Assalamualaikum Memang benar tentu saja sifat kekal surga dan neraka sebagai makhluq tidak sama dgn sifat kekal Allah sebagai Khaaliq, karena "Laisa kamitslihi syai'"(Tidak ada satupun yg sama dgn-Nya).
Adapun aqidah Ahlussunnah yg meyakini surga dan neraka itu kekal adalah berdasarkan zhahir firman Allah sendiri yg ada di Kitab-Nya. Sedangkan membicarakan masalah seperti apa sifat kekal akhirat dibandingkan sifat kekal Allah maka tidak layak bagi kita membahasnya. Allah telah menyatakan dgn sekian banyak firman-Nya di dalam Kitab-Nya bahwa surga dan neraka adalah kekal, maka cukup bagi kita beriman kpd firman-Nya itu, kecuali jika ada nash/dalil yg menjelaskan ttg masalah itu lebih jauh. Karena masalah ini adalah masalah ghaib, maka sifatnya adalah tauqiffiyah yaitu tidak dapat diketahui kecuali dgn wahyu. Maka dari itu untuk membantah syubhat seperti ini dan syubhat lainnya yg semacam ini yaitu dengan melihat apakah permasalahan ini pernah dipermasalahkan oleh para salafunash shalih atau tidak? Seperti argument Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- ketika membantah pemahaman yg menyatakan Al Qur'an adalah makhluq, Kita tanyakan kpd si penulis buku tsb "Apakah pernyataan ini (akhirat tidak kekal) diketahui oleh Rasulullah dan para shahabatnya atau tidak?" Maka jawabannya hanya dua pilihan, pertama, jawabannya : "tidak, mereka (Rasulullah dan para shahabat) tidak mengetahuinya" kedua, jawabannya : "ya, mereka mengetahui" Kalau dia menjawab dgn jawaban pertama yaitu Rasulullah dan para shahabatnya tidak mengetahui masalah ini, maka benar2 dia telah kafir karena menganggap dirinya lebih `alim dari Rasululah dan para shahabat dlm perkara tauqiffiyah ini. Jika dia menjawab dgn jawaban yg kedua, maka kita tanya padanya : "Jika mereka mengetahuinya, apakah mereka mendakwahkannya atau mendiamkannya?" Maka jawabannya ada dua pilihan lagi, yaitu : pertama, jawaban : "Mereka mengetahui tapi mereka tidak mendakwahkannya (yaitu mendiamkan masalah ini)" kedua, jawaban : "Ya, mereka mengetahuinya dan mendakwahkannya" Jika dia menjawab dgn jawaban yg pertama maka kita akan mengatakan padanya, "Jika mereka mendiamkannya, lalu kenapa kita tidak mendiamkannya juga?" Jika dia menjawab dgn jawaban yg kedua, maka kita katakan padanya, "Sebutkanlah riwayat yg menyatakan para salaf membahas/membicarakan masalah itu!". Jika dia tidak dapat mendatangkan riwayat2 tsb, maka tidak perlu kita hiraukan pendapatnya itu yg tidak ada landasannya dari salafush shalih dalam perkara tauqiffiyah seperti ini. ----- Original Message ----- From: "mokhamad nasikhi" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, November 10, 2006 9:28 AM Subject: Re: [assunnah] akhirat tidak kekal??? > yang saya bingung dengan jawaban anda, seakan akan anda tahu kehendak Alloh. > nah ini yang lebih berbahaya. > > siapa pencipta??? apa yang diciptakan ? apa mungkin sang pencipta sama sama kekal. kekalnya ciptaan yaa tergantung penciptanya.... Kan begitu mas...... mau kekal atau tidak itu urusan Alloh. kita yaaa mengimani sajaa...... yang maha kekal hanya satu.....betul nggak mas??? yang jelas kekalnya Sang pencipta dan kekalnya ciptaan pasti beda. > > Wassalamualaikum > Nasikhi > > > Muhammad Farid <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dalam bukunya Ternyata Akherat Tidak Kekal, Agus Musthopa mengatakan : > Akherat adalah ciptaan Allah dan semua ciptaan Allah pasti musnah tidak ada yang abadi. > > Jawabannya sederhana : Akherat dan semua makhluk yang ada di dalamnya bisa kekal abadi karena Allah MENGHENDAKI demikian. Semua itu bisa terjadi atas kehendak Allah. Allah Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. > > Ada banyak ayat yang menyatakan akherat itu kekal abadi. Kira-kira ada 110 ayat. Namun semua itu "ditafsirkan lain" oleh Bapak Agus Musthopa karena kehadiran ayat ini : > > "Adapun orang-orang yang celaka, maka tempatnya adalah Neraka, di dalamnya mereka menarik dan mengeluarkan nafas. Mereka kekal di dalamnya selama ada Langit dan Bumi, kecuali apa-apa yang dikehendaki Tuhanmu. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki" > "Adapun orang-orang yang bahagia tempatnya adalah di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Tuhanmu. Sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. > (QS : Huud (11) : 106 -108 ) > > Berdasarkan ayat ini Bapak Agus Musthopa menyimpulkan kekekalan surga dan neraka (akherat) tergantung keberadaan langit dan bumi (alam semesta). > > Agus Musthopa juga berkeyakinan yang namanya ciptaan Allah pasti musnah alias tidak kekal. Untuk memperkuat argumentasinya beliau mengajukan pertanyaan : "Kekal manakah Alam akherat dengan Allah?" > > Jawabannya adalah : kedua-duanya kekal. Allah dan alam akherat (surga dan neraka) sama-sama kekal. Mengapa alam akherat atau alam semesta bisa kekal, padahal alam semesta adalah makhluk ciptaan Allah? Jawabannya seperti di awal tulisan ini, karena Allah menghendaki demikian. Namun yang harus diperhatikan adalah kekalnya Allah berbeda dengan kekalnya makhluk. Alam semesta atau alam akherat bisa kekal bukan karena dirinya sendiri namun karena Allah menghendakinya demikian. Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. > > Kalau boleh saya menafsirkan ayat surat Huud (11) : 106-107 berdasarkan pengetahuan yang saya kumpulkan dari para ulama sebagai berikut : > > "Sesungguhnya orang yang celaka tempatnya di Neraka...." > "Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi. Kecuali apa-apa yang Allah kehendaki, Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." > > Biasanya untuk menegaskan kekekalan neraka dan surga, Allah mengiringinya dengan kata abadi.. Namun di dalam ayat ini Allah mengganti kata abadi dengan kata selama ada langit dan bumi. Kalimat "selama ada langit dan bumi" sama artinya dengan "abadi selama-lamanya" . > > Mengapa dalam ayat ini kata abadi yang biasa dipakai mengiringi kata kekal diganti dengan "selama ada langit dan bumi". Hal ini untuk menerangkan bahwa keabadian yang merupakan konsep waktu tergantung dari keberadaan langit dan bumi (alam semesta). > > Subhanalllah, keterangan ini sejalan dengan kesimpulan yang diajukan oleh para ilmuan seperti Prof. Stephen Hawking dalam bukunya yang terkenal The Brief of Story. Stephen Hawking yang memperoleh hadiah nobel karena penemuannya itu mengatakan, sebelum terjadinya alam semesta tidak ada konsep ruang dan waktu. Waktu tercipta setelah terciptanya alam semesta (langit dan bumi). Jika alam semesta lenyap tidak ada lagi yang namanya konsep ruang dan waktu. 1400 tahun sebelumnya Al-Qur'an telah mengatakan bahwa kekekalan yang merupakan konsep waktu tergantung dari keberadaan langit dan bumi (alam semesta). Subhanalllah, Satu lagi keajaiban Al-Quran tersingkap. > > Dua kata terakhir dalam ayat tersebut : "Kecuali apa-apa yang Allah kehendaki, Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki" menegaskan bahwa kekalnya kita di surga dan di neraka karena kehendak dari Allah. Dan Allah Maha berkendak atas segala sesuatu. Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
