AssalamuÂ’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh
  Di bawah ini ada artikel sangat bagus dan menyentuh hati yg ana dapat dari 
situs almanhaj.or.id. 
  Semoga bermanfaat
   
  -Fathimah-
  WassalamuÂ’alaikum Warohmatullah Wabarakatuh
   
   
   
   
   
  Bagaimanakah Salaf Dalam Menjaga Niat Mereka Serta Keinginan Kuat Mereka 
Untuk Mendo'akan Saudaranya
  
Sabtu, 15 April 2006 10:41:41 WIB
Kategori : Akhlak
    
BAGAIMANAKAH SALAF DALAM MENJAGA NIAT MEREKA SERTA KEINGINAN KUAT MEREKA UNTUK 
MENDO'AKAN SAUDARA-SAUDARANYA?

Oleh
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah



Pertanyaan.
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily ditanya : Jazakumullohu khairan atas nasihat 
ini, sekarang kami merasa sangat kurang dalam usaha untuk mendamaikan antara 
ikhwah apalagi dalam berdoa untuk kebaikan mereka, terutama mendoakan orang 
yang menyelisihi kami agar mendapatkan hidayah, juga masalah niat, terkadang 
ketika menasehati, kami tidak ikhlas karena Allah tapi karena tujuan duniawi, 
maka apakah nasihat Anda pada kami, dan bagaimanakah Salaf dalam menjaga niat 
mereka serta keinginan kuat mereka untuk mendoakan saudara-saudaranya ?

Jawaban:
Wajib bagi setiap muslim untuk mengikhlaskan niatnya karena Allah dalam 
amalannya, manusia dalam setiap amalannya bertujuan untuk mewujudkan 
keselamatan dirinya. Sebelum kita berusaha untuk mendamaikan dan memberikan 
petunjuk (hidatul irsyad, -peny) pada manusia, kita harus berusaha 
menyelamatkan diri kita, dan ini tidak bisa kita lakukan kecuali dengan 
mengikhlaskan niat karena Allah semata serta menginginkan wajah Allah di setiap 
amalan kita, juga merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi kita, mungkin manusia 
tidak tahu niat kita karena niat itu tersembunyi, sehingga kita bisa membohongi 
diri kita dan manusia dengan memperlihatkan nasihat, padahal Allah mengetahui 
apa yang ada dalam hati kita:

Dan apa yang kalian perlihatkan serta sembunyikan dalam diri kalian Allah akan 
hisab kalian (Al-Baqarah : 284), maka wajib atas setiap muslim untuk 
mengikhlaskan niatnya.

Wajib atas setiap muslim untuk tidak bermaksiat terhadap Allah di bumi-Nya, dan 
senang bila tidak ada penyimpangan di muka bumi dan tidak boleh gembira dengan 
penyimpangan orang lain. Karena jika kita cinta kepada Allah, tentu senang jika 
Allah ditaati dan tidak dimaksiati, dan ini pada setiap orang, ketika kamu 
cinta pada seseorang, tentu kamu tidak senang jika dia berbuat maksiat dan 
dibicarakan kejelekannya, tapi jika kita senang dengan kesalahan orang lain 
maka ini bukan nasihat karena Allah, karena seorang mukmin senang jika Allah 
ditaati dan tidak dimaksiati, sampai orang Yahudi dan Nasrani pun kita senang 
jika mereka beriman.

Karena itu kita harus tamak untuk memberi hidayah kepada manusia, lebih-lebih 
pada ikhwah kita. Oleh karena itu Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz rahimahullah 
berkata pada ayahnya: Wahai ayahku, saya senang jika saya dan ayah dimasak 
dalam kuali yang mendidih di jalan Allah, artinya keduanya dimasukkan dalam 
kuali yang penuh minyak atau air yang mendidih sehingga badan mereka pun hancur 
di jalan Allah, dan ini adalah nasihat karena Allah. Demikianlah kewajiban 
setiap muslim untuk mengikhlaskan amalannya karena Allah.

Termasuk dari contoh kekuatan nasihat dan ikhlas pada sejarah Salaf, apa yang 
terjadi pada Ali radhiyallahu anhu dalam perang tanding sebelum dimulainya 
peperangan, beliau mengalahkan lawannya dan menjatuhkannya ke tanah, ketika 
beliau hendak memukulnya dan membunuhnya dengan pedang, orang itu meludahi muka 
beliau, maka beliau pun tidak jadi membunuhnya, lantas ditanya mengapa anda 
tidak membunuhnya. Jawab beliau : Tadinya saya ingin membunuhnya karena Allah, 
tapi orang itu meludahi saya, sehingga saya pun marah, saya takut jika saya 
membunuhnya karena kepentingan pribadi (bukan karena Allah), lihat bagaimana 
salaf menahan diri, ini adalah taufik dari Allah yang tidak akan didapatkan 
kecuali dengan muroqobah (merasa diawasi oleh) Allah sehingga bisa menahan diri 
dengan baik. Ini semua berasal dari kekuatan ikhlas karena Allah. Ketika Allah 
tahu kejujuran niat dan keikhlasannya, Allah pun melindunginya dari segala 
sesuatu. 

Maka dari itu sangat sulit bagi seseorang untuk mengambil sikap dan 
menghadirkan niatnya dalam keadaan seperti ini. Lihatlah ! Beliau tidak senang 
untuk membunuh orang kafir itu setelah beliau mampu mengalahkannya padahal 
beliau dalam keadaan jihad. Salah seorang dari kita bisa saja untuk mengatakan: 
saya membunuh karena Allah, padahal pada dirinya ada niat lain yang 
tersembunyi, dia membunuhnya kerena kepentingan pribadi. Maka merupakan 
keharusan bagi kita untuk mengikhlaskan niat karena Allah serta mendoakan 
saudara-saudara kita, dan memohonkan bagi mereka hidayah, di waktu kita shalat 
malam dan pada waktu-waktu dikabulkannya doa, juga menjadikan maksud kita 
setiap berbicara dan berbuat hanya karena Allah semata, kita ikhlas ketika 
berbicara, ikhlas ketika diam, ikhlas ketika uzlah (mengasingkan diri), 
sehingga dalam keadaan bagaimanapun kamu dalam kebaikan yang agung (besar). 
Adapun jika kita kehilangan niat ikhlas mudah-mudahan Alah melindungi kita 
darinya-, walaupun
 kita berbicara haq, memberi nasihat dan Allah damaikan dengan sebab kita, 
serta terwujud kebaikan, sementara orang-orang memuji kita, maka amalan kita 
akan sia-sia, karena tidak terpenuhi niat yang ikhlas. Kita ambil pelajaran 
dari sebuah hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah turun pada hamba-Nya untuk 
memutuskan, dan seluruh manusia berlutut, orang yang pertama kali dipanggil 
adalah orang yang membaca Al-Quran, orang yang beperang di jalan Allah, dan 
orang yang mempunyai banyak harta. Allah berfirman kepada pembaca Al-Quran: 
bukankan Aku telah ajarkan padamu apa yang Aku turunkan pada Rasul-Ku? jawab 
orang itu: benar ya Robbi, firman-Nya: apa yang kamu amalkan? orang itu 
menjawab: saya membacanya siang malam, firman-Nya: bohong.!! Kata malaikat: 
kamu bohong!! firman-Nya: kamu membacanya karena ingin disebut qori, dan telah 
dikatakan padamu. Kemudian didatangkan orang yang mempunyai banyak harta, Allah 
berfirman padanya: bukankan Aku telah meluaskan rizkimu sehingga kamu tidak 
butuh pada seorangpun? jawabnya: benar ya Robbi, firman-Nya : Lantas apa yang 
kamu amalkan dengan pemberianku itu?, jawabnya: dulu saya menyambung 
silaturahmi dan bersedekah, firman-Nya: kamu bohong!!, kata malaikat: kamu 
bohong!!,
 firman-Nya: kamu berinfaq karena ingin disebut dermawan dan telah dikatakan 
padamu. Kemudian didatangkan orang yang terbunuh di jalan Allah, Allah 
berfirman padanya: Apa yang kamu perangi? Jawabnya: Saya diperintahkan untuk 
berjihad di jalan-Mu, saya pun berperang hingga terbunuh, firman-Nya: kamu 
bohong!!, kata malaikat: kamu bohong!!, firman-Nya: kamu berperang karena ingin 
disebut pemberani dan telah dikatakan padamu.. Berkata Abu Hurairah 
radhiyallahuanhu : Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memukul 
lututnya seraya bersabda: Tiga orang ini adalah makhluk yang neraka disulut 
pertama kali untuk mereka.

Kaum Salaf sangat berkeinginan untuk memberi hidayah pada manusia, dan bahkan 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan yang pertama dalam hal 
ini. Saya akan menceritakan pada kalian sebuah contoh dari sejarah Rasulullah 
shallallahu alaihi wa sallam : Abdullah bin Ubay adalah termasuk orang yang 
paling banyak menyakiti Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ketika dia mati, 
anaknya, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahuanhu (dan dia adalah 
seorang sahabat) datang pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar Nabi 
shallallahu alaihi wasallam memohon ampun untuk ayahnya, Nabipun bergegas untuk 
memohonkan ampun baginya, tapi Umar radhiyallahu anhu melarang beliau, kemudian 
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : Aku dilarang untuk memohonkan ampun 
mereka sebanyak tujuh puluh kali, maka aku akan mohon lebih dari tujuh puluh 
kali, kemudian turunlah ayat :

"Artinya : Janganlah kalian menshalati orang yang mati dari mereka selamanya, 
dan jangan kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya, sesungguhnya mereka telah 
kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik" 
[At-Taubah: 84] [Lihat Shahih Bukhari 1/427 no. 1210 dan Shahih Muslim 4/1865 
no. 2400. pent]

Lihatlah bagaimana keinginan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, seorang 
munafik yang menyakiti beliau dan menghalang-halangi dakwah beliau, beliau 
katakan: Akan saya mohonkan ampunan beginya lebih dari tujuh puluh kali, karena 
besarnya keinginan beliau shallallahu alaihi wasallam untuk memberikan hidayah 
kepada manusia dan ini adalah termasuk nasihat karena Allah Taala.

Yang perlu kita garis bawahi adalah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam 
waqad qiila ini menunjukkan bahwa kebanyakan yang dikatakan di dunia sebagai 
alim atau dermawan atau pemberani tidak menginginkan wajah Allah, kita takut 
atas diri kita, terkadang orang mengatakan tentang kita: fulan alim, atau fulan 
ahlussunnah, dan Allah tahu hati kita, maka kita wajib untuk menyadari dalam 
keadaan ini, karena jika niat dimasuki riya akan dikatakan pada kita di hadapan 
seluruh makhluk (pada hari kiamat) : kamu berbuat itu karena ingin dikatakan 
begini dan sudah dikatakan begitu (di dunia), sehingga kita pun dilempar ke 
neraka, ini perkara yang sangat berbahaya. Hendaklah seorang insan memohon pada 
Allah keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan dia di setiap waktu, tidak ada 
seorang manusia pun kecuali dia lemah, tapi apabila Allah mengetahui kekuatan 
ikhlas, kesungguhan dan kesabaran seorang hamba, maka Allah akan memberinya 
taufiq, sebagaimana dalam hadits:

"Artinya : Senantiasa seorang hamba bertaqorrub kepada-Ku dengan nawafil 
(amalan-amalan sunnat) sehingga Aku mencintainya. [Hadits iwayat Bukhari 5/2384 
no. 6137. Pent]

Dan sebagai pelindung bagi kita dari hal itu adalah dengan memperbanyak amal 
shalih dan ketaatan, jangan sampai kita disibukkan oleh ilmu dan melupakan 
amal, karena ilmu itu sarana untuk beramal. Jika kita disibukkan oleh ilmu dan 
melupakan amal, maka ilmu kita itu tidak bermanfaat. Berkata Ali bin Abi Thalib 
radhiyallahuanhu:

Hubungilah ilmu dengan amal, jika dia menjawab (maka kebaikan untuknya) dan 
jika tidak, maka ilmu itu akan pergi.

Ketika kamu semakin istiqamah dalam ketaatan pada Allah, maka Allah akan 
melindungimu dari fitnah, jika kamu menjaga shalat, dzikir-dzikir dan amalan 
baik, (Allah akan melindungimu) ketika fitnah melanda manusia, dan kamu 
mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah. Bukankah Allah berfirman dalam hadits 
qudsi: Jika seorang hamba senantiasa bertaqorrub pada-Ku sehingga Aku 
mencintainya, maka Aku pendengarannya yang dia mendengar dengannya, 
pandangannya yang dia melihat dengannya, tangannya yang dia memukul dengannya, 
dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Mengapa? Karena Allah melindunginya, 
maka setiap orang yang ingin selamat dari fitnah hendaklah memperbanyak 
ketaatan dan ibadah, inilah yang bermanfaat.

Demi Allah !! ilmu saja tidak akan bermanfaat. Bisa saja kamu orang yang paling 
alim tapi kamu terfitnah dalam agamamu karena kamu tidak bisa mengambil manfaat 
kecuali dengan ilmu dan fiqih dalam agama serta istiqomah dalam ketaatan. 
Karena itu jika kalian perhatikan, siapakah yang selamat ketika fitnah melanda 
ummat dan manusia? Ulamalah yang selamat, tapi apakah mereka selamat karena 
ilmu saja ? Tidak, mereka selamat karena mereka ahlul ibadah, Allah melindungi 
mereka karena ibadah, dan berjatuhanlah dalam fitnah itu para ulama-ulama suu 
(jelek) dan orang-orang yang berbuat karena riya, kita berlindung kepada Allah 
dari hal ini, karena seseorang terkadang menjadi hina disebabkan amalannya. 
Inilah kewajiban yang harus dilakukan oleh penuntut ilmu, untuk sungguh-sungguh 
melakukan ishlah, tapi sebelumnya kita harus memperbaiki diri kita, apakah kita 
akan mengishlah manusia sementara diri kita sakit, akankah kita memperbaiki 
rumah orang sementara rumah kita roboh ?

Kita perbaiki hati dan amalan kita serta selalu merasa diawasi oleh Allah, 
sibukkanlah diri kita dengan hal yang mendekatkan kita pada Allah, perkara itu 
sungguh besar, sungguh berbahaya, karena kita akan datang nanti untuk dihisab, 
Allah akan menghisab setiap orang apa yang ada pada dirinya Pada hari 
diperlihatkan seluruh rahasia (At-Thoriq : )]. Akan diperlihatkan pada kita 
catatan amalan kita yang bagaikan gunung, kemudian dihadapkan amalan itu kepada 
Allah kemudian dikatakan ini (amalan) karena Allah dan ini (amalan) karena 
selain Allah dan tidak tersisa (dari amalan) kecuali amalan yang karena Allah.

Kita doakan saudara-saudara kita dan memohon pada Allah. Jika melihat kesalahan 
maka kita katakan : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari 
kesalahan yang menimpa dia, dan Dia lah yang memberikan keutamaan padaku di 
atas kebanyakan makhluk-Nya dengan keutamaan yang besar, kita mohonkan bagi 
mereka hidayah dan kita melihat orang yang menyimpang itu bagaikan seorang 
pasien, sebagaimana kata Ibnu Taimiyah : Ahlul bidah itu bagaikan orang sakit, 
maka bolehkah kita memperolok orang yang sedang sakit badannya? Jika kita 
melihat orang yang buntung tangannya, apakah kita perolok ? Orang yang berakal 
tak akan melakukannya. Mereka (ahlul bidah) itu fitnahnya lebih besar, karena 
mereka diuji dalam agama mereka, kasihan mereka itu. Maka sayangilah dan 
kasihanilah dia, jangan kamu cela, jangan suka membicarakannya dan menyebarkan 
kesalahannya, tapi kita mohon pada Allah agar memberinya hidayah dan 
menyelamatkannya dari apa yang sedang menimpa dia, serta meminta
 perlindungan kepada Allah dari musibah ini.

[Diterjemahkan dari Nasehat Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidzohullah, 
dan risalah ini disusun oleh Abu Abdirrahman Abdullah Zaen dan Abu Bakr Anas 
Burhanuddin dkk Mahasiswa Universitas Islam Madinah]
   
   
  Catatan : Bagian yg di Bold (dihitamkan) adalah semata inisiatif dari ana 
(fathimah) pribadi, bukan dari artikel aslinya.

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke