BEGINILAH SEHARUSNYA SIKAP SEORANG SALAFY

Judul Asli: Persatuan adalah Ciri Golongan Yang Selamat
Penyusun: Abu Mushlih
Sumber: http://muslim.or.id/?p=388

Sebagian orang berpandangan bahwasanya dakwah Salafiyah atau Ahlus Sunnah wal 
Jama'ah di negeri kita ini terkesan sebagai dakwahnya orang-orang yang gemar 
bikin ribut dan tidak pernah akur, bahkan di antara sesama mereka sendiri. 
Mereka saling menjatuhkan. Kelompok yang satu mencela dan mendiskreditkan 
kelompok yang lain. Padahal mereka sama-sama mengaku Salafi (pengikut Sahabat 
Nabi). Buku-buku mereka pun sama, para ulama yang mereka jadikan rujukan juga 
sama. Namun ternyata mereka justru saling gontok-gontokan. Anggapan ini 
tidaklah seratus persen benar. Akan tetapi itulah sebagian fakta yang ada di 
dalam pandangan masyarakat.

Saudaraku, kita semua perlu bercermin kembali. Penisbatan kepada Salaf adalah 
penisbatan yang sangat mulia. Salaf bukanlah sebuah pabrik atau yayasan, yang 
dengan mudah pihak atasan memecat anak buahnya yang dinilai bandel dan ngeyelan 
(suka ngotot dan membantah). Oleh sebab itulah pada kesempatan ini kami ingin 
menyampaikan sebuah fatwa salah seorang Imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah pada masa 
kini yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah sebagai 
pelajaran dan koreksi bagi kita semua. Semoga Allah memberikan taufik kepada 
kita untuk menggapai apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

PERTANYAAN
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,
"Apakah karakteristik paling menonjol dari Golongan Yang Selamat (Al Firqah An 
Najiyah) ? Dan apakah adanya kekurangan (yang ada pada diri seseorang) dalam 
salah satu di antara karakter ini lantas mengeluarkan orang tersebut dari 
Golongan Yang Selamat ?"
JAWABAN
Beliau rahimahullah menjawab, "Karakter paling menonjol yang dimiliki oleh 
Golongan Yang Selamat adalah berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu 
'alaihi wa sallam dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (ritual), akhlak (budi 
pekerti), dan mu'amalah (interaksi sesama manusia). Dalam keempat perkara 
inilah anda dapatkan Golongan Yang Selamat sangat tampak menonjol ciri mereka :
ADAPUN DALAM HAL AKIDAH; anda bisa jumpai mereka senantiasa berpegang teguh 
dengan keterangan dalil Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa 
sallam yaitu meyakini tauhid yang murni dalam hal Uluhiyah Allah, Rububiyah-Nya 
serta Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya.
ADAPUN DALAM HAL IBADAH; anda jumpai golongan ini tampak istimewa karena sikap 
mereka yang begitu berpegang teguh dan berusaha keras menerapkan ajaran-ajaran 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam menunaikan ibadah, yang meliputi 
jenis-jenisnya, cara-caranya, ukuran-ukurannya, waktu-waktunya dan 
sebab-sebabnya. Sehingga anda tidak akan menjumpai adanya perbuatan menciptakan 
kebid'ahan dalam agama Allah di antara mereka. Akan tetapi mereka adalah 
orang-orang yang sangat beradab terhadap Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak 
mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan menyusupkan suatu bentuk ibadah yang 
tidak diijinkan oleh Allah.
SEDANGKAN DALAM HAL AKHLAK; anda pun bisa menjumpai ciri mereka juga seperti 
itu. Mereka tampil istimewa dibandingkan selain mereka dengan akhlak yang 
mulia, seperti contohnya : mencintai kebaikan bagi umat Islam, sikap lapang 
dada, bermuka ramah, berbicara baik dan pemurah, pemberani dan sifat-sifat lain 
yang termasuk bagian dari kemuliaan akhlak dan keluhurannya.
DAN DALAM HAL MU'AMALAH; anda bisa jumpai mereka menjalin hubungan dengan 
sesama manusia dengan sifat jujur dan suka menerangkan kebenaran. Dua sifat 
inilah yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam 
sabdanya, "Penjual dan pembeli mempunyai hak pilih selama keduanya belum 
berpisah. Apabila mereka berdua bersikap jujur dan menerangkan apa adanya 
niscaya akan diberkahi jual beli mereka. Dan apabila mereka berdusta dan 
menyembunyikan (cacat barangnya) maka akan dicabut barakah jual beli mereka 
berdua." (HR. Bukhari dan Muslim)
Adanya kekurangan pada sebagian karakter ini tidak lantas mengeluarkan individu 
tersebut dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat, namun 
setiap tingkatan orang akan mendapatkan balasan sesuai amal yang mereka 
perbuat. Sedangkan kekurangan dalam sisi tauhid terkadang bisa mengeluarkan 
dirinya dari Golongan Yang Selamat, seperti contohnya hilangnya keikhlasan. 
Demikian pula dalam masalah bid'ah, terkadang dengan sebab bid'ah-bid'ah yang 
diperbuatnya membuatnya keluar dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan 
Yang Selamat. Adapun dalam masalah akhlak dan mu'amalah maka tidaklah seseorang 
dikeluarkan dari Golongan Yang Selamat ini semata-mata karena kekurangan 
dirinya dalam dua masalah ini, meskipun hal itu menyebabkan kedudukannya 
menjadi turun.
Kita perlu untuk memperinci permasalahan akhlak karena salah satu faidah dari 
akhlak ialah terwujudnya kesatuan kata dan bersatu padu di atas kebenaran yang 
diperintahkan Allah ta'ala kepada kita di dalam firman-Nya (yang artinya), 
"Allah mensyari'atkan kepada kalian ajaran agama yang juga diwasiatkan kepada 
Nuh dan yang Kami wasiatkan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa 
dan Isa yaitu agar kalian tegakkan agama dan janganlah berpecah belah di 
dalamnya." (QS. Asy Syura : 13) Dan Allah memberitakan bahwasanya Muhammad 
shallallahu 'alaihi wa sallam lepas tanggung jawab dari perbuatan orang-orang 
yang memecah belah agama mereka sehingga mereka menjadi bergolong-golongan. 
Allah 'azza wa jalla berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya orang-orang yang 
memecah belah agama mereka maka tidak ada tanggung jawabmu atas mereka." (QS. 
Al An'am : 159). Sehingga kesatuan kata dan keterikatan hati merupakan salah 
satu karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat -Ahlus 
Sunnah wal Jama'ah- Oleh sebab itu apabila muncul perselisihan di antara mereka 
yang bersumber dari ijtihad dalam berbagai perkara ijtihadiyah maka hal itu 
tidaklah membangkitkan rasa dengki, permusuhan ataupun kebencian di antara 
mereka. Akan tetapi mereka meyakini bahwasanya mereka adalah bersaudara 
meskipun terjadi perselisihan ini di antara mereka. Sampai-sampai salah seorang 
di antara mereka mau shalat di belakang imam yang menurutnya dalam status tidak 
wudhu sementara si imam berpendapat bahwa dirinya masih punya status wudhu.
Atau contoh lainnya adalah orang yang tetap mau shalat bermakmum kepada imam 
yang baru saja memakan daging onta. Si imam berpendapat bahwa hal itu tidak 
membatalkan wudhu. Sedangkan si makmum berpendapat bahwa hal itu membatalkan 
wudhu. Namun dia tetap berkeyakinan bahwa shalat bermakmum kepada imam tersebut 
adalah sah. Walaupun seandainya jika dia sendiri yang shalat maka dia menilai 
shalatnya dalam keadaan seperti itu tidak sah. Ini semua bisa terwujud karena 
mereka memandang bahwa perselisihan yang bersumber dari ijtihad dalam persoalan 
yang diijinkan untuk ijtihad pada hakikatnya bukanlah perselisihan. Alasannya 
adalah karena masing-masing individu dari dua orang yang berbeda pendapat ini 
sudah berusaha mengikuti dalil yang harus diikuti olehnya dan dia tidak boleh 
untuk meninggalkannya. Oleh sebab itu, apabila mereka melihat saudaranya 
berbeda pendapat dengannya dalam suatu perbuatan karena mengikuti tuntutan 
dalil maka sebenarnya saudaranya itu telah sepakat dengan mereka, karena mereka 
mengajak untuk mengikuti dalil dimanapun adanya. Sehingga apabila dengan 
menyelisihi mereka itu menjadikan dirinya sesuai dengan dalil yang ada (dalam 
pandangannya), maka pada hakikatnya dia telah bersepakat dengan mereka, karena 
dia sudah meniti jalan yang mereka serukan dan tunjukkan yaitu keharusan untuk 
berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dan terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah seperti ini di kalangan 
para sahabat tidaklah tersembunyi di kalangan banyak ulama, bahkan sudah ada 
juga di jaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan ternyata tidak ada 
seorangpun di antara mereka yang bersikap keras kepada yang lainnya. Ketika 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pulang dari perang Ahzab dan Jibril datang 
kepada beliau menyuruh beliau agar memberangkatkan para sahabat ke Bani 
Quraizhah yang telah membatalkan perjanjian. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam 
pun berpesan kepada para sahabatnya, "Janganlah kalian shalat 'Ashar kecuali di 
Bani Quraizhah." (HR. Bukhari dan Muslim). Maka mereka berangkat dari Madinah 
menuju Bani Quraizhah namun di tengah perjalanan mereka waktu shalat 'Ashar 
sudah hampir habis. Di antara mereka ada yang mengakhirkan shalat 'Ashar sampai 
tiba di Bani Quraizhah sesudah keluar waktu. Mereka beralasan karena Nabi 
shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Janganlah kalian shalat 'Ashar 
kecuali di Bani Quraizhah." Dan ada juga di antara mereka yang mengerjakan 
shalat pada waktunya. Mereka ini mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasul 
shallallahu 'alaihi wa sallam ialah perintah agar mereka bersegera berangkat ke 
sana dan bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat di luar waktunya -dan 
mereka inilah yang benar- akan tetapi meskipun demikian Nabi shallallahu 
'alaihi wa sallam tidak bersikap keras terhadap salah satu di antara kedua 
kelompok tersebut. Dan hal itu tidaklah membuat mereka memusuhi dan membenci 
shahabat lain semata-mata karena perbedaan mereka dalam memahami dalil ini.
Oleh sebab itulah saya berpandangan bahwa menjadi kewajiban kaum muslimin yang 
menisbatkan dirinya kepada Sunnah supaya menjadi umat yang bersatu padu dan 
janganlah terjadi tahazzub (tindakan bergolong-golongan). Yang ini membela 
suatu kelompok, sedangkan yang lain membela kelompok lainnya, dan pihak ketiga 
membela kelompok ketiga dan seterusnya, yang mengakibatkan mereka saling 
bergontok-gontokan dan melontarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan, saling 
memusuhi dan membenci gara-gara perselisihan dalam masalah-masalah yang 
diperbolehkan untuk berijtihad di dalamnya. Dan saya tidak perlu untuk 
menyebutkan tiap-tiap kelompok itu secara detail, akan tetapi orang yang 
berakal pasti bisa memahami dan memetik kejelasan perkaranya.
Saya juga berpandangan bahwasanya Ahlus Sunnah wal Jama'ah wajib untuk bersatu, 
bahkan meskipun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang mereka 
perselisihkan, selama hal itu memang dibangun berdasarkan dalil-dalil menurut 
pemahaman yang mereka capai. Karena hal ini (perbedaan pendapat dalam masalah 
ijtihadiyah, red) sesungguhnya adalah perkara yang lapang, dan segala puji 
hanya bagi Allah. Maka yang terpenting adalah terwujudnya keterikatan hati dan 
kesatuan kalimat (di antara sesama Ahlus Sunnah, red). Dan tidaklah perlu 
diragukan bahwasanya musuh-musuh umat Islam sangat senang apabila di antara 
umat Islam saling berpecah belah, entah mereka itu musuh yang terang-terangan 
maupun musuh yang secara lahiriyah menampakkan pembelaan terhadap kaum muslimin 
atau mengaku loyal kepada agama Islam padahal sebenarnya mereka tidak demikian. 
Maka wajib bagi kita untuk menonjolkan karakter istimewa ini, sebuah karakter 
yang menjadi ciri keistimewaan kelompok yang selamat; yaitu bersepakat di atas 
satu kalimat." (Fatawa Arkanul Islam, Daruts Tsuraya, hal. 22-26)
RENUNGKANLAH
Demikianlah fatwa seorang alim yang sudah sama-sama kita akui kedalaman ilmu 
dan ketakwaannya. Duhai, alangkah jauhnya sifat-sifat kita dengan sifat-sifat 
elok yang beliau gambarkan. Kalau saja masing-masing dari kita bisa menerapkan 
dengan baik isi nasihat beliau di atas maka niscaya tidak akan terjadi baku 
hantam di antara sesama Ahlus Sunnah. Sebagaimana para sahabat radhiyallahu 
ta'ala 'anhum bisa bersikap arif tatkala menyaksikan saudaranya menyelisihi 
dirinya demi mengikuti tuntutan dalil yang sampai kepada mereka. Selain itu 
umat Islam di negeri ini tentu akan lebih merasa gembira dan tenang dalam 
menerima dakwah, karena mereka bisa menyaksikan sosok-sosok da'i yang pandai 
menyikapi keadaan, tidak grusah-grusuh dan terlalu cepat mengambil tindakan 
tanpa kenal perhitungan. Apa salahnya jika kebenaran itu berada di pihak lain 
di luar kelompok kita ? Apa salahnya jika yang menyampaikan kebenaran itu bukan 
ustadz kita ? Bukankah hikmah itu adalah barangnya orang beriman yang hilang ? 
Apakah semata-mata karena kebenaran itu datang dari selain kelompok kita lantas 
kebenaran itu boleh kita tolak. Lalu apakah bedanya kita dengan orang-orang 
yang taklid buta dan mengagung-agungkan kyai-kyainya ? Renungkanlah saudaraku. 
Terkadang musuh yang cerdas itu jauh lebih bermanfaat bagi kita daripada 
teman-teman yang bungkam dari ketergelinciran kita.
Bagaimana bisa kita menyerukan umat Islam untuk kembali bersatu di atas 
pangkuan manhaj Salaf sementara kita sendiri justru memporakporandakan 
persatuan itu dengan menerkam saudara-saudara kita sesama Ahlus Sunnah dengan 
dalih menyelamatkan umat dan membantah Ahlul bida' wal ahwa' ? Sedangkan para 
ulama mewasiatkan kepada kita untuk memperbaiki akhlak demi terjalinnya 
persatuan dan keterkaitan hati. Adakah yang mau mengambil pelajaran..? Hamba 
memohon kepada-Mu ya Allah, bukakanlah hati-hati kami untuk menerima kebenaran. 
Engkau lah Yang Maha tahu kekurangan dan dosa-dosa kami. Kami mengakuinya dan 
kami mohon ampunan kepada-Mu, ya Rabbi. Kembalikanlah persatuan dakwah yang 
mulia ini di atas kebenaran dan bimbingan para ulama yang Rabbani. Sesungguhnya 
Engkau Maha Kuasa dan Maha Mengabulkan do'a. Semoga shalawat dan keselamatan 
senantiasa terlimpah kepada panutan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat 
dan seluruh pengikut mereka kaum Salafiyin yang ada di sepanjang masa hingga 
tegaknya hari kiamat. Dan akhirnya segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian 
alam.


Abu abdirrahman bin misdi al-carati


---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke