Qiyamul Lail
Keutamaan Shalat Lail
Shalat malam termasuk sunnah yang sangat dianjurkan. Orang-orang yang mengerjakan qiyamul lail termasuk bagian orang-orang yang bertakwa. Allah Taala berfirman,
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (QS. Adz Dzaariyat)
Dari Abu Hurairah radhiyallaHu anHu, Rasulullah
ShallallaHu alaiHi wa sallam,
Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah bulan Allah, Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam (HR. Muslim no. 1163)
Dari Abu Umamah al Bahili, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Hendaklah kalian melakukan qiyamul, karena sesungguhnya ia merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian dan ia juga sebagai sarana mendekatkan diri bagi kalian kepada Rabb kalian, sekaligus sebagai penghapus dosa-dosa kalian, serta pencegah dari perbuatan dosa (HR. at Tirmidzi no. 3549, al Hakim I/308 dan al Baihaqi II/502, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil II/199-202)
Shalat malam semakin dianjurkan pada bulan Ramadhan, dari
Abu Hurairah radhiyallaHu anHu, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau (HR. al Bukhari no. 2009, Muslim no. 759, Abu Dawud no. 1358, at Tirmidzi no. 805 dan an Nasai IV/156)
Hukum Shalat Lail
Shalat malam merupakan sunnah yang dianjurkan, sedangkan shalat witir yang dikerjakan di bagian akhir shalat malam hukumnya sunnah muakkad (ditekankan). Dari Abdullah bin Umar radhiyallaHu anHu, Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Jadikanlah witir (sebagai) akhir shalat kalian pada malam hari (HR. al Bukhari no. 998 dan Muslim no.
751)
Dari Abdullah bin Amr bin al Ash, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya Allah membekali satu shalat kepada kalian, karenanya peliharalah ia, yaitu shalat witir (HR. Ahmad II/206 dan Ibnu Abi Syaibah II/297, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil II/159)
Waktu Shalat Lail
Shalat lail dapat dikerjakan setelah shalat Isya dan akhir waktunya adalah setelah terbit fajar. Dari Aisyah radhiyallaHu anHa, dia berkata,
Rasulullah biasa mengerjakan shalat sebelas rakaat pada waktu antara selesai shalat Isya sampai Shubuh sebanyak sebelas rakaat (HR. Muslim no. 736)
Dari Abu Bashrah al Ghifari, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu shalat, yaitu witir. Oleh karena itu, kerjakanlah ia diantara Isya sampai shalat Shubuh (HR. Ahmad VI/7, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah no. 108)
Jumlah Rakaat Shalat Lail
Jumlah rakaat Shalat Lail paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat (sudah termasuk shalat witir atau seluruhnya adalah shalat witir), sebagaimana perkataan Aisyah radhiyallaHu anHa,
Rasulullah tidak pernah (shalat lail) lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan ataupun di luar bulan
Ramadhan (HR. al Bukhari no. 1147)
Dan shalat malam hendaknya dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dari Abdullah bin Umar radhiyallaHu anHu, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Shalaatul layli matsna matsna yang artinya Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat (HR. al Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)
Sedangkan shalat witir dapat dikerjakan satu, tiga, lima, tujuh, sembilan dan sebelas rakaat berdasarkan nash-nash di bawah ini :
Dari Ibnu Umar radhiyallaHu anHu, Nabi ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Al witru rakatun min aakhiril laili yang artinya Witir itu satu rakaat pada akhir malam (HR. Muslim
no. 752)
Dari Abu Hurairah radhiyallaHu anHu, Rasulullah ShallallaHu alaiHi wa sallam bersabda,
Janganlah kalian mengerjakan shalat witir tiga rakaat sehingga sehingga menyerupai shalat maghrib, tetapi kerjakanlah witir lima rakaat, tujuh rakaat, sembilan rakaat atau sebelas rakaat (HR. al Hakim dalam Kitab al Mustadrak I/314, shahih sesuai syarat al Bukhari dan Muslim, dishahihkan pula oleh Syaikh al Albani dalam Kitab Shalaatut Taraawiih hal. 85)
Untuk shalat witir 5 rakaat maka pengerjaannya dapat dilakukan dengan shalat dua rakaat-dua rakaat sebanyak 4 rakaat kemudian ditutup dengan shalat satu rakaat atau pun sekaligus mengerjakan 5 rakaat secara bersambung tanpa duduk tahiyyat kecuali di akhir rakaat saja.
Dari Aisyah radhiyallaHu anHa, dia berkata, Sesungguhnya Nabi pernah mengerjakan witir lima rakaat dan beliau tidak duduk tahiyyat kecuali di akhir rakaat (HR. Abu Awanah II/325)
Witir tujuh rakaat dapat dikerjakan dua rakaat-dua rakaat sebanyak 6 rakaat dan ditutup dengan shalat satu rakaat atau langsung dikerjakan dengan 7 rakaat secara bersambung dan duduk tahiyyat pada rakaat keenam lalu membaca tahiyyat, lalu berdiri untuk selanjutnya mengerjakan rakaat ketujuh dan kemudian salam.
Aisyah radhiyallaHu anHa berkata,
Setelah beliau semakin tua dan lemah, beliau mengerjakan witir tujuh rakaat, dimana beliau tidak duduk tahiyyat kecuali pada rakaat ke enam. Kemudian bangkit dan tidak mengucapkan salam.
Selanjutnya beliau mengerjakan rakaat yang ketujuh (HR. Muslim no. 746 dan an Nasai III/340)
Witir sembilan rakaat dapat dikerjakan dengan dua rakaat-dua rakaat hingga delapan rakaat dan kemudian diakhiri dengan satu rakaat atau dikerjakan bersambung sampai dengan 9 rakaat dengan duduk tahiyyat pada rakaat kedelapan dan kemudian duduk tahiyyat lagi (tahiyyat akhir) pada rakaat ke sembilan serta diakhiri dengan salam.
Aisyah radhiyallaHu anHa berkata,
Rasulullah jika witir sembilan rakaat, maka beliau tidak duduk tahiyyat kecuali pada rakaat kedelapan, lalu beliau memanjatkan pujian kepada Allah, berdzikir dan berdoa (membaca tahiyyat). Kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Selanjutnya beliau mengerjakan rakaat kesembilan, lalu beliau duduk dan berdzikir
kepada Allah yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa dan berdoa (membaca tahiyyat), kemudian beliau mengucapkan salam yang terdengar oleh kami (HR. Muslim no. 746 dan an Nasai III/340)
Witir dengan sebelas rakaat dapat dikerjakan dua rakaat-dua rakaat hingga sepuluh rakaat kemudian diakhiri dengan satu rakaat atau dikerjakan empat rakaat-empat rakaat dan kemudian witir tiga rakaat.
Maraji :
- Meneladani Shalat-shalat Sunnah Rasulullah, Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Pustaka Imam SyafiI, Bogor, Cetakan Kedua, Rabiul Awal 1425 H/April 2004 M.
- Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhirah 1426 H/Juli 2005 M.
Semoga Bermanfaat.
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)
Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jibril berkata kepadaku, 'Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga'" (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min. __._,_.___
Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "assunnah" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
