>From: Ahmad Sibil <[EMAIL PROTECTED]>
>Date:  Tue Aug 29, 2006 8:24 am
>Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
>4."Seorang pelacur tidak beriman selagi dia melakukan 
>kemaksiatannya (melacur), seorang peminum khamr tidak beriman 
>selagi dia melakukan kemaksiatannya (meminum khamr)"   (kira-2 
>demikian kalau salah tolong koreksi dan bagaimana redaksi aslinya?)

Alhamdulillah,
Saya akan membantu menyalin kelengkapan kutipan di atas mudah-mudahan sesuai 
dengan apa yang dimaksud. Disalin dari buku Syarah Aqidah ahlus Sunnah wal 
Jama’ah secara ringkas

PRINSIP AHLUS SUNNAH TENTANG DIEN DAN IMAN

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa dien dan iman adalah ucapan 
dan pengamalan, perkataan hati dan lisan, amal hati, lisan dan anggota 
tubuh. Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena perbuatan 
dosa dan maksiat.

Prinsip Ahlus Sunnah tentang iman adalah sebagai berikut :

[9]. Ahlus Sunnah tidak mencabut nama iman secara keseluruhan dari orang 
Islam yang fasiq dalam agama ini dan tidak menghukuminya kekal dalam Neraka, 
sebagaimana yang dikatakan oleh Khawarij dan Mu’tazilah. Orang Islam yang 
berbuat dosa besar dan maksiat dikatakan tidak sempurna imannya.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Tidaklah berzina seorang pezina, ketika berzina ia dalam keadaan 
beriman, tidaklah seorang pencuri, ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, 
tidaklah seorang peminum khamr, ketika ia meminumnya ia dalam keadaan 
beriman,  tidaklah seorang yang menjarah yang menjarah suatu jarahan yang 
berharga yang disaksikan oleh manusia, ketika menjarahnya ia dalam keadaan 
beriman. [1]

Mereka (Ahlus Sunnah) mengatakan : “Orang yang beruat fasiq itu berkurang 
imannya, atau beriman dengan imannya, dan fasiq dengan dosa besarnya. Tidak 
diberi nama iman secara mutlak dan tidak dicabut juga secara mutlak”

Dalil-dalil dari ayat Al-Qur’an Al-Karim tentang bertambahnya iman terdapat 
dalam surat Ali-Imran : 173, Al-Anfaal : 2, At-Taubah : 124, Al-Ahzaab : 22, 
Al-Fath : 44 dan Al-Muddatstsir : 31.

[Disalin dari buku Syarah  Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Penulis Yazid 
bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam As-Syafi’I, cet III]
__________
Foote Note
[1]. HR Al-Bukhari (no. 2475, 5578), Muslim (no. 57), Abu Dawud (no. 4689), 
dan At-Tirmidzi (no. 2625), dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. 
Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan : “Hadits ini termasuk yang 
diikhtilafkan maknanya dan perkataan yang paling shahih yang dikatakan oleh 
para peneliti bahwa maknanya yaitu, tidaklah melakukan perbuatan dosa dan 
maksiat ketika seseorang dalam keadaan sempurna imannya. Dan ini termasuk 
lafazh-lafazh yang menafikan sesuatu, akan tetapi yang dimaksud di sini 
adalah dinafikan tentang kesempurnaan imannya. Dan kami menafsirkan seperti 
yang disebut di atas dengan dasar hadits dari Abu Darda yang shahih, dimana 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang 
mengucapkan La ilaaha Illallah, ia akan masuk Surga, meskipun ia berzina dan 
mencuri” [Syarh Muslim II/41]

Lengkapnya silakan membeli buku Syarh Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! 
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/






Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke