Alhamdulillah dibawah ini ana nukil sebuah artikel
bagaimana mengenal Allah. artikel asli dapat antum
lihat di www.asysyariah.com kategori aqidah

Abu Hilmy

<-- artikel -- >
Mengenal Allah
Penulis : Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi

Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah.
Banyak orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak
cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar
perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka
tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.

Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah
bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang
mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas?
Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal
pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?

Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis
dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika
tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau
ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan,
barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.

Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal
Allah yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya,
tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan
hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala
bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang
oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika
orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup,
mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung
rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam
problema hidup.

Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi
mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam.
Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau keadaannya
demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah
sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?

Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang
masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah
dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal.

Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud
Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah
Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.

Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al
Qur'an dan di dalam As Sunnah baik global maupun
terperinci.

Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan:
"Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di
dalam Al Qur'an dengan dua cara yaitu pertama, melihat
segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan
merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah
seperti dalam firman-Nya: "Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan
malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi
orang-orang yang memiliki akal." (QS. Ali Imran: 190)

Juga dalam firman-Nya yang lain: "Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan
siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang
bermanfaat bagi manusia." (QS. Al Baqarah: 164)

Mengenal Wujud Allah.

Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah
telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia,
dan ditetapkan pula oleh syari'at.

Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang
berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal
akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang
mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya.
Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana
kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan
meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun
tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah
di dalam Al Qur'an: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu
menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman ): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu' Mereka
menjawab: '(Betul Engkau Tuhan kami) kami
mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu)
agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan:
'Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak
mengatakan: 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah
mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini
adalah anak-anak keturunan yang datang setelah
mereka.'." (QS. Al A'raf: 172-173)

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa
fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga
menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal
Rabbnya. Adapun bukti syari'at, kita menyakini bahwa
syari'at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung
maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa
syari'at itu datang dari sisi Dzat yang Maha
Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh
Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin hal 41-45)

Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga
perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan
pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin hal 14)

Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang
menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki,
mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala
mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa,
pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang
menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.

Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak
ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini.
Allah mengatakan: "'Katakanlah!' Dialah Allah yang
Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara
dengan-Nya." (QS. Al Ikhlash: 1-4)

Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada
yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di
atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah
dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.

Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir
jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka
meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah
Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang
selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan
hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka
menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak
mengetahui jikalau 'tuhan-tuhan' mereka itu tidak bisa
berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari
sesembahan itu?

Allah telah menceritakan di dalam Al Qur'an bahwa
mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri
mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya
sebagaimana firman Allah:

"Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai
penolong (mereka mengatakan): 'Kami tidak menyembah
mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi
Allah dengan sedekat-dekatnya'." (Az Zumar: 3 )

Kedua, agar mereka memberikan syafa'at (pembelaan ) di
sisi Allah. Allah berfirman:

"Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang
tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka
dan mereka berkata: 'Mereka (sesembahan itu) adalah
yang memberi syafa'at kami di sisi Allah'." (QS.
Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahab)

Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid
rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa
firman-Nya:
"Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang
menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah." (QS.
Az Zukhruf: 87)
"Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang
menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan
matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah."
(QS. Al Ankabut: 61)
"Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang
menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi
setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah." (QS. Al
Ankabut: 63)

Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka
terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang
demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam
Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka
sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan
mereka.

Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di
tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar
kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita.
Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada
yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa'at,
meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam
usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka
harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan
orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di
tempat-tempat keramat.

Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal,
dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang
paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini,
merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan
kepada Allah.

Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki,
menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala
macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat,
membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang
miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan,
yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian,
yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan
seseorang, kecuali Allah. Semuanya ini menuntut kita
agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak
kepada selain-Nya.

Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk
peribadatan bagi Allah, seperti berdo'a, meminta,
tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar,
cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang
telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam.

Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah
termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang
sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur'an:
"Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya
kepada-Mu ya Allah kami meminta." (QS. Al Fatihah: 5)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah
membimbing Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu dengan sabda
beliau:
"Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan
apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada
Allah." (HR. Tirmidzi)

Allah berfirman:
"Dan sembahlah Allah dan jangan kalian
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun" (QS. An Nisa:
36)

Allah berfirman:
"Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah
menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian,
agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa." (QS.
Al Baqarah: 21)

Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan
Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak
bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan
sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu
hanyalah milik Allah semata.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan
adzabnya. 'Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan
apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah
kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah
berfirman: 'Sungguh Aku telah menginginkan darimu
lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang
rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus
menyekutukan-Ku." ( HR. Muslim dari Anas bin Malik
Radhiallahu 'Anhu )

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Saya tidak butuh
kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan
satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku
maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya." (HR.
Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu )

Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di
antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana
ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu
orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau
kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke
tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni
tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya
dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan
takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun
mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar,
berjanji akan beri'tikaf di tempat tersebut jika
terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan
hutang.

Ibnul Qoyyim mengatakan: "Kesyirikan adalah penghancur
tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid
uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah."

Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama
yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah
dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah
memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati
diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah
memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi
berdasarkan firman Allah:

"Dan Allah memiliki nama-nama yang baik." (Qs. Al
A'raf: 186)

"Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi." (QS. An
Nahl: 60)

Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan
sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan
Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya
sedikitpun. Imam Syafi'i meletakkan kaidah dasar
ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat
Allah sebagai berikut: "Aku beriman kepada Allah dan
apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa
yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada
Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah
sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah"
(Lihat Kitab Syarah Lum'atul I'tiqad Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin hal 36)

Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama
Allah yang menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah
dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah
tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan
dan dibenci dalam agama. Allah berfirman:
"Katakanlah: 'Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan
yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi,
dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan
yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
(keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian
berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu." (QS. Al
A'raf: 33)

"Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak
memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati semuanya akan diminta
pertanggungan jawaban." (QS. Al Isra: 36)

Wallahu 'alam


--- budi sidik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalamu 'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
>
> Adakah rekan-rekan yang mempunyai artikel/file
> tentang Mengenal Alloh
> Mohon bantuannya.
>
> Jazakallah Khoiron Katsiron
> Wassalamu 'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh


______________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.
http://new.mail.yahoo.com



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke