KETERANGAN ULAMA TENTANG KEHARUSAN MEMILIKI ILMU DALAM MEMBERI NASEHAT DAN 
BERDA'WAH

Oleh
Al-Ustadz Fariq Bin Gasim Anuz
sumber http://www.almanhaj.or.id

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan beberapa sifat yang harus dimiliki 
oleh seorang da'i yang mengajak kepada perbuatan ma'ruf dan melarang orang 
lain berbuat mungkar, di antaranya :

"...Yang dimaksud dengan niat terpuji yang diterima di sisi Allah dan 
mendapatkan ganjaranNya adalah hendaknya amalan tersebut ditujukan untuk 
mencari ridha Allah dan yang dimaksud dengan amal terpuji yang merupakan 
amal saleh adalah amal yang diperintahkan, dan apabila demikian adanya maka 
orang yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar wajib menerapkan pada dirinya 
sendiri dua syarat tadi, dan tidaklah disebut amal saleh apabila tidak 
berdasarkan ilmu dan pemahaman ...."

Kemudian beliau berkata pula :

"...maka orang yang menjalankan amar ma'ruf nahi munkar haruslah memiliki 
ilmu tentang hal yang ma'ruf dan yang mungkar dan dapat membedakan antara 
keduanya dan harus memiliki ilmu tentang keadaan orang yang diperintah dan 
yang dilarang.

Dan yang dimaksudkan dengan ilmu adalah apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah 
shalallahu 'alaihi wasallam dari apa-apa yang Allah utuskan kepadanya dan 
dia adalah As Sulthan sebagaimana Allah berfirman :

"Yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang 
sampai kepada mereka." [Ghafir : 35]

Barangsiapa yang berbicara tentang dien Islam ini bukan dengan apa yang 
telah Allah utuskan kepada RasulNya, maka ia berbicara tanpa ilmu, dan 
barangsiapa yang dikuasai oleh syetan maka syetan pasti menyesatkannya dan 
menuntunnya menuju adzab jahannam yang menyala- nyala. Dan barangsiapa yang 
tunduk kepada dienullah maka ia telah beribadah kepada Allah dengan 
keyakinan." [1]

Syaikh Abdul Azis bin Baz rahimahullah (wafat th.1420 H) berkata ketika 
menceritakan tentang akhlak dan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang 
da'i :

"Haruslah da'wahmu itu ditegakkan atas hujjah yang nyata, yaitu berdasarkan 
ilmu, janganlah engkau jahil dengan apa yang engkau serukan kepada manusia, 
Allah berfirman:

"Katakanlah : "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku 
mengajak kalian (kepada) Allah dengan hujjah yang nyata." [Yusuf : 108]

Maka haruslah engkau memiliki ilmu, dan ini hukumnya wajib, maka 
hati-hatilah jangan sekali-kali engkau berýda'wah dengan kebodohan, 
janganlah sekali-kali engkau berbicara dalam hal-hal yang tidak engkau 
ketahui, maka orang yang bodoh itu menghancurkan, bukannya membangun, 
merusak bukannya memperbaiki, maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba 
Allah, hati-hati, janganlah sekali-kali engkau mengatakan sesuatu dengan 
mengatasnamakan Allah tanpa ilmu, janganlah engkau berýda'wah mengajak orang 
lain kepada sesuatu, kecuali dengan ilmu tentang hal tersebut, dan hujjah 
yang nyata itu artinya sesuai dengan firman Allah dan sabda RasulNya.

Maka seharusnya atas setiap penuntut ilmu dan juru ýda'wah agar 
memperhatikan tentang apa yang ia serukan dan memperhatikan dalilnya, 
apabila nampak bagi dia kebenaran dan mengetahuinya maka baru dia 
menýda'wahkannya, menyeru untuk melakukan keta'atan dan melarang kemaksiatan 
yang dilarang oleh Allah dan RasulNya." [2]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hafidzahullah berkata ketika beliau 
menjelaskan tentang bekal-bekal juru ýda'wah, di antaranya adalah :

"Hendaklah seorang da'i memiliki bekal ilmu dalam berýda'wah. Ilmu yang 
benar bersumber dari Al-Qur'an dan As Sunnah karena setiap ilmu harus digali 
dari keduanya. Adapun ilmu yang datang kepada kita harus diperiksa terlebih 
dahulu apakah sesuai dengan Al-Qur'an dan As Sunnah atau tidak. Apabila 
sesuai maka harus diterima, dan apabila bertentangan wajib ditolak siapa pun 
yang menyatakannya. Ibnu Abas radliyallahu'anhuma telah berkata,

"Hampir saja batu terjatuh dari langit menimpa kalian, aku mengatakan 
Rasulullah bersabda dan kalian mengatakan, "Abu Bakar dan Umar berkata"

Apabila ucapan Abu Bakr dan Umar sebagai seorang khalifah dan shahabat yang 
menyalahi sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam harus ditolak, maka 
bagaimana kiranya dengan pendapat seorang yang jauh di bawah mereka berdua 
dalam hal ilmu dan taqwa ? tentu lebih utama untuk ditolak ucapannya. 
Sungguh Allah Subhana wa Ta'ala telah berfirman :

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa 
cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." [An-Nur : 63]

Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Tahukah engkau apakah fitnah itu ? Fitnah 
itu adalah kesyirikan, barangkali apabila ia menolak sebagian sabda Nabi 
shalallahu 'alaihi wasallam maka akan menimpa dia sesuatu, berupa 
kecondongan kepada kesesatan yang menyebabkan ia binasa."

Sesungguhnya bekal yang pertama yang harus dimilki seorang da'i yang menyeru 
manusia kepada agama Allah, haruslah ia memiliki ilmu yang bersumber dari 
Al-Qur'an dan Hadits yang shahih, adapun da'wah tanpa ilmu maka sesungguhnya 
ia adalah da'wah berdasarkan kebodohan dan da'wah berdasarkan kebodohan 
lebih banyak merugikan dari pada manfaatnya dikarenakan si da'i ini telah 
menobatkan dirinya sebagai orang yang sesat dan menyesatkan, kami memohon 
pelindungan kepada Allah dari yang demikian itu, dan orangnya disebut dengan 
jahil murakkab (bertumpuk-tumpuk), kebodohan yang bertumpuk-tumpuk ini lebih 
berbahaya dari pada kebodohan yang ringan, orang yang bodoh ringan (yaitu 
merasa dirinya bodoh, pent) dia tidak akan berbicara dan dengan belajar ia 
dapat menghilangkan kebodohannya, tetapi problem yang sangat besar itu pada 
diri orang bodoh bertumpuk-tumpuk karena dia tidak akan diam bahkan terus 
berbicara meskipun dengan kebodohan. Maka ia lebih banyak menjadi perusak 
dan penghancur dari pada menjadi pemberi cahaya.

Wahai saudara-saudara, sesungguhnya da'wah menyeru kepada agama Allah tanpa 
didasari ilmu menyalahi praktek Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan para 
pengikutnya. Dengarkanlah firman Allah Ta'ala ketika memerintahkan NabiNya, 
Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, dalam firmanNya :

"Katakanlah : "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku 
mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujjah (ilmu) yang nyata." [Yusuf : 
108]

Pada kalimat "Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) dengan 
hujjah (ilmu) yang nyata", maka haruslah seorang da'i untuk menyeru kepada 
agama Allah berdasarkan ilmu bukan berdasarkan kebodohan.

Dan perhatikanlah, wahai da'i firman Allah Ta'ala, "Úáì ÈÕíÑÉ" [dengan 
hujjah (ilmu)], yaitu dalam tiga perkara :

[1]. Dengan ilmu tentang apa yang ia sampaikan, hendaklah ia mengetahui 
hukum syari'at karena boleh jadi seseorang mengajak orang lain untuk 
melakukan suatu perbuatan yang disangkanya sebagai suatu kewajiban, padahal 
sesungguhnya dalam syari'at Allah perbuatan tersebut tidaklah wajib maka ia 
telah mengharuskan manusia untuk melakukan sesuatu yang tidak diharuskan 
oleh Allah, dan sebaliknya boleh jadi ia melarang orang lain melakukan suatu 
perbuatan yang disangkanya sebagai hal yang haram, padahal sesungguhnya 
dalam dien Allah bukanlah suatu yang haram, maka ia telah mengharamkan 
manusia apa-apa yang Allah halalkan untuk
mereka.
[2]. Dengan ilmu tentang keadan orang yang dida'wahi, oleh karena itu ketika 
Nabi shalallahu 'alaihi wasallam mengutus Muadz bin Jabal radhiallahu 'anhu 
ke negeri Yaman beliau berpesan kepadanya, "Sesungguhnya engkau akan 
mendatangi suatu kaum dari ahli kitab," agar Muadz mengetahui dan 
bersiap-siap untuk menghadapi mereka. Maka haruslah engkau mengetahui 
keadaan orang yang dida'wahi, sejauh mana kapasitas ilmunya ? Sejauh mana 
kemampuan bicaranya ?. Supaya engkau memposisikan diri secara matang untuk 
berdiskusi dengannya, karena seanýdainya engkau dalam kebenaran berdebat 
dengan orang yang jauh lebih panýdai dalam berbicara, maka engkaulah yang 
akan terpojokkan. Maka, jadilah musibah besar terhadap kebenaran sehingga 
disangka sebagai kebatilan dan engkau adalah penyebabnya, dan janganlah 
engkau menyangka bahwa pendukung kebatilan itu mesti kalah dalam berbicara 
pada setiap keadaan.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda yang 
artinya:

"Sesungguhnya kalian berselisih dan mengadukan kepadaku, dan barangkali 
sebagian di antara kalian lebih pandai dalam berbicara membawakan 
alasan-alasannya dibandingkan dari yang lain, maka aku memutuskan yang 
menguntungkannya disebabkan yang aku dengar."

Ini menunjukkan bahwa orang yang berselisih tadi, meskipun di pihak yang 
batil dikarenakan ia lebih pandai dalam berbicara mengemukakan alasannya, 
maka diputuskan sesuai dengan apa yang telah diutarakan oleh orang tersebut. 
Oleh karena itu, haruslah engkau mengetahui keadaan orang yang dida'wahi.

[3]. Dengan ilmu tentang cara berda'wah. Allah Subhana wa Ta'ala berfirman :
"Serulah (manusia) kepada jalan rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik 
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik" [An-Nahl : 125]

Sebagian manusia ketika ia melihat kemungkaran segera menyerangnya, tanpa 
befikir dampak dari perbuatannya, bukan saja berkenaan dengan dia pribadi, 
tetapi dampaknya bagi dia dan teman- temannya sesama da'i. Oleh karena itu 
wajib atas setiap da'i sebelum bergerak melakukan sesuatu, memikirkan apa 
yang mungkin akan terjadi dan menimbangnya, boleh jadi pada saat itu ia 
dapat melampiaskan gejolak kecemburuannya dengan pengingkaran tersebut, 
tetapi dalam waktu yang dekat setelah pengingkaran tadi dapat memadamkan api 
kecemburuan dia dan orang lain. Oleh karena itu, saya menganjurkan 
saudara-saudaraku para da'i untuk menggunakan hikmah dan ketelitian, dan 
perkara ini meskipun terlambat sedikit tetapi membawa akibat yang terpuji 
dengan kehendak Allah.

Pentingnya seorang da'i berbekal dengan ilmu yang benar berdasarkan 
Al-Qur'an dan As-Sunnah disamping telah terdapat dalil-dalilnya dalam 
nash-nash syari'at juga akal yang sehat ikut membuktikan juga, karena 
bagaimana mungkin engkau berda'wah menyeru manusia kepada dien Allah 
sedangkan engkau tidak mengetahui jalan menujuNya, tidak mengetahui 
syari'atNya, bagaimana bisa ia dikatakan sebagai da'i ?!

Apabila sesorang belum memiliki ilmu, maka sepantasnya ia belajar terlebih 
dahulu kemudian baru berda'wah.

Boleh jadi ada seorang yang bertanya, "Apakah ucapanmu tadi bertentangan 
dengan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.

"Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat" ?"

Maka saya menjawab, "Tidaklah bertentangan, karena Rasulullah shalallahu 
'alaihi wasallam bersabda, "Sampaikanlah dariku," kalau begitu apa yang kami 
sampaikan itu harus berasal dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, 
inilah yang kami inginkan, ketika kami berkata bahwa seorang da'i 
membutuhkan ilmu bukan berarti kami mengharuskan ia memiliki ilmu yang 
sangat luas, tetapi kami menyatakan janganlah seorang menyampaikan sesuatu 
kecuali dengan apa yang ia ketahui saja, janganlah ia berbicara dengan 
sesuatu yang tidak ia ketahui." [3]

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan 
Pertama, Sya'ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 
7819 CC JKTM]
__________
Foote Note
[1]. Majmu'Fatawa, juz 28 hal. 39. Dinukil dari buku Dhowabit All-Amri bil 
ma'rufi wan nahyi 'anil mungkari inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah
[2]. Wujubud ýda'wah ilallahi wa akhlakud du'at, hal.50
[3]. Zaad Ad-Daa'iyah ilallah, hal 6-10

_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! 
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/






Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke