BELENGGU-BELENGGU HIZBIYAH

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Atsari
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]
sumber http://www.almanhaj.or.id


Wahai Kaum Muslimin

Sungguh, kini manusia telah dipisahkan dari hubungan dengan ulama Al-Kitab 
was Sunnah, telah dipisahkan dari pergaulannya bersama dhahirnya syari'ah 
dengan cara-cara dan sarana-sarana bid'ah yang coraknya bermacam-macam 
sesuai dengan perubahan zaman.

Oleh karena itu hendaklah anda berpegang kepada para "Ulama Syari'ah" dan 
para pengkaji "Ilmu Syar'i", yang menjadi pembela-pembela Al-Kitab was 
Sunnah dari segenap bid'ah dan noda. Hendaknya anda duduk dan mengitari 
mereka untuk mendengarkan perkataan mereka. Ingatlah akan firman Allah 
Ta'ala.

"Artinya : Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang telah 
diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-Nya, kemudian dia berpaling 
daripadanya". [Al-Kahfi : 57][11]

Demikianlah, bahwa hizbiyah mempunyai cara-cara dan sepak terjang bid'ah 
yang tidak pernah dilakukan para SALAF. Hal demikian teranggap sebagai 
penghambat ilmu dan sebab terbesar bagi terpecah belahnya jama'ah. Karena 
betapa banyaknya tali persatuan Islam telah menjadi berantakan, dan betapa 
banyaknya kaum muslimin menjadi lengah karenanya. [12]

Semua itu merupakan salah satu penyakit "Ta'ashub" (berfanatik golongan).

Bahwa sesungguhnya menelaah (mempelajari) bermacam-macam arah pandang 
(wijhatun nadhar), kemdian membanding-bandingkan satu dengan lainnya, akan 
memberikan kesiapan dan kemampuan kepada seseorang untuk instrospeksi, 
memberikan nasihat-nasihat, melakukan pembetulan dan pelurusan. [13]

Namun hal-hal serupa ini justru telah hilang di kalangan para ahzab 
(golongan-golongan), orang-orang yang memecah belah agamanya menjadi 
terserak di lembah-lembah dan di bukit-bukit.

Satu lagi bentuk belengu hizbiyah yang nampak nyata ialah : "Sirriyah 
(kerahasiaan)"

Sesunggunya telah menjadi jelas berdasarkan apa yang telah kami sebutkan 
bahwa ; Ahlus Sunnah ialah orang-orang yang itiba'' sedangkan Ahlul Bid'ah 
ialah orang-orang yang mengada-ngadakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah 
ada dan tanpa ada sandarannya.

Oleh sebab itulah mereka (ahlul bid'ah) merahasiakan bid'ah mereka. 
Sementara itu Ahlus Sunnah tidak pernah menyembunyikan madzhab mereka. 
Kalimat-kalimatnya jelas, madzhabnya masyhur, dan akibat baiknya terkembali 
kepada mereka. [14]

Imam Ahmad di dalam "Az-Zuhdi" hal : 45. dan Ad-Darimi dalam "Sunannya" 
(1/19) telah meriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa beliau berkata : 
"Apabila kamu melihat ada sekelompok orang (kaum) saling berbisik-bisik 
tentang sesuatu mengenai agamanya, tanpa (melibatkan) orang umum, maka 
ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka sedang membangun kesesatan".

Khabar di atas disebutkan pula oleh Ibnul Jauzi dalam Tablis Iblis. Kemudian 
dalam Al-muntaqa An Nafis (hal.89), saya memberikan komentar sebagai 
berikut. "Agama kita (segala puji bagi Allah) adalah jelas lagi nyata, tiada 
yang tersembunyi, tersimpan, dan terrahasiakan. Maka sesungguhnya apa yang 
dilakukan oleh kaum hizbiyun berupa hal demikian 
(sembunyi-sembunyi/berahasia-rahasian -pen), adalah satu pintu kesesatan, 
wal-iyadzubillah ta'ala.

Namun betapa mengherankannya ketika mereka berdalil tentang sirriyah 
(kerahasian) yang mereka klaim itu, dengan dalil-dalil Al-Qur'an atau 
As-Sunnah. Ternyata ketika diteliti dan diperhatikan, tidak ada sedikitpun 
di antara dalil-dalil itu yang bisa diterima.

Diantara dalil-dalil tersebut adalah :

[a] Menyembunyikannya Ibrahim 'alaihis salam, tentang penghancuran 
patung-patung sebagaimana tersebut dalam surat Al-Anbiya 62-63.
[b] Menyembunyikannya seorang mukmin dari kalangan keluarga Fir'aun akan 
keimanannya, seperti tersebut dalam surat Ghafir : 28-29.
[c] Dan kisah-kisah lain tentang orang-orang terdahulu yang termuat di dalam 
kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka juga berdalil tentang keadaan Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam pada periode Makkah, dengan segala sirriyah 
yang meliputi da'wahnya.

Begitu pula berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

" Artinya ; Jadikanlah kitman (bersembunyi) sebagai alat bantu untuk 
mensukseskan apa yang menjadi kebutuhanmu".

Sebagai jawaban atas istidlal-istidlal (argumentasi) di atas, ialah bahwa 
semua dalil-dalil ini selain dalil yang terakhir, terjadi sebagai berikut :

Manakala kaum muslimin dalam keadaan tertindas (mustadl'afin) dan dalam 
keadaan mereka takut jika men-jahar-kan (berterang-teranganan) Islam. Di 
samping itu sesungguhnya "Sebagian besar keadaan bersembunyinya kaum muslim, 
tetap dalam keadaan tegak berpegang kepada perintah-perintah yang 
diterimanya dari wahyu". [15]

Atau manakala seorang da'i dalam keadaan tidak mampu mengatakan bahwa 
dirinya seorang muslim.

Adapun hadits yang terakhir [16] maka sebenarnya tidalah tepat kalau 
ditempatkan sehubungan dengan permasalahan ini, sebab didalamnya ada satu 
penggal hadits bagian akhir yang dihilangkan, dan itulah justru yang menjadi 
tujuan sirriyyah (yang dimaksud oleh penggalan hadits yang pertama) yaitu 
sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

"....Sesungguhnya setiap yang mendapatkan nikmat niscaya ada yang dengki 
padanya".

Penggalan terakhir ini memberi penjelasan tentang sisi sebenarnya yang 
di-istidlal-kan dengan hadits diatas, yaitu bahwa hadits tersebut dengan 
menyembunyikan (merahasiakan) ni'mat dan tidak menceritakannya, sebab 
dikhawatirkan akan dijahili oleh orang yang dengki, ini telah melahiran 
sebuah jalan bagi terobek-robeknya umat dengan melalui dua sisi :

Sisi dari pihak penguasa yang menyeleweng yang memiliki aturan-aturan sesat, 
yakni para oknum yang mengkhawatirkan kursi serta kedudukannya. Pihak ini 
dengan tangan besinya tentu akan membabat siapapun, bukan saja kepada 
orang-orang yang memastikan dirinya berkecimpung dan menerjuni dunia 
sirriyyah, tetapi juga kepada orang-orang yang pada sangkaan mereka punya 
unsur sirriyah.

Bersama pihak kaum muslimin sendiri, akan terdapat jurang pemisah yang dalam 
di antara mereka, sebab mereka akan (saling) menyembunyikan apa-apa yang 
justru tidak boleh di sembunyikan, mereka akan saling merahasiakan apa-apa 
yang sebenarnya tidak boleh dirahasiakan ..."

Akibatnya jiwa-jiwa manusia menjadi terdzalimi, dari hati-hati orang pun 
menjadi hitam pekat...

Kedua sisi perkara di atas, (mestinya) wajib dijauhi oleh para da'i sebab : 
'Da'wah sudah di kumandangkan, prinsip-prinsipnya bertebaran terdapat di 
dalam kitab abadi yaitu : Al-Qur'an Al-karim, Sunnah Nabawiyah nan suci, dan 
di dalam kitab-kitab serta berjilid-jilid buku yang isinya sarat dengan 
ajaran Islam, kitab-kitab itu telah menjadi milik semua orang.

Berdasarkan ini, saya tidak melihat adanya alasan bagi harakah Islamiyah 
untuk meredam da'wah terang-terangan dengan anggapan bahwasanya masih dalam 
marhalah (tahapan) sirriyah periode pertama, bahkan justru mungkin untuk 
dikatakan : Bahwa sesungguhnya marhalah sirriyatud da'wah (kerahasian 
da'wah) telah habis sama sekali, sampai suatu ketika Allah membinasakan bumi 
ini beserta seluruh apa yang ada di atasnya, sebab agama ini telah 
dikumandangkan dan telah sempurna, habislah sudah menyembunyikan agama ini. 
[17]

Bagi pengamat sejarah masa lalu, apalagi sejarah masa kini, tentu ia akan 
melihat bahwa kapan saja di situ ditemukan ketertutupan dan kerahasiaan, 
maka di sana pasti akan merajalela penyelewengan-penyelewengan syar'i.... 
Kapan saja ditemukan ketersembunyian dan kitman (tersimpan), maka disana 
pasti akan dikuasai rasa takut dan rasa aman pun akan lenyap.

Dinul Islam, dengan segala keluhuran, kesucian dan kejernihannya... berada 
diatas semuanya ini. Tak ada tempat di dalam Islam untuk menyembunyikan 
hakikat, menyembunyikan thariqah (cara) dan menyembunyikan maslak 
(jalan/manhaj).

Sesunggunya da'wah menuju sirriyah tidak terbatas hanya untuk menghadapi 
musuh-musuh da'wah yang menyusup dibawah nama kemaslahatan memenuhi seluruh 
rongga-rongga da'wah. Untuk selanjutnya menjadi celah bagi terdahulukannya 
sikap-sikap loyal (terhadap masing-masing da'wah sirriyyah-pen) dan 
terjauhkannya dari rasa cukup untuk menyerahkan perwalian kepada kekuasaan 
ahlul halli wal 'aqdi [yakni para ulama dan tokoh-tokoh yang mewakili 
seluruh umat Islam untuk mengurusi persoalan mereka, termauk urusan 
ba'iat-pen].

Dan adalah yang akan menjadi korban pertama bagi da'wah sirriyyah justru 
para pendukung amal Islami sendiri, bukan musuh-musuhnya.

Semestinya tidaklah boleh lepas dari benak kita apa yang bakal ada dalam 
da'wah sirriyah berupa tipu daya, penyelewengan fikrah dan penyimpangan 
aqidah.

Sebab da'wah semacam itu pasti akan menempuh perjalanan melalui 
lorong-lorong gelap, hingga tidak ada satu celah pun yang terbuka bagi upaya 
pembetulan, dialog dan evaluasi hail-hasilnya, (itu semua) hanya karena 
dalih : demi pemeliharaan eksitensi, sirriyah (kerahasiaan). [18] dan 
security [19]

Marilah kita renungkan bersama sabda Nabi kita Shallallahu 'Alaihi wa 
Sallam, semoga Allah memelihara anda :

" Artinya : Sungguh telah aku tinggalkan kamu di atas (hujjah) putih 
berseri, yang malam harinya seperti siang harinya ; tidak akan menyeleweng 
darinya kecuali orang yang binasa" [20]

Itulah dia sumber hujjah ....., dan di atasnyalah (tegak) hujjah.

[Disalin dari kitab Ad-Da'wah Ilallah Baina At-Tajammu' Al-Hizbi Wa Ta'awun 
As-Syar'i, Sub Judul Quyud Hizbiyah oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul 
Hamid Al-Halabi Al-Atsari, dan diketik ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 
07/1/1414-1993 diterjemahkan oleh Ahmaz Faiz]
_________
Foote Note
[11] At-Thali'ah Fi Bara'ati Ahlis Sunnah Lil'utaibi, hal : 30, 32 dengan 
sedikit perubahan
[12] Hailah Tholibi Ilmi, No. 65 Li As-Syaikh Bakar Abu Zaid
[13] Dari Muqaddimah Umar Ubaid Hasanah dalam kitab Fiqhud Da'wah 1/8 
Kitabul Ummah
[14] Al-Muntaqa An-Nafis min Tablis Iblis, hal : 40
[15] As-Sirriyatu wa Atsaruha Fi Ada'i L-mahami 'L-askariyyah Lis Syaikh 
Muhammad Abu Rahim
[16] Bila hadits itu bisa diterima keshahihannya, maka di dalamnya masih 
mengandung unsur pertentangan, jadi persoalannya masih perlu dikaji lebih 
lanjut
[17] Al-Manhaj Al-Haraki lis-sirah An-Nabawiyah (1/33) Li Al-Ghadban, 
bandingkan pula dengan kitab Atsarat wa Saqathah ....hal : 33 Li Zuhair 
Salim].
[18] Setiap kerja (amal Islam) yang mencirikan watak rahasia serta berbau 
gerakan bawah tanah, apabila disangka bahwa hal itu hebat dan cerdik, dan 
bahwa musuh-musuhnya tidak bakal bisa melacak kegiatan tersebut dengan 
seluruh unsur-unsurnya, maka berarti ia berada dalam kelalaian. Sesungguhnya 
lorong-lorong kerahasiaan yang gelap merupakan lorong-lorong yang tepat guna 
menumbuhkan benih-benih yang aneh dan majhul. Dan tepat untuk kerja gelap di 
bawah tanah, Fi An-Naqd Adz-Dzati, hal : 41 oleh Khalis Jalby), dan security 
[Nadhrat Fi Masirah Al-Amal Al-Islami, dengan perubahan. hal : 38-39
[19] Nadhrat Fi Masirah Al-Amal Al-Islami, dengan sedikit perubahan. hal. 
38-39
[20] Hadits Hasan, telah saya takhrij dalam Arba'iy Ad-Da'wah wad Du'at, No 
6 Nasyr Daar Ibnil Qayyim-Dammam]

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke