Nasihat Syekh Shalih Fauzan seputar perang Afghan, Libanon, Irak dan Palestina
 
Artikel ini dari http://www.madeenah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=189&Itemid=2.
Syaikh Shalih bin Fauzan adalah mufti Saudi Arabia, menjabat wakil dari Hai’ah Kibaril Ulama’ (MUI-nya Saudi).
Shaykh Shaleh ibn Fauzan mengatakan:
"Sekarang (hari ini), kaum Muslimin sedang menderita karena serangan jahat dari musuh yang menundukkan (memaksa) dari segala penjuru, dari perang di Afganistan, perang di Irak, perang di Palestina, dan perang  di Libanon. Dan yang kita dengar dan kita baca dari para khatib dan penulis (wartawan), semuanya mengutuk tindakan musuh. Dan tidak ada keraguan dalam persoalan ini.
Tetapi, apakah musuh-musuh kafir terharu oleh suara tinggi ini? Orang2 kafir, sejak dahulu, ingin menghapuskan keberadaan Islaam, sebagaimana Allah (Ta'aala) mengatakan:
{Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.}, [Surat al-Baqarah, Ayat 217].
Tetapi persoalannya ialah, apa yang kaum Muslimin siapkan sebagai jawaban atas mereka dan dalam mencegah serangan mereka? Tentu saja wajib atas mereka, pertama-tama, untuk melihat negeri mereka sekarang dalam hal demi tuntutan agama dan kesetiaan mereka pada negara, sudah tentu apa yang sudah merundung mereka akibat kealpaan di dalam menegakkan perintah agama.
Dalam narasi itu dikatakan: (Jika seseorang yang mengenalKu tidak taat kepadaKu, Aku akan jadikan dia dibawah kekuasaan mereka). Dan terjadi kepada Bani Israil ketika mereka meninggalkan agama mereka dan menyebabkan kerusakan di Bumi, Allah membuat mereka diliputi kekuasaan orang2 majusi (pemuja api) dan {lalu mereka merajalela di kampung-kampung kalian} sebagaimana Allah sebut di awal Surat al-Israa, Ayat 005].
Dan Allah mengancam mereka, bahwa jika mereka mengulangi kembali, Dia akan menghukum mereka. Oleh sebab itu penting sekali bahwa kita menilai urusan kita sekarang dan memperbaiki yang buruk dari perilaku kita dari sisi agama, hal ini tentu dilakukan agar sunnatullah tidak berubah.
Dan Allah (Ta'aala) mengatakan:
{Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.}, [Surat ar-Ra’d, Ayat 11]
Yang kedua, itu ialah wajib atas kita untuk menyiapkan sendiri dengan yang kita bisa untuk menghadapi musuh kita, sebagaimana Allah (Ta'aala) mengatakan:
{Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (tank, pesawat, peluru, artileri), kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. [Surat al-Anfaal, Ayat 60]. Dan hal ini dengan mempersiapkan tentara-tentara dan senjata serta memperkuat pertahanan.
Ketiga, persatuan kaum Muslimin kukuh di atas Tauhid dan menjalankan sesuai syariat Allah dan kesetiaan yang tinggi kepada Islaam di semua urusan kita, perilaku yang baik dan berdasarkan kitabullah serta menegakkan yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran, serta menyeru ke jalan Allah di atas ilmu, wawasan, dan ketulusan.
Allah (Ta'aala) mengatakan:
{Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai}, [Surat Aal-Imraan, Ayat 103]
Dan Dia (Ta'aala) mengatakan:
{Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar} [Surat Al-Anfaal, ayat 46]
Oleh sebab itu tidak mungkin bersatu sedangkan ada perbedaan dalam aqidah, tujuan dan cita-cita, sampai aqidah benar dan cita-cita adalah satu (yaitu) untuk kemenangan Al Haq dan menegakkan Kalimat Allah (di atas segalanya);
Para penceramah dan khatib dalam pidato dan nasehat mereka hendaknya memusatkan pikiran atas persoalan ini sebagaimana mereka (memusatkan pikiran di) mencela agresi musuh. Tujuan jahat musuh harus diungkap terbuka, bahwa melemahkan kaum Muslimin dan merebut kekayaan mereka bukanlah satu-satunya tujuan, lebih dari itu, tujuan utama mereka dimaksudkan untuk merusak aqidah  dan menjauhkan kaum muslimin dari agama sampai hancur berkeping-keping.
Inilah yang saya ingin sampaikan, yaitu untuk memperingatkan tentang malapetaka ini."
 


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke