SEORANG PENYANYI YANG BERTAUBAT DITANGAN IBNU MAS’UD

Oleh
Syaikh Abdul Aziz Al Abdul Latif
sumber http://www.almanhaj.or.id


Sesungguhnya berdakwah kepada Allah adalah tugas para nabi (semoga 
kesejahteraan dilimpahkan atas mereka), dan jalan para ulama rabbaniyyin, 
oleh karena itu berdakwah kepada Allah adalah sebuah amal pendekatan diri 
kepada Allah yang paling utama, dan paling agung kedudukannya.

Allah berfirman.

“Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru 
kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata : “Sesungguhnya aku 
termasuk orang-orang yang berserah diri?”[Fushilat : 33]

Dan berdakwah kepada Allah itu, harus benar tujuannya, bersih manhajnya 
(caranya), inilah jalan dakwah nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam dan siapa saja yang mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
dengan baik, sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Katakanlah : Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang 
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci 
Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” [Yusuf : 108]

Sungguh para Salafush Shalih kita (semoga Allah merahmati mereka) menempuh 
jalan ini, mereka menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran dan mengajarkan 
manusia kebaikan, menyampaikan sejelas-jelasnya melalui berbagai cara, 
seperti pengajaran, harta, nasehat, fatwa, hukum dan selainnya.

Dan sungguh Salafus Shalih telah menegakkan dakwah ini untuk mengharapkan 
wajah Allah, mereka tidak menginginkan dari manusia balasan dan tidak pula 
ucapan terima kasih, dan disaat itu juga mereka menetapi keselamatan manhaj 
dengan mengikuti dan meninggalkan perbuatan bid’ah.

Kebangkitan Islam saat ini membutuhkan pengetahuan pada contoh-contoh 
perbuatan dan fenomena yang nyata dari dakwah Salafus Shalih : agar 
keadaan-keadaan mereka itu menjadi pendorong serta pemberi semangat untuk 
mencontoh mereka, dan berjalan diatas uslub (metode) mereka.

Salah seorang ulama berkata : “Barangsiapa melihat sejarah Salafush Shalih 
pasti ia mengetahui kekurangannya, dan ketertinggalannya dari derajat 
seorang manusia”.

Dan makalah ini berisikan fenomena-fenomena dakwah dari kehidupan Salafush 
Shalih, kami akan memaparkannya sebagaimana yang berikut ini.

“Adalah seorang pemuda yang bernama Dzaadzan seorang peminum khamr (minuman 
keras), dan ia penabuh gendang, lalu Allah memberinya rezki berupa taubat 
ditangan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu maka menjadilah Dzaadzan 
termasuk orang-orang yang terbaik dari kalangan tabi’in, dan salah seorang 
ulama yang terkemuka, dan termasuk orang-orang yang masyhur dari kalangan 
hamba Allah ahli zuhud” [Lihat biografinya dalam Hilyatul Aulia 4/199, dan 
Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar ‘Alamun Nubala 4/280]

Inilah kisah taubatnya, sebagaimana Dzaadzan meriwayatkannya sendiri, ia 
berkata :

“Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, 
ketika saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu 
Mas’ud, maka ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang 
berisikan minuman keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), 
lalu ia (Ibnu Mas’ud0 berkata : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang 
bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah engaku… engkau”.

Setelah itu pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku : “Siapa 
orang ini ?” mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud (sahabat Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah 
itu aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis, (setelah 
mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.

Maka Ibnu Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia 
berkata : “Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”. 
Duduklah! lalu Ibnu Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar 
‘Alamun Nubala 4/28]

Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah diatas, bahwa kita mengetahui 
kejujuran Abdullah bin Mas’ud dan niatnya yang baik, serta tujuannya yang 
benar dalam berdakwah kepada Dzaadzan yang menyebabkannya mendapat petunjuk 
dan bertaubat, sebagaimana dikatakan Abdul Qadir Jailani (561H) semoga Allah 
merahmati beliau, mengomentari kisah tersebut :

“Lihatlah berkahnya kejujuran (kebenaran), ketaatan dan niat baik, bagaimana 
Allah memberi petunjuk Dzaadzan melalui Abdullah bin Mas’ud dikarenakan 
kejujuran dan tujuan baiknya, maka seorang yang rusak (perangai dan 
ahlaknya) tidak akan dapat engkau perbaiki hingga engkau sendiri menjadi 
seorang shalih (baik) dalam dirimu, takut kepada Rabbmu jika engkau 
bersendirian, ikhlas kepadaNya jika engkau bergaul dengan mahluk dengan 
tanpa berbuat riya’ dalam tindakan dan tingkahmu, meng-Esakan Allah dalam 
seluruh hal ini, dan ketika engkau ditambah petunjuk dan bimbingan oleh 
Allah, engkau menjaga dirimu dari hawa nafsu dan dari penyelewangannya oleh 
syaitan dari kalangan jin dan manusia, dan (engkau jaga dirimu) dari seluruh 
kemungkaran, kefasikan, bid’ah dan seluruh kesesatan, maka akan dihilangkan 
darimu kemungkaran dengan tanpa terbebani, sebagaimana hal ini terjadi pada 
zaman kita ini, seseorang mengingkari satu kemungkaran namun terjerumus 
dalam banyak kemungkaran, dan kerusakan yang besar ….” [Al-Ghunyah 
1/139-140]

Dan perkara lain yang kita ambil faedah dari kisah diatas bahwasanya Ibnu 
Mas’ud telah menempuh cara yang “syar’iyyah” (cara yang sesuai dengan agama) 
yang paling utama dalam merubah kemungkaran, tatkala ia mampu merubah 
kemungkaran dengan tangannya, maka iapun merubah kemungkaran dengan 
tangannya, ia pecahkan kendang dan ia hancurkan bejana minuman keras.

Sungguh pada diri Abdullah bin Mas’ud terdapat permisalan yang mengagumkan 
dalam keberanian dan maju membela kebenaran, serta dalam merubah 
kemungkaran. Ia tidak takut celaan orang yang suka mencela, padahal ia 
sendirian dan orang yang dilarang dari kemungkaran lebih dari satu, 
sebagaimana nampak dalam konteks cerita. Ditambah lagi padahal Abdullah bin 
Mas’ud adalah seorang yang pendek dan kurus (semoga Allah meridhai beliau).

Akan tetapi karena Abdullah bin Mas’ud adalah seorang yang mengagungkan 
hukum-hukum dan syiar-syiar Allah, maka hal ini mewariskan sikap 
penghormatan dan pengagungan, dan sungguh benarlah Amr bin Abdul Qais ketika 
ia berkata : “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah menjadikan 
segala sesuatu takut kepadanya, dan barangsiapa yang tidak takut kepada 
Allah maka Allah akan menjadikannya takut terhadap segala sesuatu” [Sifatus 
Sofwah 3/208]

Dan dengan perbuatan Abdullah bin Mas’ud yang merubah kemungkaran dengan 
tangannya, kita akan mendapati seberapa besar belas kasih darinya dan 
seberapa besar kesempurnaan kelembutan dan nasehatnya kepada Dzaadzan. 
Karena tatkala Dzaadzan mendatanginya dalam keadaan bertaubat, iapun 
menghadapi dan memeluk Dzaadzan, lalu menangis lantaran gembira dengan 
taubat Dzaadzan. Dan Abdullah bin Mas’ud menghormatinya dengan ungkapan yang 
paling indah : “Selamat datang orang yang dicintai Allah”.

Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai 
orang-orang yang mensucikan diri” [Al-Baqarah : 222]

Bukan itu saja, bahkan Ibnu Mas’ud mempersilahkannya duduk dan 
mendekatkannya, dan menghidangkan kurma untuknya.

Demikianlah, ahli sunnah mengetahui kebenaran dan berdakwah kepada 
kebenaran, ahli sunnah sayang terhadap mahluk dan menasehati mereka.

Sebagaimana kita lihat dari kisah tadi bagaimana cerdas dan pintarnya 
Abdullah bin Mas’ud [Berkata Imam Dzahabi : Sesungguhnya Ibnu Mas’ud 
dianggap ulama yang cerdas, Lihat Siyar ‘Alamun Nubala 1/462] Lihatlah 
bagaimana Dzaadzan bertaubat. Karena sesungguhnya Dzaadzan adalah seorang 
penyanyi yang bagus suaranya, maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepadanya : 
“Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka 
engkau adalah engkau…engkau”. Dalam riwayat lain Ibnu Mas’ud berkata : 
“Alangkah bagusnya suara ini ! kalau seandainya ia membaca Al-Qur’an 
tentullah lebih baik”.

Sesungguhnya pengarahan yang lurus terdapat pada persiapan-persiapan dan 
kemampuan-kemampuan, dan meletakkannya pada tempatnya sesuai dengan syari’at 
ditambah lagi dengan memperhatikan tabiat jiwa manusia. Dan pengetahuan 
terhadap perasaannnya adalah penopang yang penting untuk kesuksesan dakwah, 
karena sesungguhnya jiwa itu tidak akan meninggalkan sesuatu melainkan 
diganti dengan sesuatu yang lain, maka haruslah memperhatikan pengganti yang 
sesuai dan inilah yang dipahami oleh Abdullah bin Mas’ud dan terlewatkan 
pemahaman ini oleh banyak manusia lainnya.

Ibnu Taimiyah berkata : “Agama Islam menyuruh kebaikan dan melarang 
kemungkaran, tidak akan tegak salah satunya melainkan dengan lainnya, maka 
janganlah seseorang melarang kemungkaran kecuali hendaknya ia juga menyuruh 
kebaikan dan meningkirkan kemungakaran, sebagaimana ia menyuruh beribadah 
kepada Allah dan juga melarang dari beribadah kepada Allah dan juga melarang 
beribadah kepada selainNya, dimana perkara tertinggi adalah bersaksi 
bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan jiwa 
itu diciptakan untuk beramal, bukan untuk meningalkan, dan hanyalah 
meninggalkan itu tujuan lainnya” [Iqtidho Sirotol Mustaqim 2/617]

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 09/Th.II 
/2004M/1424H. Terjemahan Dari Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863. Penerbit Ma’had 
Ali Al-Irsyad Surabaya, Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]

_________________________________________________________________
Don't just search. Find. Check out the new MSN Search! 
http://search.msn.click-url.com/go/onm00200636ave/direct/01/






Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke