Asalamualaikum

*1. BACAAN MAKMUM*
*a. Bila imam membaca dengan keras, makmum tidak membaca
*
pada awalnya makmum diperbolehkan membaca Al-fatihah di blkg imam pada
shalat-shalat Jahr (suara keras). Akan tetapi, pernah terjadi pada waktu
shalat shubuh, Rasulullah marasa terganggu oleh bacaan salah seorang makmum.
setelah shalat beliau bertanya:

"benarkah kalian tadi turut membaca bersama imam?" kami menjawab "ya, tetapi
dengan cepat, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "kalian tidak boleh
melakukannya kecuali [membaca] Al-Fatihah, karena tidak [sempurna] shalat
seseorang yg tdk membacanya dalam shalatnya." HR. Bukhari, Abu Daud, dan
Ahmad, dihasankan oleh Tirmidzi dan Daraquthni.

selanjutnya, Rasulullah melarang makmum membaca semua bacaan Al-Qur'an dalah
shalat jahr (imam membaca dengan suara keras). Peristiwa ini terjadi ketika
Rasulullah saw. selesai shalat jahr, yg mana imam mebaca Al-Qur'an dengan
suara keras dan dalam suatu riwayat disebutkan bawah peristiwa ini terjadi
dalam shalat Subuh. Mengenai kejadian ini beliau bersabda:


"Adakah seseorang diantara kalian tadi membaca Al-Qur'an bersamaan dengan
aku membaca?" Seseorang menjawab: "Ya, saya wahai Rasulullah." Sabdanya:
"Aku katakan kepadamu mengapa aku diganggu [sehingga bacaanku terganggu]?"
(Abu Hurairah berkata): "Kemudian para sahabat berhenti membaca Al-qur'an
bersama Rasulullah saw. bila Rasulullah saw. membacanya dengan suara keras
dan bacaan itu mereka dengar [dan mereka membaca sendiri tanpa suara bila
imam tidak mengeraskan bacaannya]" HR.Malik, HUmaidi, Abu Daud, Ahmad,
Muhamili, dihasankan oleh Tirmidzi, tetapi disahkan oleh Abu Hatim Ar Razi,
Ibnu Hibban, dan Ibnul Qayyim.

*b. Diamnya makmum untuk mendengarkan merupakan kesempurnaan bermakmum
*Nabi bersabda:
"Imam dijadikan sebagai anutan makmum, jika ia bertakbir, bertakbirlah
kalian, dan jika ia membaca, diamlah kalian." HR.Ibnu Abi Syaibah (1/97/1),
Abu Daud, Muslim, Abu 'Awanah (24/119/1), dan Rauyani dalam musnadnya. Baca
Al-Irwa' Hadits no.332 dan 394.

Jadi, mendengarkan bacaan imam menjadikan makmum tidak perlu membacanya lagi
sebagaimana sabdanya:
"Barangsiapa shalat mengikuti imam, maka bacaan imam telah menjadi bacaanya
juga." HR.Ibnu Abi Syaibah (1/97/1), Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi, dan
Ahmad, dari beberapa banyak jalan, baik yang bersambung maupun yang mursal.
Dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah seperti tersebut dalam kitab Al-Furu', karya
Ibnu 'AbdulHadi.
**
*c. Wajib membaca Al-Fatihah dalah shalat sir (membaca tanpa suara)
*
Dalam shalat sir makmum wajib membaca al-fatihah sendiri, jabir berkata:
"kami dahulu membaca sendiri Al-fatihah dan surah lain di belakang imam
dalam shalat Zhuhur dan 'Ashar pada rakaat pertama dan kedua, sedangkan pada
rakaat ketiga dan keempat hanya membaca Al-fatihah" HR.Ibnu Majah dengan
sanad shahih. baca Al-Irwa' Hadits  no.506

Bacaan dalam shalat sir ini tidak boleh mengganggu orang lain. Ketika shalat
Zhuhur Nabi mengimani para sahabatnya. Di antara yang membaca, ada yang
membuat orang lain terganggu. lalu beliu bersabda:
"Siapa diantara kamu tadi yang membaca sabbihisma rabbikal a'laa?" Seseorang
menjawab: "Saya, [tetapi saya bermaksud baik]." Nabi bersabda:

"[Aku tahu ada orang yg membuat bacaan Al-qur'anku terganggu]."HR. Muslim,
Abu 'Awanah, dan Siraj.

*2. DUDUK TASYAHHU*
Nabi saw. duduk tasyahhud setelah raka'at kedua. Bila shalat yang
dilakukannya hanya dua raka'at, seperti shalat Shubuh, beliau duduk Iftirasy
(duduk di atas telapak kaki kiri yang dihamparkan dan telapak kaki kanannya
ditegakkan) yaitu seperti ketika duduk antara dua sujud.

Nabi saw. duduk tawarruq (duduk tasyahhud untuk shalat 3 atau 4 raka'at)
begitu juga untuk *shalat subuh *sama dengan shalat 2 rakaat lain

allahualam bi shawab.

Kirim email ke