Assalaamu'alaikum wa rohmatulloh wa barokaatuh, al-Hamdulillah wash Sholaatu was Salaamu 'ala Rosulillaah, amma ba'du.
Ana nasehatkan kepada diri ana sendiri dan juga kepada ikhwah fillah, untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala dalam menjawab. Janganlah kita terlalu berani untuk menjawab suatu pertanyaan apabila belum benar-benar paham dalil-dalilnya, sehingga tidak keluar jawaban- jawaban yang nyeleneh. Hendaklah kita takut dari berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Dan sebaiknya kita serahkan jawabannya kepada para 'ulama (dengan menukil fatwa mereka) atau Asatidzah yang telah mapan dalam ilmu syari'ah. Diantara adab para 'ulama salaf adalah mereka tidak berfatwa jika di tempat yang sama ada orang-orang yang lebih utama dari mereka. Salah seorang Ustadz alumni Madinah pernah menceritakan kepada ana, ketika beliau kuliah di Madinah, beliau pernah bertanya kepada Syaikh Abdurrozzaq al-Abbad tentang suatu masalah (kemungkinan ketika di masjid Nabawi), sedangkan ketika itu syaikh Abdul Muhsin al-Abbad ada di masjid. Maka Syaikh Abdurrozzaq berkata kepadanya "asy-Syaikh (Abdul Muhsin al-Abbad) hadir, bertanyalah kepadanya!" Inilah adab para 'ulama, hendaklah kita malu akan diri-diri kita sendiri dan mencontoh adab mereka. "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS al- Isra` : 36) "Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?" (QS al-Muthoffifin : 6) Kepada pengelola milis Assunnah -Hafidzokumulloh- tolong dipertimbangkan & didiskusikan lagi dengan para asatidzah (kalau perlu bertanyalah kepada para 'ulama) tentang maslahat & madhorot menampilkan posting2 yang agak nyeleneh atau berbau syubuhat. Karena tidak semua orang yang membaca posting2 tersebut mampu untuk mencerna syubuhat / komentar yang nyeleneh, yang akan mengundang ikhwah yang memiliki kecemburuan terhadap Diin untuk berkomentar dengan komentar yang terkadang kurang baik dari segi isi atau bahasa yang digunakan -- seperti yang sering terjadi di beberapa Mailing List--. Jangan sampai milis Assunnah dijadikan ajang oleh orang-orang yang menyimpan kebencian terhadap dakwah salafiyyah untuk mempromosikan syubuhat mereka di tengah-tengah salafiyyin, terutama yang masih baru. Akan lebih baik jika syubuhat yang muncul dijawab oleh asatidzah dalam bentuk artikel (jika memang memungkinkan), sehingga penjelasannya lebih gamblang. Adapun orang-orang yang memposting niatnya bukan untuk mencari kebenaran, mereka akan terus menerus melontarkan syubuhat walaupun sebenarnya sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Wallahul Musta'aan. Jazaakumulloh Khoiron wa Barokalallahu Fiikum --- In [email protected], dhea s <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > assalamu alaikum > saya mau ikutan, moga memanfati semua: > 1. boleh nikah beda manhaj, asal masih muslim dan muslimah; > 2. Bahkan, menikahi perempuan ahli kitab saja boleh, asal yang muhshanat (shalihah); > 3. Jadi, intinya shalihah kagaknya, walaupun satu manhaj kalu tidak shalihah, ngapain?? Kok bisa? Bisa dong, watak orang khan bukan karena manhaj. Watak itu terbentuk dari hasil gabungan 3 unsur: didikan keluarga, lingkungan keseharian, dan agama. Jadi, agama cuma 1/3 dari faktor yg mempengaruhi kelakuan seseorang. Makanya, Rasulullah memberikan 4 hal untuk memilih wanita: cantik, nasab, harta, dan agama. Diujungnya, Nabi menyatakan pilih yg agamanya paling bagus.Ingat, Nabi, tidak memiliki isteri dari nasab yg bukan quraisy, atau jelek wajah. Nabi punya isteri dari YAHUDI. Ingat, yahudi adalah nasab yg bagus di bani israil. Umar bin khaththab juga tidak punya isteri dari nasab yg bukan quraisy, Bahkan Ali bin abi thalib, isterinya adalah quraisy (anaknya Nabi). > 4. Jadi, pilihlah yang spek-nya terbagus, jangan sekedar nilainya 5,5 atau 5,6. Skor ini jika diungkapkan dalam kata, maka: boleh atau cukup. Jangan sekedar boleh nikah dengan ini, boleh nikah dengan itu. TAPI, pilihlah yang spek-nya terbagus. > wallahu a'lam > dhea > ==== > > > depiansah bin nurdin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Waalaikumsalam, > InsyaALLAH ana coba menjawab pertanyaan antum yang pertama Apakah boleh kita menikah dengan calon pasangan yang tidak satu manhaj? > Untuk menjawab pertanyaan antum diatas mari kita kembalikan kepada Al-Qur'an dan Assunnah dengan pemahaman salafuna soleh. > Ada bebarapa alasan kenapa kita harus selektif dalam memilih pasangan: > > 1. Dengan menikahi wanita yang soleh kita berharap dari rahimnya kelak akan terlahir anak yang soleh yang akan mendo'akan kita di hari dimana amal ibadah kita terputus oleh sebab kematian sebagaiman yang disabdakan oleh nabi kita yang mulia Muhammad RosuluLLAH sollaLLah Alaihi Wassalam: > > ÇÐÇ ãÇÊ ÇáÚÈÏ ÇäÞØÚ Úãáå ÇáÇ ãä ËáÇË ÕÏÞÉ ÌÇÑíÉ Çæ Úáã íäÊÝÚ Èå Çæ æáÏ ÕÇáÍ íÏÚæ áå > > "apabila seorang hamba meninggalmak amalannya akan terputus kecuali tiga hal: shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfa'at, dan ank yang soleh yang mendo'akannya. > (HR muslim, Abu Daud, At-Tarmidzi dan Nasa'i, demikian juga yang diriwayatkan oleh Imam Bokhori Dalam kitab Al-adab Al-mufrod dari Abu Hurairoh.RA) > > 2. Perintah RosuluLLAH SolaLLAH alaihi wassalam dalam Hadist yang diriwayatkan dari Ibnu adiy Dan Ibnu Asakir Dari Aisyah RA: > > ÇÎÊÇÑæÇ áäØÝßã ÇáãæÇÖÚ ÇáÕÇÕáÍÉ > > "Pilihlah tempat-tempat yang baik untuk menyemai Nuthfah kalian" > > 3. pasangan soleha merupakan keutamaan bagi seorang mu'min Berdasarkan Hadist riwayat Imam Tarmidzi: > > ÇÝÖáå áÓÇä ÐÇßÑ ÞáÈ ÔÇßÑ æÒæÌÉ ÕÇáÍ ÊÚíä ÇáãÄãä Úáì ÇíãÇäå > > "Yang lebih utama bagi kalian adalah lidah yang berdzikir, Hati yang bersyukur, dan istri yang soleha yang akan membantu orang mu'min untuk memelihara keimanannya" > > > addina syahida <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamu'alaikum wrahmatullahi wabarakatuh. > > Melalui forum ini, > Saya ingin bertanya tentang hukum menikah dengan mereka yg berlainan manhaj. Apakah kita diperbolehkan mencari pasangan hidup yg tdk 1 manhaj dg kita? > Adakah manfaat yg bisa diperoleh dg itu? > Atau lebih besarkah mudlaratnya? > Dan bagaimanakah makna dan realisasi dr kata "sekufu" dlm mencari calon pendamping hidup?? > Sekufu dalam artian yg bagaimanakah? > > Yang saya perhatikan dari berbagai kasus yang telah ada, banyak sekali diantara ikhwah fillah kita terutama ikhwan, yg mencari calon pasangan (baca:ta'aruf) justru dari lain manhaj. Seperti tarbiyah, atau bahkan mereka yg sama sekali awam terhadap pemahaman salafusshalih. Dan banyak juga diantara kalangan akhwat yg memilih untuk berta'aruf dg ikhwan yg lain manhajnya. > Bukankah hal tersebut sungguh mengandung resiko yang tdk sedikit? > Saya sungguh ingin mengetahui pendapat yg shahih mengenai ini. > Mohon tanggapan dari ikhwah fillah yang lebih memahami > > bagaimana hal ini seharusnya. > Dikarenakan banyak sekali pertanyaan seperti ini muncul dari akhawat dan ikhwan, namun masih belum tuntas penjelasannya. > Afwan. > Wallahu a'lam bishawwab. > Jazakumullahu khairan katsiro. > > Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
