj 
salaf...mengucapkan salam hanya pada sesama ikhwan saja sedangkan orang yang 
ada disekitarnya tidak diberi salam,

Janganlah kita membuat kesulitan, kebingungan kepada orang yang mau mengamalkan 
islam ini dengan benar..mudahkanlah mereka, bertuturkatalah yang lembut dan 
hiasilah dakwah ini dengan akhlaq yang baik..
Ana yakin, walaupun kita berbeda di lingkungan masyarakat pada umumnya, namun 
bila akhlaq kita baik, maka orang tidak akan membenci kita...

bagaimana dakwah bisa sampai kepada seseorang, bilamana melihat kita saja orang 
sudah lari..

Berikut ana sertakan nasihat dari  SYEKH MUHAMMAD BIN HADY MADKHALY tentang 
dakwah..
semoga kita bisa bermuhasabah dan mengambil pelajaran darinya..

Wassalamu'alaikum
Abu Nida


NASEHAT SYEKH MUHAMMAD BIN HADY MADKHALY
UNTUK PARA DA’I SALAFY DI INDONESIA
Alih bahasa : Ummu Fadhil

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن
سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا
إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. صلى الله عليه
وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد:
Allah ta’ala berfirman :
] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً
سَدِيداً، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً [
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu
amal-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati
Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang
besar. (Q.S al-ahzab: 70-71)

Ayat ini yang selalu diulang-ulang oleh para khatib, mubalig, penceramah
dan pemberi nasehat, orang yang tidak bisa membaca selalu mendengarnya
dari mereka, terkandung didalamnya seruan dari Allah Jalla wa‘azza kepada
hamba-Nya yang beriman, Ia menyeru mereka dengan sifat mereka yang agung
lagi mulia yaitu sifat iman, Allah subhanahu berfirman:
] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً
سَدِيداً[
Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan
katakanlah perkataan yang benar. (QS al-ahzab 70)

Ia menyeru mereka dengan memakai sifat yang mulia yaitu sifat iman, lalu
Ia memerintahkan mereka akan suatu urusan yang berat lagi agung yaitu
bertaqwa, sesungguhnya taqwa kepada Allah Jalla wa‘ala adalah puncak
kebaikan, dan penentu segala urusan. Pintu-pintu kebajikan berbagai macam
bentuknya, begitu juga jalan-jalan keburukan bermacam-macam, semua itu
terkumpul dalam kata: (bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar), bertaqwa kepada Allah - sebagaimana yang telah
diketahui oleh kebanyakan kalian dan tidak lagi tersembunyi bagi kita
semua - ialah melaksanakan ketaatan kepada Allah berdasar cahaya(petunjuk)
dari Allah dengan mengharapkan pahala dari-Nya, dan takut dari azab-Nya,
dan juga meninggalkan maksiat yang dilarang oleh Allah mengarapkan pahala
dengan meninggalkannya, dan takut akan azab bila melakukannya, melanggar
dan mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah.
Taqwa merupakan diantara wasiat terakhir Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam (sebelum beliau wafat), sebagaimana dalam hadits ‘Irbad bin
Sariyah radhiallahu anhu dimana Nabi sallallahu alaihi wasallam (pada
suatu hari) menasehati sahabatnya dengan nasehat yang agung dan memberikan
pengaruh yang besar bagi diri mereka, yang membuat hati bergetar dan air
mata bercucuran, lalu mereka berkata: wahai Rasulullah ! seolah-olah ini
adalah nasehat orang yang akan berpisah(meninggal), maka wasiatkanlah
kepada kami: lalu beliau bersabda : (Saya mewasiatkan kepada kalian untuk
bertaqwa kepada Allah).
Beliau mengawali wasiatnya dengan taqwa, dan taqwa juga merupakan wasiat
Allah jalla wa’azza kepada orang-orang terdahulu dan yang kemudian.
Sebagaimana dalam firman Allah :
] وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ
وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ  [
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah memerintahkan kepada orang-orang
diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada
Allah. (QS. An-nisaa: 131).
Saudaraku sekalian…sesungguhnya kata-kata yang agung dan luas makna ini
apabila seorang hamba memperhatikan, meneliti dan menghayatinya serta
mengambil pelajaran darinya, niscaya ia akan mendapatkannya mengandung
seluruh (ajaran) agama islam, melaksanakan perintah dengan mengharapkan
pahala, dan meninggalkan larangan karena takut akan azab, inilah yang
(disebut) agama, engkau beribadah kepada Allah diatas cahaya (petunjuk)
dari Allah dan mengharapkan pahala, dan takut dari azabNya.
Ketaqwaan tidak akan mungkin diperoleh kecuali dengan ilmu, Allah ta’ala
berfirman:
] فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ
وَمَثْوَاكُمْ [
Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak)
melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosa-dosamu dan bagi (dosa)
orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat
kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS muhammad :19).

Bagaimana bisa mengetahui yang salah dan benar kecuali hanya dengan ilmu,
anda mengetahui kebenaran lalu anda memuji Allah ta’ala yang telah
menunjukimu kepadanya, dan meminta tambahan karunia dari-Nya, anda
mengetahui yang salah lalu meminta ampunan dari-Nya jika anda terjerumus
kedalamnya, dan sebelum itu anda (berusaha) menjauhinya. Akan tetapi jika
anda terjerumus kedalamnya anda meminta ampun kepada Allah kemudian
bertobat kepada-Nya dan ini adalah kebaikan yang besar. Sebagaimana dalam
sebuah hadits Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :
( Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan atasnya Ia akan memberikannya
pemahaman dalam agama ). Memahami agama Allah adalah dengan mengetahui
hukum-hukumnya, perintah-perintah dan larangan-Nya serta mempelajari
syariat-Nya, ini merupakan nikmat yang paling besar, sesungguhnya orang
yang tidak mengetahui hukum-hukum agama dan dalil-dalilnya ia akan hidup
bingung kanan dan kiri, (berada) diantara syubuhat dan syahwat.
Dan siapa yang berada diantara dua jurang ini - jurang syubuhat dan jurang
syahwat – ia akan celaka,  segala urusan baginya bercampur-baur tanpa ada
(sedikitpun) padanya pembeda, dan hawa nafsu (senantiasa) menguasainya dan
ia tidak mendapatkan didalam hatinya pertahanan dan penasehat yang
mengingatkannya kepada Allah, dan saat menghadap-Nya, berdiri dihadapan
Allah di hari akhirat, kala itu ia akan celaka -kita memohon kepada Allah
keamanan dan keselamatan-. Maka pemahaman terhadap agama sangatlah
penting, kedudukan setiap orang dalam agama tergantung kepada kepahamannya
terhadap agama. Dan kebaikan akan luput darinya sesuai dengan kadar
kelalaiannya dari hal tersebut. Maka kita semua wajib untuk mencapai hal
itu, yaitu pemahaman terhadap agama.
Dan lebih wajib lagi atas orang yang meletakkan dirinya di atas (jalan)
dakwah kepada Allah jalla wa’azza, siapa yang meletakkan dirinya diatas
dakwah, ia wajib memahami dan mengetahui apa yang ia dakwahi dan
mengetahui keadaan orang yang ia dakwahi. Dan meletakkan hukum-hukum Allah
dengan benar, sebagaimana yang diperintahkan Allah jalla wa’ ala, dan
dikehendaki dan dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Apabila ia berdakwah tanpa ilmu maka apa yang ia rusak lebih banyak dari
apa yang ia perbaiki, karena seorang penyeru kepada Allah otomatis ia juga
pengajak kepada kebaikan dan melarang kepada kemungkaran. Dan orang yang
mengajak kepada kebaikan mesti tahu betul akan kebaikan, tahu kemungkaran,
mengetahui keadaan orang yang ia ingkari. Dan hendaklah ia bijaksana,
lembut, mengetahui mafasid (kerusakan) dan maslahat (yang akan terjadi),
kapan ia maju (melakukan suatu tindakakan) dan kapan ia menahan dirinya,
kapan ia mendahulukan (suatu pekerjaan) dan kapan ia mengakhirkan. dan
(mengetahui) apa yang harus ia dahulukan dalam berdakwah, dan apa yang
boleh ia akhirkan.
dan hendaklah ia berlemah- lembut kepada manusia, dan sebagainya dari
bermacam-macam masalah yang ditempuh oleh ulama-ulama islam
rahimahumullah, dibawah naungan hadits-hadits Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam dalam berdakwah dan melakukan hisbah, hisbah yang saya maksud
adalah mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran sebagaimana
berlalu, dan kedudukan ini - kedudukan penyeru kepada Allah – adalah
kedudukan yang paling tinggi. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
] وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً
وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا
السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ
وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ [
Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang tang
menyeru kepada Allah, menerjakan amal yang sholeh dan berkata:
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan tidaklah
sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang
lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara dan antara dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS fushilat : 33-34).
Apa yang dikhabarkan Allah subhanahu wata’ala ini sedikit sekali orang
yang memikirkan dan memahaminya.
Sesungguhnya dakwah itu adalah urusan yang sangat mulia, oleh sebab itu
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak membiarkannya begitu saja dan
tidak jelas, sebagaimana yang telah kalian ketahui wahai saudara sekalian,
tentang hadits Mu’adz radhiallahu anhu dalam kisah pengutusannya ke negri
Yaman dan wasiat Nabi sallallahu alaihi wasallam kepadanya :
(Sesungguhnya engkau (akan) mendatangi kaum ahli kitab (yahudi & Nasrani),
hendaklah dakwah yang pertama sekali engkau serukan adalah (mengajak)
mereka mentauhidkan Allah),
dan didalam lafadz yang lain : ( (adalah) Syahadah bahwa tidak ada
sesembahan yang diibadati dengan Haq selain Allah, dan bahwasanya Muhammad
adalah utusan Allah, jika mereka menerima seruanmu itu maka sampaikan
kepada mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka sholat lima waktu dalam
sehari semalam, jika mereka menerima seruanmu itu, maka sampaikan kepada
mereka bahwa Allah mewajibkan zakat kepada mereka yang diambil dari orang
kaya mereka dan diberikan kepada orang yang miskin (diantara) mereka.)
[hadits].
Rasulullah salallahu alaihi wasallam menjelaskan didalam hadits ini apa
yang pertama sekali dimulai (dalam berdakwah).

Seorang da’i (dalam dakwahnya) wajib untuk menempuh jalan yang benar,
jalan yang syar’i jauh dari perasaan atau semangat yang (pada hakikatnya)
angin topan , hendaklah ia tidak bersikap lunak pada apa yang dikeraskan
oleh Allah, dan tidak keras pada apa yang dimudahkan Allah, maka hendaklah
ia berlemah-lembut didalam dakwahnya, lembut bukan karena lemah, dan keras
terhadap musuh-musuh Allah bukan (pula) karena ganas, maka pada saat itu
ia seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
dan hendaklah ia memulai dengan memberi kabar gembira sebelum menyampaikan
peringatan.
Sebagaimana firman Allah yang menggabarkan sifat Rasul-Nya sallallahu
alaihi wasallam :
] يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً
وَنَذِيراً، وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُنِيراً   [
Artinya : Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan utk jadi penyeru kepada
agama Allah dengan izin-Nya dan jadi cahaya yang menerangi. (QS al-ahzab
45-46).
]وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً [
Artinya : Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan
orang-orang munafil itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan
bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (QS
al-ahzab 48).
Perhatikanlah ayat-ayat ini wahai saudara sekalian, yang mana didalamnya
Allah menyeru kepada rasul-Nya : (Hai nabi sesungguhnya Kami mengutusmu)
untuk apa ? (untuk jadi saksi) saksi bagi manusia, (dan pembawa kabar
gembira) pemberi kabar gembira tentang rahmat Allah ta’ala, dan surga yang
disediakan oleh Allah bagi wali-wali-Nya(orang yang beriman dan bertaqwa)
sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala tentang mereka :
] فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [
Artinya : Maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal
didalamnya. (QS ali imrom 107).
Rahmat Allah itu adalah surga -kita memohon kepada Allah supaya ia tidak
mengharamkan bagi saya dan kalian rahmat-Nya-, ia memberi kabar gembira
dengannya(surga tersebut), maka orang-orang yang dihati mereka ada
kebaikan dan keutamaan dan mempunyai akal yang sehat ia akan menerima
kabar gembira itu, dan barangsiapa yang membangkang maka ia diberikan
peringatan. - peringatan, pertakut, dan ancaman - sesungguhnya hati itu
tidaklah sama, ada yang cukup menerima dengan kabar gembira dan ada juga
yang tidak bermanfaat baginya selain dengan peringatan, pertakut dan
ancaman.
Kemudian Allah menjelaskan atau memerintahkan dengan firman-Nya:
] وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً [
Artinya : Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan
orang-orang munafil itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan
bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (QS
al-ahzab 48).
Pada ayat ini (terdapat) petunjuk bagi para da’i setelah Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam, agar menempuh jalan yang ditempuh oleh beliau
sallallahu alaihi wasallam, dan hendaklah mereka berhati-hati terhadap
orang-orang munafik yang memata-matai didalam barisan, yang mana mereka
menghasut didalam barisan kaum muslimin dan membiarkan dan menyebarkan
diantara mereka berita bohong maka hendaklah berhati-hati terhadap mereka.
kenapa? karena mereka itu merusak kaum muslimin, dan begitu juga orang
kafir, tidak ada perhitungan bagi mereka, janganlah mentaati mereka untuk
mendurhakai Allah, janganlah pula bermanis-manis muka dalam agama Allah
dan berlembut-lembut terhadap mereka. dan hendaklah mendakwahi mereka
kepada Allah, jika mereka enggan maka tidak ada antaranya dan mereka
kecuali apa yang telah dijelaskan oleh Allah, dan diperintahkan oleh
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dan yang telah beliau jelaskan
didalam syariatnya yang suci.
Maka seorang da’I itu hendaklah alim, fakih (memahami), dan tamak dalam
memberi petunjuk kepada manusia. Mengeluarkan segala kesanggupannya dan
menjauhi kekasaran dan kekerasan, firman Allah subhanahu wata’ala:
] فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ
الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [
Artinya : (maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka
bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya) (QS Ali Imram:159)
Wahai ikhwan sekalian….perhatikanlah nasehat yang agung dari pencipta kita
kepada Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam yang ada didalam ayat yang
mulia ini, sesungguhnya Ia telah memberikannya karunia, dan menjadikannya
sallallahu alaihi wasallam seorang yang penyayang. beliau sallallahu
alaihi wasallam sangat penyantun dan sayang kepada umatnya :
] لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا
عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ [
Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan
dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin. (QS at-taubah :128).
Beliau menyayangi orang-orang beriman,  mengasihi, serta belas kasih
terhadap mereka.
Kelembutan dan kasih sayang ini sangat besar pengaruhnya didalam diri
manusia dan mempunyai pengaruh yang baik dalam sambutan manusia dan
penerimaan terhadap seorang da’i, karena ia menauladani Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam, dimana beliau disifatkan dengan sifat ini
didalam (kitab) Taurat sebagaimana yang terdapat didalam shoheh Bukhari
dan Muslim dari hadits Abdullah bin Salam radhiallahu anhu : (Bahwasanya
beliau sallallahu alaihi wasallam tidak jahat perangainya dan tidak kasar,
tidak pula pemekik dipasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Akan tetapi pemaaf dan pemurah, beginilah disifatkan Rasulullah didalam
taurat sebagimana yang terdapat didalam shohihain, ini perkataan Allah
didalam al-quran dan itu sudah cukup, akan tetapi beliau sallallahu alaihi
wasallam telah disifatkan dengan ini dalam kitab yang terdahulu. Wahai
para ikhwan sekalian…saya mewasiatkan kepada kalian dan diri saya untuk
bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala dan memahami agama-Nya, begitu
juga saya menasehati kalian supaya sayang dan lembut kepada hamba Allah,
dan betul-betul berusaha dengan segala kesanggupan dalam memberikan
petunjuk kepada manusia. Dan hendaklah seorang da’i mengetahui bahwa
didalam menempuh jalannya ini akan menemui beberapa ijtihad (perbedaan
pendapat) antara ia dan saudaranya yang lain yang mana kadangkala terjadi
perbedaan pandangan pada apa yang boleh berpendapat padanya, yang saya
maksud dengan ijtihad disini adalah pada apa yang boleh sesama para da’i
untuk memberi pandangan/pendapat, dan jika tidak ini, maka ijtihad yang
terlintas di pikiran kita hanya untuk orang yang ahli dalam ijtihad, orang
yang fakih didalam agama yang mana mereka akan menerangkan dan meneliti
serta menjelaskan dengan keluasan ilmu dan pengetahuan mereka.
Dari merekalah manusia mengambil fatwa dan pemahaman dalam agama Allah
ta’ala. Akan tetapi ijtihad yang saya maksud adalah (ijtihad) dalam
menempuh jalan menuju kebaikan, sesuai dengan kesanggupan dan menepis
kerusakan didalam dakwah ini.

Hendaklah seorang da’i memahami bahwa antara dirinya dengan
saudara-saudaranya mesti terjadi sesuatu, karena jalan yang ditempuh
sangat panjang, dan dengan banyaknya  pejalan dan panjangnya perjalanan,
pasti akan terjadi kesulitan, dan keletihan, dan kadangkala ketidak
sepakatan dalam sisi pandang pada apa yang dibolehkan berbeda pendapat.
Dan saya tekankan dalam kalimat ini : (pada apa yang dibolehkan padanya
perbedaan pendapat)
Maka saya katakan: apabila (perbedaan pendapat) itu terjadi maka wajib
bagi seorang da’i, da’i salafiyin kususnya  -dan merekalah yang saya
maksudkan dalam pembicaraan ini- untuk memegang wasiat Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam kepada Mu’adz dan sahabatnya(Abu Musa
al-Asy’ary) ketika mereka diutus ke negeri Yaman, beliau berkata kepada
mereka berdua: sampaikanlah kabar gembira, dan janganlah kalian membuat
orang lari, berikanlah kemudahan, dan janganlah kalian memberi kesulitan,
bersepakatlah kalian, dan janganlah berpecah belah, bersatulah dan
janganlah kalian berselisih, dan (tathoowa’aa) saling menghargailah kalian.
wahai ikhwan sekalian…(ini) adalah kata-kata yang agung, dari pendidik
yang paling mulia yaitu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam maka
sampaikanlah oleh kalian khabar gembira, dan janganlah kalian membuat
orang lari, berikanlah kemudahan, dan janganlah kalian memberi kesulitan,
bersepakatlah kalian, dan janganlah kalian berpecah belah, bersatulah dan
janganlah kalian berselisih, dan saling menghargailah kalian.
Apabila seseorang bersikukuh dan berpegang dengan pendapatnya yang ada
mempunyai dasar, dan tidak ada larangan syar’i padanya, maka wajiblah ia
menyerahkan (keputusan) kepada temannya tersebut, tidak ada percekcokan
dalam masalah itu, karena berita baik akan diterima dengan hati yang baik
dan halus dari pertama kalinya. Dan tindakan yang membuat orang lari akan
memalingkan manusia dari agama, dan Nabi sallallahu alaihi wasallam murka
dalam kisah tentang seseorang memanjangkan sholat -sebagaimana yang kalian
ketahui-dan beliau berkata : (wahai manusia sesungguhnya diantara kalian
ada orang yang membuat  orang minggat, barangsiapa yang mengimami orang),
dalam lafadz yang lain: (barangsiapa yang mengimami manusia hendaklah ia
memendekkan).
Wahai saudara seislam…Nabi sallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan
dalam masalah ini bahkan beliau marah kepada orang yang menyebabkan
larinya manusia dari kebenaran, dan menyebabkan manusia berpaling dari
agama Allah ta’ala, beliau berkata : (sampaikanlah kabar gembira, dan
janganlah kalian menyebabkan manusia lari), Maka jadilah kalian orang
tamak dalam menyampaikan berita gembira kepada manusia, dan menyampaikan
apa yang dapat diterima oleh hati mereka tentang agama, dan tentang manhaj
yang baik ini yaitu manhaj salafi, yang mana ia adalah jalan yang ditempuh
oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dan jalan para sahabat beliau.
Dan janganlah kalian membuat orang lari, baik dengan perkataan maupun
dengan perbuatan kalian. Berhati-hatilah, karena seseorang bisa saja
menghambat dari agama Allah dengan kelakuannya. karena ilmu itu wahai
saudara sekalian…adalah pemindahan gambaran yang bersemayam didalam hati
keluar. Dan mengamalkan ilmu kebalikan darinya yaitu gambaran luar dari
ilmu yang didengar dilakukan oleh anggota tubuh, apabila sesuai apa yang
didalam dengan apa yang diluar maka itu adalah da’i yang sebenarnya, dan
ia akan dibukakan oleh Allah baginya penerimaan, (hal itu) karena ia
bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya,
dan menunjukkan kasih sayang dan cinta kasih kepada penciptanya dengan
melakukan ketaatan dan jauh dari larangan.
Ia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah sehingga Allah mencintainya,
maka apabila Allah mencintainya Ia akan memberikan baginya penerimaan
dimuka bumi, dan meletakkan kecintaan kepadanya dihati manusia, maka ia
akan diterima karena mereka melihat kejujurannya, dan karena mereka
melihat perbuatannya sesuai dengan perkataannya. Saya ulangi sekali lagi,
saya katakan : sesungguhnya ilmu itu adalah pemindahan gambaran dalam
keluar, yaitu agar manusia mendengar apa yang engkau ketahui dalam
nasehatmu, apa yang engkau pahami dalam agama Allah, mereka mendengarnya
dalam pengajianmu, adapun mengamalkan (ilmu) kebalikan darinya, yaitu
menyatakan gambaran dalam yang telah engkau keluarkan dalam pelajaran yang
engkau tampakkan kepada manusia, sehingga sesuai apa yang ada diluar
dengan apa yang ada di hati, apabila sesuai amal dengan ilmu maka inilah
yang sebut teladan, saya mewasiatkan kalian wahai ikhwan sekalian...
ingatlah Allah terhadap manusia, ingatlah Allah terhadap hamba Allah…
kemudian nasehat yang kedua sebagaimana dalam hadits Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam yang disebutkan diatas: (Berilah kemudahan, dan janganlah
memberi kesempitan), dan ini (mesti) berada didalam bingkai syari’ah dan
kita tidak berhak keluar dari agama Allah bahkan tidak boleh, akan tetapi
(mesti) dalam lingkaran nash-nash, maka apa yang boleh dimudahkan kita
mudahkan dan apa yang tidak boleh dianggap enteng maka kita tidak boleh
meremehkannya. Masalah-masalah keyakinan tidak boleh meremehkannya, dan
tidak pula menganggap enteng, akan tetapi semua manusia dalam hal ini
wajib berpegang kepada perintah yang datang dari Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam, janganlah menganggap remeh perkara syirik, besar ataupun
kecil, dan jangan menganggap enteng perkara bid’ah, sedikit maupun banyak,
karena ia adalah pintu kepada kekufuran – kita belindung kepada Allah
darinya-, begitu juga maksiat kita tidak boleh meremehkannya dan
(hendaklah) kita mengikuti dalam masalah ini perkataan Rasulullah
salallallahu alaihi wasallam : (apa yang saya larang kalian darinya maka
jauhilah ia, dan apa yang saya perintahkan kepada kalian maka
laksanakanlah sesuai dengan kemampuan kalian). Inilah kemudahan itu,
(mudahkanlah dan janganlah memberi kesulitan). Dalam ruang lingkup batas
syari’at dan pada garis nash-nash wahyu dari Alquran dan sunnah Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam, kemudian (Bersatulah dan janganlah kalian
berselisih), Jauihilah oleh kalian perselisihan karena perselisihan itu
adalah jelek, apabila engkau berselisih dengan saudaramu, manusia akan
berselisih karena kalian, (yang satu) pergi dengan kelompok ini, dan (yang
satu lagi) pergi dengan kelompok yang lain, dan terjadilah perbantahan
disebabkan oleh ingin menang sendiri, apabila telah terjadi perbantahan
maka akan muncul ketakutan, Allah ta’ala berfirman :
] وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [
Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu
menjadi gentar, dan hilang kekuatanmu (QS al-anfal: 46)
Wahai saudara seislam… ingatlah Allah wahai para du’at, ingatlah Allah
wahai para penuntut ilmu, dalam menjauhi perbuatan yang hina dan tercela
ini, yaitu perselisihan yang menyebabkan perpecahan,
belakang-membelakangi, saling marah-marahan, saling iri, saling perang,
dan saling memusuhi –kita berlindung kepada Allah dari semua itu-. Seorang
da’i lebih mulia dan jauh dari semua ini, karena ia mengajak manusia
kepada agama Allah bukan mengajak mereka kepada dirinya sendiri, hendaklah
ia ikhlas dan termasuk orang-orang yang jujur didalam ikhlasnya itu, jauh
dari perbuatan yang tercela ini, Allah subhanahu wata’ala berfirman
didalam kitab-Nya :
] قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ [
Artinya: katakanlah: inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah.(QS yusuf :108)
Dan kalian telah mengetahui sebagaimana yang ada didalam kitab tauhid kar.
Syekh islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah waridhwanuhu alaihi
ketika sampai pada ayat ini dan beliau mengambil kesimpulan darinya dalam
masa-il (permasalahan-permasalahan) yang ma’ruf, beliau berkata: padanya
(ada) peringatan untuk berikhlas, sesungguhnya kebanyakan manusia jika
mereka menyeru sesungguhnya ia menyeru kepada dirinya. Maka orang yang
(menyeru) kepada dirinya ia akan marah untuk dirinya. Maka hendaklah bagi
seorang insan untuk menjauhi sebab-sebab perselisihan, adapun perselisihan
yang tidak berpengaruh seperti yang saya sebutkan tadi maka ini biasa
terjadi pada manusia, biasa terjadi perselisihan tanawwu’(yang tidak
menyebabkan pertentangan), bukan perselisihan permusuhan yang menyebabkan
pembunuhan, ini tidak apa-apa, dan ini (mesti) terjadi, akan tetapi orang
yang mengetahui sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam : (Dan saling
menghargailah kalian), ini tidak akan terjadi antara ia dan saudaranya
sesama da’i perselisihan dalam keadaan bagaimanapun. (Bersatulah dan
janganlah kalian berselisih, bersepakatlah dan janganlah kalian
berpecah-belah). berpecah-belah juga jelek, karena setiap orang yang
berpecah dengan saudaranya akan mengambil jalan yang bukan jalannya, dan
sekelompok manusia akan berkumpul bersamanya, mereka berpegang kepadanya,
lalu mereka akan mengikuti jalannya dan pada waktu itu jadilah kelompok
yang saling benci dan perkumpulan yang sesat yang dilarang didalam islam,
dalam firman Allah ta’ala:
] وَلا تَفَرَّقُوا [
Artinya: Dan janganlah kamu bercerai-berai. (QS Ali Imram: 103).
dan ini juga perkataan Nabi sallallahu alaihi wasallam yang kalian dengar
barusan.
Dan Allah serta Rasul-Nya telah melarang dari perpecahan, kita tidak boleh
dalam keadaan apapun melakukan sebab-sebabnya, (kemudian saling
menghargailah kalian), saling menghargai mesti ada, karena panjangnya
jalan mengharuskan kita melakukannya, dan sabar terhadap apa yang dihadapi
dan jika tidak ada saling menghargai maka akan terjadi perpecahan, dan
yang saya maksud adalah saling menghargai dalam melaksanakan perintah
Allah dan Rasul-Nya jangan dipahami sebaliknya –saya berlindung kepada
Allah jika dipahami selain ini-. saling menghargai dalam lingkaran apa
yang dibolehkan padanya. Dan pada apa yang tidak dibolehkan kita
mengatakan padanya seperti perkataan para sahabat Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam :
] قَدْ ضَلَلْتُ إِذاً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ [
Artinya : Sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah
(pula) aku temasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS al-an’am : 56).
Jika saya setuju dengan ini yaitu dengan kesalahan yang sudah jelas dan
nyata yang tidak boleh ditempuh dan melakukannya.
ini yang saya maksudkan. Saya mengatakan setelah semua yang diatas, saya
mewasiatkan kalian untuk ikhlas didalam agama Allah dan mengikuti
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kemudian (betul-betul) memahami
agama Allah, karena bertambahnya pemahaman membuat lemah para musuh dan
memutuskan tipu daya mereka yang mereka masukkan untuk merusak kita, dan
saya memohon kepada Allah subahanahu wata’ala dengan nama-nama-Nya yang
baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar Ia memberikan kepada saya dan
kalian pengetahuan dalam agama dan memahaminya, begitu juga saya memohon
kepada-Nya subhanahu wata’ala supaya Ia memberikan kepada saya dan kalian
keikhlasan kepada-Nya, dan mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
dan menjadikan saya dan kalian pemberi petunjuk bagi orang-orang yang
ditunjuki, penyeru kepada kebaikan, baik lagi memperbaiki, penyeru kepada
persatuan bagi orang-orang yang ingin bersatu berkumpul dalam kebaikan dan
taqwa dan kita menentang orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, dan
semoga Ia menjauhkan kita darinya, karena Ia maha kuasa dan mampu
melakukannya, dan semoga salawat dan salam serta keberkatan Allah bagi
hamba dan Rasul-Nya nabi kita Muhammad dan segala puji bagi Allah pencipta
semesta alam.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke