Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Al-Ikhwah fiddin, semoga Allah memberkahi antum semua.

Ana ada artikel yang cukup bermanfa'at untuk bahan pelajaran.

Intinya, bagaimanakah seharusnya Ahlul Bayt itu berdiri, dan bagaimanakah kita 
seharusnya menghormati secara Syar'i, dan yang paling menarik siapakah 
Ahlul-Bayt itu menurut kupasan beberapa ulama, diantaranya yang paling menarik 
adalah Al-'Allamah Asy-Syeikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiiruddin Al-Albani 
rohimahullahu ta'ala.

Semoga bermanfa'at......


KECINTAAN SALAF TERHADAP AHLUL BAIT

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan rijs dari kalian wahai Ahlul 
Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33)

Makna Lafadz
"ar-rijs"
Para ulama mufassirin di dalam menjelaskan maknannya terbagi menjadi beberapa 
ibarat (perkataan) sebagai berikut:

1. Ada yang mengatakan bahwa maknannya adalah syaithan. Di antara yang 
mengatakan demikian adalah Ibnu Zaid. (Lihat Jami'ul Bayan 10/296 dan Tafsir 
al-Mawardi 4/400)
2. Ada yang mengatakan bahwa maknannya adalah syirik, perbuatan maksiat, syakk 
(keragu-raguan), perbuatan dosa dan segala macam perbuatan kotor menurut 
syariat. Yang berpendapat demikian di antaranya adalah As-Suddi dan Al-Hasan 
Al-Bashri. (Tafsir Al-Mawardi 4/400)
3. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah segala macam gangguan kejahatan, 
kejelekan dan perbuatan keji. Yang berkata demikian adalah Syaikh Abdurrahman 
As-Sa'di. (Taisirul Karimir Rahman 6/220)

Semua penafsiran para ulama di atas termasuk dalam pengertian "ar-rijs" karena 
mereka sering kali menafsirkan arti suatu kata dalam ayat dengan menyebutkan 
bagian-bagian atau unsur-unsur yang termasuk dalam pengertiannya. Hal ini harus 
dipahami dan diketahui oleh setiap orang yang membaca kitab-kitab tafsir, 
supaya dia tidak menganggap bahwa para mufassirin ber-ikhtilaf dalam 
menafsirkan suatu ayat sehingga harus ditarjih (dikuatkan) salah satunya sedang 
yang lain dibuang dan disalahkan.

"Ahlul Bait"
Para ulama mufassirin berikhtilaf di dalam masalah ini, siapakah yang dimaksud 
dengan Ahlul Bait dalam ayat ini:

1. Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait 
dalam ayat ini adalah 'Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husein 
saja, tidak ada lagi selain mereka.

Pendapat ini dipegang kuat oleh Syi'ah Rafidlah dan mereka berdalil dengan 
riwayat-riwayat dari Abu Sa'id Al-Khudri, Anas bin Malik, 'Aisyah dan Ummu 
Salamah radliallahu 'anhum. (Lihat Tafsir Al-Mawardi 4/401 dan Jami'ul Bayan 
10/296)

2. Ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah istri-istri Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam saja, bukan yang lainnya. Yang berpendapat 
demikian adalah Ibnu 'Abbas dan 'Ikrimah radliallahu 'anhum. (Jami'ul Bayan 
10/298 dan Tafsir Al-Mawardi 4/401 serta Ibnu Katsir 3/637-638)

3. Ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah umum, meliputi 'Ali bin 
Abi Thalib, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husein dan istri-istri Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Yang berpendapat demikian adalah Adl-Dlahhak. 
(Tafsir Al-Mawardi 11/401)

Asbabun Nuzul (sebab turun ayat)
Para mufassirin juga berikhtilaf dalam masalah sebab turunnya ayat ini. Kepada 
siapakah ayat ini turun? Mereka berikhtilaf dalam masalah ini karena mereka 
berikhtilaf dalam menentukan siapakah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam 
ayat ini? Maka perkataan para mufassirin dalam hal sebab turun ayat ini terbagi 
tiga:

1. Abu Sa'id Al-Khudri, Anas bin Malik, 'Aisyah dan Ummu Salamah radliallahu 
'anhum meriwayatkan bahwa ayat ini turun hanya kepada 'Ali, Fathimah, Al-Hasan 
dan Al-Husein. Pendapat ini dipegang kuat oleh Syi'ah Rafidlah, mereka 
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah Ali, Fathimah, Al-Hasan 
dan Al-Husein, sedangkan istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sama 
sekali bukan Ahlul Bait dengan membawa riwayat:

"Dari Ummu Salamah beliau berkata: "Ayat ini (Al-Ahzab:33) turun di rumahku, 
maka Rasulullah memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, lalu menutupi mereka 
dengan kisa' (baju) buatan Khaibar seraya berucap: "Mereka adalah Ahlu 
Bait-ku." Kemudian beliau membaca Ayat ini (Al-Ahzab:33) dan berkata: "Ya, 
Allah, hilangkan dari mereka rijs dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya." 
Maka aku (Ummu Salamah) berkata: "Saya bersama mereka wahai Rasulullah?" 
Rasulullah menjawab: "Kamu diam ditempatku, dan kamu di atas kebaikan." 
(Muslim, Ahmad dan At-Tirmidzi)

2. Ibnu 'Abbas dan 'Ikrimah menyatakan bahwa ayat ini turun hanya kepada 
istri-istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Diriwayatkan oleh Ibnu 
Abi Hatim dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma, bahwa beliau mengatakan:

"Ayat ini turun khusus kepada istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam 
saya."
Ibnu Jarir At-Thabari meriwayatkan dari 'Ikrimah bahwa beliau menyeru di pasar: 
"Ayat ini turun tentang istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam saja." 
Bahkan beliau mengatakan: "Barang siapa yang mau, aku tantang dia mubahalah(1), 
ayat-ayat ini turun tentang istri-istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
Sallam saja." (Ibnu Katsir 3/637-638)
Imam Asy-Syaukani mengatakan: "Pendapat inilah yang benar, karena ayat ini dan 
ayat sebelumnya dan sesudahnya turun kepada mereka (istri-istri Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam), dan karena dalam ayat-ayat itu sedikitpun tidak 
disinggung tentang Ali, Fathimah dan anak-anaknya radliallahu 'anhum." 
(Zubdatut Tafsir 554)

Catatan kaki (1) Mubahalah secara bahasa diambil dari kata bahala yang artinya: 
melaknat. Sedangkan menurut istilah mubahalah adalah dua pihak yang saling 
melaknat dan berdoa kepada Allah untuk membinasakan yang paling bersalah 
diantara keduanya.

3. Pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun kepada istri-istri Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein.

Diantaranya para ulama mufassirin yang berpendapat demikian adalah:

a. Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 3/368, beliau berkata: "Kalau yang dimaksud 
bahwa istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah sebab turunnya ayat 
ini, bukan yang lainnya maka itu benar. Tetapi kalau yang dimaksud bahwa 
istri-istri Nabi adalah yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini, bukan 
yang lainnya, maka itu perlu dilihat kembali karena adanya riwayat-riwayat yang 
menunjukan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini adalah umum."
b. Abu Abdillah Al-Qurtubi, beliau mengatakan: "Dhahir ayat ini menunjukan 
bahwa ayat ini umum mencakup semua Ahlul Bait, istri-istri Nabi Shallallahu 
'alaihi wa Sallam, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein." (Al-Jami' lil Ahkamil 
Qur'an 14/119)
c. Al-'Alamah Muhammad Amin As-Syanqithi dalam tafsir beliau yang masyhur 
Adlwaul Bayan 6/576.

Pendapat yang ketiga inilah yang lebih kuat sebagaimana perkataan mereka 
tentangnya.

Syubhat dan Bantahannya
Syi'ah Rafidlah berdalil dengan ayat ke 33 surat Al-Ahzab dan hadits kisa' 
(baju) yang telah disebutkan lafadznya di atas, menyatakan bahwa Ahlul Bait 
yang dimaksud dalam ayat ini adalah 'Ali, Fathimah, Hasan dan Husein saja, 
sedangkan istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sama sekali bukan 
Ahlul Bait. Kemudian mereka mencerca, mencela dan menjelek-jelekan Ummahatul 
Mukminin istri-istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Di antara 
syubhat mereka adalah:

1. Dalam ayat ini disebutkan kata-kata "yuthahhirukum" dan "ankum" dengan 
menggunakan kata ganti "kum" yang menunjukan arti jama' (banyak) dan mudzakkar 
(laki-laki).

Mereka mengatakan: "Hal ini merupakan bukti bahwa yang dimaksud dengan Ahlul 
Bait dalam ayat ini adalah 'Ali, Hasan dan Husein saja, sebab kalau yang 
dimaksud adalah istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, niscaya akan 
digunakan kata-kata "yuthahhirukunna" dan "ankunna" dengan menggunakan kata 
ganti "kunna" yang menunjukan makna wanita."
Maka dijawab: "Tadi telah disebutkan aqwal (ucapan) para ulama tentang siapa 
yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat ini dan juga telah disebutkan bahwa 
pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang ketiga yang mengatakan bahwa 
ayat ini umum, mencakup mereka semua. Kemudian mengapa menggunakan kata ganti 
orang "kum"? Karena 'Ali, Hasan dan Husein termasuk dalam pengertian "Ahlul 
Bait" dalam ayat ini, sedangkan dalam kaedah ilmu nahwu yang telah disepakati 
oleh orang-orang arab menyatakan:
"Kalau mudzakar (laki-laki) dan muannats (wanita) berkumpul maka didominankan 
mudzakar..." (lihat Al-Jami' lil Ahkamil Qur'an 14/119 dan Adlwaul Bayan 
6/578-579)

2. Syubhat mereka yang kedua adalah hadits kisa' (baju) yang telah disebutkan 
tadi.

Mereka mengatakan: "Hadits ini sharih (jelas) menunjukan bahwa istri-istri Nabi 
bukan Ahlul Bait, tetapi yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah 'Ali, Fathimah, 
Hasan dan Husein."
Bantahan terhadap syubhat mereka yang satu ini kita serahkan kepada 
Al-Muhaddits Al-'Alamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidzahullah. Beliau 
dalam kitabnya Silsilah Al-Hadits As-Shaihah jilid 4 hal.359-360 dengan nomor 
hadits 1761 mengatakan:
"Ahlul Bait Nabi pada asalnya adalah istri-istri beliau Shallallahu 'alaihi wa 
Sallam. Termasuk pula dalam As-Shiddiqiyah 'Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq 
radliallahu 'anhuma sebagaimana yang jelas dinashkan dalam firman Allah Ta'ala 
surat Al-Ahzab ayat 33:
"...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan ar-rijs dari kamu, hai 
Ahli Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab:33)
Bukti kalau ahlu bait di sini adalah istri-istri Nabi adalah ayat sebelum dan 
sesudahnya. Sedangkan anggapan Syi'ah (Rafidlah) bahwa Ahlul Bait dalam ayat 
ini adalah 'Ali, Fathimah, Hasan dan Husein saja tanpa istri-istri Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam, maka hal itu adalah bagian dari tahrif 
(penyelewengan makna) mereka terhadap ayat-ayat Allah yang mereka lakukan untuk 
menolong, membantu dan membela hawa nafsu dan kebid'ahan mereka. Adapun hadits 
kisa' dan yang semakna dengan itu kemungkinan terbesar yang dimaksud adalah 
penunjukan perluasan ayat (yakni ayat ini umum mencakup istri-istri Nabi 
berikut 'Ali, Fathimah, Hasan dan Husein)."
Jadi jelas dengan penjelasan Syaikh Nashiruddin bahwa hadits ini menunjukan 
'Ali, Fathimah, Hasan dan Husein termasuk dalam pengertian Ahlul Bait dalam 
ayat ini dan bukan menunjukan bahwa mereka yang dimaksud dengan Ahlul Bait 
secara khusus.

3. Satu lagi syubhat yang mereka gunakan untuk memperkuat dan membela hawa 
nafsu mereka yaitu perkataan mereka: "Ahlul Bait di sini adalah 'Ali, Fathimah, 
Hasan dan Husein, dan seharusnya letak ayat ini (Al-Ahzab:33) bukan di sini 
karena ayat ini berbicara masalah laki-laki yaitu 'Ali, Hasan dan Husein, 
sedangkan ini (Al-Ahzab) berbicara tentang wanita (yakni istri-istri Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam), namun karena kebiasaan para shahabat yang jelek 
akhirnya ayat ini dimasukkan pada surat ini. Mereka mempunyai kebiasaan jelek 
yaitu menyelipkan satu ayat Madaniyah pada ayat-ayat Makiyah dan sebaliknya".

Jawaban untuk sybhat ini adalah bahwa tuduhan mereka kepada para shahabat 
dengan tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasarkan dengan dalil, tetapi 
semata-mata dari nafsu syaithaniyyah mereka. Hal ini terbukti dengan melihat 
hal-hal berikut:

a. Disebutkan dalam kitab-kitab Ushulut Tafsir bahwa di dalam surat-surat 
Makiyyah terdapat satu ayat Madaniyyah atau satu ayat Makiyyah dalam surat 
Madaniyyah sehingga tidak heran kalau kita mendengar para ulama mengatakan: 
"Surat ini Madaniyyah kecuali ayat ini, dia adalah ayat Makiyyah", atau "Surat 
ini Makiyyah kecuali ayat ini, dia adalah ayat Madaniyyah." Bahkan disebutkan 
dalam buku-buku Ushul Tafsir adanya ayat yang turun di Makkah tapi mempunyai 
hukum ayat Madaniyyah. Atau ayat yang turun di Madinah tapi mempunya hukum ayat 
Makiyyah dan lain-lain." (Lihat 'Ulumul Qur'an hal. 55-56)
b. Imam Ibnu Abi Al-'Izzi Al-Hanafi mengatakan: "Sesungguhnya masalah 
mentartibkan (mengurutkan) surat-surat adalah masalah yang tidak diharuskan 
secara nash. Oleh karena itu susunan mushhaf Abdullah bin Mas'ud berbeda dengan 
susunan mushhaf Utsman bin 'Affan. Tetapi kalau masalah mentartibkan ayat-ayat 
dalam surat itu adalah masalah yang tetap dengan nash, maka mereka (shahabat) 
tidak boleh merubah-rubah urutan-urutan ayat..." (Syarah 'Aqidah Thahawiyah 
hal. 314)

Dari penjelasan beliau kita mengetahui bahwa masalah mentartibkan surat-surat 
dalam Al-Qur'an adalah masalah ijtihadiyyah, sedangkan para shahabat telah 
ijma' untuk mentartibkannya berdasarkan mushhaf 'Ustman bin 'Affan dan ijma' 
mereka adalah hujjah yang qath'i karena Allah tidak akan mengumpulkan umat ini 
dalam kesesatan dan perkara ini telah disepakati oleh para ulama.
Adapun mesalah mentartibkan ayat-ayat Al-Qur'an dalam sebuat surat itu adalah 
masalah yang telah ditetapkan dengan nash, maka dalam hal ini tidak boleh 
merubahnya.
Permasalahan ini sudah ditetapkan dengan nash, maka tidak mungkin para shahabat 
berani atau lancang untuk merubahnya karena mereka adalah orang-orang yang 
paling berittiba' dengan sunnah rasul dan yang paling takut menyelisihi 
perintah rasul.
Dari sini kita mengetahui bahwa syubhat ini Rafidlah telah terjerumus ke dalam 
tiga perbuatan dosa, yaitu:

1. Mencelah dan menuduh para shahabat.
2. Secara tidak langsung telah menentang ijma' para shahabat.
3. Telah menentang nash.

Tafsir Ayat
Imam Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya mengatakan: "Sesungguhnya Allah 
bermaksud hendak menghilangkan kejelekan dan kekejian dari kamu hai Ahlul Bait 
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan membersihkan kamu dari kotoran 
maksiat sebersih-bersihnya."
(Jami'ul Bayan 10/296)
Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan: "Allah mewasiatkan kepada kalian 
wahai Ahlul Bait Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam untuk taat dan 
taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dengan ketaatan dan ketaqwaan 
kalian Allah akan menghilangkan dari kamu segala macam dosa yang mengotori dan 
merusak kehormatan kalian dan membersihkan kalian dari segala kotoran maksiat 
dengan sebersih-bersihnya."
(Zubdatut Tafsir 554)
Al-Allamah Muhammad Amin As-Syanqithi dalam tafsirnya yang masyhur Adlwaul 
Bayan fi Tafsiril Qur'an bil Qur'an juz 6 hal. 579 mengatakan: "Yakni Allah 
menghilangkan rijs dari mereka (Ahlul Bait) dengan memerintahkan mereka untuk 
taat kepada-Nya dan melarang mereka untuk berbuat maksiat kepada-Nya karena 
orang yang taat kepada Allah akan dihilangkan rijs dari dirinya dan Allah akan 
membersihkan dari perbuatan dosa dengan sebersih-bersihnya."

Kedudukan Ahlul Bait
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Aku tinggalkan dua perkara yang berat (besar) yang pertama adalah kitabullah, 
padanya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka ambillah kitabullah itu dan 
berpegang teguhlah dengannya... dan (yang kedua adalah) Ahlul Baitku. Aku 
ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku." Husain (perawi hadits) 
bertanya kepada Zaid: "Siapakah Ahlul Bait beliau wahai Zaid? Bukankah 
istri-istri beliau termasuk Ahlul Bait beliau?" Zaid menjawab: "Istri-istri 
beliau memang termasuk Ahlul Bait beliau tetapi yang dimaksud dengan Ahlul Bait 
disini adalah orang yang diharamkan shadaqah setelah wafat beliau. Hushain 
kembali bertanya: "Lalu siapa mereka?" Zaid menjawab: "Mereka adalah keluarga 
'Ali, keluarga 'Aqil keluarga Ja'far dan keluarga 'Abbas ..."
(Muslim 2408. Lihat Riyadhus Shalihin no.346 dan Ad-Durrul Mantsur 6/605)
Disebutkan oleh Ats-Tsa'labi dan Qadli 'Ayyadl bahwa mereka adalah Bani Hasyim 
secara keseluruhan, sehingga termasuk pula didalamnya Al-Harits bin Abdul 
Muthalib dan keturunannya dan Hamzah bin Abdul Muthalib beserta anak 
keturunannya.

1. Keluarga 'Ali adalah 'Ali sendiri, Fathimah, Hasan dan Husein beserta anak 
turunnya.
2. Keluarga 'Aqil adalah 'Aqil sendiri dan anaknya yaitu Muslim bin 'Aqil 
beserta anak cucunya.
3. Keluarga Ja'far bin Abu Thalib yaitu Ja'far sendiri berikut anak-anaknya 
yaitu Abdullah, Aus dan Muhammad.
4. Keluarga 'Abbas bin Abdul Muthalib yaitu 'Abbas sendiri dan sepuluh 
puteranya yaitu: Al-Fadlel, Abdullah, Qutsam, Al-Harits, Ma'bad, Abdurrahman, 
Ubaidillah, Katsir, 'Aus dan Tamam dan puteri-puteri beliau juga termasuk di 
dalamnya.
5. Keluarga Hamzah bin Abdul Muthalib yaitu Hamzah sendiri dan tiga orang 
anaknya yaitu Ya'la, 'Imarah dan Umamah. (Fathul Bari 7/98)

Termasuk dalam kategori Ahlul Bait adalah istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa Sallam, Ummahatul Mukminin yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya dan juga 
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah :

- Khadijah binti Khuwalid,
- Saudah binti Zum'ah,
- 'Aisyah binti Abi Bakr Ash-Shiddiq,
- Hafshah binti 'Umar Al-Faruq,
- Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyyah,
- Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah Al-Makhzumiyyah,
- Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah,
- Juwairiyyah binti Harits Al-Khuza'iyyah,
- Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan Al-Qurasyiah,
- Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, dan
- Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyyah.

Mereka semua adalah istri-istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam di 
dunia dan di akhirat. (Lihat sekelumit keterangan tentang mereka dalam 
Ma'arijul Qabul 2/496-497 dan Syarah Lum'atul I'tiqad hal. 153-154)

Manhaj Salaf dalam Mensikapi Ahlul Bait
Manhaj salaf dalam mensikapi Ahlul Bait adalah manhaj yang adil dan benar 
karena mereka mempunyai wasath (pertengahan) yang tidak dimiliki oleh yang 
lain. Demikian juga karena mereka berpegang erat dengan dua wahyu yang mulia, 
Al-Qur'an dan As-Sunnah As-Shahihah dalam segala permasalahan agama. Kemudian 
di dalam memahami dua wahyu ini mereka kembali kepada pemahaman orang-orang 
yang telah diakui kebaikan dan keutamaannya dengan nash-nash Al-Qur'an dan 
As-Sunnah yaitu as-salaf as-shalih dari kalangan para shahabat, tabi'in dan 
para a'immatul huda radliallahu 'anhum ajmain.
Imam Abul Qasim Al-Ashbahani di dalam kitab beliau Al-Hujjah fi Bayanil 
Mahajjah 2/489-490 mengatakan: "Dan termasuk sunnah rasul adalah cinta kepada 
Ahlul Bait Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Mereka adalah orang-orang yang 
disebutkan oleh Allah dalam firmannya:
"...Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu apapun atas seruanku kecuali 
kasih sayang dalam keluargaku." (As-Syura:23)
Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman menjelaskan: "Kewajiban kita kepada Ahlul 
Bait adalah mencintai mereka, berwala' kepada mereka, menghormati dan 
memuliakan mereka karena Allah. Kita berbuat demikian karena mereka adalah 
sanak kerabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, karena keislaman mereka 
dan karena mereka telah mendahului kita dalam menolong dan membela agama Allah. 
Kalau kita mencintai, menghormati dan memuliakan mereka berarti kita mencintai, 
menghormati dan memuliakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam..."
(As'ilah wa Ahwibah 'alal 'Aqidah Al-Wasithiyyah hal. 308-309)
Tarjamul Qur'an Hibrul Ummah Abdullah bin 'Abbas radliallahu 'anhum 
menjelaskan: "Kita tidak boleh mengingkari orang-orang yang mewasiatkan dan 
memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada Ahlul Bait, menghormati dan 
memuliakan mereka, karena mereka adalah keturunan suci dari rumah tangga paling 
mulia yang dijumpai di muka bumi ini, baik dari segi nasab maupun darah 
keturunannya. Lebih-lebih lagi kalau mereka adalah orang-orang yang berittiba' 
kepada sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang shahihah, jelas dan 
gamblang sebagaimana yang telah dijalankan oleh pendahulu mereka, seperti 
'Abbas dan 'Ali serta keturunan mereka radliallahu 'anhum ajma'in." (Riwayat 
Bukhari. Lihat Ibnu Katsir 4/143)
Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: "...kita diperintahkan untuk mencintai mereka 
(Ahlul Bait), menghormati dan memuliakan mereka selama mereka berittiba' kepada 
sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang shahihah dan istiqamah 
(komitmen) di dalam memegang dan menjalani syariat agama. Adapun kalau mereka 
menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan tidak 
istiqamah di dalam memegang dan menjalani syariat agama, maka kita tidak 
diperbolehkan mencintai mereka sekalipun mereka Ahlul Bait Rasul..."
(Syarh 'Aqidah Wasithiyyah hal. 148)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin juga mengucapkan kata-kata yang senada 
dengan beliau dalam kitabnya Ta'liq 'alal 'Aqidah Al-Wasithiyyah hal. 66 dan 
dalam kitab Muhadlarat Saniyyah 2/675-676.

Di bawah ini beberapa nukilan dari ucapan para ulama yang menujukan bahwa Ahlus 
Sunnah wal Jamaah Salafiyah mencintai Ahlul Bait, menghormati dan memuliakan 
mereka, karena beberapa sebab:

1. Karena mereka adalah sanak kerabat Rasulullah.
2. Karena anjuran untuk mencintai dan menghormati mereka.

Tetapi kecintaan Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bait tidak mutlak kepada mereka 
semua karena masih harus diqaid (diikat) dengan syarat-syarat, antara lain:

1. Mereka adalah orang-orang yang berittiba' kepada sunnah-sunnah Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan membelanya serta benci kepada bid'ah-bid'ah 
dan para pelakunya.
2. Mereka adalah orang-orang shalih yang istiqamah dalam memegang dan 
menjalankan syariat agama ini.

Kalau syarat ini tidak ada pada mereka, maka Ahlus Sunnah tidak akan mencintai 
dan menghormati mereka.
Maka kita katakan kepada para habib, 'Alawiyyin, Hasyimiyyin, Thalibiyyin dan 
'Abbasiyyin yang mengaku ahlul bait Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam: "Kalau 
kalian memang ahlul bait Nabi, maka ikutilah jalan yang ditempuh oleh pendahulu 
kalian seperti 'Ali, 'Abbas dan yang lainnya, yaitu berittiba' kepada sunnah 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, membela, mengamalkan dan 
mendakwahkannya serta memerangi kebid'ahan yang melecehkan sunnah Rasul dan 
para pelaku bid'ah.
Kalau memang kalian Ahlul Bait Nabi yang ingin dicintai kaum muslimin, 
dihormati dan dimuliakan oleh mereka, maka janganlah kalian melakukan perbuatan 
bid'ah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan perbuatan syirik yang 
dikecam oleh Allah dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa 
yang di bawah syirik bati siapa yang dikehendaki-Nya..."(An-Nisaa':48)
Janganlah kalian mengadakan haul-haul yang bid'ah itu, jangan kalian 
beristighatsah di kubur para wali sanga dan lain-lain serta jangan kalian 
mengerjakan perbuatan bid'ah dan syirik lainnya. Karena kalau kalian berbuat 
demikian, maka kami sebagai kaum muslimin tidak diperbolehkan mencintai kalian, 
menghormati dan memuliakan kalian bahkan kami diperintahkan untuk membenci 
perbuatan kalian dan memperingatkan umat ini untuk berhati-hati dari kalian dan 
perbuatan kalian.
Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri ketika dia memberi 
wasiat kepada 'Ali bin Al-Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib, dia mengatakan:
"Wahai saudaraku, berusahalah kamu dengan usaha yang thayyib (halal) dengan 
tanganmu sendiri dan jangan sekali-kali kamu memakan dan memakan 
kotoran-kotoran manusia (menurut Syaikh Salim Al-Hilali, yang dimaksud kotoran 
disini adalah shadaqah), karena orang yang makan kotoran-kotoran manusia, dia 
akan berbicara dengan hawa nafsunya dan akan tunduk merendah di hadapan orang 
karena dia khawatir mereka akan menahan shadaqah mereka untuknya.
Wahai saudaraku kalau engkau memakan shadaqah manusia, kamu akan memutuskan 
lisanmu (yakni tidak bisa mengatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu 
bathil) dan engkau akan memuliakan sebagian orang (yang memberimu shadaqah) 
serta menghinakan yang lainnya (yang tidak memberimu shadaqah), karena orang 
yang memberikan sebagian hartanya kepadamu (sebagai shadaqah) itu berarti dia 
memberikan wasakh (kotorannya) kepadamu. Maksud wasakh disini adalah bahwa 
harta yang dishadaqahkannya sebagai pembersih amalnya dari dosa."
Kalau engkau makan dari hasil pemberian orang maka engkau akan cenderung 
menerima ajakannya bila dia mengajak kepada kemungkaran.
Wahai saudaraku! Kelaparan dan sedikit ibadah lebih baik daripada engkau 
kenyang dari hasil pemberian orang dan engkau banyak beribadah dengan mengharap 
pemberian orang. Kakek kamu Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan: "Orang yang 
hidup dari hasil minta-minta kepada orang bagaikan orang yang menanam pohon di 
tanah orang lain."
Wahai saudaraku! Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang 
hidup dari hasil pemberian orang melainkan dia akan menjadi orang yang hina di 
hadapan manusia.
Jangan sekali-kali engkau berusaha dengan usaha yang jelek (haram) kemudian 
kamu infaqkan untuk taat kepada Allah, karena meninggalkan usaha seperti itu 
adalah wajib dan Allah itu thayyib dan tidak mau menerima sesuatu kecuali 
thayyib..."
(Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 7/71-72, lihat Min Washaya Salaf 
hal. 39-41)

Kemudian di dalam mensikapi Ahlul Bait ini ada dua kelompok yang terjerumus ke 
dalam sikap ghuluw. Kelompok yang satu ekstrim kanan dan yang lain ekstrim 
kiri. Dua kelompok tersebut adalah.

1. Nawashib
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Khawarij. Mereka dinamakan demikian 
karena mereka sangat benci kepada Ali dan orang-orang yang sefaham dengan dia, 
bahkan di antara mereka ada yang mengkafirkan Ali dan yang sepaham dengannya.
Kelompok ini terjerumus ke dalam sikap tafrith (kurang) terhadap Ahlul Bait. 
Kesesatan mereka jelas karena mereka melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya 
ynag memerintahkan kaum muslimin untuk mencintai, menghormati dan memuliakan 
Ahlul Bait, dan juga karena mereka menyimpang dari jalan as-salaf as-shalih.

2. Rafidlah
Kelompok yang satu ini terjerumus dalam sikap ifrath (berlebih-lebihan). Di 
antara mereka ada yang menganggap bahwa Ali lebih baik dari pada Abu Bakar dan 
Umar. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa seharusnya wahyu yang dibawa 
Jibril diturunkan kepada Ali (yaitu perkataan mereka: "Yang seharusnya menjadi 
Nabi adalah 'Ali"), bahkan ada lagi yang mengatakan bahwa Ali adalah ilah. Ada 
pula yang mengatakan bahwa ilmu Ahlul Bait sama dengan ilmu Allah kecuali hanya 
berbeda satu huruf dan ucapan-ucapan kufur mereka yang lainnya.
Kelompok yang satu ini lebih jelas lagi kesesatannya. Bahkan sebagian ulama ada 
yang berbendapat bahwa kelompok Rafidlah ini adalah kelompok yang kafir, yang 
keluar dari 72 golongan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
Sallam dalam haditsnya.
Dalam sebuat riwayat dari Muhammad Al-Hanafiyah bahwa dia berkata kepada 
ayahnya yaitu Ali bih Abi Thalib.
"Aku bertanya kepada ayahku: "Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam?" Dia menjawab: "Abu Bakar". Aku bertanya lagi: 
"Kemudian siapa?" Dia menjawab: "Umar" Aku khawatir dia akan menyebut Utsman 
(yang ketiga). Maka aku katakan kemudian engkau?" Dia berkata: "Aku hanyalah 
salah satu dari kaum muslimin." (Bukhari 7/369 no. 3671)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Abdullah bin Saba' mengeluarkan 
kata-kata bahwa Ali adalah Nabi dan Ali adalah Tuhan, maka Ali memerintahkan 
untuk menggali sebuah lobang dan diisi kayu bakar kemudian dinyalakan dengan 
api, lalu dia memerintahkan untuk menangkap Abdullah bin Saba' dan pengikutnya 
kemudian dibakar di lobang yang menyala dengan api itu.
Dua riwayat ini menunjukan bahwa Ali serta Ahlul Bait yang lainnya bersikap 
bara' (berlepas diri) dari Abdullah bin Saba' (pendiri Rafidlah) dan 
pengikutnya dan hal ini sekaligus membongkar kepalsuan Rafidlah dalam pengakuan 
cinta mereka kepada Ahlul Bait. (lihat kepalsuan mereka ini dalam kitab "Syi'ah 
wa Ahlul Bait" oleh Hasan ilahi Dhahir)

Syubhat dan Bantahannya
Syiah Rafidlah menyatakan bahwa Ali dan keturunannya dari Ahlul Bait adalah 
orang-orang yang ma'shum dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
Sallam:
"Wahai para manusia! Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian suatu hal, kalau 
kalian mengambilnya maka kalian tidak akan tersesat (yaitu) Kitabullah dan 
'itrahku, Ahli Baitku."
(HR. Tirmidzi 2/308 dan Thabrani 2680 dan hadits ini shahih dengan syawahidnya. 
Lihat As-Shahihah 4/355, 1761)
Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menggandengkan 
penyebutan kitabullah dan Ahlul Bait yang jika dinilai dalam kaidah ushul fiqih 
dikatakan bahwa:
"Berserikatnya dua hal yang digandengkan dalam masalah hukum tidak bisa 
dinafikan kecuali dengan dalil."
Hal ini berarti Ahlul Bait sama dengan kitabullah dalam hal sebagai sumber 
hukum yang terpelihara dan itu menunjukan bahwa mereka adalah orang-orang yang 
ma'shum.
Kita jawab syubhat ini dengan ucapan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani 
hafidhahullah, beliau menjelaskan: "Bahwasannya yang dimaksud dengan Ahlul Bait 
disini adalah para ulama, orang-orang shalih dan orang-orang yang berpegang 
teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dikalangan mereka (Ahlul Bait).
Al-Imam Abu Ja'far At-Thahawi rahimahullah berkata: "Al-'Itrah adalah Ahlul 
Bait Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yaitu orang yang beragama dan komitmen 
dalam berpegang teguh dengan perintah (Nabi)."
Syaikh Ali Al-Qari juga mengucapkan perkataan senada dengan beliau: 
"Sesungguhnya Ahlul Bait itu pada umumnya adalah orang-orang yang paling 
mengerti tentang shahibul bait (yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa Sallam) dan paling tahu hal ihwalnya maka yang dimaksud dengan Ahlul 
Bait disini adalah Ahlul Ilmi (ulama) di kalangan mereka yang mengerti seluk 
beluk perjalanan hidupnya dan orang-orang yang menempuh jalan hidupnya serta 
orang-orang yang mengetahui hukum-hukum dan hikmahnya. Dengan ini maka 
penyebutan Ahlul Bait dapat digandengkan dengan kitabullah sebagaimana 
firman-Nya:
"... dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah)." (Al-Jumu'ah:2)
Syaikh Al-Albani mengatakan: "dan yang semisalnya, firman Allah Ta'ala tentang 
istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam:
"Dan ingatlah apa yang dibacakan dirumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah 
(sunnah Nabimu)..." (Al-Ahzab: 34)
Maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah orang-orang yang 
berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam di 
kalangan mereka (Ahlul Bait). Mereka itulah yang dimaksud dengan Ahlul Bait 
dalam hadits ini (hadits 'itrah). Dan oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa Sallam menjadikan salah satu dari tsaqalain (dua hal yang berat) 
dalam hadits Zaid bin Arqam (yang telah disebutkan) dan digandengkan dengan 
kitabullah.
Walhasil, penyebutan Ahlul Bait bergandengan dengan kitabullah dalam hadits ini 
sama seperti penyebutan sunnah khulafaurrasyidin beriringan dengan sunnah 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam sabdanya:
"Berbegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin setelahku…"
Syaikh Ali Al-Qari' berkata tentang hadits ini: "Karena mereka 
(Khulafaurrasyidin) tidak beramal kecuali dengan sunnah (rasul), maka 
penyebutan sunnah ini dinisbatkan kepada mereka baik karena mereka mengamalkan 
sunnah Rasul atau karena istimbath mereka terhadap sunnah itu." (Silsilah 
Al-Hadits Ash-Shahihah 4/360-361)

Dari penjelasan Syaikh Al-Albani ini kita dapat mengambil dua kesimpulan yang 
mendasar:

1. Bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini adalah mereka yang mngerti 
sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan perjalanan hidup 
beliau dan orang-orang yang komitmen di dalam berpegang dengannya.
2. Setelah jelas siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait disini maka penyebutan 
mereka bergandengan dengan penyebutan kitabullah itu kedudukannya seperti 
penyebutan sunnah khulafaurrasyidin beriringan dengan sunnah Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sedangkan kita mengetahui bahwa penyebutan 
sunnah mereka beriringan dengan sunnah rasul adalah karena mereka tidak pernah 
beramal, kecuali dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam 
sehingga penisbatan sunnah kepada mereka tidak berarti individu-individu mereka 
itu ma'shum.

Fadlilah Ummahatul Mukminin
Tujuan disebutkannya sub bahasan ini dalam masalah ini karena disamping Syi'ah 
Rafidlah bersikap ghuluw terhadap 'Ali dan anak keturunannya, mereka juga 
mencela, mencerca dan menuduh ummahatul mukminin dengan tuduhan yang keji 
terutama terhadap 'Aisyah radliallahu 'anha. Bukan rahasia lagi bahwa tujuan 
mereka menuduh 'Aisyah dengan tuduhan-tuduhan yang keji tidak lain adalah untuk 
melenyapkan syariat agama ini. Kenapa demikian? Karena 'Aisyah adalah istri 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan termasuk kategori shahabat yang paling 
banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, 
sehingga jika mereka mencela, mencerca dan menuduh 'Aisyah dengan 
tuduhan-tuduhan yang keji maka secara tidak langsung riwayat-riwayat yang 
beliau bawa juga akan tercela dan pasti ditolak dan dibuang.

Dalam bahasan ini kita hanya menyebutkan fadlilah 'Aisyah dan Khadijah 
radliallahu 'anhuma saja.

Fadlilah Khadijah radliallahu 'anha
Dari 'Ali bin Abi Thalib radliallahu 'anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa Sallam :
"Sebaik-baik wanita (mereka) adalah Maryam binti 'Imran dan sebaik-baik wanita 
(kita) adalah Khadijah binti Khuwalid." Berkata Abu Kuraib: "Waki' (perawi 
hadits) mengisyaratkan ke langit dan bumi." (Bukhari 7/165, 3810, Muslim 
15/194, 6221, Tirmidzi 5/468, 3903, Ahmad 1/84 dan Al-Lalika'I 2742)
Imam An-Nawai menjelaskan: "Maksudnya adalah bahwa masing-masing dari Maryam 
binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid adalah wanita terbaik di muka bumi ini 
pada jamannya." (Syarah Muslim 15/194)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla dan Jibril 
mengucapkan salam kepada beliau radliallahu 'anha. (Bukhari 7/166, 3820, dan 
Muslim 15/195, 6223)

Fadlilah 'Aisyah radliallahu 'anha
Allah berfirman dalam kitab-Nya menjelaskan tentang kesucian 'Aisyah dari 
tuduhan kaum munafik dan disebutkan dalam sepuluh ayat di surat An-Nur, Allah 
berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah segolongan 
diantara kalian. Janganlah kamu kita bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu 
bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat 
balasan dari dosa yang dikerjakannya dan siapa diantara mereka yang mengambil 
bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar…" 
(An-Nur: 11-20)
Ibnu Katsir rahimahullah menejelaskan dalam tafsirnya 3/359: "Sepuluh ayat ini 
semuanya berkenaan tentang 'Aisyah radliallahu 'anha ketika dituduh oleh 
orang-orang munafik dengan tuduhan-tuduhan keji dan dusta. Maka Allah 
menurunkan pensuciannya untuk menjaga kehormatan Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
Sallam".
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa 'Aisyah diberi salam oleh Jibril alaihis 
salam. (Bukhari 7/133, Muslim 15/207, 6251, Tirmidzi 5/470/471, 3907, Abu Dawud 
5232, Ibnu Majah 3696, An-Nasai dalam Usratun Nisaa 3964 dan Al-Lalika'I 2749)

Catatan Penting

1. Para ulama berselisih tentang siapa yang lebih afdlal (utama) di antara 
'Aisyan dan Khadijan. Ada yang mengatakan bahwa 'Aisyah lebih utama dari 
Khadijah dan ada juga yang mengatakan bahwa Khadijah lebih afdlal dari 'Aisyah. 
Tetapi pendapat yang lebih rajih (kuat) adalah sebagaimana yang dikatakan oleh 
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di di dalam kitabnya At-Tanbihat Al-Lathifah hal. 95, 
beliau mengatakan: "Yang benar adalah bahwa keduanya masing-masing mempunya 
fadhilah yang tidak dipunyai yang lainnya, Khadijah mempunyai fadlilah yang 
tidak dimiliki oleh 'Aisyah demikian juga 'Aisyah dia memiliki fadlilah yang 
tidak dimiliki oleh Khadijah."
2. Para ulama telah bersepakat bahwa orang-orang yang menuduh 'Aisyah dengan 
tuduhan keji padahal beliau telah disucikan dari tuduhan tersebut maka dia 
adalah orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena dia telah 
mendustakan Al-Qur'an tetapi para ulama berikhtilaf tentang orang yang menuduh 
Ummahatul Mukminin selain 'Aisyah. Tetapi pendapat yang rajih adalah bahwa 
orang itu kafir karena dia telah merusak dan menodai Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa Sallam sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih 
Al-'Utsaimin dalam kitabnya Syarah Lum'atul I'tiqad hal. 152-155.

Inilah pembahasan sekilas tentang Ahlul Bait dan bagaimana sikap salaf terhadap 
mereka ditambah dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan oleh 
Rafidlah. Untuk lebih lanjut mengetahui bantahan-bantahan para ulama terhadap 
syubhat-syubhat mereka dapat dilihat dalam kitab Minhajus Sunnah oleh Syaikhul 
Islam Ibnu Taimiyyah. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan di dalam 
berbegang kepada manhaj nubuwwah sampai akhir hayat kita. Amiin ya Rabbal 
'Alamin. Wallahu A'lam bish-Showab.

Maraji':

1. Ad-Durrul Mantsur, Imam Jamaluddin As-Suyuthi.
2. Adlwaul Bayan, Syaikh Muhammad Amin As-Syanqithi.
3. Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, Imam Abul Qasim Al-Ashbahani.
4. Al-Jami' lil Ahkamil Qur'an, Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi.
5. As'ilah wa Ajwibah alal 'Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Abdul Aziz Muhammad 
As-Salman.
6. At-Tanbihat Al-Lathifah, Syaikh Abdurrahman As-Sa'di.
7. Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani.
8. Jami'ul Bayan, Imam Ibnu Jarir At-Thabari.
9. Ma'arijul Qabul, Syaikh Hafiz bin Ahmad Hakami
10.Min Washaya As-Salaf, Syaikh Salim Al-Hilali
11.Mudlarat Saniyah, Syaikh Muhammad Al-'Utsaimin.
12.Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
13.Sunan At-Tirmidzi, Imam Abu Isa At-Tirmidzi.
14.Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih Fauzan.
15.Syarah Al-'Aqidah At-Thahawiyah, Imam Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi, tahqiq 
Al-Albani
16.Syarah Lum'atul I'tiqad, Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin.
17.Syarah Shahih Muslim, Imam Syarafuddin An-Nawawi.
18.Syarah Ushul I'tiqad, Imam Al-Lalika'i.
19.Tafsir Al-Mawardi, Imam Abul Hasan Al-Mawardi Al-Basri.
20.Tafsir Ibnu Katsir, Abu Fida Ibnu Katsir Ad-Dimasyqy.
21.Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman As-Sa'di.
22.Ta'liq 'alal 'Aqidah Al-Wasithiyyah, oleh Syaikh Muhammad Al-'Utsaimin.
23.'Ulumul Qur'an, Manna' Al-Qattan.
24.Zubdatut Tafsir, DR. Sulaiman Al-'Asqar.

Sumber : Majalah Salafy edisi VIII/Rabi'ul Awal/1417/1996 hal. 39-47
Judul Artikel : Kecintaan Salaf Terhadap Ahlul Bait
Oleh : Ibnu Hudzaifah As-Sidawiy



Naufal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

----- Original Message -----
From: "Hafid Baradja" <[EMAIL PROTECTED]>

> Assalaamualaikum Para Ikwan semua,

Wa'alaykumussalam warahmatullahiwabarakatuh

>
> Wassalam,
>
> Hafid


____________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke