TAUHID DAN TAWAKAL

Oleh
Ibnu Qudamah
sumber http://www.almanhaj.or.id


Keutamaan Tawakal
Allah berfirman.

"Artinya : Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-oang Mukmin 
bertawakal." [Ali Imran : 122]

"Artinya : Dan, barangsipa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan 
mencukupkan (keperluan)nya." [Ath-Thalaq : 33]

Di dalam hadits diriwayatkan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah 
menyebutkan bahwa di antara umatnya ada tujuh puluh ribu orang yang masuk 
surga tanpa hisab. Kemudian beliau bersabda.

"Artinya : Yaitu mereka yang tidak membual, tidak mencuri, tidak membuat 
ramalan yang buruk-buruk dan kepada Rabb mereka bertawakal" [Diriwayatkan 
Al-Bukhary dan Muslim]

Dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia berkata, " Aku mendengar 
Rasulullah Shallalahu alaihii wa sallam bersabda.

"Artinya : Andaikan kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya 
tawakal, niscaya Dia kan menganugerahkan rezki kepada kalian sebagaiman Dia 
menganugerahkan rezki kepada burung, yang pergi pada pagi hari dalam keadaan 
lapar, lalu kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang."[1]

Diantara doa yang dibaca Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ialah.

"Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon taufik kepada-Mu untuk 
mencintai-Mu daripada amal-amal, kebenaran tawakal dan baik sangka 
kepada-Mu." [Hadits mursal, Diriwayatkan Abu Nu'aim]

Tawakal harus didasarkan kepada tauhid. Adapun tauhid itu ada beberapa 
tingkatan. Diantaranya.

[1]. Hati harus membenarkan wahdaniyah, yang kemudian diterjemahkan lewat 
kata-kata la ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu lahul-mulku wa 
lahul-hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir. Jika dia membenarkan lafazh 
ini, namun tidak mengetahui dalilnya, berarti itu merupakan keyakinan orang 
awam.

[2]. Hamba melihat berbagai macam benda yang berbeda-beda, lalu melihatnya 
berasal dari satu sumber. Ini kedudukan orang-orang yang taqarab.

[3]. Hamba melihat dari mata hatinya bahwa tidak ada yang bisa berbuat 
kecuali Allah dan dia tidak memandang kepada selain Allah. KepadaNya dia 
takut dan kepada-Nya pula dia berharap serta bertawakal. Karena pada 
hakekatnya Allahlah satu-satunya yang bisa berbuat. Dengan kemahasucian-Nya 
semua tunduk kepadaNya. Dia tidak mengandalkan hujan agar tanaman bisa 
tumbuh, tidak mengandalkan kepada mendung agar hujan turun, tidak 
mengandalkan kepada angin untuk menjalankan perahu. Bersandar kepada semua 
ini merupakan ketidaktahuan terhadap hakekat segala urusan. Siapa yang bisa 
menyibak berbagai hakikat tentu akan mengetahui bahwa angin tidak berhembus 
dengan sendirinya. Angin itu harus ada yang menggerakkannya. Seseorang yang 
melihat angin sebagai penyelamat, serupa dengan orang yang ditangkap untuk 
dipenggal lehernya. Lalu setelah dilaporkan kepada raja, ternyata raja 
mengeluarkan lembaran catatan yang isinya memaafkan kesalahannya. Lalu dia 
banyak bercerita tentang tulisan dalam catatan itu, bukan melihat kepada 
siapa yang menggerakkan pulpen dan menuliskan catatan itu. Tentu saja ini 
suatu kebodohan. Siapa yang tahu bahwa pulpen tidak mempunyai kekuasaan 
hukum, tentu dia kan berterimakasih kepada orang orang yang telah 
menggunakan pulpen itu, bukan kepada pulpennya. Semua makhluk di dalam 
kekuasaan Khaliq, lebih nyata daripada sekedar pulpen di tangan orang yang 
menggunakannya. Allahlah yang menciptakan segala sebab dan berkuasa untuk 
berbuat apa pun menurut kehendakNya.

Beberapa Gambaran Keadaan Tawakal
Ketahuilah bahwa tawakal itu terbentuk dari kata al-wakalah. Jika dikatakan, 
"Wakkala Fulan amruhu ila Fulan ", artinya Fulan yang pertama menyerahkan 
urusannya kepada Fulan yang kedua serta bersandar kepadanya dalam urusan 
ini.

Tawakal merupakan ungkapan tentang penyandaran hati kepada yang diwakilkan. 
Manusia tidak bisa disebut tawakal kepada selainnya kecuali setelah dia 
bersandar kepadanya dalam beberapa hal, yaitu dalam masalah simpati, 
kekuatan dan petunjuk. Jika engkau sudah mengetahui hal ini, maka 
bandingkanlah dengan tawakal kepada Allah. Jika hatimu sudah merasa mantap 
bahwa tidak ada yang bisa berbuat kecuali Allah semata, jika engkau sudah 
yakin bahwa ilmu, kekuasaan dan rahmat-Nya sempurna, di belakang 
kekuasaan-Nya tidak kekuasaan lain, dibelakang ilmu-Nya tidak ada ilmu lain, 
di belakang rahmat-Nya tidak ada rahmat lain, berarti hatimu sudah 
bertawakal hanya kepada-Nya semata dan tidak menengok kepada selain-Nya. 
Jika engkau tidak mendapatkan keadaan yang seperti ini di dalam dirimu, maka 
ada satu di antara dua sebab, entah karena lemahnya keyakinan terhadap 
hal-hal ini, entah karena ketakutan hati yang disebabkan kegelisahan dan 
kebimbangan yang menguasainya. Hati menjadi gelisah tak menentu karena 
adanya kebimbangan, sekalipun masih tetap ada keyakinan. Siapa yang menerima 
madu lalu ia membayangkan yang tidak-tidak tentang madu itu, tentu dia akan 
menolak untuk menerimanya.

Jika seseorang dipaksa untuk tidur di samping mayat di liang kuburan atau 
ditempat tidur atau di dalam rumah, tabiat dirinya tentu akan menolak hal 
itu, sekalipun dia yakin bahwa mayat itu adalah sesuatu yang tidak bisa 
bergerak dan mati. Tapi tabiat dirinya tidak membuatnya lari dari 
benda-benda mati lainnya. Yang demikian ini karena adanya ketakutan di dalam 
hati. Ini termasuk jenis kelemahan dan jarang sekali oang yang terbebas 
darinya. Bahkan terkadang ketakutan ini berlebih-lebihan, sehingga 
menimbulkan penyakit, seperti takut berada di rumah sendirian, sekalipun 
semua pintu sudah ditutup rapat-rapat.

Jadi, tawakal tidak menjadi sempurna kecuali dengan disertai kekuatan hati 
dan kekuatan keyakinan secara menyeluruh. Jika engkau sudah tahu makna 
tawakal dan engkau juga sudah tahu keadaan yang disebut dengan tawakal, maka 
ketahuilah bahwa keadaan itu ada tiga tingkatan jika dilihat dari segi 
kekuatan dan kelemahan

[1]. Keadaan benar-benar yakin terhadap penyerahannya kepada Allah dan 
pertolongan-Nya, seperti keadaannya yang yakin terhadap orang yang dia 
tunjuk sebagai wakilnya.

[2]. Tingkatan ini lebih kuat lagi, yaitu keadaannya bersama Allah seperti 
keadaan anak kecil bersama ibunya. Anak itu tidak melihat orang selain 
ibunya dan tidak akan mau bergabung dengan selain ibunya serta tidak mau 
bersandar kecuali kepada ibunya sendiri. Jika dia menghadapi suatu masalah, 
maka yang pertama kali terlintas di dalam hatinya dan yang pertama kali 
terlontar dari lidahnya adalah ucapan, "Ibu..!" Siapa yang pasrah kepada 
Allah, memandang dan bersandar kepada-Nya, maka keadaannya seperti keadaan 
anak kecil dengan ibunya. Jadi dia benar-benar pasrah kepada-Nya. Perbedaan 
tingkatan ini dengan tingkatan yang pertama, tingkatan yang kedua ini adalah 
orang yang bertawakal, yang tawakalnya murni dari tawakal yang lain, tidak 
menengok kepada selain yang ditawakali dan di hatinya tidak ada tempat untuk 
selainnya. Sedangkan yang pertama adalah orang yang bertwakal karena dipaksa 
dan karena mencari, tidak murni dalam tawakalnya, yang berarti masih bisa 
bertwakal kepada yang lain. Tentu saja hal ini bisa mengalihkan pandangannya 
untuk tidak melihat satu-satunya yang mesti ditawakali.

[3]. Ini tingkatan yang paling tinggi, bahwa dia di hadapan Allah seperti 
mayit di tangan orang-orang yang memandikannya. Dia tidak berpisah dengan 
Allah melainkan dia melihat dirinya seperti orang mati. Keadaan seperti anak 
kecil yang hendak dipisahkan dengan ibunya, lalu secepat itu pula dia akan 
berpegang kepada ujung baju ibunya.

Keadaan-keadaan seperti ini memang ada pada diri manusia. Hanya saja jarang 
yang bertahan terus, terlebih lagi tingkatan yang ketiga.

Tindakan Orang-Orang Yang Bertawakal
Sebagian manusia ada yang beranggapan bahwa makna tawakal adalah tidak perlu 
berusaha dengan badan, tidak perlu mempertimbangkan dangan hati dan cukup 
menjatuhkan ke tanah seperti orang bodoh atau seperti daging yang diletakkan 
di atas papan pencincang. Tentu saja ini merupakan anggapan yang bodoh dan 
hal ini haram dalam syariat.

Syariat memuji orang-orang yang bertawakal. Pengaruh tawakal akan tampak 
dalam gerakan hamba dan usahanya untuk menggapai tujuan. Usaha hamba itu 
bisa berupa mendatangkan manfaat yang belum di dapat seperti mencari 
penghidupan, ataupun menjaga apa yang sudah ada, seperti menyimpan. Usaha 
itu juga bisa untuk mengantisipasi bahaya yang datang, seperti menghindari 
serangan, atau bisa juga menyingkirkan bahaya yang sudah datang seperti 
berobat saat sakit. Aktivitas hamba tidak lepas dari empat gambaran berikut 
ini:

Gambaran Pertama
Mendatangkan Manfaat : Adapun sebab-sebab yang bisa mendatangkan manfaat ada 
tiga tingkatan.

[1]. Sebab yang pasti, seperti sebab-sebab yang berkaitan dengan penyebab 
yang memang sudah ditakdirkan Allah dan berdasarkan kehendak-Nya, dengan 
suatu kaitan yang tidak mungkin ditolak dan di salahi. Misalnya, jika ada 
makanan di hadapanmu, sementara engkaupun dalam keadaan lapar, lalu engkau 
tidak mau mengulurkan tangan ke makan itu seraya berkata, "Aku orang yang 
bertawakal. Syarat tawakal adalah meninggalkan usaha. Sementara mengulurkan 
tangan ke makan adalah usaha, begitu pula mengunyah dan menelannya". Tentu 
saja ini merupakan ketololan yang nyata dan sama sekali bukan termasuk 
tawakal. Jika engkau menunggu Allah menciptakan rasa kenyang tanpa menyantap 
makanan sedikit pun, atau Dia menciptakan makanan yang dapat bergerak 
sendiri ke mulutmu, atau Dia menundukkan malaikat untuk mengunyah dan 
memasukkan ke dalam perutmu, berarti engkau adalah orang tidak tahu 
Sunnatullah. Begitu pula jika engkau tidak mau menanam, lalu engkau berharap 
agar Allah menciptakan tanaman tanpa menyemai benih, atau seorang istri 
dapat melahirkan tanpa berjima', maka semua tiu adalah harapan yang konyol. 
Tawakal dalam kedudukan ini bukan dengan meninggalkan amal, tetapi tawakal 
ialah dengan ilmu dan melihat keadaaan. Maksudnya dengan ilmu , hendaknya 
engkau mengetahui bahwa Allahlah yang menciptakan makanan, tangan, berbagai 
sebab, kekuatan untuk bergerak, dan Dialah yang memberimu makan dan minum. 
Maksud mengetahui keadaan, hendaknya hati dan penyandaranmu hanya kepada 
karunia Allah, bukan kepada tangan dan makanan. Karena boleh jadi tanganmu 
menjadi lumpuh sehingga engkau tidak bisa bergerak atau boleh jadi Allah 
menjadikan orang lain merebut makananmu. Jadi mengulurkan tangan ke makanan 
tidak menafikan tawakal.

[2]. Sebab-sebab yang tidak meyakinkan, tetapi biasanya penyebabnya tidak 
berasal dari yang lain dan sudah bisa diantisipasi. Misalnya orang yang 
meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi sebagai musafir melewati 
lembah-lembah yang jarang sekali dilewati manusia. Dia berangkat tanpa 
membawa bekal yang memadai. Orang seprti ini sama dengan orang yang hendak 
mencoba Allah. Tindakannya dilarang dan dia diperintahkan untuk membawa 
bekal. Jika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bepergian, maka beliau 
membawa bekal dan juga mengupah penunjuk jalan tatkala hijrah ke Madinah.

[3]. Menyamarkan sebab-sebab yang diperkirakan akan menyeret kepada 
penyebab, tanpa disertai keyakinan yang riel, seperti orang yang membuat 
pertimbangan secara terinci dan teliti dalam suatu usaha. Selagi tujuannya 
benar dan tidak keluar dari batasan syariat, maka hal ini tidak 
mengeluarkannya dari tawakal. Tapi dia bisa dikatagorikan orang-orang yang 
ambisius jika maksudnya untuk mencari kehidupan yang melimpah. Namun 
meninggalkan perencanaan sama sekali bukan termasuk tawakal, tetapi ini 
merupakan pekerjaan para penganggur yang ingin hidup santai, lalu beralasan 
dengan sebutan tawakal. Umar Radhiyallahu Anhu berkata, "Orang yang 
bertawakal ialah yang menyemai benih di tanah lalu bertawakal kepada Allah."

Gambaran Kedua:
Mempertimbangkan Sebab Dengan Menyimpan Barang : Siapa yang mendapatkan 
makanan pokok yang halal, yang andaikan dia bekerja untuk mendapatkan yang 
serupa akan membuatnya sibuk, maka menyimpan makanan pokok itu tidak 
mengeluarkannya dari tawakal, terlebih lagi jika dia mempunyai tanggungan 
orang yang harus diberi nafkah.

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 
anhu, bahwa Nabi Shallalhu alaihi wa sallam pernah menjual kebun korma Bani 
Nadhir, lalu menyimpan hasil penjualannya untuk makanan pokok keluarganya 
selama satu tahun.

Jika ada yang bertanya, "Bagaimana dengan tindakan Rasulullah Shallallahu 
alaihi wa sallam yang melarang Bilal untuk menyimpan harta?"

Jawabnya : Orang-orang fakir dari kalangan shahabat di sisi Rasulullah 
Shallallahu alaihi wa sallam tak ubahnya tamu. Buat apa mereka menyimpan 
harta jika dijamin tidak akan lapar? Bahkan bisa dijawab sebagai berikut: 
Keadaan Bilal dan orang-orang yang semacam dia dari Ahlush-Shuffah 
(orang-orang yang ada di emperan) memang tidak selayaknya untuk menyimpan 
harta. Jika mereka tidak terima, maka celaan tertuju pada sikap mereka yang 
mendustakan keadaan mereka sendiri, bukan pada masalah menyimpan harta yang 
halal.

Gambaran Ketiga.
Mencari Sebab Langsung Untuk Menyingkirkan Mudharat. Bukan termasuk syarat 
tawakal jika meninggalkan sebab-sebab yang dapat menyingkirkan mudharat. 
Misalnya, tidak boleh tidur di sarang binatang buas, di tempat aliran air, 
di bawah tembok yang akan runtuh. Semua ini dilarang.

Tawakal juga tidak berkurang karena mengenakan baju besi saat pertempuran, 
menutup pintu pada malam hari dan mengikat onta dengan tali. Allah 
berfirman.

"Artinya : Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu 
dan menyandang senjata." [An-Nisa' : 102]

Ada seorang laki-laki menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu 
berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat ontaku dan bertawakal 
, ataukah aku melepasnya dan bertawakal?" Beliau menjawab, "Ikatlah dan 
bertawakallah." [Diriwayatkan At-Tirmidzy]

Bertawakal dalam hal-hal ini adalah yang berkaitan dengan penyebab dan bukan 
pada sebab serta ridha terhadap apapun yang ditakdirkan Allah. Jika 
barang-barangnya dicuri orang, padahal andaikata ia waspada dan hati-hati 
tidak akan tercuri, lalu dia pun mengeluh setelah itu, maka nyatalah 
keadaannya yang jauh dari tawakal.

Ketahuilah bahwa takdir itu seperti dokter. Jika ada makanan yang datang, 
maka dia gembira dan berkata, "Kalau bukan karena takdir itu tahu bahwa 
makanan adalah bermanfaat bagiku, tentu ia tidak akan datang." Kalau pun 
makan itu pun tidak ada, maka dia tetap gembira dan berkata, "Kalau tidak 
karena takdir itu tahu bahwa makanan itu membuatku tersiksa, tentu ia tidak 
akan terhalang dariku."

Siapa yang tidak yakin terhadap karunia Allah, seperti keyakinan orang sakit 
terhadap dokter yang handal, maka tawakalnya belum dikatakan benar. Jika 
barang-barangnya di curi, maka dia ridha terhadap qadha' dan menghalalkan 
barang-barangnya bagi orang yang mengambilnya, karena kasih sayangnya 
terhadap orang lain, yang boleh jadi adalah orang Muslim. Sebagian orang ada 
yang mengadu kepada seorang ulama, karena dia dirampok di tengah jalan dan 
semua hartanya dirampas. Maka ulama itu berkata, "Jika engkau lebih sedih 
memikirkan hartamu yang dirampok itu daripada memikirkan apa yang sedang 
terjadi di kalangan orang-orang Muslim, lalu nasehat macam apa lagi yang 
bisa kuberikan kepada orang-orang Muslim?"

Gambaran Keempat.
Usaha menyingkirkan mudharat, seperti mengobati penyakit yang berjangkit dan 
lain-lainnya. Sebab-sebab yang bisa menyingkirkan mudharat bisa dibagi 
menjadi tiga macam.

[1]. Yang pasti, seperti air yang menghilangkan dahaga, roti yang 
menghilangkan lapar. Meninggalkan sebab ini sema sekali bukan termasuk 
tawakal.

[2]. Yang disangkakan, seperti operasi, berbekam, minum urus-urus dan 
lain-lainnya. Hal ini juga tidak mengurangi makna tawakal. Rasulullah 
Shallallahu alaihi wa sallam pernah berobat dan menganjurkan untuk berobat. 
Banyak orang-orang Muslim juga melakukannya, namun ada pula di antara mereka 
yang tidak mau berobat karena alasan tawakal, sebagaimana yang diriwayatkan 
oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, tatkala dia ditanya, 
"Bagaimana jika kamu memanggilkan tabib untuk mengobatimu?" Dia menjawab, 
"Tabib sudah melihatku.", "Apa katanya?", tanya orang itu. Abu Bakar 
menjawab, "Katanya, 'Aku dapat berbuat apa pun yang kukehendaki'." 
Al-Mushannif Rahimahullah berkata, "Yang perlu kami tegaskan bahwa berobat 
adalah lebih baik. Keadaan Abu Bakar itu bisa ditafsiri bahwa sebenarnya dia 
sudah berobat, dan tidak mau berobat lagi karena sudah yakin dengan obat 
yang diterimanya, atau mungkin dia sudah merasa ajalnya yang sudah dekat, 
yang dia tangkap dari tanda-tanda tertentu." Yang perlu diketahui, bahwa 
berbagai macam obat telah dihamparkan Allah di bumi ini.

[3]. Sebabnya hanya sekedar kira-kira, seperti menyundut dengan api. Hal ini 
termasuk sesuatu yang keluar dari tawakal. Sebab Rasullulah Sahallahu alaihi 
wa sallam mensifati orang-orang yang bertawakal sebagai orang-orang yang 
tidak suka menyundut dengan api. Sebagian ulama ada yang menakwili, bahwa 
yang dimaksudkan menundut dalam sabda beliau, "Tidak menyundut dengan api", 
ialah cara yang biasa dilakukan semasa Jahiliyyah, yaitu orang-orang biasa 
menyundut dengan api dan membaca lafazh-lafazh tertentu selagi dalam keadaan 
sehat agar tidak jatuh sakit. Sesungguhnya Nabi Shallaluhu alaihi wa sallam 
tidak membaca ruqyah kecuali setelah ada penyakit yang berjangkit. Sebab 
beliau juga pernah menyundut As'ad bin Zararah Radhiyallahu anhu. Sedangkan 
mengeluh sakit termasuk tindakan yang mengeluarkan dari tawakal. Orang-orang 
salaf sangat membenci rintihan orang yang sakit, karena rintihan itu 
menerjemahkan keluhan. Al-Fudhail berkata, "Aku suka sakit jika tidak ada 
yang menjengukku." Seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Ahmad, "Bagaiman 
keadaanmu?" Al-Iman Ahmad berjawab, "Baik-baik." "Apakah semalam engkau 
demam?" tanya orang itu. Al-Imam Ahmad berkata, "Jika sudah kukatakan 
kepadamu bahwa aku dalam keadaan baik, janganlah engkau mendorongku kepada 
sesuatu yang kubenci." Jika orang sakit menyebutkan apa yang dia rasakan 
kepada tabib, maka hal itu diperbolehkan. Sebagian orang-orang salaf juga 
melakukan hal ini. Di antara mereka berkata, "Aku hanya sekedar mensifati 
kekuasaan Allah pada diriku." Jadi dia menyebutkan penyakitnya seperti 
menyebutkan suatu nikmat, sebagai rasa syukur atas penyakti itu, dan itu 
bukan merupakan keluhan. Kami meriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa 
sallam, beliau bersabda.

"Artinya : Aku sakit demam seperti dua orang di antara kalian yang sakit 
demam." [Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim]

[Dikutip dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah 
Al-Maqdisy, "Muhtashor Minhajul Qoshidin ,Edisi Indonesia: Minhajul 
Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk", penerjemah: Kathur 
suhardi., Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 423-431]
_________
Foote Note
[1]. Hadits tersebut di takhrij oleh Imam Ahmad (1/30), At-Tirmidzi (2/55), 
Al-Hakim (4/318) dari Hayah bin Syuraih : Telah bercerita kepadaku Bakar bin 
Amer, bahwa dia mendengar Abdullah bin Hubairah, yang mengatakan bahwa Ibnu 
Hubairah mendengar Abu Tamim Al-Jisyani memberitahukan bahwa ia mendengar 
Umar bin Al-Khatab ra yang mengatakan : Sesungguhnya dia telah mendengar 
Nabi Shallahu alaihi wa sallam bersabda : (lalu menyebutkan hadits di atas).
Selanjutnya Imam At-Tirmidzi berkata : Hadits ini ber-sanad shahih dan 
hasan.
Sedangkan Imam Al-Hakim berkomentar : Hadits tersebut shahih dipandang dari 
segi sanadnya.
Pernyataan senada juga ditegaskan oleh Adz-Dzahabi.
Al-Albani berkomentar: Sebenarnya hadits di atas adalah shahih sesuai syarat 
Imam Muslim. Karena perawi-perawinya adalah perawi yang dipakai oleh 
Asy-Syaikhain, kecuali Ibnu Hubairah dan Abu Hatim, kedua perawi yang akhir 
ini adalah perawi Iman Muslim. Hadits di atas juga memiliki hadits mutabi¡Ç 
riwayat Ibnu LuhaiÇah dari Ibnu Hubairah.
Hadits di atas juga di-takhrij Imam Ahmad (1/52) dan Ibnu Majah (hadits no. 
4164). Menurut Ibnu Majah, dia mendapat hadits tersebut dari riwayat 
Abdullah bin Wahab, yang juga bersanad shahih. (Syaikh Muhammad Nashiruddin 
A-Albani, Silsilah Hadits Shahih jilid 2, Pustaka Mantiq, 1996, Hal: 
132-133)
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1393&bagian=0

_________________________________________________________________
Don't just search. Find. Check out the new MSN Search! 
http://search.msn.com/




Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke