Assalamu 'alaikum,
Sebagai penambahan saja, saya punya teman yang sering mengikuti kuliyah salaf
ditempat saya. Boleh dikatakan sahabat ini dan isterinya yang beristiqomah
dalam mengikuti kuliyah ilmu. Tetapi yang amat menyedihkan mereka ini suka
menuding atau menghukum orang yang bukan sefahaman dengan nya atau dilain kata
seolah olah agama ini kepunyaan nya.
Cara pendekatan yang dilakukan yakni bertentangan dari yang diajar oleh para
ulamak salaf. Apa yang hendak saya kongsi disini, hendaknya bagi mereka yang
beryakinan bahwa salaf adalah ajaran yang murni, maka jangan lah dicemari
dengan applikasi yang salah, terdapat beberapa ulamak2 ahli bida' diMalaysia,
Singapura merasa kurang senang dengan apa yang golongan salafi dakwakan.
Makanya kita harus berhati hati dalam berdakwah.Terima kasih.
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Assalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh, Dalam kehidupan kita
bersaudara, bertetangga dan bekerja, kita beberapa kali mendengar tudingan
bahwa Salafy dan Salaf merupakan kelompok salaf. Dari pengalaman saya, berikut
pemahaman orang-orang yang menuding Salafy dan Salaf merupakan kelompok Salaf:
1. Salafy atau salaf dipahami sebagai kelompok yang tidak mengerti agama 2.
Salafy atau salaf dinisbatkan sebagai kelompok yang selalu menyalahkan orang
lain untuk pembenaran sendiri Ungkapan yang mereka sering bawakan adalah
"...Benar dan salah biarlah Allah yang menilai..." 3. Salafy atau salaf
dianggap sering membuat tulisan atau pernyataan2 sepihak 4. Salafy atau salaf
dianggap memvonis tanpa kajian mendalam 5. Salafy atau salaf mencela ulama
dan jama'ah lain yang berbeda cara berjuang... Dan masih banyak lagi tuduhan
dan tudingan yang lainnya. Syaikh Salim bin Ied-Al-Hilaaly yang insya Allah
akan bertemu dengan umat besok pagi, merupakan salah
seorang 'Ulama yang menjelaskan Salaf dan Salafy secara istilah, secara
tafshil. Berikut bahasannya. Mudah-mudahan bermanfaat, bagi kita, saudara kita,
tetangga dan teman kerja kita. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi ana pribadi
dan kita. Abu Hanan Fachri 21 Muharram 1428H SALAF DAN SALAFIYAH SECARA
BAHASA ISTILAH DAN PERIODISASI ZAMAN Oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied
Al-Hilaaly Saya menginginkan orang yang berjalan di atas manhaj salaf dengan
ilmu, dan ini syaratnya : "Artinya : Katakanlah : Inilah (agama)ku, aku dan
orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang
nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik" [Yusuf
: 108] Untuk mengetahui bahwa penunjukkan dan pecahan kata ini mengalahkan
ikatan fanatisme kelompok yang merusak dan melampui lorong sempit kerahasiaan
karena dia itu sangat jelas seperti jelasnya matahari di siang hari. "Artinya
: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada
orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih dan berkata :
'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" [Fush shilat : 33]
Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, iman,
keutamaan dan kebaikan. Berkata Ibnul Mandzur (Lisanul Arab 9/159) : Salaf
juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang
yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta
keutamaan yang lebih banyak. Oleh karena itu, generasi pertama dari Tabi'in
dinamakan As-Salafush Shalih. Saya berkata : Dan dengan makna ini adalah
perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada putrinya Fathimah
Radhiyallahu 'anha. "Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf)
bagimu adalah aku" [Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 2450] Dan diriwayatkan
dari beliau Shallallahu 'alihi wa sallam bahwa beliau berkata kepada putri
beliau Zainab Radhiyallahu 'anha ketika dia meninggal. "Artinya :
Susullah salaf shalih (pendahulu kita yang sholeh) kita Utsman bin Madz'un"
[Hadits Shahih Riwayat Ahmad 1/237-238 dan Ibnu Saad dalam Thobaqaat 8/37 dan
di shahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarah Musnad No. 3103, akan tetapi
dimasukkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Dhoifh No. 1715] Adapun secara
istilah, maka dia adalah sifat pasti yang khusus untuk para sahabat ketika
dimutlakkan dan yang selain mereka diikutsertakan karena mengikuti mereka.
Al-Qalsyaany berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risalah (q 36) :
As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi
mengikuti petunjuk Rasulullah dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah memilih mereka untuk menegakkan agamaNya dan meridhoi mereka sebagai
imam-imam umat. Mereka telah benar-benar berjihad di jalan Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan menghabiskan umurnya untuk memberikan nasihat dan manfaat kepada
umat, serta mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan-Nya. Sungguh Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah memuji mereka dalam kitabNya dengan firmanNya.
"Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka"
[Al-Fath : 29] Dan firman Allah. "Artinya : (Juga) bagi para fuqara yang
berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena)
mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan
Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar" [Al-Hasr : 8] Di dalam ayat
ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut kaum muhajirin dan Anshor kemudian
memuji itiba' (sikap ikut) kepada mereka dan meridhoi hal tersebut demikian
juga orang yang menyusul setelah mereka dan Allah Subahanahu wa Ta'ala
mengancam dengan adzab orang yang menyelisihi mereka dan mengikuti jalan selain
jalan mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya : Dan
barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min. Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali" [An-Nisa' : 115]
Maka merupakan suatu kewajiban mengikuti mereka pada hal-hal yang telah mereka
nukilkan dan mencontoh jejak mereka pada hal-hal yang telah mereka amalkan
serta memohonkan ampunan bagi mereka, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar)
mereka berkata : "Ya Rabb kami, beri ampunilah kami dan saudara-saudara kami
yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami,
sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang" [Al-Hasr : 10]
Istilah ini pun diakui oleh orang-orang terdahulu dan mutaakhirin dari ahli
kalam. Al-Ghazaali berkata dalam kitab Iljaamul Awaam an Ilmil Kalaam
hal 62 ketika mendefnisikan kata As-Salaf : Saya maksudkan adalah madzhab
sahabat dan tabiin. Al-Bajuuri berkata dalam kitab Syarah Jauharuttauhid hal.
111 : Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu yaitu para
Nabi, sahabat, tabi'in dan tabiit-tabiin. Istilah inipun telah dipakai oleh
para ulama pada generasi-generasi yang utama untuk menunjukkan masa shohabat
dan manhaj mereka, diantaranya : [1]. Berkata Imam Bukhari (6/66 Fathul
Bariy) : Rasyid bin Sa'ad berkata : Dulu para salaf menyukai kuda jantan,
karena dia lebih cepat dan lebih kuat. Al-Hafidz Ibnu Hajar menafsirkan
perkataan Rasyid ini dengan mengatakan : Yaitu dari para sahabat dan orang
setelah mereka. Saya berkata : Yang dimaksud adalah shahabat karena Rasyid
bin Saad adalah seorang Tabi'in maka sudah tentu yang dimaksud di sini adalah
shahabat. [2]. Berkata Imam Bukhari (9/552 Fathul Bariy) : Bab As-Salaf tidak
pernah menyimpan di rumah atau di perjalanan mereka makanan daging
dan yang lainnya. Saya berkata ; Yang dimaksud adalah shahabat. [3]. Imam
Bukhari berkata (1/342 Fathul Bariy) : Dan Az-Zuhri berkata tentang
tulang-tulang bangkai seperti gajah dan yang sejenisnya : Saya menjumpai
orang-orang dari kalangan ulama Salaf bersisir dan berminyak dengannya dan
mereka tidak mempersoalkan hal itu. Saya berkata : Yang dimaksud adalah
sahabat karena Az-Zuhri adalah seorang tabiin. [4]. Imam Muslim telah
mengeluarkan dalam Muqadimah shahihnya hal.16 dari jalan periwayatan Muhammad
bin Abdillah, beliau berkata aku telah mendengar Ali bin Syaqiiq berkata ; Saya
telah mendengar Abdullah bin Almubarak berkata - di hadapan manusia banyak- :
Tinggalkanlah hadits Amru bin Tsaabit, karena dia mencela salaf. Saya berkata
: Yang dimaksud adalah sahabat. [5]. Al-Uza'iy berkata : Bersabarlah dirimu
di atas sunnah, tetaplah berdiri di tempat kaum tersebut berdiri, katakanlah
sebagaimana yang mereka katakan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan
dan tempuhlah jalannya As-Salaf Ash-Shalih, karena akan mencukupi kamu apa
saja yang mencukupi mereka [Dikeluarkan oleh Al-Aajury dalam As-Syari'at
hal.57] Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat. Oleh karena itu, kata
As-Salaf telah mengambil makna istilah ini dan tidak lebih dari itu. Adapun
dari sisi periodisasi (perkembangan zaman), maka dia dipergunakan untuk
menunjukkan generasi terbaik dan yang paling benar untuk dicontoh dan diikuti,
yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan dari lisan sebaik-baiknya
manusia Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka memiliki keutamaan
dengan sabdanya. "Artinya : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian
generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi kemudian datang kaum yang
syahadahnya salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya
mendahului syahadahnya" [Dan dia adalah hadits Mutawatir akan datang
Takhrijnya] Akan tetapi periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi
pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah
muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada
zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj
salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan
As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan As-Salaf
Ash-Shalih. Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah
melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan
yang mengikuti mereka dengan baik. Dan diatas tinjauan inilah dipakai istilah
salaf yaitu dipakai untuk orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj di
atas pemahaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya
Radhiyallahu a'nhuma sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan. Adapun
nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah penisbatan terpuji
kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang
dibuat-buat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu'
Fatawa 4/149 : Tidak ada celanya atas orang yang menampakkan manhaj Salaf,
menisbatkan kepadanya dan bangga dengannya, bahkan pernyataan itu wajib
diterima menurut kesepakatan Ulama, karena madzhab Salaf tidak lain adalah
kebenaran itu sendiri. Sebagian orang dari orang yang mengerti akan tetapi
berpaling ketika menyebut Salafiyah, mereka terkadang menyangka bahwa Salafiyah
adalah perkembangan baru dari Jama'ah Islamiyah yang baru yang melepaskan diri
dari lingkungan Jama'ah Islam yang satu dengan mengambil untuk dirinya satu
pengertian yang khusus dari makna nama ini saja sehingga berbeda dengan kaum
muslimin yang lainnya dalam masalah hukum, kecenderungan-kecenderungan bahkan
dalam tabia'at dan norma-norma etika (akhlak).[1] Tidaklah demikian itu ada
dalam manhaj salafi, karena salafiyah adalah Islam yang murni (bersih) secara
sempurna dan menyeluruh baik kitab maupun sunnah dari
pengaruh-pengaruh endapan peradaban lama dan warisan kelompok-kelompok sesat
yang beraneka ragam sesuai dengan pemahaman Salaf yang telah dipuji oleh
nash-nash al-Kitab dan As-Sunnah. Prasangka itu hanyalah rekaan prasangka
salah dari suatu kaum yang tidak menyukai kata yang baik dan penuh barokah ini,
yang asal kata ini memiliki hubungan erat dengan sejarah umat Islam sampai
bertemu generasi awal, sehingga mereka menganggap bahwa kata ini dilahirkan
dari gerakan pembaharuan yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghaniy dan
Muhammad Abduh pada masa penjajahan Inggris di Mesir.[2] Orang yang
menyatakan persangkaan ini atau yang menukilkannya tidak mengetahui sejarah
kata ini yang bersambung dengan As-Salaf Ash-Shalih secara makna, pecahan kata
dan periodisasi. Padahal para ulama terdahulu telah mensifatkan setiap orang
yang mengikuti pemahaman para sahabat dalam aqidah dan manhaj dengan Salafi.
Seperti ahli sejarah Islam Al-Imam Adz-Dzahaabiy dalam Siyar 'Alam an-Nubala
16/457 menukil perkataan Ad-Daroquthniy : Tidak ada sesuatu yang paling aku
benci melebihi ilmu kalam. Kemudian Adz-Dzahaabiy berkata : Dia tidak masuk
sama sekali ke dalam ilmu kalam dan jidal (ilmu debat) dan tidak pula mendalami
hal itu, bahkan di adalah seorang Salafi. [Disalin dari Kitab Limadza
Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf
(Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied
Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________ Foote Note. [1] Lihatlah tulisan Dr. Al-Buthiy dalam kitabnya
As-Salafiyah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun La Madzhabun Islamiyatun, kitab
ini lahiriyahnya rahmat tetapi sebaliknya merupakan adzab. [a] Dia berusaha
mencela As-Salaf dalam manhaj ilmiyah mereka dalam talaqiy, pengambilan dalil
(istidlal) dan penetapan hukum (istimbath), dengan demikian dia telah
menjadikan mereka seperti orang-orang ummiy yang tidak mengerti Al-Kitab
kecuali hanya dengan angan-angan. [b] Dia telah menjadikan manhaj Salaf
(As-Salafiyah) fase sejarah yang telah lalu dan hilang tidak akan kembali ada
kecuali kenangan dan angan-angan. [c] Mengklaim bid'ahnya intisab
(penisbatan) kepada salaf, maka dia telah mengingkari satu perkara yang sudah
dikenal dan tersebar sepanjang zaman secara turun temurun. [d] Dia berputar
seputar manhaj Salaf dalam rangka membenarkan madzhab khalaf dimana akhirnya
dia menetapkan bahwa manhaj khalaf adalah penjaga dari kesesatan hawa nafsu dan
menyembunyikan kenyataan-kenyataan sejarah yang membuktikan bahwa manhaj khalaf
telah mengantar kepada kerusakan peribadi muslim dan pelecehan manhaj Islam.
[2] Dakwaan-dakwaan ini memiliki beberapa kesalahan : [a] Gerakan yang
dipelopori oleh Jamaludin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh bukanlah salafiyah
akan tetapi dia adalah gerakan aqliyah kholafiyah dimana mereka menjadikan akal
sebagai penentu daripada naql (nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah).
[b] Telah muncul penelitian yang banyak seputar hakikat Al-Afghaniy dan
pendorong gerakannya yang memberikan syubhat (keraguan) yang banyak seputar
sosok ini yang membuat orang yang memperhatikan sejarahnya untuk was-was dan
berhati-hati darinya. [c] Bukti-bukti sejarah telah menegaskan keterlibatan
Muhammad Abduh pada gerakan Al-Masuniyah dan dia dianggap tertipu oleh
propagandanya dan tidak mengerti hakikat gerakan Masoni tersebut. [d]
Pengkaitan As-Salafiyah dengan gerakan Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh adalah
tuduhan jelek terhadapnya walaupun secara tersembunyi dari apa yang telah
dituduhkan mereka kepadanya dari keterikatan dan motivasi yang tidak jelas.
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=456&bagian=0
KAP Aryanto Amir Jusuf dan Mawar
PLAZA ABDA
Lantai 10
Jl Jenderal Sudirman Kav 59
Jakarta Selatan 12190
Indonesia
Phone : (62) (21) 5140 1340 Ext. 2038/2054
Fax : (62) (21) 5140 1350
---------------------------------
Meet your soulmate!
Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather