Ketika kaum muslimin, terkhusus para aktivisnya, telah menjauhi dan 
meninggalkan metode dan cara yang ditempuh oleh para nabi dan generasi Salaful 
Ummah di dalam mengatasi problematika umat dalam upaya mewujudkan Daulah 
Islamiyyah, tak pelak lagi mereka akan mengikuti ra'yu dan hawa nafsu. Karena 
tidak ada lagi setelah Al-Haq yang datang dari Allah Ta'ala dan Rasul-Nya n 
serta Salaful Ummah, kecuali kesesatan.
Sebagaimana firman Allah:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ
"Maka apakah setelah Al Haq itu kecuali kesesatan?" (Yunus: 32)

Dengan cara yang mereka tempuh ini, justru mengantarkan umat ini kepada 
kehancuran dan perpecahan, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا  
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ  
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutlah 
dia, dan janganlah kalian mengikuti As-Subul (jalan-jalan yang lain), karena 
jalan-jalan itu menyebabkan kalian tercerai berai dari jalan-Nya. Yang demikian 
itu diperintahkan Allah Ta'ala kepadamu agar kalian bertaqwa." (Al-An'am: 153)

Diantara cara-cara sesat yang mereka tempuh antara lain:
1. Penyelesaian problem umat melalui jalur politik dengan ikut terjun langsung 
atau tidak langsung dalam panggung politik dengan berbagai macam alasan untuk 
membenarkan tindakan mereka.

Diantara mereka ada yang beralasan bahwa tidak mungkin Daulah Islamiyyah akan 
terwujud kecuali dengan cara merebut kekuasaan melalui jalur politik, yaitu 
dengan memperbanyak perolehan suara dukungan dan kursi jabatan dalam 
pemerintahan. Sehingga dengan banyaknya dukungan dan kursi di pemerintahan, 
syariat Islam bisa diterapkan. Walaupun  dalam pelaksanaannya, mereka rela 
untuk mengadopsi dan menerapkan sistem politik Barat (kufur) yang bertolak 
belakang seratus delapan puluh derajat dengan Islam.

Mereka sanggup untuk berdusta dengan menyebarkan isu-isu negatif terhadap lawan 
politiknya. Bila perlu, merekapun sanggup untuk mencampakkan prinsip-prisip 
Islam yang paling utama dalam rangka untuk memuluskan ambisi mereka, baik 
melalui acara 'kontrak politik' atau yang semisalnya.(1) Bahkan tidak jarang 
merekapun sanggup untuk berdusta atas nama Ulama Ahlus Sunnah dengan mencuplik 
fatwa-fatwa para ulama tersebut dan mengaplikasikannya tidak pada tempatnya. 
Cara ini lebih banyak dipraktekkan oleh kelompok Al-Ikhwanul Muslimun.

Sebagian kelompok lagi beralasan bahwa melalui politik ini akan bisa 
direalisasikan amar ma'ruf nahi munkar kepada penguasa, yaitu dengan menekan 
dan memaksa mereka menerapkan hukum syariat Islam dan meninggalkan segala hukum 
selain hukum Islam.
Walaupun sepintas lalu mereka tampak 'menghindarkan diri' untuk terjun langsung 
ke panggung politik demokrasi seperti halnya kelompok pertama, namun ternyata 
mereka menerapkan cara-cara Khawarij di dalam melaksanakan aktivitas 
politiknya. Yaitu melalui berbagai macam orasi politik yang penuh dengan 
provokasi, atau dengan berbagai aksi demonstrasi dengan menggiring anak 
muda-mudi sebagaimana digiringnya gerombolan kambing oleh penggembalanya.

Kemudian mereka menamakan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan kritik 
dan kontrol serta koreksi terhadap penguasa, atau terkadang mereka 
mengistilahkannya dengan amar ma'ruf nahi munkar. Yang ternyata tindakan mereka 
tersebut justru mendatangkan kehinaan bagi kaum muslimin serta ketidakstabilan 
bagi kehidupan umat Islam, baik sebagai pribadi muslim ataupun sebagai warga 
negara di banyak negeri. Dengan ini, semakin pupuslah harapan terwujudnya 
Daulah Islamiyyah. Cara ini lebih banyak dimainkan oleh kelompok Hizbut Tahrir.

Maka Ahlus Sunnah menyatakan kepada mereka, baik kelompok Al-Ikhwanul Muslimun 
ataupun Hizbut Tahrir serta semua pihak yang menempuh cara mereka, tunjukkan 
kepada umat ini satu saja Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian wujudkan 
dengan cara yang kalian tempuh sepanjang sejarah kelompok kalian. Di Mesir 
kalian telah gagal total, bahkan harus ditebus dengan dieksekusinya tokoh-tokoh 
kalian di tiang gantungan atau ditembak mati, dan semakin suramnya nasib 
dakwah. Di Al-Jazair pun ternyata juga pupus bahkan berakhir dengan pertumpahan 
darah dan perpecahan.

Atau mungkin kalian akan menyebut Sudan, sebagai Daulah Islamiyyah yang 
berhasil kalian dirikan, dimana kalian berhasil dalam Pemilu di negeri 
tersebut. Namun apa yang terjadi setelah itu…? Wakil Presidennya adalah seorang 
Nashrani, lebih dari 10 orang menteri di kabinet adalah Nashrani. Atau mungkin 
kalian menganggap itu sebagai kesuksesan di panggung politik di negeri Sudan, 
ketika kalian berhasil 'mengorbitkan' salah satu pembesar kalian di negeri 
tersebut dan memegang salah satu tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri itu, 
yaitu Hasan At-Turabi. Apakah orang seperti dia yang kalian banggakan, orang 
yang berakidah dan berpemikiran sesat?! Simak salah satu ucapan dia: "Aku ingin 
berkata bahwa dalam lingkup daulah yang satu dan perjanjian yang satu, boleh 
bagi seorang muslim -sebagaimana boleh pula bagi seorang  Nashrani- untuk 
mengganti agamanya."(2)

Kami pun mengatakan kepada kelompok Hizbut Tahrir dengan pernyataan yang sama. 
Bagaimana Allah akan memberikan keberhasilan kepada kalian sementara kalian 
menempuh cara-cara Khawarij yang telah dikecam keras oleh Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wassalam dalam sekian banyak haditsnya?

Dimana prinsip dan dakwah kalian -wahai Hizbut Tahrir- dibanding manhaj yang 
diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam dalam menyampaikan 
nasehat kepada penguasa, sebagaimana hadits beliau, dari shahabat 'Iyadh bin 
Ghunm: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانِ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً،  
وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ  فَذَاكَ، 
وَإِلاَّ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
"Barangsiapa yang hendak menasehati seorang penguasa, maka jangan dilakukan 
secara terang-terangan (di tempat umum atau terbuka dan yang semisalnya, pent). 
Namun hendaknya dia sampaikan kepadanya secara pribadi, jika ia (penguasa itu) 
menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak mau 
menerimanya maka berarti ia telah  menunaikan kewajibannya." (HR. Ahmad, Ibnu 
Abi 'Ashim, Al-Baihaqi. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani di dalam 
Zhilalul Jannah hadits no. 1096)

2. Jenis cara batil yang kedua adalah melalui tindakan atau gerakan 
kudeta/revolusi terhadap penguasa yang sah, dengan alasan mereka telah kafir 
karena tidak menerapkan hukum/syariat Islam dalam praktek kenegaraannya. 
Kelompok pergerakan ini cenderung menamakan tindakan teror dan kudeta yang 
mereka lakukan dengan nama jihad, yang pada  hakekatnya justru tindakan 
tersebut membuat kabur dan tercemarnya nama harum jihad itu sendiri. Mereka 
melakukan pengeboman di tempat-tempat umum sehingga tak pelak lagi warga sipil 
menjadi korban. Bahkan tak jarang di tengah-tengah mereka didapati sebagian 
umat Islam yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa. Cara-cara seperti 
ini lebih banyak diperankan oleh kelompok-kelompok radikal semacam Jamaah 
Islamiyyah, demikian juga Usamah bin Laden -salah satu tokoh Khawarij masa 
kini- dengan Al-Qaeda-nya beserta para pengikutnya dari kalangan pemuda yang 
tidak memiliki bekal ilmu syar'i dan cenderung melandasi sikapnya di atas 
emosi. Cara-cara yang mereka lakukan ini merupakan salah satu bentuk pengaruh 
pemikiran-pemikiran sesat dari tokoh-tokoh mereka, seperti:
a. Abul A'la Al-Maududi, dimana dia menyatakan: "…Mungkin telah jelas bagi anda 
semua dari tulisan-tulisan dan risalah-risalah kita bahwa tujuan kita yang 
paling tinggi yang kita perjuangkan adalah: MENGADAKAN GERAKAN PENGGULINGAN 
KEPEMIMPINAN. Dan yang saya maksudkan dengan itu adalah untuk membersihkan 
dunia ini dari kekotoran para pemimpin yang fasiq dan jahat. Dan dengan itu 
kita bisa menegakkan imamah yang baik dan terbimbing. Itulah usaha dan 
perjuangan yang bisa menyampaikan ke sana. Itu adalah cara yang lebih berhasil 
untuk mencapai keridhaan  Allah dan mengharapkan wajah-Nya yang mulia di dunia 
dan akhirat." (Al-Ushusul Akhlaqiyyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 16)

Al-Maududi juga berkata: "Kalau seseorang ingin membersihkan bumi ini dan 
menukar kejahatan dengan kebaikan… tidak cukup bagi mereka hanya dengan 
berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan dan mengagungkan ketakwaan kepada 
Allah serta menyuruh mereka untuk berakhlak mulia. Tapi mereka harus 
mengumpulkan beberapa unsur (kekuatan) manusia yang shalih sebanyak mungkin, 
kemudian dibentuk (sebagai suatu kekuatan) untuk merebut kepemimpinan dunia 
dari orang-orang yang kini sedang memegangnya dan mengadakan revolusi." 
(Al-Ususul Akhlaqiyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 17-18)

b. Sayyid Quthb. Pernyataan Sayyid Quthb dalam beberapa karyanya yang 
mengarahkan dan menggiring umat ini untuk menyikap lingkungan dan masyarakat 
serta pemerintahan muslim sebagai lingkungan, masyarakat, dan pemerintahan yang 
kafir dan jahiliyah. Pemikiran ini berujung kepada tindakan kudeta dan 
penggulingan kekuasaan sebagai bentuk metode  penyelesaian problema umat demi 
terwujudnya Khilafah Islamiyyah.
Metode berpikir seperti tersebut di atas disuarakan pula oleh tokoh-tokoh 
mereka yang lainnya seperti Sa'id Hawwa, Abdullah 'Azzam, Salman Al-'Audah, DR. 
Safar Al-Hawali, dan lain-lain.(3)

Buku-buku dan karya-karya mereka telah tersebar luas di negeri ini, yang cukup 
punya andil besar dalam menggiring para pemuda khususnya untuk berpemikiran 
radikal serta memilih cara-cara kekerasan untuk mengatasi problematika umat ini 
dan menggapai angan yang mereka canangkan. Maka wajib bagi semua pihak dari 
kalangan muslimin untuk  berhati-hati dan tidak mengkonsumsi buku fitnah karya 
tokoh-tokoh Khawarij.

Demikian juga buku-buku kelompok Syi'ah Rafidhah yang juga syarat dengan 
berbagai provokasi kepada umat ini untuk melakukan berbagai aksi dan tindakan 
teror terhadap penguasa. Mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan taufiq-Nya 
kepada pemerintah kita agar mereka bisa mencegah peredaran buku-buku sesat dan 
menyesatkan tersebut di tengah-tengah umat, demi terwujudnya stabilitas 
keamanan umat Islam di negeri ini.

Khilafah Islamiyyah bukan Tujuan Utama Dakwah para Nabi
Dari penjelasan-penjelasan di atas jelas bagi kita, bahwa banyak dari kalangan 
aktivis pergerakan-pergerakan Islam yang menyatakan bahwa permasalahan Daulah 
Islamiyyah merupakan permasalahan yang penting, bahkan terpenting dalam masalah 
agama dan kehidupan.

Dari situ muncul beberapa pertanyaan besar yang harus diketahui jawabannya oleh 
setiap muslim, yaitu: Apakah penegakan Daulah Islamiyyah adalah fardhu 'ain 
(kewajiban atas setiap pribadi muslim) yang harus dipusatkan atau 
dikosentrasikan pikiran, waktu, dan tenaga umat ini untuk mewujudkannya?
Kemudian: Benarkah bahwa tujuan utama dakwah para nabi adalah penegakan Daulah 
Islamiyyah?

Maka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, mari kita simak 
penjelasan para ulama besar Islam berikut ini.
Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardi berkata di dalam kitabnya Al-Ahkam 
As-Sulthaniyah: "…Jika telah pasti tentang wajibnya (penegakan) Al-Imamah 
(kepemerintahan/kepemimpinan) maka tingkat kewajibannya adalah fardhu kifayah, 
seperti kewajiban jihad dan menuntut ilmu." Sebelumnya beliau juga berkata: 
"Al-Imamah ditegakkan sebagai sarana  untuk melanjutkan khilafatun nubuwwah 
dalam rangka menjaga agama dan pengaturan urusan dunia yang penegakannya adalah 
wajib secara ijma', bagi pihak yang berwenang dalam urusan tersebut." (Al-Ahkam 
 As-Sulthaniyah, hal. 5-6)

Imamul Haramain menyatakan bahwa permasalahan Al-Imamah merupakan jenis 
permasalahan furu'. (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 5-6)

Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali berkata: "Maka anda melihat pernyataan 
mereka (para ulama) tentang permasalahan Al-Imamah bahwasanya ia tergolong 
permasalahan furu', tidak lebih sebatas wasilah (sarana) yang berfungsi sebagai 
pelindung terhadap agama dan politik (di) dunia, yang dalil tentang 
kewajibannya masih diperselisihkan apakah dalil 'aqli ataukah dalil syar'i…. 
Bagaimanapun, jenis permasalahan yang seperti ini kondisinya, yang masih 
diperselisihkan tentang posisi dalil yang mewajibkannya, bagaimana mungkin bisa 
dikatakan bahwa masalah Al-Imamah ini merupakan puncak tujuan agama yang paling 
hakiki?"

Demikian jawaban dari pertanyaan pertama. Adapun jawaban untuk pertanyaan 
kedua, mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :
"Sesungguhnya pihak-pihak yang berpendapat bahwa permasalahan Al-Imamah 
merupakan satu tuntutan yang paling penting dalam hukum Islam dan merupakan 
permasalahan umat yang paling utama (mulia) adalah suatu kedustaan berdasarkan 
ijma' (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun dari 
kalangan Syi'ah (itu sendiri). Bahkan pendapat tersebut terkategorikan sebagai 
suatu kekufuran, sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah 
permasalahan yang jauh lebih penting daripada permasalahan Al-Imamah. Hal ini 
merupakan permasalahan yang diketahui secara pasti dalam dienul Islam." 
(Minhajus  Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)
Kemudian beliau melanjutkan:
"…Kalau (seandainya) demikian (yakni kalau seandainya Al-Imamah merupakan 
tujuan utama dakwah para nabi, pent), maka (mestinya) wajib atas Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wassalam untuk menjelaskan (hal ini) kepada umatnya 
sepeninggal beliau, sebagaimana beliau telah menjelaskan kepada umat ini 
tentang permasalahan shalat, shaum (puasa), zakat, haji, dan telah menentukan 
perkara iman dan tauhid kepada Allah Ta'ala serta iman pada hari akhir. Dan 
suatu hal yang diketahui bahwa penjelasan tentang Al-Imamah di dalam Al Qur'an 
dan As Sunnah tidak seperti penjelasan tentang perkara-perkara ushul (prinsip) 
tersebut… Dan juga tentunya Diantara perkara yang diketahui bahwa suatu 
tuntutan terpenting dalam agama ini, maka penjelasannya di dalam Al Qur'an akan 
jauh lebih besar dibandingkan masalah-masalah lain. Demikian juga penjelasan 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam terntang  permasalahan (Al-Imamah) 
tersebut akan lebih diutamakan dibandingkan permasalahan-permasalahan lainnya. 
Sementara Al Qur'an dipenuhi dengan penyebutan (dalil-dalil) tentang tauhid 
kepada Allah Ta'ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta tanda-tanda 
kebesaran-Nya, tentang (iman) kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, 
para rasul-Nya, dan hari akhir. Dan tentang kisah-kisah (umat terdahulu), 
tentang perintah dan larangan, hukum-hukum had dan warisan. Sangat berbeda 
sekali dengan permasalahan Al-Imamah. Bagaimana mungkin Al Qur'an akan dipenuhi 
dengan selain permasalahan-permasalahan yang penting dan mulia?" (Minhajus 
Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)

Setelah kita membaca penjelasan ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas, 
lalu coba kita bandingkan dengan ucapan Al-Maududi, yang menyatakan bahwa:
1. Permasalahan Al-Imamah adalah inti permasalahan dalam kehidupan kemanusiaan 
dan merupakan pokok dasar dan paling mendasar.
2. Puncak tujuan agama yang paling hakiki adalah penegakan struktur Al-Imamah 
(kepemerintahan) yang shalihah dan rasyidah.
3. (Permasalahan Al-Imamah) adalah tujuan utama tugas para nabi.

Menanggapi hal itu, Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah 
berkata: "Sesungguhnya permasalahan yang terpenting adalah permasalahan yang 
dibawa oleh seluruh para nabi -alaihimush shalatu was salaam-  yaitu 
permasalahan tauhid dan iman, sebagaimana telah Allah simpulkan dalam 
firman-Nya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ 
وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
"Dan sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap umat seorang rasul (dengan 
tugas menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah (saja) dan jauhilah oleh kalian 
thagut." (An-Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ 
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
"Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rasul-pun kecuali pasti kami wahyukan 
kepadanya: Sesungguhnya tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Aku, maka 
beribadahlah kalian semuanya (hanya) kepada-Ku." (Al-Anbiya': 25)

وَلَقَدْ أُوْحَي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ  أَشْرَكْتَ 
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
"Sungguh telah kami wahyukan kepadamu dan kepada (para nabi) yang sebelummu 
(bahwa) jika engkau berbuat syirik niscaya akan batal seluruh amalanmu dan 
niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)

Inilah permasalahan yang terpenting yang karenanya terjadi permusuhan antara 
para nabi dengan umat mereka, dan karenanya ditenggelamkan pihak-pihak yang 
telah ditenggelamkan… Dan sesungguhnya puncak tujuan agama yang paling hakiki 
dan tujuan penciptaan jin dan manusia, serta tujuan diutusnya para Rasul, dan 
diturunkannya kitab-kitab suci adalah peribadatan kepada Allah (tauhid), serta 
pemurnian agama hanya untuk-Nya… Sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُيْنِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah 
kepada-Ku." (Adz-Dzariyat: 56)

الر، كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيْمٍ  
خَبِيْرٍ. أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ  نَذِيْرٌ 
وَبَشِيْرٌ
"Aliif Laam Raa. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi 
serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha 
Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah. 
Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira 
kepadamu daripada-Nya." (Hud: 1-2)

Demikian tulisan ini kami sajikan sebagai bentuk nasehat bagi seluruh kaum 
muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Footnote :
1. Untuk lebih jelasnya tentang berbagai sepak terjang mereka yang  menyimpang 
dalam politik, pembaca bisa membaca kitab Madarikun Nazhar fi As-Siyasah karya 
Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani; dan kitab Tanwiiruzh Zhulumat bi Kasyfi 
Mafasidi wa Syubuhati Al-Intikhabaat oleh Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin 
Abdullah Al-Imam.
2. Ucapan ini dinyatakan di Universitas Khurthum, seperti dinukil oleh Ahmad 
bin Malik dalam Ash-Sharimul Maslul fi Raddi 'ala At-Turabi Syaatimir Rasul, 
hal 12.
3. Tiga tokoh terakhir ini yang banyak berpengaruh dan sangat dikagumi oleh 
seorang teroris muda berasal dari Indonesia, bernama Imam Samudra.



_Abu abdirrahman bin misdi al-carati

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke