Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,
Tidak ada salahnya kita mengkaji ulang agar lebih paham tentang
dasar/landasan utama manhaj salaf, terutama buat para ikhwan yang baru
bergabung di millis assunnah ini.
Dan untuk lengkapnya dapat di baca di http://www.almanhaj.or.id
Jazakallohu khairon
Wassalam..


TIGA LANDASAN UTAMA MANHAJ SALAF

Oleh
Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani
Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa dakwah salafiyah berdiri tegak di
atas tiga landasan.

Pertama : Al-Qur'anul Karim


Kedua : Sunnah shahihah (hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam yang shahih)

Para Salafiyin di seluruh penjuru negeri memusatkan pada hadits-hadits
shahih, (mengapa demikian) karena di dalam sunnah (dengan kesepakatan para
ulama) terdapat hadits-hadits palsu (maudhu) atau hadits-hadits lemah
(dhaif), (yang bercampur dengan hadits shahih) semenjak sepuluh abad yang
lalu, dan hal ini adalah perkara yang tidak ada perselisihan. Para ulama
juga bersepakat perlunya ditasfiyah (penyeleksian) mana yang hadits dan
mana yang bukan hadits. Oleh karena itu para Salafiyyin "bersepakat" bahwa
dasar yang kedua ini (yaitu Sunnah), tidak sepatutnya diambil apa adanya
(tanpa melihat shahih atau tidaknya), karena dalam hadits-hadits tersebut
terdapat hadits dhaif maupun maudhu yang tidak boleh diamalkan sekalipun
dalam fadhailul amal. Inilah dasar yang kedua.

Ketiga : Al-Qur'an dan Sunnah wajib dipahami dengan pemahaman sahabat Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, tabi'in serta tabiut tabi'in.

Inilah keistimewaan dakwah Salafiyyah atas seluruh dakwah-dakwah yang
berdiri di muka bumi di zaman ini, dalam dakwah-dakwah itu, ada ajaran
Islam dan ada juga ajaran-ajaran yang bukan berasal dari Islam.

Dakwah Salafiyyah mempunyai keistimewaan dengan dasar yang ketiga ini yaitu
Al-Qur'an dan sunnah wajib dipahami sejalan dengan manhaj Salafus Shalih
dari kalangan para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tabi'in
(orang yang berguru kepada tabi'in), yaitu pada tiga masa yang pertama
(100H-300H) yang telah diberi persaksian oleh hadits-hadits yang telah
dimaklumi, bahwa masa itu adalah masa sebaik-baik umat. Semua ini
berdasarkan pada dalil-dalil yang cukup sehingga menjadikan kita mengatakan
dengan pasti bahwa setiap orang yang memahami Islam dan Al-Qur'an dan
hadits tanpa disertai landasan yang ketiga ini, pasti akan "datang" dengan
membawa ajaran Islam yang baru.

Bukti terbesar dari hal ini, adanya kelompok-kelompok Islam yang (semakin)
bertambah tiap hari. Penyebabnya karena tidak berpegang teguh pada tiga
landasan ini, yaitu Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alihi wa
sallam dan Pemahaman Salafus Shalih. Oleh sebab itu kita dapati sekarang di
negeri-negeri Islam, satu kelompok yang belum lama munculnya di Mesir
(yaitu Jama'ah Takfir wal Hijrah). Kelompok ini menyebarkan
pemikiran-pemikiran dan racun-racunnya di berbagai negeri Islam dan
mendakwakan berada di atas Al-Qur'an dan Sunnah. Alangkah serupanya dakwaan
mereka itu dengan dakwaan kelompok Khawarij. Karena kelompok khawarij juga
mengajak kepada Al-Qur'an dan Sunnah, akan tetapi mereka menafsirkan
Al-Qur'an dengan hawa nafsu mereka dengan tanpa melihat pemahaman Salafus
Shalih khususnya sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan saya
banyak bertemu dengan anggota mereka serta berdebat dengan salah seorang
pemimpin mereka, yang mengatakan bahwa ia tidak menerima tafsir ayat
walaupun datang dari puluhan sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia
tidak menerima tafsir itu jika tidak sesuai dengan pendapatnya. Dan orang
yang mengatakan perkataan ini tidak mampu membaca ayat Al-Qur'an dengan
(lancar) tanpa kesalahan. Inilah sebab penyelewangan khawarij terdahulu
yang mereka adalah orang-orang Arab asli, maka apa yang dapat kita katakan
pada orang khawarij masa kini yang mereka itu jika bukan orang-orang non
Arab secara nyata tetapi mereka adalah orang-orang Arab yang tidak fasih,
dan bukan orang-orang Ajam yang fasih berbahasa Arab ?

Inilah realita mereka, dengan berterus terang mengatakan bahwa mereka tidak
menerima tafsir nash secara mutlak kecuali jika Salafush Shalih bersepakat
atasnya, demikianlah yang dikatakan salah seorang di antara mereka (sebagai
usaha penyesatan dan pengkaburan). Maka aku (Al-Albani) katakan padanya :
"Apakah kamu meyakini kemungkinan terjadinya kesepakatan Salafus Shalih
dalam penafsiran satu nash dari Al-Qur'an ?" dia berkata : "Tidak, ini
adalah sesuatu yang mustahil" maka kukatakan : "Jika demikian, apakah
engkau ingin berpegang pada yang mustahil ataukah engkau bersembunyi
dibalik sesuatu ?" lalu diapun mundur dan diam.

Inti masalahnya, bahwa penyebab kesesatan seluruh kelompok-kelompok sejak
masa lampau maupun sekarang, adalah tidak berpegang pada landasan yang
ketiga in, yaitu memahani Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman
(manhaj) Salafus Shalih.

Mu'tazilah, Murji'ah, Qadariyyah, Asy'ariyyah, Maturidiyyah dan seluruh
penyelewengan yang terdapat pada kelompok-kelompok itu penyebabnya adalah
karena mereka tidak berpegang teguh pada pemahaman Salafus Shalih, oleh
karena itu para ulama' peneliti berkata.

"Segala kebaikan tertumpu dalam mengikuti Salafush Shalih"

"Segala kejahatan tertumpu pada bid'ah para Khalaf (generasi sesudah
Salaf)"

Ini bukan sya'ir, ini adalah perkataan yang disimpulkan dari Al-Qur'an dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah berfirman.

"Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min. Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali" [An-Nisa' : 115]

Mengapa Allah Jalla Jalaluhu mampu untuk berfirman.

"Artinya : Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min"

Padahal Allah Jalla Jalaluhu mampu untuk berfirman.

"Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
baginya, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya
itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali".

Megapa Allah berfirman ?

"Artinya : Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min"

Yaitu agar seseorang tidak menunggangi kepalanya sendiri dengan mengatakan
: "Beginilah saya memahami Al-Qur'an dan beginilah saya memahami Hadits".
Maka dikatakan kepadanya : "Wajib bagi kamu memahami Al-Qur'an sesuai
dengan pemahaman orang-orang yang pertama kali beriman (Salafush Shalih).
Nash Al-Qur'an ini didukung oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, yang menguatkannya, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang perpecahan yang terjadi pada umatnya,
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : 'Semuanya di neraka kecuali satu kelompok' para sahabat bertanya
siapa kelompok itu ya Rasulullah ? beliau bersabda : "Al-Jama'ah". Dalam
riwayat yang lain : "Sesuatu (ajaran dan pemahaman) yang mana aku dan para
sahabatku berpijak padanya".

Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan kelompok yang
selamat itu berada di atas pemahaman jama'ah, yaitu jama'ah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam ? (Yang demikian itu) agar tertutup jalan
bagi orang-orang ahli ta'wil dan orang-orang yang mempermainkan dalil-dalil
dan nash-nash Al-Qur'an dan hadits.

Sebagai contoh, firman Allah Jalla Jalaluhu.

"Artinya : Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri.
Kepada Rabbnyalah mereka melihat" [Al-Qiyamah : 19-20]

Ayat ini adalah nash yang jelas dalam Al-Qur'an bahwa Allah Jalla Jalaluhu
memberikan karuniaNya kepada hamba-hambaNya yang beriman pada hari kiamat,
mereka akan melihat wajah Allah Jalla Jalaluhu yang mulia, sebagaimana
dikatakan oleh seorang faqih ahli syair yang beraqidah salaf. "Kaum mu'min
melihat Allah tanpa takyif (menanyakan bagaimana), tidak pula tasybih
(menyerupakan) dan memisalkan"

Mu'tazilah berkata : "Tidak mungkin seorang hamba bisa melihat Rabbnya di
dunia maupun di akhirat", (Jika ditanyakan kepadanya): "Akan tetapi kemana
kamu membawa makna ayat itu ?" dia berkata : "Ayat itu bermakna : wajah
orang-orang mukmin melihat pada kenikmatan Rabbnya". Jika ditanyakan
kepadanya : "Anda menakwilkan makna melihat Allah dengan arti (melihat
kenikmatan Rabbnya) sedang Allah Jalla Jalaluhu berfirman : "Kepada
Rabnyallah mereka melihat?" darimana kamu datangkan kata kenikmatan ? ia
berkata : Ini adalah majas (kiasan).

Oleh sebab itu Ibnu Taimiyah mengingkari adanya majaz di dalam Al-Qur'an.
Karena ia merupakan salah satu pegangan terkuat dan terbesar yang telah
merobohkan aqidah Islam. Ayat diatas, menetapkan suatu karunia dari Allah
Jalla Jalaluhu kepada hambaNya yaitu mereka akan melihat wajah Allah Jalla
Jalaluhu pada hari kiamat, tetapi orang-orang Mu'tazilah mengatakan ini
tidak mungkin.

Demikian pula firman Allah Jalla Jalaluhu.

"Artinya : Tidak ada sessuatupun yang semisalNya dan Dia maha mendengar
lagi maha melihat" [As-Syuura : 1]

(Orang yang berpaham Mu'tazilah berkata) : "Makna ayat itu bukan Maha
Mendengar dan Maha Melihat ! Jika ditanyakan : "Mengapa?" mereka berkata :
"Karena jika kita mengatakan Allah itu melihat dan mendengar maka kita
telah menyerupakan Allah dengan diri-diri kita". Lalu ditanyakan kepada
mereka : "Jika demikian halnya, apakah makna mendengar dan melihat ?".
Yaitu mengetahui dan mendengar keduanya adalah lafadz dalam bahasa Arab.
Jadi mendengar dan melihat menurut mereka sama dengan mengetahui. Akan
tetapi apakah masalahnya akan selesai hingga disini ?.

Jika dikatakan "fulan alim" dalam bahasa arab ini adalah ungkapan yang
diperbolehkan. Dan boleh kita menyebut seorang manusia itu alim, yang
bermakna "mengungkapkan dengan cara yang melebihkan sifat tentang orang
tersebut". Lalu dikatakan pada mereka : "Apakah boleh kita mengatakan bahwa
fulan seorang alim ?". 'Ya', boleh, kalau begitu, kita tidak boleh
mengatakan bahwa Allah Jalla Jalaluhu itu Alim (Maha Mengetahui), karena
hal itu akan menjadikan penyerupaan Allah Jalla Jalaluhu dengan hamba Allah
Jalla Jalaluhu.

Demikianlah cara mereka menafikan atau meniadakan sifat-sifat Allah Jalla
Jalaluhu. Hingga perkaranya sampai kepada pengingkaran mereka terhadap
wujud Allah, baik mereka mengakui ataupun tidak mengakui, karena cara
mereka yang demikian itu konsekwensinya menetapkan mereka (menginkari wujud
Allah).

Dan semoga Allah merahmati Imam Ibnul Qayyim ketika beliau berkata :

"Artinya : Orang yang menyerupakan Allah dengan mahluk menyembah patung,
sedang Al-Muatthil (orang yang menolak penyerupaan Allah tapi
menakwilkannya) menyembah sesuatu yang tidak ada".

Oleh sebab itu dari kalangan orang-orang yang tidak berpegang kepada metode
Salafus Shalih tentang ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan
sifat-sifat Allah, mereka berkata : "Allah tidak berada diatas". Nah !
Apakah engkau dapati dalam Al-Qur'an bahwa Allah tidak di atas ? Kita
mendapati dalam Al-Qur'an, Allah mensifati hambaNya.

"Artinya : Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka" [An-Nahl :
50]

"Artinya : (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy"
[Thaha : 5]

"Artinya : Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan"
[Al-Ma'arij : 4]

"Artinya : KepadaNya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang
shalih dinaikkanNya [Faathir : 10]

Dan seterusnya, lalu mereka katakan : "Allah tidak berada di atas !!"

Kalau begitu berada di bawah ??

Mereka berkata : "Tidak berada dibawah !!"

Kalau begitu di sebelah kanan ??

Tidak !! tidak berada disebelah kanan ! Tidak, disebelah kiri ! Tidak, di
depan dan tidak pula di belakang ! Tidak juga berada di dalam alam ini atau
di luarnya !

Kalau begitu apa yang tersisa dari wujud keberadaan Allah ?! Yang tersisa
adalah Al'Adam (tidak ada).

Inilah ilmu yang mana para ulama ahli kalam tanpa terkecuali terbelit dalam
kesulitan dan binasa didalamnya, kecuali ulama yang berada diatas manhaj
Salafush Shalih. Semua ulama ahli kalam tanpa terkecuali, baik yang
berpemahaman 'As'ariyah atau Maturidiyah, kecuali beberapa gelintir manusia
diantara mereka yang beriman kepada apa yang dipahami oleh Salafush Shalih,
sebagaimana perkataan sebagian dari mereka.

"Dan Rabbul Arsy (Allah) berada di atas Arsy, akan tetapi tanpa disifati
dengan kemantapan dan menempel (Nya pada Arsy)"

Artinya : "Tiadalah sesuatu yang serupa denganNya" Allah mensifati dirinya
bahwa Dia bersemayam diatas Arsy, dan Rabbul Arsy (pencipta Arsy) berada di
atas Arsy akan tetapi tanpa disifati dengan kemantapan dan menempel(Nya
pada Arsy).

Lihatlah wahai saudara-saudara kami khususnya para pemuda ! bukankah kita
menginginkan untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang Islami, dan
menginginkan berdiri di depan (menghadapi) kelompok atheis dan komunis, dan
kelompok-kelompok semisal mereka ?! Dengan apakah kita akan berdiri di
depan (menghadapi) mereka ! Apakah dengan ilmu yang diambil dari Kitabullah
dan Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai Manhaj Salafus
Shalih ataukah dengan ilmu kalam ?

Akan tetapi aku katakan merupakan suatu kebaikan bagi kalian atau sebagian
di antara kalian jika sesungguhnya dia belum pernah membaca ilmu kalam, ini
adalah hak atau dia tidak mengetahui bahwa kadang-kadang ia mengetahui atau
mendengar ini. Lalu merasa heran, apakah ada kaum muslimin yang beraqidah
semacam ini ?? (jawabnya) : "Ya, ada". Bacalah kitab "Ihya Ulumudin" karya
Al-Ghazali, dan beberapa tulisan-tulisan yang baru yang telah dicetak dan
menyebar di zaman ini "dengan nama aqidah". Niscaya kalian akan dapati
didalamnya pengingkaran itu dicetak dengan cetakan yang baru pada masa
kini, dan (di dalamnya termaktub) bahwasanya Allah tidak berada di atas,
tidak dibawah, tidak di sebelah kanan, tidak pula di sebelah kiri, dan
seterusnya.

Oleh karena itu, semoga Allah merahmati salah seorang Umara' (penguasa) di
Damaskus yang ikut hadir dalam sebuah dialog antara Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah dan orang-orang yang bepemahaman Muatthilah (orang-orang yang
menolak penyerupaan Allah tapi menakwilnya), tatkala ia mendengar perkataan
mereka dan juga perkataan Ibnu Taimiyah yang bersandar pada Al-Qur'an dan
Sunnah serta perkataan Salafus Shalih, iapun merasa puas dan yakin bahwa
inilah (perkataan Ibnu Taimiyah yang bersandar pada Al-Qur'an dan Sunnah
serta perkataan Salafush Shalih) aqidah yang benar. Lalu ia menoleh kepada
Ibnu Taimiyah dan berkata :

"Artinya : Mereka itu (sambil menunjuk ke arah para Syaikh yang menjadi
lawan dialog Ibnu Taimiyyah) adalah suatu kaum yang meniadakan atau
menyia-nyiakan Rabb mereka"

Ini adalah perkataan yang benar, mereka adalah kaum yang meniadakan Rabb
mereka. Mengapa (mereka berkata) : "Allah tidak berada di atas, tidak
dibawah, tidak disebelah kanan, tidak pula disebelah kiri, dan seterusnya
?"

Inti dari masalah yang saya sebutkan diatas " Apakah yang membinasakan
ulama kaum muslimin??" terlebih lagi penuntut ilmu mereka ?? Dan lebih dari
itu semuanya orang awam mereka kepada 'kerendahan' dan 'kesesatan yang
nyata ini ??'

Kami menasehati setiap kaum muslimin di dunia ini agar 'menggabungkan'
keharusan berpegang kepada kitab dan sunnah dengan pemahaman Salafus
Shalih. Dan kalau tidak demikian halnya maka setiap kelompok di dunia ini
akan berkata : "Kita berada di atas Al-Qur'an dan Sunnah".

Satu kelompok yang paling sesat pada saat ini, (yang mana mereka mengaku
Islam, melaksanakan shalat lima waktu, menunaikan ibadah haji ke Baitul
Haram) yaitu Ahmadiyah Al-Qadyaniyah. Walaupun mengaku Islam dan
melaksanakan kewajibannya, mereka mengingkari hakikat-hakikat agama Islam
itu sendiri dengan nama takwil. Dan mereka juga tidak berpegang dengan
pemahaman kaum muslimin terdahulu maupun sekarang. Karena seluruh kaum
muslimin bersepakat bahwa tidak ada nabi setelah Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam, maka bagaimana mereka (Ahmadiyah Qadyaniyah) yang mengaku
beragama Islam lalu berkata : "Telah datang seorang nabi yang bernama Mirza
Ghulam Ahmad Al-Qadyani, dan akan datang pula banyak nabi sesudahnya "

Seorang muridnya telah datang lalu berusaha menyebarkan pemikiran ini, dan
Alhamdulillah para ulama "bangkit" membantahnya, kadang-kadang dengan
menggunakan cemeti, terkadang dengan teriakan, kadang-kadang dengan
"perkataan". Segala puji hanya bagi Allah, kita telah dipelihara dan
kejahatan mereka, dan sayapun banyak berpartisipasi dalam membantah mereka.

Inti dari kisah diatas, bagaimana mereka (bisa) tersesat ?

Rasulullah telah bersabda :

"Artinya : Tidak ada nabi sesudahku"

Tahukah kalian apa makna "Tidak ada nabi sesudahku ?" mereka (Ahmadiyah
Qadaniyah) mengartikan hadits itu : "Bersamaku tidak ada nabi, akan tetapi
jika aku telah mati akan ada nabi". Mereka menakwilkan nash dan hadits ini.
Mereka (juga berkata) pada firman Allah.

"Artinya : Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi" [Al-Ahzab :
40]

"Akan tetapi Rasulullah adalah "khatamun nabiyyin". Apakah makna khatamun
nabiyyin ? (mereka berkata) : "perhiasan para nabi". Karena makna khatam
adalah perhiasan jari, maka Rasulullah adalah perhiasan para nabi dan
bukanlah maknanya tidak ada lagi Nabi sesudah Rasulullah.

Jika demikian maknanya, apakah seluruh kaum muslimin salah dalam memahami
nash-nash itu ?

Pembahasan ini sangat banyak dan panjang sekali, maka cukuplah bagi kita
sekarang ini tiga landasan Salafiyah : Al-Qur'an, Hadits-hadits yang shahih
serta diatas Pemahaman Salafush Shalih.

Adapun tujuan-tujuan da'wah Salafiyyah adalah mewujudkan masyarakat Islam
yang mana dengan masyarakat yang Islami itu dapat merealisasikan
hukum-hukum Islam, bukan hukum-hukum selainnya. (Karena) penerapan hukum
Islam pada masyarakat yang tidak Islami adalah dua hal yang kontradiksi,
berlawanan dan tidak akan bertemu.

Kesimpulan
Wajib berpegang teguh kepada manhaj atau madzhab Salaf, dia adalah sebuah
jaminan bagi seorang muslim untuk tergolong menjadi firqotun najiyah
(kelompok yang selamat) dan tidak masuk dalam kelompok yang sesat. Itulah
yang akan memeliharanya.

Dan terakhir, hendaknya kita menolehkan pandangan kita ketika mengajak
seluruh kaum muslimin untuk berpegang kepada Al-Qur'an dan sunnah
Rasulullah diatas manhaj Salafus Shalih sebagaimana yang telah kita
jelaskan dengan keterangan dan dalil-dalil yang shahih, bahwasanya kita
tidak jauh dari mereka dalam masalah pokok keimanan pada Al-Qur'an dan
As-Sunnah, akan tetapi kita mendakwahi mereka dengan cara yang baik kepada
Al-Qur'an dan Sunnah. Karena kita yakin bahwa mereka adalah "orang-orang
yang sakit" dalam aqidah mereka yang dengannya mereka telah menyimpang dari
Al-Qur'an dan Sunnah. Maka kami mendakwahi mereka sebagai sebuah kewajiban
dalam dakwah dan merupakan kaidah dasar pada setiap orang yang ingin
mengajak kepada Islam, yaitu firman Allah Tabaraka wa Ta'ala.

"Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk" [An-Nahl : 125]

Maka wajib bagi kita untuk tidak menganggap remeh dan menggampangkan
terhadap (orang-orang yang menyimpang dari manhaj Salafus Shalih) tidak
hanya dalam permasalahan hukum, bahkan dalam banyak permasalahan aqidah,
sebagaimana yang telah kami sebutkan diatas pada hal-hal yang berhubungan
dengan sifat-sifat Allah dan semisal itu. Maka kami mendakwahi mereka
dengan cara yang terbaik, tidaklah kita jauhi dan meninggalkan mereka,
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bahwa Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantarmu
labih aku sukai daripada unta merah (harta yang berharga -pent)"






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke