To: [email protected]
Sent: Monday, 9 October, 2006 9:44:47 AM
Subject: [assunnah] Batasan anak (sudah berkeluarga ; suami & Istri) berbakti 
kpd orang tua
saya baru berkeluarga, kami suami-istri sama2 ingin berbakti kepada orang tua 
maupun mertua sesuai dengan syariat, pls kasih kami pencerahan agar kami tidak 
salah
wassalam
Suryadinata

BATASAN TAAT KEPADA ORANG TUA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
sumber http://www.almanhaj.or.id

Secara umum kita diperintahkan 
taat kepada orang tua. Wajib taat kepada kedua orang tua baik yang 
diperintahkan 
itu sesuatu yang wajib, sunnah atau mubah. Demikian pula bila orang tua 
melarang 
dari perbuatan yang haram, makruh atau sesuatu yang mubah kita wajib 
mentaatinya.

Lebih dari itu, kita juga wajib mendahulukan berbakti kepada orang tua 
dari pada perbuatan wajib kifayah dan sunnah. Mengenai hal diatas para ulama 
telah beristimbat dari kisah Juraij yang hidup jauh sebelum masa Nabi Muhammad 
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan 
Muslim.

"Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu 
katanya, "Seorang yang bernama Juraij sedang mengerjakan ibadah di sebuah sauma 
(tempat ibadah). Lalu ibunya datang memanggilnya, "Humaid berkata, "Abu Rafi' 
pernah menerangkan kepadaku mengenai bagaimana Abu Hurairah meniru gaya ibu 
Juraij ketika memanggil anaknya, sebagaimana beliau mendapatkannya dari 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu dengan meletakkan tangannya di 
bagian kepala antara dahi dan telinga serta mengangkat kepalanya, "Hai Juraij ! 
Aku ibumu, jawablah panggilanku'. Ketika itu perempuan tersebut mendapati 
anaknya sedang shalat. Dengan keraguan Juraij berkata kepada diri sendiri, 'Ya 
Allah, ibuku atau shalatku'. Tetapi Juraij telah memilih untuk meneruskan 
shalatnya. Tidak berapa lama selepas itu, perempuan itu pergi untuk yang kedua 
kalinya. Beliau memanggil, 'Hai Juraij ! Aku ibumu, jawablah panggilanku'. 
Juraij bertanya lagi kepada diri sendiri, 'Ya Allah, ibuku atau shalatku'. 
Tetapi beliau masih lagi memilih untuk meneruskan shalatnya. Oleh karena 
terlalu 
kecewa akhirnya perempuan itu berkata, 'Ya Allah, sesungguhnya Juraij adalah 
anakku. Aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata ia enggan 
menjawabnya. Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah 
yang disebabkan oleh perempuan pelacur'. Pada suatu hari seorang pengembala 
kambing sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij yang letaknya jauh 
terpencil dari orang ramai. Tiba-tiba datang seorang perempuan dari sebuah 
dusun 
yang juga sedang berteduh di tempat tersebut. Kemudian keduanya melakukan 
perbuatan zina, sehingga melahirkan seorang anak. Ketika ditanya oleh orang 
ramai, 'Anak dari siapakah ini ?'. Perempuan itu menjawab. 'Anak dari penghuni 
tempat ibadah ini'. Lalu orang ramai berduyun-duyun datang kepada Juraij. 
Mereka 
membawa besi perajang. Mereka berteriak memanggil Juraij, yang pada waktu itu 
sedang shalat. Maka sudah tentu Juraij tidak melayani panggilan mereka, 
akhirnya 
mereka merobohkan bangunan tempat ibadahnya. Tatkala melihat keadaan itu, 
Juraij 
keluar menemui mereka. Mereka berkata kepada Juraij. 'Tanyalah anak ini'. 
Juraij 
tersenyum, kemudian mengusap kepala anak tersebut dan bertanya. 'Siapakah 
bapakmu?'. Anak itu tiba-tiba menjawab, 'Bapakku adalah seorang pengembala 
kambing'. Setelah mendengar jawaban jujur dari anak tersebut, mereka kelihatan 
menyesal, lalu berkata. 'Kami akan mendirikan tempat ibadahmu yang kami 
robohkan 
ini dengan emas dan perak'. Juraij berkata, 'Tidak perlu, biarkan ia menjadi 
debu seperti asalnya'. Kemudian Juraij meninggalkannya". [Hadits Riwayat 
Bukhari 
-Fathul Baari 6/476, dan Muslim 2550 (8)].

Kisah di atas diceritakan Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika sedang menjelaskan tentang tiga orang yang 
dapat berbicara sewaktu kecil, yang pertama adalah Isa bin Maryam yang 
berbicara 
ketika masih bayi, kedua Ashabul Ukhdud yang tercantum dalam surat Al-Buruj dan 
ketiga adalah kisah Juraij ini.

Pada hadits ini Juraij melihat wajah 
pelacur karena do'a ibunya setelah Juraij tidak memenuhi panggilannya dengan 
sebab tetap mengerjakan shalat sunnah. Para ulama beristimbat dengan hadits ini 
bahwa shalat sunnah harus dibatalkan untuk memenuhi panggilan ibu.

Dari 
kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa taat kepada kedua orang tua harus 
didahulukan dari ibadah sunnah, lebih ditekankan lagi apabila orang tua kita 
menyuruh kita untuk melakukan ibadah yang bersifat sunnah atau wajib kifayah 
[Bahjatun Nazhirin I/347]

Ibnu Hazm berkata, "Tidak boleh jihad kecuali 
dengan izin kedua orang tua kecuali kalau musuh itu sudah ada di tengah-tengah 
kaum muslimin maka tidak perlu lagi izin" [Al-Muhalla 7/292 No. 922]

Kata 
Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni, beliau mengatakan bahwa izin itu harus 
didahulukan daripada jihad kecuali kalau sudah jelas wajibnya jihad dan musuh 
sudah berada ditengah-tengah kita maka didahulukan jihad.

Para ulama 
membawakan beberapa hadits bahwa selama jihad tersebut fardhu kifayah maka 
harus 
didahulukan berbakti kepada kedua orang tua. Sebagaimana dalam hadits 
yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i dari Abdullah bin Amr 
bin 'Ash.

"Artinya : Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam meminta izin untuk jihad. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa 
sallam bertanya, "Apakah bapak ibumu masih hidup ?" orang itu menjawab, "Ya" 
maka kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Hendaklah kamu berbakti kepada 
keduanya" 
[Hadits Riwayat Bukhari, Muslim 5/2529 Abu Dawud 2529, Nasa'i, Ahmad 2/165, 
188, 
193, 197 dan 221]

Juga yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 2549) dari 
Abdullah bin Amr bin 'Ash.

"Artinya : Ada yang datang kepada Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ya Rasullullah aku berbaiat kepadamu untuk 
hijrah dan berjihad ingin mencari ganjaran dari Allah". Kata Rasulullah 
Shallallahu alaihi wa sallam, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?", kata 
orang tersebut "Bahkan keduanya masih hidup". "Apakah engkau mencari ganjaran 
dari Allah ?. "Orang itu menjawab, "Ya aku mencari ganjaran dari Allah". 
"Kembali kepada kedua orang tuamu, berbuat baiklah kepada keduanya". Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruhnya pulang" [Hadits Riwayat Muslim No. 
2549]

Dalam riwayat lain yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu 
Dawud dan Nasa'i, dikatakan :

"Artinya : Seseorang datang kepada 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Ya Rasulullah saya akan 
berba'iat kepadamu untuk berhijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam 
keadaan menangis". Kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Kembali 
kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah 
membuat keduanya menangis" [Hadits Riwayat Abu Dawud 2528, Nasa'i dalam Kubra, 
Baihaqi dalam Hakim 4/152]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam 
Nasa'i dengan sanad yang hasan dari Muawiyah bin Jaa-Himah.

"Artinya : 
Jaa-Himah Radhiyallahu 'anhu datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
berkata, "Ya Rasulullah aku ingin perang dan aku datang kepadamu untuk 
musyawarah". Kemudian kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah kamu 
masih mempunyai ibu?". Kata orang ini, "Ibu saya masih hidup". Kata Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu 
karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu" [Hadits Riwayat 
Nasa'i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329]

Dikatakan oleh Ibnu Qudamah 
dalam kitabnya Al-Mughni beliau mengatakan kenapa Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam menyebutkan tentang beberapa hadits ini ketika disebutkan jihad, Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh anak ini untuk meminta izin kepada kedua 
orang tua. Kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :"Sesungguhnya berbakti 
kepada kedua 
orang tua adalah fardlu 'ain didahulukan daripada fardhu 
kifayah"

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua 
Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - 
Jakarta.]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=771&bagian=0



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke