ISTIGHFAR DAN TAUBAT

Oleh
Syaikh Dr. Fadhl Ilahi
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]
sumber http://www.almanhaj.or.id


Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada 
setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, 
sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :"Ada 
seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan 
(bumi) maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang 
lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, 
'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, 
'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau 
mengatakan kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi 
mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) 
kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!".

Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. 
Dalam riwayat lain disebutkan :"Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 
'Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan 
mereka semua untuk ber-istighfar. [1]. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 
'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah 
telah berfirman dalam surat Nuh.

"Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha 
Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan 
membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan 
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai". [Nuh : 10-12] [2]

Allahu Akbar ! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar ! Ya 
Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai ber-istighfar. 
Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. 
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang 
Mahahidup dan terus menerus mengurus mahluk-Nya.

[2] Ayat Lain Adalah Firman Allah Yang Menceritakan Tentang Seruan Hud 
Alaihis Shalatu Was Sallam Kepada Kaumnya Agar Ber-istighfar.

"Artinya : Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu 
bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat 
atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah 
kamu berpaling dengan berbuat dosa". [Hud : 52]

Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan : 
"Kemudian Hud Alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang 
dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan 
mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki 
sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan 
urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman.

"Artinya : Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu" [Tafsir 
Ibnu Katsir, 2/492. Lihat pula, Tafsir Al-Qurthubi, 9/51]

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat 
dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan 
kami serta jagalah keadan-keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar 
lagi Maha mengabulkan do'a. Amin, whai Dzat Yang Memiliki keagungan dan 
kemuliaan.

[3] Ayat Lain Adalah firman Allah.

"Artinya : Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat 
kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi 
kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah 
ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai 
keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku 
takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat". [Hud : 3]

Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji-janji dari Allah Yang Mahakuasa 
dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang 
ber-istighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya.

"Artinya : Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) 
kepadamu". Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 
'anhuma adalah. 'Ia akan menganugrahi rizki dan kelapangan kepada kalian'. 
[Zaadul Masiir, 4/75]

Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan :"Inilah buah 
istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian 
dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta 
Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap 
orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian". [Tafsir Al-Qurthubi, 9/403. 
Lihat pula, Tafsir Ath-Thabari, 15/229-230, Tafsir Al-Baghawi. 4/373, Fathul 
Qadir, 2/695 dan Tafsir Al-Qasimi, 9/63]

Dan janji Tuhan Yang Mahamulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan 
sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata 
:"Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat 
kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugrahkan 
kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang 
ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat 
itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan".[Adhwa'ul Bayan, 3/9]

[4] Dalil Lain Bahwa Istighfar Dan Taubat Adalah Diantara Kunci-Kunci Rizki

Yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu Majah 
dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhuma ia berkata, 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya :Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah[3] 
niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk 
setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) 
dari arah yang tidak disangka-sangka[4]".

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara 
berdasarkan wahyu, Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga 
hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah 
satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, Yang Memiliki kekuatan 
akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak 
diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah dia bersegera 
untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun 
dengan perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada!, sekali lagi 
hendaknya waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa 
perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.


[Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau'il Kitab was Sunnah oleh Dr. 
Fadhl Ilahi, dengan edisi Indonesia Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur'an dan 
As-Sunnah hal. 7-18 terbitan Darul Haq, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc]
________
Fote Note
[1] [Tafsir Al-Khazin, 7/154. Lihat pula, Ruhul Ma'ani, 29/73]
[2] [Tafsir Al-Qurthubi, 18/302-303. Lihat pula Al-Muharrar Al-Wajiz, 
16/123]
[3] "Barangsiapa menetapi - dalam riwayat lain - tidak meninggalkan 
istighfar". Lihat, Sunan Abi Daud, 4/267, Sunan Ibni Majah, 2/339. Dan 
maknanya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Ath-Thayyib Al-Azhim Abadi 
yaitu saat terjadinya maksiat atau adanya ujian atau ada orang yang 
penyakitnya terus menerus, maka sungguh dalam setiap nafas ia membutuhkan 
kepadanya (istighfar dan taubat). Karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam bersabda : "Artinya : Beruntunglah orang yang mendapati dalam 
shahifah (catatan amalnya) istighfar yang banyak". (Hadist Riwayat Ibnu 
majah dengan sanad hasan shahih). [Aunul Ma'bud, 4/267]
[4] Al-Musnad, no. 2234, 4/55-56 dan lafazh tersebut adalah redaksi miliknya 
; Sunan Abi Daud, Abwabu Qiyamil Lail, Tafri'u Abwabil Witr, Bab Fil 
Istighfar, no. 1515, 4/267 ; Kitabus Sunan Al-Kubra, Kitabu Amalil Yaumi wal 
Lalilah, no 10290/2,6/118 ; Sunan Ibni Majah, Abwabul Adab, Bab 
Al-Istighfar, no. 3864, 2/339 ; Al-Mustadrak 'alash Shahihain, Kitabut 
Taubah wal Inabah, 4/292. Sebagian ahli hadits menyatakan hadits ini dha'if 
karena salah satu periwayatnya (cacat). (Lihat, At-Talkhish, Al-Hafizd 
Adz-Dzahabi, 4/262 ; Aunul Ma'bud, 4/267 ; Dha'ifu Sunan Abi Daud, Syaikh 
Al-Albani, hal. 149) Tetapi sanad hadits tersebut dishahihkan oleh Imam 
Al-Hakim (Lihat, Al-Mustadrak, 4/262). Dan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir 
berkata : "Sanad hadits ini shahih" (Hamisy Al-Musnad, 4/55). Demikian 
sebagai jawaban atas apa yang dikatakan tentang salah seorang perawinya. 
Wallahu a'lam bish shawab.

_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! 
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/





HADIRILAH! SILATURAHMI AKBAR-3 ULAMA MADINAH NABAWIYAH & UMMAT, MASJID ISTIQLAL 
JAKARTA, AHAD 20 JUMADIL TSANI 1427H/16 JULI 2006M, JAM 09.00 WIB S/D DZUHUR, 
BERSAMA SYAIKH PROF ABDURROZAK BIN ABDUL MUHSIN AL'ABBAD, SYAIKH DR SULAIMAN 
BIN SALIIMULLAH AR-RUHAILY, ULAMA SEKALIGUS GURU BESAR UNIVERSITAS ISLAM 
MADINAH. INFO : 08121055616, 08121055891, 08567505496
Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke