Wa'alaykumussalaam wa rahmatullah wa barakaatuh > temanku ada yang bertanya kepadaku tentang ALLAH itu asal nya > darimana
" Allah adalah Tuhanku. Dia yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni'mat yang dikaruniakan-Nya. Dia adalah Sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haq selain Dia. Dia, Tuhan, Pencipta segala sesuatu yang ada, yang berhak diibadahi dengan segala macam ibadah syar'i. Semua yang ada selain Allah disebut alam. dan aku adalah bagian dari semesta alam ini. " Saya teringat, ketika menyaksikan VCD Debat /Bedah Buku : Ada Permurtadan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta". Ketika Ustadz At Tamimi menjawab/mematahkan pemahaman JIL / Filsafat mengenai sebab akibat.Orang-orang filsafat selalu berpikir sesuai logika dan mencari sebab akibat sesuatu. Sementara Allah, Dia Yang Maha Mulia adalah Pencipta Sebab Akibat itu. Maka dari itu Allah terlepas dari Sebab Akibat. Saya ringkaskan penjelasan mengenai sifat-sifat Allah dan kaidah memahami sifat-sifat Allah sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Taimiyah pada buku Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah. Buku ini diisyarah oleh Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di, dita'liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, ditariij oleh Syaikh Ali Hasan bin Al bin Abdul Hamid Al-Atsari dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. (lihat halaman 1 - 7). Sebagaimana rukun pertama, yaitu pokok dari semua pokok yang ada, yang paling besar serta paling penting dan di atasnya dibangun seluruh pokok dan prinsip Aqidah, yaitu Iman kepada Allah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Dan merupakan iman kepada Allah yaitu iman kepada sifat-sifat-Nya sebagaimana yang terdapat dalam kitab-Nya, dan melalui lisan Rasul-nya Muhammad Shollallahu 'alayhi wa sallam tanpa tahrif (mengubah lafazh/makna Asma dan Sifat), ta'thil (menghilangkan/meniadakan sifat-siifat Allah), takyif (menerangkan bentuk/keadaan sifat itu) dan tamtsil (penyerupaan) dan mengimani bahwa Allah 'Azza wa Jalla itu tidak serupa dengan sesuatu apapun, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat, maka mereka tidak menafikan dari-Nya sifat-sifat yang Allah tetapkan buat diri-Nya dan tidak menyelewengkan kalimat lafazh/makna aslinya dan tidak membuat ilhad (menentang/menyelewengkan) nama-nama Allah, tidak men-takyif (menanyakan bagaimana bentuknya), serta tidak mem-tamtsil (menyerupakan) sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, karena tidak ada yang sama bagi-Nya dan tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya." Bahwa dalam mengenal Allah dan memahami sifat-sifat Allah terdapat kaidah-kaidah didalamnya. Bagaimana agar mengetahui kaidah-kaidahnya? Mari kita perlu belajar menuntut ilmu Agama. Karena apa, jika memahami Allah dengan cara berpikir kebanyakan ahli kalam maka engkau akan terperosok jauh dari ilmu untuk memahami sifat-sifat Allah yang benar. Sesungguhnya kalam/perkataan itu bisa kurang jelas dalam penunjukkannya disebabkan karena 3 hal : 1. Kebodohan orang yang berkata, tidak mempunyai ilmu dan keterbatasannya 2. Tidak fasih/tidak jelas perkataannya 3. Karena berdusta/menipu Sedangkan Nash-nash Al Qur'an dan As-Sunnah bersih / bebas dari tiga hal ini dari segala segi. Firman Allah serta perkataan Rasul-rasul-Nya itu sangat jelas/terang dan sangat benar, sebagaimana firman Allah : "Dan siapakah yang paling benar perkataannya daripada Allah" (An-Nisa' : 122) dan bandingannya dalam firman Allah 'Azza wa Jalla : "Dan tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar serta yang paling baik penjelasannya". (Al Furqaan : 33). Rasulullah Shollallahu 'alayhi wa sallam adalah orang yang paling jujur dalam menasehati. Beliau adalah makhluk yang paling tahu, yang paling jujur, dan paling fasih perkataannya serta orang yang paliing jujur dalam menasehati umatnya. Jika Rasul orang yang paling tahu tentang Allah, yang paling jujur, yang paling fasih dan selalu menasehati ummatnya, apakah mungkin dalam perkataannya ada sesuatu yang kurang? Wajib mengimani setiap apa yang dikabarkan Allah tentang diri-Nya di dalam Al Qur'an dan apa yang dikatakan/diberitakan tentang Allah oleh Rasul-Nya dengan iman yang benar dan selamat dari tahrif dan ta'thil dan juga harus selamat dari takyif dan tamtsil. Bahkan wajib menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan oleh Rasul-Nya serta tidak boleh menambah/mengurangi, karena sesungguhnya berbicara tentang Dzat Allah dan sifat-Nya ini adalah satu. Sebagamana Allah mempunyai Dzat yang tidak menyerupai dzat lainnya, maka Allah juga mempunyai sifat yang tidak menyerupai sifat lainnya. Dan barangsiapa yang condong kepada menafikan sifat Allah atau menafikan sebagiannya, maka ia adalah Mu'aththil dan Muharrif serta barangsiapa yang menanyakan tentang bagaimana sifat Allah itu? Atau menyerupai sifat Allah dengan sifat makluk-Nya maka ia adalah Mumatsil dan Musyabbih. Maka dari itu, saya anjurkan jika teman antum sangat penasaran tentang "Allah", maka datanglah ke kajian-kajian Ilmu Islam yang benar, ajak dia dengan cara yang baik. Semoga Allah memudahkan langkah antum untuk mengajaknya. Allah Maha Pemberi Petunjuk bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Sumber : Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Darul Haq : 2001 Tiga Landasan Utama : Syaikh Muhammad At-Tamimi : Yayasan Minhajus Sunnah : 2000 Wassalaamu'alaykum wa rahmatullah wa barakaatuh ----- Original Message ----- From: "Johan Affandi" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Monday, October 02, 2006 3:03 PM Subject: [assunnah] Re: masalah tauhid --- In [email protected], >"hermansyahdwiwijaya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > assalamu'alaikum > > temanku ada yang bertanya kepadaku tentang ALLAH itu asal nya > darimana. terus aku jawab kalo ALLAH itu ESA, dan tidak beranak dan > diperanakkan, dan tidak ada satupun yang setara dengan DIA. seperti > yang dijelaskan di surat ikhlas itu. > > tapi temanku tetep menganggap jawaban itu masih belum memberi jawaban > tentang darimana asal ALLAH. > > sebaiknya apa yang aku lakukan, soalnya aku sendiri takut terjebak > dalam diskusi ini, sehingga melemahkan tauhidku. > > tolong saya saudaraku.makasih sebelunya > > assalamu'alaikum > > -Hermansyah- > Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh Akhifillah, sebaiknya antum tanyakan saja kepadanya sesuai dengan pertanyaan yang ada dalam Al-Qur'an : Artinya : "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" [Ath Thuur: 35] Artinya : "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, atukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu atau merekakah yang berkuasa?" [Ath Thuur: 35-37] Artinya : "Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertaqwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala ssesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dililndungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al Mu'minuun: 84-89] Artinya : "Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab, "Allah." Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Robb kamu yang sebenarnya. Tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" [Yunus: 31-32] Akhi Pertama, bukankah Allah Maha Perkasa lagi Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Dia adalah Dzat Yang Haq dan Yang Esa untuk disembah. Jadi bagaimana mungkin Dzat Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu dulunya tidak ada? sungguh jika demikian teman antum itu telah hilang akalnya. Sebab bagaimana mungkin Dzat Yang Maha Kuasa harus diawali oleh Dzat yang lain?. Kedua, mengenai wujud Allah maka ana kutibkan penjelasan di situs http://www.almanhaj.or.id: Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara', dan indera. [1]. Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fitrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dapat memalingkannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: " Artinya : Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi" [Hadits Riwayat Al-Bukhari] [2]. Adapun bukti akal tentang wujud Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, dan tidak pula tercipta secara kebetulan. Tidak mungkin wujud itu ada dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada. Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan karena setiap yang diciptakan pasti mebutuhkan pencipta. Adanya makhluk-makhluk itu di atas undang-undang yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait dengan erat antara sebab-musababnya dan antara alam semesta satu sama lainnya. Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur. Kalau makhluk tidak dapat menciptakan diri sendiri, dan tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Robb semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan dalil aqli (akal) dan dalil qath'i dalam surat Ath Thuur: " Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" [Ath Thuur: 35] Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika Jubair bin Muth'im mendengar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang tengah membaca surat Ath Thuur dan sampai kepada ayat-ayat ini: "Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, atukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu atau merekakah yang berkuasa?" [Ath Thuur: 35-37] Ia, yang tatkala itu masih musyrik berkata, "Hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku." [Hadits Riwayat Al-Bukhari] Dalam hal ini kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada seseorang berkata kepada Anda tentang istana yang dibangun, yang dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan karpet, dan dihiasi dengan berbagai perhiasan pokok dan penyempurna, lalu orang itu mengatakan kepada Anda bahwa istana dengan segala kesempurnaannya ini tercipta dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta, pasti Anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta dan dungu. Kini kami bertanya kepada Anda, masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta apa-apa yang berada di dalamnya tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?! [3]. Bukti syara' tentang wujud Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa seluruh kitab langit berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb Yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluknya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang dibeitakan itu. [4]. Bukti inderawi tentang wujud Allah Subhanahu wa Ta'ala dapat dibagi menjadi dua: [a] Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman: " Artinya : Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar." [Al Anbiya: 76] " Artinya : (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut" [Al Anfaal: 9] Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu berkata, "Pernah ada seorang Badui datang pada hari Jum'at. Pada waktu itu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata' "Hai Rasul Allah, harta benda kami telah habis, seluruh warga sudah kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengatasi kesulitan kami." Rasulullah lalu mengangkat kedua tanganya dan berdoa. Tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada Jum'at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata, "Hai Rasul Allah, bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, doakanlah akan kami ini (agar selamat) kepada Allah." Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdoa: "Ya Robbku, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami." Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat kecuali menjadi terang (tanpa hujan)." [Hadits Riwayat Al Bukhari] [b]. Tanda-tanda para nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud Yang Mengurus para nabi tersebut, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia, Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para rasul. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa 'Alaihimus Sallam untuk memukul laut dengan tongkatnya, Musa memukulkannya, lalu terbelahlah laut itu menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah berfirman. "Artinya : Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.: Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar." [Asy Syu'araa: 63] Contoh kedua adalah mukjizat Nabi Isa 'Alaihimus Sallam ketika menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari kubur dengan ijin Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. " Artinya : dan aku menghidupkan orang mati dengan seijin Allah ¦." [Ali Imran: 49] "Artinya : dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup) dengan ijin-Ku." [Al Maidah :110] Contoh ketiga adalah mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika kaum Quraisy meminta tanda atau mukjizat. Beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang hal ini. "Artinya : Telah dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah pula bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus-menerus." [Al-Qomar: 1-2] Tanda-tanda yang diberikan Allah, untuk memperkuat para rasulNya dan sebagai pertolongan atas mereka, menunjukkan dengan pasti akan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketiga, akhi untuk itu dalam kita sangatlah perlu kita mengenal Allah dengan cara : 1. Mengenal Allah dengan Ayat-ayat Kauniah-Nya, 2. Mengenal Allah dengan As'ma dan Sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala Oleh karena itu ana sarankan antum membaca kitab "3 Landasan Pokok" karya Syaikh Shaleh Utsaimin, Insya'allah disitu terdapat penjelasannya. Ana khawatirkan teman antum itu seorang sufi sehingga nantinya dapat mempengaruhi antum dengan pemikiran-pemikiran sesatnya. Dan yang penting diingat bagi antum, bahwa agama tidaklah berasal dari akal. Jadi jangan sampai mengakali agama apalagi masalah Aqidah. >>> cut <<<< Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
