Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
   
  Saya sedikit urun rembug ya Pak untuk pertanyaan no. 3
   
  Jumlah raka'at shalat dhuha tidak terbatas hanya 4 raka'at saja tetapi dapat 
dikerjakan 6, 8 dan 12 raka'at berdasarkan nash2 yang shahih dan hasan berikut 
ini :
   
  Dari Abu Darda’ dan Abu Dzar radhiyallaHu ‘anHuma, dari Rasulullah 
ShallallaHu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman, 
   
  “Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat raka’at di awal siang, niscaya Aku 
mencukupimu di akhir siang” (HR. at Tirmidzi no. 475 dan Ahmad dalam al Musnad 
VI/440, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiih Sunan at Tirmidzi I/147)
   
  Dari Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,
   
  “Bahwa Nabi pernah mengerjakan shalat dhuha enam raka’at” (HR. at Tirmidzi 
no. 273, hadits ini shahih lighairiHi, lihat Irwaa-ul Ghalil II/216 oleh Syaikh 
al Albani)
   
  Dari Ummu Hani radhiyallaHu ‘anHa, ia berkata,
   
  “ … Selanjutnya Fathimah mengambilkan kain beliau dan menyelimutkannya ke 
beliau, setelah itu beliau shallallaHu ‘alaiHi wa sallam mengerjakan shalat 
dhuha delapan raka’at” (HR. al Bukhari no. 1176 dan Muslim no. 336)
   
  Dari Abu Darda’ radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam 
bersabda,
   
  “Barangsiapa mengerjakan shalat dhuha dua raka’at maka dia tidak ditetapkan 
termasuk orang – orang yang lengah. … Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua 
belas raka’at maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga” (HR. 
al Haitsami dalam Majma’uz Zawaa-id II/237, dihasankan oleh Syaikh al Albani 
dalam Shahiih at Targhib wat Tarhiib I/279)
     
  Kemudian untuk shalat sunnah (selain shalat fardhu) yang 4 raka'at, tidak 
harus dipecah dua-dua, karena berdasarkan hadits yang shahih dari Aisyah 
radhiyallaHu 'anHa, Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa sallam pernah mengerjakan 
shalat tarawih 4 raka'at-4raka'at dengan satu salam.  Berikut terjemahan 
haditsnya,  Aisyah radhiyallaHu 'anHa berkata,
   
   “Tidak pernah Rasulullah shalat di bulan Ramadhan dan tidak (di bulan) 
lainnya lebih dari 11 raka’at, (yaitu) Beliau shalat empat raka’at, maka jangan 
engkau tanyakan bagusnya dan lamanya, kemudian Beliau shalat empat raka’at 
(lagi), maka jangan engkau tanyakan tentang bagusnya dan lamanya, kemudian 
beliau shalat (witir) tiga raka’at” (HR. Bukhari dan Muslim)
   
  Semoga Bermanfaat
  BarakallaHu fiik
  Budi Ari

Abu ahda anfasa zulfa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya ingin melanjutkan pertanyaan saya kemarin tentang shalat jenazah
juga ditambahi dengan hal-hal berikut:
1. Apakah ada shalat ghaib pada zaman Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa
sallam padahal mayyit ada di kampung/negara muslim, karena yang saya
dapat dari hadits Nabi mengungumkan kematian raja (XXX) saya lupa tapi
tidak disebutkan dikampung muslim atau bukan?
2. Adakah bacaan duha yang mu'tabar dan mu'tamad (shahih), bagaimana
kedudukan bacaan duha riwayat ulwan
3. Kalau tidak salah dhuha Nabi Shallallaahu Alaihi wa sallam tidak
lebih dari empat rokaat, sedangkan dulu saya ketika di pesantren jika
ada sholat selain shalat wajib yang empat rokaat itu maka dipecah
dua-dua atau empat dengan sekali salam, benarkah ada riwayat seperti
tersebut

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh




Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke