SYIRIK POLITIK ?!

Oleh
Syaikh Abdullah bin Sholeh Al-Ubeilan
sumber http://www.almanhaj.or.id

Anda mungkin sering menjumpai dikalangan dai-dai harokah orang-orang yang 
mengatakan : Sesungguhnya tauhid itu adalah tauhid hakimiyah yaitu 
mewujudkan syariat Islam dalam hudud (hukum-hukum yang berkaitan dengan 
potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina muhshon dan sebagainya), 
muamalah, perjanjian dan lain-lain !!

Syariat dan politik menurut mereka bagaikan dua sisi mata uang. Syirik 
menurut mereka adalah syirik politik. Tidak diragukan lagi, ini merupakan 
penyelewengan akan makna tauhid yang diperintahkan Allah kepada 
hamba-hambaNya, serta penyelewengan akan makna syirik yang Allah telah 
melarang mereka darinya.

Maka inilah sebagian dari penjelasan yang merupakan bentuk pelurusan akan 
apa yang mereka (para dai harokah) ucapkan diatas.

[1]. Sesungguhnya metode dakwah itu tetap dan tidak boleh berubah. Dakwah 
itu adalah ibadah dan ibadah kapan pun juga haruslah berdasarkan syariat 
Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
serta Sunnah Khulafa Rasyidin Radhiyallahu ‘anhum

[2]. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengkisahkan kepada kita sebagian 
kisah-kisah para Rasul –sholawatullahi ‘alaihi wa salaamuhu ‘alaihin- dari 
Nuh hingga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sedikitpun 
perubahan dalam pondasi dakwah mereka meski pun adanya perbedaan tempat, 
waktu dan peradaban. Tidak pula terjadi perubahan pada memulai dakwah mereka 
(yaitu dakwah kepada tauhid ibadah, -pent)

[3]. Sesungguhnya semua Nabi dan Rasul memulai dakwah mereka dengan seruan 
agar manusia mengesakan Allah dalam beribadah dan meniadakan (segala bentuk 
kesyirikan). Dan ini makna kalimat Laa ilaaha illallahu (Tiada yang berhak 
disembah dengan benar kecuali Allah).

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan 
Kami wahyukan kepadanya : Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan 
Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” [Al-Anbiya : 25]

Dan Allah juga menyebutkan hal ini secara terperinci pada kisah Nuh, Hud, 
Sholeh, Syu’aib. Mereka semuanya menyeru kepada dakwah tauhid ini.

“Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. 
Ia berkata : ‘Hai kaumku, sembahlah Allah (saja) tidak ada bagi kalian 
sesembahan selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya” [Al-A’raaf 
: 65]

Orang-orang musyrikin memahami hal diatas dengan tauhid ibadah. Allah juga 
berfirman tentang Aad.

“Artinya : Sembahlah Allah (saja) tidak ada bagi kalian sesembahan 
selainNya” [Al-A’raaf : 65]

Orang-orang kafir Mekkah mengatakan :

“Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? 
Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” [Shaad : 5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa tauhid (mengesakan Allah dalam 
beribadah) adalah syari’atNya bagi umat ini. Dan inilah yang Allah 
syari’atkan kepada Nuh, Muhammad, Ibrahim, Musa dan Isa –Sholawatullahi wa 
salaamuhu ‘alaihi ajma’iin-.

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dia telah mensyari’atkan kamu tentang agama apa yang telah 
diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa 
yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkannlah 
agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” [Asy-Syura : 13]

Dan Allah juga berfirman tentang kesatuan dakwah para Rasul kepada Tauhid 
ibadah.

“Artinya : Katakanlah (hai orang-orang mu’min) : “Kami beriman kepada Allah 
dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, 
Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa 
dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak 
membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh 
kepadaNya” [Al-Baqarah : 136]

[4]. Sesungguhnya dakwah para Nabi itu bersepakat dalam maslah tauhid tapi 
berbeda dalam syari’at. Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan 
jalan yang terang” [Al-Ma’idah : 48]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Kami para Nabi memiliki syari’at yang berbeda tapi aqidah/tauhid 
kami satu” [Hadits Riwayat Bukhari]

Syari’at mereka berbeda. Dari sini jelas tidak benar jika tauhid dibawa 
kepada arti Tauhid Hakimiyah.

[5]. Allah Ta’ala adalah pencipta manusia. Dia Maha Mengetahui keadaan 
mereka dan sekaligus hal-hal yang bisa bermanfaat bagi mereka dalam segala 
hal keadaan. Dan Dialah yang memilih metode (dakwah kepada tauhid 
uluhiyyah[1] bukan hakimiyah,-pent) bagi para Rasul-RasulNya. Maka tidak 
boleh bagi seorangpun untuk merubah metode yang telah Allah pilih/tentukan 
sendiri bagiNya dan bagi hamba-hambaNya untuk hidayah dan kebaikan mereka 
sandiri.

[6]. Tidak boleh bagi kita untuk keluar dari jalan Allah dan jalan RasulNya 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta jalan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum 
dalam berdakwah dengan alasan, keadaan sudah berubah atau manusia bosan 
dengan dakwah tauhid (uluhiyah) atau karena kita sedang menghadapi masalah 
modern yang megharuskan merubah haluan atau karena sudah tidak ada lagi 
syirik (uluhiyah) pada zaman sekarang.

Alasan-alasan seperti ini termasuk penyelisihan terhadap Allah dan RasulNya, 
meskipun yang mengucapkannya berniat baik. Dan hal tersebut juga termasuk 
penyimpangan dari jalannya kaum muslimin. Perbedaan antara Nuh ‘Alaihi 
Sallam dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Rasul-Rasul yang lain 
tidak merubah metode dakwah mereka (dalam memprioritaskan dakwah kepada 
tuhid uluhiyah,-pent)

Alasan-alasan merubah haluan, karena menghadapi masalah modern di zaman ini 
sangatlah jelas kebatilannya. Sebab perkara yang paling penting pada saat 
ini (dan kapanpun juga) adalah menyerahkan ibadah (hanya kepada Allah saja) 
dan mempersiapkan diri dari satu hal yang pasti akan datang yaitu kematian 
serta pertanyaan di alam kubur, pembalasan, kebangkitan, dan penghisaban/ 
perhitungan.

[7]. Tidaklah layak bagi yang menempatkan dirinya sebagai da’i di jalan 
Allah untuk dia mengira bahwa kaum muslimin tidak butuh lagi dakwah kepada 
tauhid uluhiyah serta peringatan dari kesyirikan (dalam ibadah), karena 
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama hidupnya mulai dari diangkatnya 
beliau sebagai Nabi sampai meninggalnya senantiasa berdakwah kepada tauhid 
uluhiyah. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : (Laknat Allah bagi orang-orang Yahudi dan Nashara yang menjadikan 
kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid) beliau melarang dari apa yang 
mereka perbuat” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Ini adalah wasiat terakhir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada 
keluarganya, para khulafa beliau dan para sahabat. Dan mereka (para sahabat) 
adalah suri teladan kaum muslimin sampai hari kiamat kelak.

[8]. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk meremehkan kesyirikan yang telah 
menyebar luas dikalangan kaum muslimin dengan alasan : niat mereka kan baik 
atau mereka kan juga ingin mendekatkan diri kepada Allah atau dengan alasan 
kebodohan, karena Allah Ta’ala telah mencela orang-orang musyrikin dahulu 
dengan ketiga alasan di atas. Allah berfirman.

“Artinya : Sebahagian diberiNya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti 
kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan 
pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat 
petunjuk” [Al-A’raaf : 30]

Dan Allah juga berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : 
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada 
Allah dengan sedekat-sedekatnya” [Az-Zumar : 3]

Dan Allah berfirman.

“Artinya : Katakanlah : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang 
orang-orang yang paling merugi perbuatannya ? Yaitu orang-orang yang telah 
sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka 
bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” [Al-Kahfi : 103-104]

[9] Wajib bagi kita semua untuk meyakini bahwa kesyirikan masih terus 
menghantui dan menyelinap dikehidupan dan ibadah kaum muslimin pada zaman 
modern ini. Kebanyakan kaum muslimin pada saat ini sebagai pendukung 
kesyirikan atau diam dari mengingkarinya. Dan kebanyakan mereka juga dari 
kalangan para dai, khotib bahkan para cendekiawan muslim. Mayoritas mereka 
berada diantara kebodohan akan hakekat tauhid dan takut popularitas atau 
kedudukan mereka pudar di tengah pengikutnya, sebab yang mayoritas sekarang 
ini adalah para pelaku bid’ah.

Penyembahan terhadap berhala telah kembali lagi ke negeri kaum muslimin 
dengan nama pendekatan diri kepada Allah (tawasul ,-pent) atau cinta kepada 
Allah dan para Nabi serta cinta orang-orang sholeh. Dan syetan mengelabui 
manusia dalam hal ini dengan tidak menamakannya berhala atau tuhan, tapi 
dinamakan tempat-tempat keramat/barokah (wisata religius, -pent) yang 
merupakan tempat diperolehnya kekhusyukan serta merendahkan diri kepada 
Allah lebih dari masjid-masjid Allah. (kata mereka, -pent).

Diantara kaum muslimin yang hidup di negeri Islam ada yang tawaf di kuburan, 
menyembelih untuk kuburan atau untuk jin (sebagai sesajian) rumah kosong 
atau yang baru ditempati atau untuk mobil baru agar tidak terjadi kecelakaan 
(kata mereka). Ada juga diantara mereka yang meletakkan (kue/bubur) di 
pinggir pintu pada malam pengantin dan gambar tangan serta mata di belakang 
mobil guna menangkal bala’ dan hasad. Ada pula yang menyembelih tanpa 
mengucapkan bismillah agar bayinya bisa hidup. Dan juga ada yang mendatangi 
peramal, bertanya dan membenarkan ramalannya. Hal semacam ini banyak terjadi 
di tengah kaum muslimin –Laa haula wala quwwata illa billahi-. Apakah dengan 
pengakuan kita sebagai seorang muslim cukup untuk kita tidak terjerumus 
kedalam kesyirikan dan dampak negatifnya meskipun kesyirikan telah mendarah 
daging dalam hati, masjid-masjid serta rumah-rumah kita ? Apakah keimanan 
kita hanya sekedar angan-angan dan pengakuan belaka ?

[10]. Coba kita lihat dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada 
orang-orang Nashara yang kebanyakan mereka berada di bawah kekuasaan negara 
Romawi yang menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai hukum mereka 
yang menyelisihi hukum Allah! Kebanyakan pembicaraan Al-Qur’an kepada mereka 
tentang aqidah mereka terhadap Isa dan tidak berbicara kepada mereka 
(pertama kali) tentang syirik pemerintahan dan politik. Padahal syiara 
mereka adalah (berikan hak Allah untuk Allah dan hak kaisar untuk kaisar) 
yang merupakan semboyan sekulerisme.

[11]. Sesungguhnya kalau kita mau melihat sejarah dakwah para salaf 
(sahabat) kita akan mendapatkan mereka amat berantusias sekali dalam menyeru 
manusia untuk mentauhidkan Allah (dalam uluhiyah) dan memperioritaskannya 
dari dakwah lainnya.

Siapakah yang menyakan bahwa menyatukan manusia tanpa melihat aqidah 
termasuk dakwah Islamiyah ? Demi Allah, tidak lain ini hanyalah ucapan 
kelompok sekuler. Jika bukan mereka, maka hendaklah umat Islam bertakwa 
kepada Allah (berhati-hati) untuk terjerumus ke dalam hal ini dan jangan 
sampai hal tersebut menjauhkan mereka dari agama Islam, dari jalan Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, hanya karena ingin meraih 
(kursi) dalam politik.

[12]. Diantara sebab-sebab mengakarnya keyakinan yang rusak ini di negeri 
Islam sejak berabad-abad lamanya adalah kebodohan akan makan dan maksud dari 
kalimat Laa Ilaaha Illallahu. Kebanyakan kaum muslimin memahaminya tidak ada 
pencipta (tuhan) selain Allah (Tauhid rububiyah). Seandainya pemahaman ini 
benar, maka orang-orang musyrikin tidak mungkin akan menolaknya dengan ucpan 
mereka.

“Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja ? 
Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” [Shaad : 5]

[13]. Sebagian besar cendekiawan muslim mengira makna Laa Ilaaha Illallahu 
adalah tauhid hakimiyah (mengesakan Allah dalam hukum dan undang-undang 
pemerintahan), Seandainya hal ini benar maka tidak mungkin orang-orang kafir 
akan menolaknya, karena orang-orang kafir Quraisy dahulu menawarkan harta 
dan pemerintahana kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan 
balasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dakwah kepada 
kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallahu. Dan beliau tidak menentang mereka dalam 
masalah pemerintahan atau harta. Barangsiapa yang mentadabburi Al-Qur’an dan 
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta sejarah beliau, dia 
tidak akan ragu lagi bahwa makna Laa Ilaaha Illallahu lebih dari apa yang 
mereka pahami/sangka. Dia akan mengetahui bahwa artinya adalah mengesakan 
Allah dalam beribadah dan menjauhi/meniadakan sesembahan selain Allah. Dan 
dia juga akan mengerti bahwa Abu Jahal dan selainnya dari kaum musyrikin 
memahami makna kalimat tauhid ini, karena kalimat tersebut menghancurkan 
warisan nenek moyang mereka yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan.

[14]. Sesungguhnya perkara tauhid hakimiyah ini haruslah mencakup segala 
permasalahan agama dan dunia. Amr ma’rif nahi mungkar serta dakwah adalah 
perkara ibadah yang wajib terpenuhi didalamnya dua syarat yaitu ikhlas dan 
mutaba’ah (mengikuti sunnah). Amal ibadah yang ikhlas karena Allah tetapi 
tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah 
akan diterima. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak sesuai 
dengan sunnahku maka amalan terebut tertolak” [Hadits Riwayat Muslim]

Para salaf mengatakan.

“Bersedang-sedang dalam malaksanakan sunnah lebih baik daripada 
bersungguh-sungguh mengerjakan bid’ah”.

Maka dari sini kita meminta mereka untuk berhukum dengan hukum Allah dalam 
masalah ini (dakwah) dan selainnya. Dalam hal ini kita sendiri (sebagai dai) 
lebih utama untuk berhukum dengan hukum Allah. Tidak selayaknya kita menyeru 
manusia untuk mereka berhukum dengan hukum Allah tapi kita sendiri berhukum 
dengan pemikiran-pemikiran (manusia) dan politik (barat). Jika tidak 
berhukum dengan Allah (syariat Allah) maka akan gugurlah amal kita meskipun 
ikhlas karenaNya.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

[Diterjemahkan dari majalah Al-Asholah edisi 44 (1424H), Penerjemah 
Abdurrahman Thayyib Lc, Disalin Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi 16 
Th III Ramadhan 1426H/Oktober 2005M, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya]
_________
Foote Note
[1]. Tauhid Uluhiyah adalah keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang 
berhak diibadahi tidak ada sekutu bagiNya, -pent

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke