KERANCUAN PARA AKTIVIS HARAKAH
Ditulis Oleh: Abdurrahman Thayyib Lc

KERANCUAN PARA AKTIVIS HARAKAH


Beberapa kali dilontarkan kepada kami sebuah syubhat (kerancuan) dari para aktivis harokah yang selalu mengembar-ngemborkan jihad dengan senjata melawan Amerika dan sekutu-sekutunya serta untuk memberontak pemerintah. Syubhat yang mereka kira sebuah dalil qoth'i yang setara dengan Al-Qur'an dan sunnah, bahkan mungkin lebih dari itu. Mereka kumandangkan syubhat itu untuk menguatkan ambisi mereka mengajak umat berbondong-bondong keluar berjihad dengan senjata mengikuti pemimpin-peminpin gerakan bawah tanah mereka, tanpa mau menoleh lagi kepada para ulama yang darah dan dagingnya bersatu dengan ilmu agama ini. Bahkan mereka tidak segan-segan lagi menuding para ulama robbaniyyin sebagai antek-antek yahudi dan menuduh para pembawa bendera syariat, pewaris para nabi sebagai pengembos jihad.

"Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta." (QS. Al-Kahfi : 5).

Syubhat yang selalu mereka bawa adalah ucapan ulama salaf yang mereka tidak memahaminya dengan benar, yang mereka anggap dapat menguatkan pemikiran sesat mereka. Memang begitulah adat dan kebiasaan ahli bid'ah dan kelompok-kelompok sesat, mereka mengambil dalil yang sekiranya (secara sepintas) bisa melegalkan kesesatan mereka, tapi meninggalkan dalil-dalil yang lebih jelas dari matahari di siang bolong. Simaklah kerancuan mereka dan jawaban kami berikut ini dengan mata dan hati yang terbuka ! Semoga Allah menguatkan yang hak dan membasmi yang batil.


-Syubhat harokah :

Kita harus kembali kepada para mujahid yang turun dimedan perang dalam permasalahan agama bukan kepada para ulama yang hanya bisa berfatwa di masjid-masjid, karena ulama salaf seperti Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hambal dan Sufyan bin Uyainah pernah berkata :

"Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka. Allah ta ala berfirman yang artinya " Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69)

(Lihat "Majmu' fatawa" oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 28/442 dan tafsir Al-Qurthubi 13/325 tentang ayat diatas).


- Jawaban atas kerancuan harokah :

Secara sepintas orang yang membaca dan mendengar syubhat mereka ini akan takjub dan mengacungkan jempol. Tapi marilah kita cermati bersama apa maksud ucapan ulama salaf tersebut. Apakah yang dimaksud dengan mujahidin dan ahli tsughur ? dan bagaimana penafsiran para mufassirin tentang ayat diatas ? apakah sesuai dengan yang mereka inginkan ?

Inilah jawabannya :


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika membawakan ucapan Abdullah bin Mubarok dan Imam Ahmad serta Sufyan bin Uyainah tersebut, dalam rangka pembahasan masalah tawakkal dan sabar yang amat dibutuhkan oleh setiap orang, terutama bagi yang ingin berjihad (mengangkat senjata). Kedua hal tersebut termasuk dalam bagian jihadnya seorang hamba terhadap hawa nafsunya.(1) Inilah teks ucapan beliau : " Allah ta'ala berfirman :

"Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS.Al-Ahzab : 2-3)


Allah memerintahkan untuk mengikuti apa yang telah diwahyukan-Nya dari Al-Qur'an maupun sunnah dan agar bertawakkal kepada-Nya. Yang pertama berkaitan dengan "hanya kepada Engkaulah kami beribadah" dan yang kedua berkaitan dengan "hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". Hal ini serupa dengan ayat yang lainnya

Artinya : "Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya" (QS. Huud : 123) dan () Artinya : "Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS. Huud : 88).


Hal ini meskipun diperintahkan dalam segala keadaan, namun hal tersebut lebih ditekankan lagi pada waktu jihad (mengangkat senjata-pent) dikarenakan perlu untuk memerangi orang-orang kafir dan munafik. Dan hal tersebut tidak bisa sempurna kecuali dengan pertolongan (kekuatan) dari Allah. Oleh karenanya, jihad merupakan tulang punggung amal yang terkumpul didalamnya semua puncak amal perbuatan. Didalamnya juga terdapat puncak kecintaaan (kepada Allah-pent), sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta ala :

"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." (QS. Al-Maidah : 54).
Didalamnya juga terdapat puncak tawakkal dan kesabaran, karena seorang yang berjihad adalah orang yang paling membutuhkan kesabaran dan tawakkal. Oleh karena itu Allah berfirman :

"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal." (QS. An-Nahl : 41-42)

dan "Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa"." (QS. Al-A'raaf : 128)


Oleh karena itulah, kesabaran dan keyakinan yang merupakan dasal tawakkal mengharuskan terciptanya kepemimpinan dalam agama, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya :

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. " (QS. As-Sajdah : 24)



Dan oleh karenanya, jihad menghasilkan hidayah yang meliputi segala pintu ilmu, seperti yang telah Allah firmankan :

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69).


Karenanyalah, berkata dua orang imam Abdullah bin Mubarok dan Ahmad bin Hambal dan selain keduanya : "Apabila manusia berselisih dalam suatu perkara maka kembalilah engkau kepada ahli tsaghor, karena kebenaran ada bersama mereka. Allah ta'ala berfirman yang artinya :

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69)

(Lihat "Majmu' fatawa" 28/441-442)


Dari ucapan Syaikhul Islam ini ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran berharga, diantaranya :

A. Wajibnya mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah dalam segala keadaan

B. Wajibnya tawakkal kepada Allah dan menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya.

C. Wajibnya melewati tahapan-tahapan jihad sebelum tahapan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata, seperti tawakkal dan sabar yang merupakan jihad terhadap hawa nafsu yang terbagi menjadi empat tingkatan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim diatas.


Maka jelas bagi kita bahwa yang dimaksudkan oleh para ulama salaf tersebut dengan ucapan mereka "Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsugur…." adalah :

Orang-orang yang telah sukses melewati tahapan-tahapan jihad (jihad melawan hawa nafsu) yaitu para ulama Robbaniyyin(2) dan bukan orang-orang yang di medan perang seperti anggapan mereka,

sebagaimana hal ini dikuatkan oleh :

1- Imam Qurthubi ketika menafsirkan ayat 69 dalam surat Al-Ankabut diatas berkata :

"Maksudnya memerangi orang-orang kafir (3) dijalan kami, yaitu dalam mencari keridhoan kami, As-Sudi dan selainnya berkata : "Ayat ini turun sebelum turunnya kewajiban berperang (mengangkat senjata-pent)".

Ibnu Athiyah berkata :

"Ayat ini turun sebelum adanya jihad (mengangkat senjata-pent), dan sebenarnya ayat ini umum dalam agama Allah dan dalam mencari keridhoan-Nya."

Berkata Hasan bin Abil Hasan :

"Ayat ini untuk ahli ibadah".

Ibnu Abbas dan Ibrahim bin Adham (4) berkata :

"Ayat ini diperuntukkan bagi mereka yang beramal dengan ilmu"….

Abu Sulaiman Ad-Daarooni berkata :

"Jihad yang dimaksud oleh ayat tersebut bukanlah perang melawan orang-orang kafir saja, tapi maksudnya menolong agama, membantah orang-orang yang batil/sesat, membasmi orang-orang yang zalim dan puncaknya adalah amar ma'ruf nahi mungkar. Dan termasuk juga, melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah yang merupakan jihad terbesar"(5)….."


2- Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat tersebut :

"Mereka adalah orang-orang yang beramal dengan ilmu, maka Allah memberi hidayah kepada mereka terhadap hal yang tidak mereka ketahui.

Abu Sulaiman Ad-Daarooni berkata :

"Tidak selayaknya bagi yang diberi ilham akan suatu kebaikan untuk dia mengamalkannya sampai dia mendengar atsar (riwayat dari Nabi atau para salaf-pent). Jika dia sudah mendengar atsar, maka bolehlah dia mengamalkannya dan memuji Allah, sehingga hal tersebut mencocoki apa yang ada dalam dirinya" (Tafsir Qur'anil 'Adzim 3/555).


3- Syaikh Abdurrohman As-Sa'di berkata tentang tafsir ayat diatas :

"Mereka adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah dan memerangi musuh-musuh-Nya serta mengerahkan segala kekuatan untuk mencari keridhoan-Nya"

dan beliau berkata :

"Ayat ini menunjukkan bahwa manusia yang lebih berhak dengan kebenaran adalah ahli jihad (tapi jangan tergesa-gesa dahulu, apa maksud Syaikh dengan jihad disini ? -pent). Ayat ini juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang melaksanakan perintah Allah dengan baik, maka Allah akan menolong dan memudahkan jalannya mendapat hidayah. Dan ayat ini juga menerangkan bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama, maka dia akan mendapatkan hidayah serta pertolongan dalam menggapai harapannya yang diluar kekuatannya serta dipermudah mendapatkan ilmu. Karena sesungguhnya menuntut ilmu agama termasuk jihad fii sabilillah, bahkan dia termasuk salah satu bentuk jihad yang tidak dapat dilaksanakan kecuali oleh orang-orang khusus. Bentuk-bentuk jihad itu adalah jihad dengan ucapan lisan melawan orang-orang kafir dan munafik serta jihad dalam mengajarkan ilmu agama serta membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran meskipun mereka adalah muslimin." (Tafsir Al-kariimir Rohman hal.747)


4- Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-'Abbad -hafidzahullahu- berkata :

"Jihad melawan hawa nafsu merupakan pondasi jihad, yang dengannya seorang hamba bisa menggapai hidayah dan bisa menang terhadap para musuh, Allah ta'ala berfirman :

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69).

Al-'Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata :

"Allah mengkaitkan hidayah dengan jihad, maka orang yang sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah jihad melawan diri sendiri, hawa nafsu, setan dan dunia. Barangsiapa yang berjihad diatas empat tahapan ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah untuk mencapai keridhoan-Nya hingga sampai kesurga-Nya. Barangsiapa yang meninggalkan jihad maka sirnalah hidayah sesuai dengan kadarnya."

Berkata Junaid :

"Dan orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsunya dijalan Kami dengan bertaubat, maka sungguh Kami akan menunjukkan jalan-jalan keikhlasan". (Al-Fawaaid hal.109 dan Al-quthuuful Jiyaad min hikami wa ahkaamil jihaad hal.8)


5- Ayat Al-Qur'an yang berbunyi :

"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. Al-Anbiya' : 7 dan An-Nahl : 43)

Syaikh Abdurrohman As-Sa'di berkata tentang ayat ini :

"Keumuman ayat ini menjelaskan akan pujian terhadap para ahli ilmu dan yang tertinggi adalah ilmu tentang Al-Qur'an, karena Allah memerintahkan kepada yang tidak tahu untuk kembali kepada para ahli ilmu/ulama dalam setiap kejadian. Hal ini juga mengandung pengertian akan adanya rekomendasi bagi para ulama yang dijadikan sebagai rujukan dalam bertanya. Dan orang jahil tidak termasuk dalam hal ini."

Beliau juga mengatakan :

"Didalam pengkhususan bertanya hanya kepada para ahli ilmu terdapat larangan untuk bertanya kepada orang yang sudah terkenal akan kebodohannya…" (Tafsir Al-Kariimir Rohman hal. 511 dan 605)

Jadi siapa saja yang bisa dikategorikan sebagai ulama maka merekalah tempat rujukan dalam agama baik dikala perpecahan maupun tidak, yaitu mereka yang paham benar Al-Qur'an dan sunnah sesuai pemahaman salafush sholeh. Dan tidak ada dalam Al-Qur'an maupun sunnah pengkhususan tempat rujukan haruslah ulama yang pernah turun dimedan perang. Seandainya yang mereka ucapkan itu benar, maka berapa banyak ulama yang tidak layak untuk dijadikan rujukan?

Apakah semua Imam empat pernah turun di medan jihad mengangkat senjata ?

Apakah Imam Bukhori, Muslim dan yang lainnya layak dijadikan rujukan dalam agama dikala perselisihan (terutama masalah jihad) sedang mereka tidak pernah turun dimedan perang mengangkat senjata ?

Dikalangan para sahabat yang paling terkenal dengan jihadnya dimedan perang adalah Kholid bin Walid , tapi apakah para salaf dahulu lebih mendahulukan beliau dalam masalah agama daripada Abdullah bin Abbas yang termasuk (7) sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits ?

Jadi yang layak dijadikan rujukan adalah para ulama (bukan ulama jadi-jadian).

Coba lihat Adz-Dzakhiroh edisi 11 tentang "Kembalilah kepada ahli ilmu".


6- Firman Allah ta'ala :

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." (QS. An-Nisa' : 83)

7- Allah berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' : 59)

Ibnu Abbas berkata :

"yang dimaksud (ulil amri) adalah para ahli ilmu agama, yang selalu taat kepada Allah dan mengajarkan manusia ilmu agama. Yang amar am'ruf serta nahi mungkar. Allah pun mewajibkan para hamba untuk mentaati mereka" (Lihat Tafsir Thobari 5/149) Ibnu Katsir mengatakan :

"yang nampak -wallahu a'lam- bahwa makna ulil amri mencakup umaro'/pemimpin maupun ulama" (Tafsir Al-Qur'anil Adzim 1/518).

8- Dan masih banyak lagi nash-nash atau ucapan salaf yang menjelaskan tingginya martabat dan kedudukan para ulama dan kewajiban untuk kembali kepada mereka dalam setiap keadaan dan tidak harus yang turun dimedan perang. Coba lihat "Qowaa'id fit ta aamul ma'al ulama" oleh Syaikh Abdurrohman bin Mu'alla Al-Luwaihiq -hafidzahullahu-.
Sekali lagi, yang dimaksud oleh para ulama salaf dalam ucapan mereka "Apabila engkau melihat manusia sudah berselisih maka kembalilah engkau kepada para mujahidin dan ahli tsughur, karena kebenaran ada bersama mereka" adalah para ulama (Thoifah manshuroh)(6) yang paham Al-qur'an dan sunnah bukan seperti anggapan mereka, karena tidak mungkin kebenaran bisa diketahui kecuali dengan menuntut ilmu agama dari para ulama. Hal ini berlainan dengan keyakinan sesat tasawwuf yang menyatakan bahwa ilmu bisa diperoleh lewat mimpi, kasyf (penyingkapan), maupun wangsit (ilmu laduni).

Dan keyakinan Tasawwuf ini juga diadopsi oleh sebagian kelompok sesat "Jamaah Tabligh" yang malas menuntut ilmu agama tapi sudah lancang berdakwah keseluruh dunia dengan hujjah ilmu bisa diperoleh di tengah jalan.

Kesalahan mereka (para aktivis harokah) ini timbul akibat :

"Penuhnya otak mereka dengan semangat yang membara untuk mengangkat senjata, meski tidak diiringi oleh pemahaman agama yang benar".


Sehingga mereka ngawur dalam berjihad dan membantai orang-orang tak bersalah. Mereka mengira dengan mengebom Islam akan menjadi jaya seperti semula, meskipun kebanyakan kaum muslimin banyak yang tidak mengerti akan agama mereka.


Oleh karena itu, kami nasehatkan dari lubuk hati yang terdalam kepada mereka yang telah terjerumus kedalam jaring-jaring terorisme, para gerakan bawah tanah, aktivis harokah untuk takut kepada Allah dan agar belajar lebih dalam tentang Islam dengan pemahaman yang benar, pemahaman salaf (bukan Khowarij) dan untuk kembali kepada para ulama semisal Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dan lain-lain -hafidzahumullahu-, agar kalian bisa membedakan mana jihad yang benar dan jihad yang palsu, siapa itu mujahid dan siapa teroris? Siapa yang layak dibunuh dan mana yang haram dibunuh ?
Akhirnya, saya tutup dengan ucapan ulama salaf Imam Al-Barbahari dalam "Syarhus Sunnah" :

"Perhatikanlah (Wahai saudaraku) -rahimakallahu- setiap orang yang engkau dengar ucapannya (dalam agama-pent) dari orang-orang yang sezaman denganmu khususnya. Janganlah engkau tergesa-gesa menerimanya hingga engkau melihat, apakah ada seorang sahabat atau seorang ulama yang berbicara seperti itu !!! …."

FOOTNOTE :

1. Lihat kembali pembahasan "Jihad dalam Islam" khususnya dalam bagian jihad terhadap hawa nafsu. Sebelum membaca "Kerancuan para aktivis harokah" selayaknya pembaca memahami terlebih dahulu pembahasan "Jihad dalam Islam".

2. Lihat pembahasan tahapan jihad melawan hawa nafsu di "Jihad dalam Islam".

3. Dan memerangi orang kafir itu bukan hanya dengan senjata tapi juga dengan ilmu dan hujjah sebagaimana yang di firmankan Allah ta ala : Artinya : "Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar." (QS. Al-Furqon : 52) Ibnu Abbas berkata : "dengan Al-Qur'an" seperti yang dinukilkan oleh Imam Ath-Thobari dalam tafsirnya.

4. Dan dari ucapan Ibnu Athiyah diatas jelaslah kesalahan sebagian orang yang memahami setiap kata "Jihad" dalam nash-nash syariat dengan jihad mengangkat senjata saja.
Ucapan mereka ini juga dinukil oleh Imam Asy-Syaukani dalam fathul Qodir 4/279.

5. Ucapan ini menguatkan apa yang dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim tentang tahapan-tahapan jihad.

6. Insya Allah pada edisi mendatang kita akan melanjutkan pembahasan kerancuan para aktivis harokah tentang pengertian Thoifah Manshuroh
Maraji':
Majalah Adz Dzakhiirah Al-Islamiyyah edisi 17



_Abu abdirrahman bin misdi al-carati


Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
__._,_.___

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------





SPONSORED LINKS
Sunnah Islam Islam and the west
Islam empire of faith Islam music Islam video


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke