MENSYUKURI NIKMAT ISLAM YANG ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA KARUNIAKAN KEPADA 
KITA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
sumber http://www.almanhaj.or.id


Allah Azza wa Jalla berfirman.

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan 
membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya 
menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia 
(sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada 
orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An’aam: 125]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) 
agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang 
hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk 
mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [Az-Zumar: 22]

Orang yang tidak mendapat hidayah akan senantiasa berada dalam kegelapan dan 
kerugian. Bagaimana jika seandainya seseorang tidak diberi hidayah oleh 
Allah Azza wa Jalla? Maka pasti ia menderita dalam kekafirannya, hidupnya 
sengsara dan tidak tenteram, serta di akhirat akan disiksa dengan siksaan 
yang abadi.[1] Allah Azza wa Jalla menunjuki hamba-Nya dari kegelapan menuju 
cahaya yang terang benderang melalui Rasul-Nya Shallalla ‘alaihi wa sallam. 
Untuk itu, kewajiban kita adalah mengikuti, meneladani dan mentaati 
Rasulullah Shallalla ‘alaihi wa sallam dalam segala perilaku kehidupan kita, 
jika kita menginginkan hidup di bawah cahaya Islam. Allah Azza wa Jalla 
menyatakan bahwa Dia Azza wa Jalla telah memberikan karunia yang besar 
dengan diutusnya Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Azza wa Jalla berfirman.

"Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika 
(Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari 
kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, 
mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur-an) 
dan Hikmah (As-Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam 
kesesatan yang nyata.” [Ali ‘Imran: 164]

Setiap muslim niscaya meyakini bahwasanya karunia Allah Azza wa Jalla yang 
terbesar di dunia ini adalah agama Islam. Seorang muslim akan senantiasa 
bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya petunjuk ke 
dalam Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam. Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang 
terbesar yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untuk-mu, dan telah Aku 
cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” 
[Al-Maa-idah: 3]

[A]. Kewajiban Kita Atas Karunia Yang Kita Terima
Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla dengan 
cara melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Setiap muslim wajib bersyukur atas 
nikmat Islam yang telah diberikan Allah Azza wa Jalla kepadanya. Jika 
seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah 
memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, maka ia adalah orang yang 
tidak tahu berterima kasih. Demikian juga jika manusia tidak melaksanakan 
kewajibannya kepada Allah Azza wa Jalla , maka dia adalah manusia yang 
paling tidak tahu berterima kasih.

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah 
kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [Al-Baqarah: 152]

Kewajiban apakah yang harus kita laksanakan kepada Allah Azza wa Jalla yang 
telah memberikan karunia-Nya kepada kita? Jawabannya, karena Allah Azza wa 
Jalla telah memberikan karunia-Nya kepada kita dengan petunjuk ke dalam 
Islam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan 
ber-ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla secara ikhlas, mentauhidkan 
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ 
(mengikuti) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta taat kepada 
Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dengan 
hal itu kita menjadi muslim yang benar. Oleh karena itu, agar menjadi 
seorang muslim yang benar, kita harus menuntut ilmu syar’i. Kita harus 
belajar agama Islam karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla dengan membawa 
keduanya.

Allah Azza wa Jalla berfirman.

"Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur-an) dan agama 
yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik 
tidak menyukai.” [At-Taubah: 33]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang 
benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai 
saksi.” [Al-Fat-h: 28]

Juga lihat Ash-Shaaff ayat 9.
Yang dimaksud dengan ÇóáúåõÏóì (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat, dan 
Ïöíúäõ ÇáúÍóÞøö (agama yang benar) adalah amal shalih. Allah Azza wa Jalla 
mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan 
kebenaran dari kebathilan, menjelaskan Nama-Nama Allah, Sifat-Sifat-Nya, 
perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta 
memerintahkan semua yang bermanfaat bagi hati, ruh dan jasad. Beliau 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah 
semata-mata karena Allah Azza wa Jalla, mencintai-Nya, ber-akhlak dengan 
akhlak yang mulia, beramal shalih dan beradab dengan adab yang bermanfaat. 
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perbuatan syirik, amal dan 
akhlak buruk yang membahaya-kan hati dan badan juga dunia dan akhirat.[2]

Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala 
adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu merupakan jalan yang lurus 
(ash-Shirathal Mustaqim) untuk memahami antara yang haq dan yang bathil, 
antara yang ma’ruf dan yang mungkar, antara yang bermanfaat dan yang 
mudharat (membahayakan), dan menuntut ilmu akan membawa kepada kebahagiaan 
dunia dan akhirat.

Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyata-kan ke-Islamannya tanpa 
memahami dan mengamalkannya. Pernyataannya itu haruslah dibuktikan dengan 
melaksanakan konsekuensi dari Islam.

Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi.
Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ØóáóÈõ ÇáúÚöáúãö ÝóÑöíúÖóÉñ Úóáóì ßõáöø ãõÓúáöãò.
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”[3]
Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga.
Rasulullah j bersabda:
...ãóäú Óóáóßó ØóÑöíúÞðÇ íóáúÊóãöÓõ Ýöíúåö ÚöáúãðÇ Óóåøóáó Çááåõ áóåõ Èöåö 
ØóÑöíúÞðÇ Åöáóì ÇáúÌóäøóÉö.
“...Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka 
Allah akan memudahkan dirinya dengannya jalan menuju Surga.”[4]

[B]. Pentingnya Ilmu Syar’i
Kita dan anak-anak kita akan tetap dan senantiasa ditambahkan ilmu, hidayah 
dan istiqamah di atas ketaatan jika kita beserta keluarga menuntut ilmu 
syar’i. Hal ini tidak boleh diabaikan dan tidak boleh dianggap remeh. Kita 
harus selalu bersikap penuh perhatian, serius serta sungguh-sungguh dalam 
menuntut ilmu syar’i. Kita akan tetap berada di atas ash-Shiraathal 
Mustaqiim jika kita selalu belajar ilmu syar’i dan beramal shalih. Jika kita 
tidak mem-perhatikan dua hal penting ini, tidak mustahil iman dan Islam kita 
akan terancam bahaya. Sebab, iman kita akan terus berkurang dikarenakan 
ketidaktahuan kita tentang Islam dan iman, kufur, syirik, dan dengan sebab 
banyaknya dosa dan maksiyat yang kita lakukan! Bukankah iman kita jauh lebih 
berharga daripada hidup ini?
Dari sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja, berusaha, bisnis, 
berdagang, kuliah dan lainnya, apakah tidak bisa kita sisihkan 
sepersepuluhnya untuk hal-hal yang dapat melindungi iman kita?

Saya tidaklah mengatakan bahwa setiap muslim harus menjadi ulama, membaca 
kitab-kitab tebal dan menghabiskan waktu belasan atau puluhan tahun untuk 
usaha tersebut. Namun, minimal setiap muslim harus dapat menyediakan 
waktunya satu jam saja setiap hari untuk mempelajari ilmu pengetahuan 
tentang agama Islam. Itulah waktu yang paling sedikit yang harus disediakan 
oleh setiap muslim, baik remaja, pemuda, orang dewasa maupun yang sudah 
lanjut usia. Setiap muslim harus memahami esensi ajaran Al-Qur-an dan 
As-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Salafush Shalih. Oleh karena 
itu, ia harus tahu tentang agama Islam dengan dalil dari Al-Qur-an dan 
As-Sunnah sehingga ia dapat mengamalkan Islam ini dengan benar. Tidak banyak 
waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan agama Islam. Jika iman kita 
lebih berharga dari segalanya, maka tidak sulit bagi kita untuk menyediakan 
waktu 1 jam (enam puluh menit) untuk belajar tentang Islam setiap hari dari 
waktu 24 jam (seribu empat ratus empat puluh menit).
Ilmu syar’i mempunyai keutamaan yang sangat besar dibandingkan dengan harta 
yang kita miliki.

[C]. Kemuliaan Ilmu Atas Harta [5]
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat th. 751 H) v menjelaskan perbedaan 
antara ilmu dengan harta, di antaranya sebagai berikut.

[1]. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja 
dan orang kaya.
[2]. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang pemilik harta menjaga hartanya.
[3]. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas ilmu.
[4]. Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedangkan ilmu justru 
bertambah dengan diajarkan.
[5]. Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan hartanya, 
sedangkan ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya.
[6]. Harta bisa didapatkan oleh siapa saja, baik orang ber-iman, kafir, 
orang shalih dan orang jahat, sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya 
didapatkan oleh orang yang beriman saja.
[7]. Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan 
ilmu, itulah kesempurnaan diri dan kemuliaannya. Sedangkan harta tidak 
membersihkan dirinya, tidak pula menambahkan sifat kesempurnaan dirinya, 
malah jiwanya menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan 
menginginkannya. Jadi keinginannya kepada ilmu adalah inti kesempurnaan-nya 
dan keinginannya kepada harta adalah ketidak-sempurnaan dirinya.
[8]. Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar seluruh 
ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar berbagai 
kesalahan.
[9]. Sesungguhnya orang berilmu mengajak manusia kepada Allah Azza wa Jalla 
dengan ilmunya dan akhlaknya, sedangkan orang kaya mengajak manusia ke 
Neraka dengan harta dan sikapnya.
[10]. Sesungguhnya yang dihasilkan dengan kekayaan harta adalah kelezatan 
binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah 
kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkan dengan mengguna-kannya untuk 
memenuhi kebutuhan syahwatnya, itulah kelezatan binatang. Sedangkan 
kelezatan ilmu, ia adalah kelezatan akal plus ruhani yang mirip dengan 
kelezatan para Malaikat dan kegembiraan mereka. Di antara kedua kelezatan 
tersebut (kelezatan harta dan ilmu) terdapat perbedaan yang sangat mencolok.
Seorang muslim harus mengetahui tentang pengertian Islam, karena itu ia 
harus belajar tentang Islam, definisi, dan inti dari ajarannya yang mulia.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang 
Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Psutaka At-Taqwa Po 
Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]
_________
Foote Note
[1]. Lihat surat Ali ‘Imran ayat 91 dan al-Maa-idah ayat 36-37.
[2]. Lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiril Kalaamil Mannaan 
(hal. 295-296) oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat th. 1376 
H), cet. Muassasah ar-Risalah, th. 1417 H.
[3]. HR. Ibnu Majah (no. 224) dari Shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 
'anhu, lihat Shahiih al-Jamii’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula 
dari beberapa Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, 
Abu Sa’id al-Khudri, Husain bin ‘Ali Radhiyallahu 'anhum oleh imam-imam ahli 
hadits lainnya dengan sanad yang shahih. Lihat kitab Takhriij Musykilatul 
Faqr (no. 86) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. IV/ Al-Maktab 
al-Islami, th. 1414 H.
[4]. HR. Muslim (no. 2699) dan selainnya, dari Shahabat Abu Hurairah 
Radhiyallahu 'anhu
[5] Lihat al-‘Ilmu; Fadhluhu wa Syaraafuhu min Durari Kalami Syaikhul Islam 
Ibnul Qayyim, hal. 160-173, tahqiq wa ta’liq: Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul 
Hamid al-Halabi al-Atsari, cet. I, Majmu’ah at-Tuhaf an-Nafa-is ad-Dauliyah, 
th. 1416 H.

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke