BAHAYA FIRQAH LIBERAL

Oleh
Abu Hamzah Agus Hasan Bashari
sumber http://www.almanhaj.or.id


PENDAHULUAN.
Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah Ta'ala kepada Rasul-Nya 
yang terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

"Artinya : Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama 
yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah 
sebagai saksi." [Al-Fath : 28]

Sebagai rahmat bagi semesta alam

"Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat 
bagi semesta alam." [Al-Anbiya :107]

Dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta'ala.

"Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." 
[Ali-Imran : 19]

Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan 
pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ja 
termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan yang 
keluar atau menyimpang darinya maka ja termasuk firqaih-firqah yang halikah 
(kelompok yang binasa).

Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah 
paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan 
hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” 
Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, 
prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip 
masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio - 
Kultural dan Politik Masyarakat. [Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn 
IX/81]

Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan 
tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia 
yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu 
penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan 
agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq 
tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalah bathil karena liberal tidak 
sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi yang mereka suarakan adalah 
bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka dalam makalah ini akan kita uraikan sanad (asal usul) firqah liberal 
(kelompok Islam Liberal atau Kelompok kajian utan kayu), visi, misi agenda 
dan bahaya mereka.

SANAD (ASAL-USUL) FIRQAH LIBERAL
Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala 
kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada 
digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan 
gerakan pemurnian, kembali kepada al-Qur’an dan sunnah. Pada saat ini 
muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 
1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai 
dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa 
Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan 
membukanya lebar-lebar.

Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) 
memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani 
(Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata 
pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam [Charless Kurzman: 
xx-xxiii]

Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-18..) yang membujuk kaum 
muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada 
tahun 1877 ja membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh 
(1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam 
berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa 
Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam adalah Pelopor Agung Rasionalisme [William Montgomery Waft: 132]

Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran 
mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh 
salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor 
emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq 
(1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak 
memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu 
diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatatan bahwa yang 
dikehendaki oleh al-Qur’an hanyalah system demokrasi tidak yang 
lain.[Charless: xxi,l8]

Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis, 
ia menggagas tafsir al-quran model baru yang didasarkan pada berbagai 
disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena 
tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya Ia ingin menelaah 
Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin 
mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran 
diluar Islam. [Mu’adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir 
al-Qur’an, Jurnal Salam vol.3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd. Rahman 
al-Zunaidi: 180; Willian M Watt: 143]

Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan 
menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, 
satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan 
al-Qur’an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang 
dituju oleh al-Qur’an adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas 
untuk diterapkan.[Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143]

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) 
yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad 
Wahid dan Abdurrahman Wachid [Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan 
misinya menukil dari Greg Barton, Sabili no. 15: 88]

Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. 
Pada saat itu ia telah rnenyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: 
“Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian 
(relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan 
kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, 
yang kiranya merupakan inti setiap agama” [Nurcholis Madjid : 239]

Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang 
menghasung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok 
dengan pikirannya.

Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt, 
Chanless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok 
pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis 
dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis La’natullah 
‘alaih. (Ali Ibn Abi aI-’Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan 
“Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan 
bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh 
gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar what The Caesar’s and to 
the God what the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar 
dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada Tuhan). Muhammad Imarah : 45) Karena 
itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang 
membidani lahirnya peradaban barat” Sedangkan paham pluralisme yang mereka 
agungkan bersambung sanadnya kepada lbn Arabi (468-543 H) yang 
merekomendasikan keimanan Fir’aun dan mengunggulkannya atas nabi Musa 
'alaihis salam [Muhammad Fahd Syaqfah: 229-230]

MISI FIRQAH LIBERAL
Misi Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya : rnenghancurkan) 
gerakan Islam fundamentalis. mereka menulis: “sudah tentu, jika tidak ada 
upaya-upaya untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militan itu, 
boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan 
yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan 
mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. 
Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar 
kelompok-kelompok agama yang ada. Sebut saja antara Islam dan Kristen. 
Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis 
adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang 
demokratis.”

Yang dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal 
adalah orang yang memiliki lima cirri-ciri,yaitu.

[1]. Mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat
[2]. Mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan 
membangkitkan kembali masa lalu itu
[3]. Mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam
[4]. Mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara
[5]. Mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa 
depan.

Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon 
[Muhammad Imarah : 75]

AGENDA DAN GAGASAN FIRQAH LIBERAL
Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi 
Asy-Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas 
Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal.

Pertama : Agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan 
dunia, sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja.

Kedua : Mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian 
teologi pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di 
negeri-negeri Islam.

Ketiga : Emansipasi wanita dan

Keempat : Kebebasan berpendapat (secara mutlak).

Sementara dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah.
[1]. Pentingnya konstekstualisasi ijtihad
[2]. Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan
[3]. Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama
[4]. Permisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian 
negara [Lihat Greg Bertan, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka 
Antara Paramadina 1999: XXI]

BAHAYA FIRQAH LIBERAL
[1]. Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah AzZa wa Jalla, 
tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan 
pan Thaghut lainnya.

[2]. Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar 
keimanan karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah, salaf dan 
lain-lainnya dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam Liberal. Allah 
Azza wa Jalla berfirman:

"Artinya : Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah 
iman". [Al-Hujurat : 11]

[3]. Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur’an dan meragukan 
kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka terkesan sopan 
dan ilmiyah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-Qur’an. 
Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir 
Kritis dan Tafsir Liberal

Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafsir al-Ashri-li 
al-Qur’an menafsiri ayat (Faq tho 'u aidiyahumaa) dengan “maka putuslah 
usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.” 
[Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di Surabaya, Senin 4 Muharram 1423]

Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah 
mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Artinya : Yang paling saya khawatirkan atas adaalah orang munafik yang 
pandai bicara. Dia membantah dengan Al-Qur’an."

Orang-orang yang seperti inilah yang merusak agama ini. Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Mereka mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal 
merekalah perusak Islam, mereka mengajak kepada kepada Al-Qur’an padahal 
merekalah yang mencampakkan Al-Qur’an”

Mengapa demikian ? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. [Lihat Ahmad Thn 
Umar al-Mahmashani: 388-389]

[4]. Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada 
dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat, 
maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat.

[5]. Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi 
mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif 
agama serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal adalah 
kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif 
(Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam LiberaL .Jawa Pos 1-2-2002). Mereka 
lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah:

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan 
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa 
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam 
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali." [An-Nisaa’ 
115].

[6]. Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka 
lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku sebagai 
“pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman:

“Artinya : Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat 
kerusakan di muka bumi," mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang 
yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang 
yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada 
mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman," mereka 
menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah 
beriman." Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi 
mereka tidak tahu. [Al-Baqarah 11-13]

[7]. Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan 
Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito 
menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam 
tampil seperti Turki.

[8]. Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan 
setiap bid’ah pasti memecah belah.

[9]. Mreka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir 
liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang 
cukup.

[10]. Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas sehingga gagasannya terkesan 
“asbun” dan asal “comot” . Lihat saja buku Charless Kurzman, Rasyid Ridha 
yang salafi (revivalis) itupun dimasukkan kedalam kelompok liberal, begitu 
pula Muhammad Nashir (tokoh Masyumi) dan Yusuf Qardhawi (tokoh Ihwan 
al-Muslimin). Bahayanya adalah mereka tidak bisa diam, padahal diam mereka 
adalab emas, memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu 
melakukannya kecuali seorang yang mukmin.

"Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka 
hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam." [Hadits Riwayat 
Bukhari dan Muslim] (Lihat Husain al-Uwaisyah: 9 dan seterusnya]. Ahlul 
batil selain menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul haq. Allah ta'ala 
berfirman:

"Artinya : Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi 
sebagian yang lain. JIka kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa 
yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka 
bumi dan kerusakan yang besar." [Al-Anfaal : 73]

Sementara itu Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab 
mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak 
memiliki aqidah yang mapan. [Lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65]

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1995&bagian=0
[Disalin dari Majalah As Sunnah Edisi 04/VI/1423/2002M. Penerbit Yayasan 
Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo 
– Solo 57183]
______
Maraji'
[1]. Arifin, Syamsul, Menakar Otenisitas Islam Liberal, Jawa Pos, 1-2-2002
[2]. Al-Hanafi, Ali Ibn Abi Al-Izz, Tahzdib Syarah Ath-Thahawiyyah, Dar 
Al-Shadaqah, Beirut, cet.I 1995
[3]. Al-Mahmashani, Ahmad Ibnu Umar, Mukhtashar Jami Bayan Al-Ilmi wa 
Fadhlihi, Tahqiq Hasan Ismail, Dar Al-Khair, Beirut cet.I 1994
[4]. Al-Uwaisyah, Hasan, Hashaid Al-Aisum, Dar Al-Hijrah
[5]. Husaini, Adnan, Islam Liberal dan Misinya, Makalah Diskusi Di Pesantren 
Tinggi Husnayain Jakarta 8 Januari 2002
[6]. Imarah, Muhammad, Perang Terminologi Islam Versus Barat, terjemahan 
Musthalah Maufur, Rabbani Press, Jakarta 19998
[7]. Jaiz, Hartono Ahmad, Bahaya Islam Liberal, Pustaka Al-kautsar cet II, 
2002
[8]. Kurzman, Charless, Wacana Islam Liberal, Paramadina Jakarta 2001
[9]. Majid, Nurcholis, Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan, Mizan, Bandung 
cet III/1996
[10]. Muadz, Muhammad Arkoum Anggitan Tentang Cara-Cara (Tafsir) Al-Qur’an, 
Jurnal Salam Umm Malang vol.3 No. 1/2000
[11]. Ridawan, Nurcholis, Gado-Gado Islam Liberal, Majalah Sabili, No. 15 
tahun IX, 25 Januari 2002
[12]. Rahman, Fazlur, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, terjemahan 
Taufiq Adnan, Mizan, Bandung 1987
[13]. Syaqfah, M Fahd, At-Tashawwuf Baina Al-Haqqi wa Al-Khalq, Dar 
Al-Salafiyah cet III 1983
[14]. Watt, Wiliam M. Fundamentalisme Islam dan Modernitas, terjemahan 
Taufiq Adnan, Raja Grafindo Persada Jakarta, cet I 1997
[15]. Zunaidi, Abd Rahman, Al-Salafiyah wa Qadhaya Al-Ashr, Dar Isbiliya, 
Riyadh cet I 1998

_________________________________________________________________
Don't just search. Find. Check out the new MSN Search! 
http://search.msn.com/



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke