Assalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

ANTARA TA'AWUN SYAR'I DAN HIZBI [1]
Oleh
Markaz al-Imam al-Albani

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk saling berta'awun
(bekerja sama) di dalam kebajikan dan ketakwaan, dan melarang dari saling
berta'awun di dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allah Jalla wa 'Ala
berfirman.

"Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."
[Al-Ma'idah : 2]

Pertama, Ta'awun yang syar'iy di dalam kebajikan dan ketakwaan merupakan
kalimat yang mencakup seluruh kebajikan, yang akan membawa kebaikan bagi
masyarakat muslim dan keselamatan dari keburukan serta sadarnya individu
akan peran tanggung jawab yang diemban di atas bahunya. Karena ta'awun di
dalam kehidupan umat merupakan manifestasi dari kepribadiannya dan merupakan
pondasi di dalam membina perabadan umat.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsir Al-Qur'anil Azhim
(II/7) menafsirkan ayat diatas [Al-Ma'idah : 2]

"Artinya : Allah Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar
saling berta'awun di dalam aktivitas kebaikan yang mana hal ini merupakan
al-Birr (kebajikan) dan agar meninggalkan kemungkaran yang mana hal ini
merupakan at-Taqwa. Allah melarang mereka dari saling bahu membahu di dalam
kebatilan dan tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan keharaman."

Termasuk dalam pengertian ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim di
dalam Shahih-nya dari hadits Tamim ad-Dari Radhiyallahu 'anhu beliau
berkata, Rasulullah Shallallahu 'alahi wa salam bersabda : "Agama itu
nasehat", beliau ditanya : "Bagi siapa wahai Rasulullah?", Rasulullah
menjawab : "Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan
masyarakat umum."

An-Nushhu (nasehat) ditinjau menurut bahasa, artinya adalah mengikhlaskan
diri terhadap sesuatu tanpa disertai tipuan dan khianat. Hal ini merupakan
kewajiban ulama dan para penuntut ilmu yang pertama kali sebelum lainnya.
Karena mereka (para ulama) adalah pewaris para nabi, khalifah (pengganti)
Rasul di dalam menerangkan kebenaran, berdakwah kepada Allah, bersabar atas
segala rintangan dan mengemban segala kesukaran. Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang menyerah diri?" [Fushshilat : 33]

Kedua, Ta'awun yang syar'iy merupakan konsekuensi dari wala' (loyalitas)
kepada kaum muslimin. Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian
mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar" [At-Taubah : 71]

Barangsiapa yang meninggalkan nasehat kepada saudaranya dan
menelantarkannya, maka pada hakikatnya ia adalah seorang penipu dan bukan
pembela mereka. Karena merupakan konsekuensi dari loyalitas adalah
menasehati dan menolong mereka di dalam kebajikan dan ketakwaan.

Ketiga, Ta'awun diantara kaum muslimin merupakan kekuatan dan pelindung.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam telah menyerupakan ta'awun kaum muslimin,
persatuan dan berpegang teguhnya mereka (pada agama Allah) dengan bangunan
yang dibangun dengan batu bata yang tersusun rapi kuat sehingga menambah
kekokohannya. Demikianlah kaum muslimin, semakin bertambah kokoh dengan
saling tolong menolong di antara mereka. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu
'alaihi wa salam :

"Artinya : Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang
sebagiannya menguatkan bagian lainnya."

Tidaklah umat Islam ini menjadi lemah dan musuh-musuhnya menguasai mereka,
melainkan dikarenakan berpecah belah dan berselisihnya mereka, walaupun
kuantitas dan jumlah mereka banyak. Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar" [Al-Anfal : 46]

Perkara ini adalah suatu hal yang telah dikenal oleh fitrah yang lurus dan
diketahui oleh akal yang sehat, sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair
yang bijaksana :

Tombak-tombak enggan menjadi hancur apabila mereka bergabung
Namun apabila berpisah maka akan hancur satu persatu

Semua ini, tidak akan bisa ditegakkan melainkan di atas kalimat tauhid,
karena kalimat tauhid merupakan pondasinya persatuan umat
.
Keempat, Ta'awun dan ittihad (persatuan).[2]
Sebagaimana firman Allah Ta'ala
"Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama
yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku." [Al-Mu'minun
: 52]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala :

"Artinya : Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama
yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." [Al-Anbiya' : 92]

Ta'awun dan persatuan selayaknya ditegakkan di atas kebajikan dan ketakwaan,
jika tidak, akan menghantarkan pada kelemahan yang parah, berkuasanya para
musuh Islam, terampasnya tanah air, terinjak-injaknya kehormatan dan
terenggutnya tanah muqoddas (Palestina). Sebagai pembenar apa yang
diberitakan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa Salam :

"Kalian nyaris diperebutkan oleh umat-umat selain kalian sebagaimana makanan
di sebuah tempayan yang diperebutkan manusia." Para sahabat bertanya : "apa
jumlah kita pada saat itu sedikit wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab : "Bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak,
akan tetapi kalian bagaikan buih, dan Allah akan mengangkat rasa takut
kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah akan menancapkan
al-Wahn ke dalam hati-hati kalian." Para sahabat bertanya : "apakah al-Wahn
itu wahai Rasulullah?", Rasulullah menjawab : "cinta dunia dan takut
mati."[Hadits Riwayat Bukhari Muslim]

Hadits ini mengisyaratkan tentang kesudahan umat ini yang berada di dalam
kelemahan walaupun banyak jumlahnya, namun mereka berserakan, berjalan tanpa
arah dan bergerak tanpa tujuan, maka Allah timpakan atas mereka kehinaan
yang akan menetap di bujur dan lintang (bumi ini). Sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu 'alahi wa salam :

"Jika kalian telah sibuk dengan jual beli inah (sistem jual beli yang
terdapat unsur riba, pent.), kalian terbuai dengan peternakan dan bercocok
tanam, dan kalian tinggalkan jihad, maka akan Allah timpakan di atas kalian
kehinaan yang tidak akan terangkat sampai kalian kembali ke agama kalian."
[Hadits Shahih Riwayat Abu Daud] [3]

Seorang muslim, haruslah memiliki solidaritas dengan saudaranya, turut
merasakan kesusahannya, tolong menolong di dalam kebajikan dan ketakwaan,
agar umat Islam dapat menjadi satu tubuh yang hidup, sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam:

"Perumpamaan kaum mukminin di dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan
bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh mengeluh maka
akan memanggil seluruh anggota tubuh lainnya dengan terjaga dan demam."
[Muttafaq 'alaihi]

Kelima, Tawaashi (saling berwasiat) di dalam kebenaran dan kesabaran
merupakan sebab keselamatan dari kerugian. Saling berwasiat di dalam
kebenaran dan kesabaran termasuk manifestasi nyata dari ta'awun syar'iy di
dalam kebajikan dan ketakwaan. Dengan kedua hal ini, akan terpelihara agama
ini, dan keduanya termasuk amar ma'ruf nahi munkar, merupakan sebab
diperolehnya kebaikan bagi negeri dan penduduknya. Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran." [Al-Ashr]

Kesempurnaan dan totalitas perkara ini adalah dengan saling berwasiat di
dalam kasih sayang, kecintaan, loyalitas, kelembutan dan perhatian…
Para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam tidak pernah berselisih
kecuali mereka membaca surat Al-Ashr[4]

Keenam, Diantara bentuk manifestasi ta'awun syar'iy di dalam kebajikan dan
ketakwaan adalah : menghilangkan kesusahan kaum muslimin, menutup aib
mereka, mempermudah urusan mereka, menolong mereka dari orang yang berbuat
aniaya, mengajari orang yang bodoh dari mereka, mengingatkan orang yang
lalai diantara mereka, mengarahkan orang yang tersesat di kalangan mereka,
menghibur atas duka cita mereka, membantu atas musibah yang yang menimpa
mereka, menyokong jihad dan dakwah mereka, menyertai mereka di dalam sholat
jum'at, sholat jama'ah dan ied (perayaan) mereka, mengunjungi orang yang
sakit, memenuhi undangan, mengantarkan jenazah, mendo'akan orang yang bersin
dan menolong mereka dalam segala hal yang baik.

Ketujuh, Allah sungguh telah mencela tafarruq (perpecahan), karena
perpecahan menghilangkan ta'awun (kerja sama), pertautan (hati), kecintaan,
dan menghantarkan kepada perselisihan, kesedihan dan kebencian. Alloh Ta'ala
berfirman :

"Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi
beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada
golongan mereka." [Ar-Rum : 31-32]

Perpecahan merupakan syiar (semboyan) kaum musyrikin, bukan syiarnya kaum
muwahidin (orang yang bertauhid) lagi mukmin. Oleh karena itu kaum salaf
membenci tahazzub (berpartai-partai) dan tafarruq (bergolong-golongan).
Bahkan mereka memerangi dan mengharamkannya.

Kedelapan, Kita telah merasakan dan melihat sendiri apa yang telah dilakukan
oleh hizbiyah (fanatisme) yang membinasakan, berupa keburukan-keburukan dan
bencana. Mereka memasukan rasa permusuhan dan kebencian di antara manusia,
dikarenakan mereka berinteraksi dengan selain mereka dengan asas hizbi
(kepartaian). Loyalitas mereka hanyalah untuk hizbi dan tanzhim
(organisasi), tidak untuk Islam dan agama. Mereka lebih mendahulukan ukhuwah
hizbiyah (persaudaraan kepartaian) ketimbang ukhuwah imaniyah (persaudaraan
keimanan). Menurut mereka, ta'awun disyaratkan haruslah berafiliasi dulu
dengan partai mereka [5]. Adapun muslim non partisan, sekalipun ia teman
lama dan sahabat akrabnya, prinsip mereka terhadapnya adalah "ini termasuk
kelompoknya dan ini termasuk musuhnya".

Termasuk keburukan dan penyimpangan mereka lainnya adalah mereka lebih
mengedepankan orang-orang bodoh, menjadikan gerakannya sebagai 'gerakan
bawah tanah', melemparkan benih-benih keraguan di tengah-tengah kaum
muslimin, mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil, menjadikan
luapan semangat dan perasaan sebagai asas, menomorakhirkan ilmu dan membuat
keragu-raguan terhadap para ulama…

Inilah intisari ringkas keadaan kelompok-kelompok dan partai-partai yang
mengikat dengan belenggu hizbiyah, yang menyembunyikan 'desahan nafas'nya
dengan ikatan rahasia. Apabila seorang muslim dari luar barisan mereka maju,
maka mereka akan menuduhnya sebagai : mutsabbithun (pengendor semangat),
musyawwisyun (penyulut kebingungan) dan murjifun (penggoncang barisan) yang
menghendaki porak-porandanya barisan Islam dan terbukanya rahasia kepada
musuh-musuh Islam.

Apabila datang seorang pemberi nasehat yang jujur dari barisan mereka,
niscaya mereka akan menuduhnya sebagai : orang yang menyeleweng dari manhaj,
orang yang menghendaki perpecahan dan menelantarkan teman seperjuangan.

Imam Robbani, Syaikhul Islam kedua, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah Rahimahulahu
berkata di dalam Madarijus Salikin (III/200) :

"Apabila seorang mukmin yang telah dianugrahi oleh Allah berupa bashiroh
(ilmu yang mendalam) di dalam agama, pengetahuan akan sunnah Rasul-Nya dan
pemahaman akan kitab-Nya dan diperlihatkan hawa nafsu, bid'ah, kesesatan dan
jauh dari shirothol mustaqim, jalannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
salam dan para sahabatnya. Apabila ia menghendaki untuk menempuh jalan ini,
maka hendaklah ia persiapkan dirinya untuk dicemooh orang bodoh dan ahlul
bid'ah, dicela dan dihina serta ditahdzir mereka. Sebagaimana pendahulu
mereka melakukannya kepada panutan dan imam kita Rasul Shallallahu 'alaihi
wa salam.

Adapun apabila ia menyeru kepada hal ini dan mencemooh apa-apa yang ada pada
mereka, maka mereka akan murka dan membuat makar padanya, Maka dirinya
menjadi orang yang :

Asing didalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka
Asing didalam berpegangteguhnya ia kepada sunnah, dikarenakan berpegangnya
mereka dengan kebid'ahan
Asing didalam aqidahnya dikarenakan rusaknya aqidah mereka
Asing didalam sholatnya dikarenakan rusaknya sholat mereka
Asing didalam manhajnya dikarenakan sesat dan rusaknya manhaj mereka
Asing didalam penisbatannya dikarenakan berbedanya penisbatan mereka
dengannya
Asing didalam pergaulannya terhadap mereka dikarenakan ia mempergauli mereka
di atas apa yang tidak disenangi hawa nafsu mereka

Kesimpulannya: ia adalah orang yang asing di dalam urusan dunia dan
akhiratnya, yang masyarakat tidak ada yang mau menolong dan membantunya.

Karena dirinya adalah :
Seorang yang berilmu di tengah-tengah orang yang bodoh
Penganut sunnah di tengah-tengah pelaku bid'ah
Penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah-tengah penyeru hawa nafsu dan
bid'ah

Penyeru kepada yang ma'ruf dan pencegah dari yang mungkar di tengah-tengah
kaum yang menganggap suatu hal yang ma'ruf sebagai kemungkaran dan suatu hal
yang mungkar sebagai ma'ruf."[6]

FATWA ULAMA TENTANG HARAMNYA HIZBIYAH [BERPARTAI-PARTAI]

Pertanyaan : Apa hukum berbilangnya jama'ah (hizbiyah) dan kelompok didalam
Islam, dan apa hukum berafiliasi padanya?

[1]. Lajnah Da`imah lil Ifta' (Komite Tetap Urusan Fatwa) yang diketuai oleh
Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu yang beranggotakan :
Syaikh Abdur Razaq Afifi Rahimahullahu, Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan
Syaikh Abdullah bin Hasan bin Qu'ud menjawab tentang haramnya hal ini di
dalam fatwa no 1674 (tanggal 7/10/1397) sebagai berikut :

"Tidak boleh memecah belah agama kaum muslimin dengan bergolong-golongan dan
berpartai-partai… karena sesungguhnya perpecahan ini termasuk yang dilarang
oleh Allah, dan Allah mencela pencetus dan pengikut-pengikutnya, serta Allah
janjikan pelakunya dengan siksa yang pedih. Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai" [Ali Imran : 103]

Dan firman-Nya :

"Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan
berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah
orang-orang yang mendapat siksa yang berat" [Ali Imran 105]

Serta firman-Nya :

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka
menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka."
[Al-An'am : 159]

Adapun para penguasa kaum muslimin, jika mereka yang mengurus dan mengelola
aktivitas agama dan duniawi di tengah-tengah mereka. Maka yang demikian ini
disyariatkan."

[2]. Di dalam Majmu' Fatawa Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Rahimahullahu (Juz V/202-204), beliau menjawab dengan terperinci pertanyaan
ini. Beliau Rahimahullahu berkata :

"Sesungguhnya Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Salam menjelaskan
kepada kita jalan yang satu, yang wajib bagi kaum muslimin menempuh jalan
tersebut, yaitu jalan Allah yang lurus dan manhaj agama yang benar. Allah
Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus,
maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya." [Al-An'am :
153]

Maka wajib bagi seluruh ulama kaum muslimin untuk menerangkan hakikat ini,
berdiskusi dengan tiap jama'ah dan menasehati seluruhnya supaya mereka mau
meniti jalan yang telah digariskan Allah kepada hamba-Nya dan yang Nabi
Shallallahu 'alaihi wa salam menyeru padanya. Barang siapa menyeleweng dari
jalan ini dan terus menerus menentangnya, maka wajib bagi orang yang
mengetahui hakikatnya untuk menyebarkan kesalahannya, mentahdzir umat
darinya, sampai manusia menjauh dari manhajnya dan sampai tidak turut masuk
bersama mereka orang-orang yang tidak mengetahui hakikat keadaan mereka
sehingga mereka tersesat dan berpaling dari jalan yang lurus. Jalan yang
mana Allah memerintahkan kita untuk mengikutinya. Tidak ragu lagi,
bahwasanya kebanyakan kelompok-kelompok dan jama'ah-jama'ah di negeri-negeri
Islam termasuk perkara yang disenangi oleh syaithan, ini yang pertama, dan
yang kedua, perkara ini disenangi oleh musuh-musuh Islam dari kalangan
manusia."

[3]. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullahu memiliki fatwa yang
serupa di dalam fatwa beliau (hal. 196 – cetakan Mesir), beliau
Rahimahullahu berkata : "Tidak tersembunyi bagi setiap muslim yang
mengetahui Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan yang dipegang oleh Salafuna
ash-Sholih Radhiyallahu 'anhum bahwasanya tahazzub (berpartai-partai) dan
membentuk jama'ah-jama'ah yang beraneka ragam manhaj dan cara-caranya,
bukanlah bagian dari Islam sedikitpun. Bahkan hal ini termasuk perkara yang
dilarang oleh Rabb kita Azza wa Jalla di dalam banyak ayat di dalam
al-Qur'an al-Karim."

[4]. Syaikh Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin Rahimahullahu memiliki fatwa
yang serupa yang tersebar di dalam kitab Ash-Shohwah Islamiyyah Dlowabith wa
Taujihaat (hal. 154), beliau Rahimahullahu berkata : "Tidak ada di dalam
Kitabullah dan as-Sunnah yang memperbolehkan berbilangnya jama'ah dan
kelompok. Sesungguhnya yang terdapat di dalam al-Kitab dan as-Sunnah adalah
yang celaan terhadap hal ini. Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi
mereka (masing-masing)." [Al-Mu'minun : 53]

Tidak ragu lagi, bahwasanya kelompok-kelompok ini meniadakan apa yang
diperintahkan Alloh, bahkan apa yang dianjurkan oleh-Nya di dalam firman-Nya
Ta'ala :

"Artinya : Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama
yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku " [Al-Anbiya' : 92]

[5]. Syaikh DR. Sholih al-Fauzan (anggota Lembaga Ulama Senior) memiliki
fatwa yang serupa, yaitu ucapan beliau : "Tafarruq (bergolong-golongan)
bukanlah bagian dari agama, karena agama memerintahkan kita untuk bersatu,
dan hendaknya kita menjadi jama'ah yang satu dan umat yang satu di atas
aqidah tauhid dan penauladanan terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
salam. Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai" [Ali Imran : 103]

[Sebagaimana termuat di dalam kitab Muhadzdzab Hukmil Intima']

Ya Allah anugerahkanlah kepada jiwa kami ketakwaan dan sucikan jiwa kami
karena Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikannya. Engkau adalah Walinya
dan Maulanya

Demikian akhir seruan kami, segala puji hanyalah milik Allah Rabb
(Pemelihara) alam semesta.

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th.V Dzulqo'dah
1427H, Penerbit Ma'had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya. Jl. Sidotopo Kidul
No. 51 Surabaya]
_________
Foote Note
[1]. Dialihbahasakan oleh Abu Salma Al-Atsari dari Mansyuraat (selebaran)
Markaz al-Imam al-Albani no 3, Robi'ul Awwal, 1422 H, yang berjudul Nubdzatu
'Ilmiyyah fit Ta'aawun asy-Syar'iy wat Tahdzir minal Hizbiyyah,
[2]. Yang dimaksud persatuan dalam Islam adalah bersatu dalam menegakkan
aqidah yang benar dan menghidupkan sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dengan cara amar ma'ruf dan nahi mungkar bukan mendiamkan kesyirikan, bid'ah
ataupun kebaikan. (ed).
[3]. Ini bukan dalil bagi orang-orang yang memulai dan mengutamakan dakwah
dengan berjihad ala mereka atau dengan melakukan kudeta, karena Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam menutup sabdanya dengan ungkapan : "Sampai
kalian kembali ke agama kalian". Jadi, obatnya adalah menghidupkan sunnah
dan ajaran agama Islam (,-pent)
[4]. "Dua orang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jika bertemu
tidaklah akan berpisah hingga salah seorang dari keduanya membaca surat
Al-Ashr …" [Hadits Riwayat Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
dalam Ash-Shahihah no. 2648
[5]. Sehingga kita saksikan partai-partai yang mengaku berjuang untuk Islam
mereka saling berebut anggota partai lain yang berhaluan Islam. Demikian
juga orang-orang yang terlalu fanatic kepada organisasi dakwah tertentu,
sehingga terkadang mereka tidak memperdulikan suatu kegiatan dakwah kecuali
harus atas nama organisasinya atau bahkan mereka jadikan partai/organisasi
tersebut sebagai standard untuk menentukan siapa lawan dan siapa kawan
(,-ed)
[6]. Alangkah indahnya ucapan beliau rahimahullah ini ! Sungguh ini adalah
kenyataan dakwah salafiyah di tengah-tengah ahlu bid'ah semisal harakiyin
(aktivis harakah), (,-ed)

Wa'alaikumussalam wa rakhmatullahi wa barakaatuh
Abu Aqila



Pada tanggal 07/02/27, hanif hanif <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
> Assalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
> bismillah wash shalatu was salaamu 'ala rasuulillah,
>
> Perkenalkan, nama lengkap saya adalah Hanif (nama di KTP/pasport) alias
> Hanif HANIF (nama di prancis) alias Hanif s/o Muhammad Ihsan (nama di UAE).
> Inilah akibatnya kalau cuma punya satu kata dalam nama. Akhirnya nama saya
> jadi bermetamorfosis ketika ke negri lain. Mulai kenal
> tarbiyah/ikhwan/PK/PKS sejak 1997.
> Meski saya seorang engineer, Saya suka sekali buku sejarah Nabi sampai
> khilafah terakhir, politik internasional dan akhlak para sahabat dan salafus
> salih. Ketika di ITS, saya rajin baca assunnah, sabili, sahid, etc sebagai
> refreshing kuliah. Cara solat saya, insya Allah sama persis dengan yang di
> buku syaikh Al albani. Untuk dzikir, saya pakai hisnul muslim semenjak saya
> tahu bahwa al ma'tsurat ada hadist lemahnya. Kan lebih baik pakai yang lebih
> kuat riwayatnya. Moroever buku hisnul muslim ini sangat terkenal lho di
> london.
>
> Akrab dengan para salafiyyin, ikhwan dan tabligh di paris (baik indo
> maupun non indo), pernah tinggal sekamar dengan mantan ketua HT dari negara
> X waktu di london, dan sekarang tinggal dengan tabligh dari suku pattan
> (perbatasan pakistan-afghan) di UAE. FYI, sebagian tabligh di paris itu
> memakai riyadhus salihin rather than fadhailul a'mal sebagai bayan ba'da
> solat. Dan tabligh pattan teman saya yang sekarang itu ternyata pendukung
> berat taliban. Pokoknya beda dengan tabligh yang di indo dan malaysia. Saya
> sendiri sangat terbuka dengan semua jamaah. Semua buku dari semua jamaah
> saya baca karena memang saya suka baca. Saya selalu mencoba berusaha agar
> friksi antar jamaah itu kian mengecil.
>
> Alhamdulillah, meski saya kader PKS, saya selalu mencoba meluruskan berita
> yang gak benar tentang semua jamaah (baik ikhwan, ht, salafy, jt, atau yang
> lain). Ini dikarenakan banyaknya muslim yang misunderstand tentang jamaah
> yang lain, misinformation, dan terlalu ta'ashshub terhadap golongannya.
> Pernah ada British muslim dari HT yang mengatakan bahwa syaikh di saudi itu
> gak pernah mendoakan umat islam dan paling2 cuman mendoakan secara global
> dan tanpa menyebut nama negaranya dan si british itu juga bencinya setengah
> mati sama syekh di saudi. Saya faham dia lagi mengolok2 salafy. Langsung
> saya tanya, "do u understand arabic". Dia jawab, "no". Langsung saya bilang
> kalau saya ini faham bahasa arab dan melihat dan mendengar ke mata dan
> telinga saya bahwa syaikh di saudi itu mendoakan mujahidin di palestina,
> chechnya, kashmir, dan di mana2. Tahu nggak, setelah kejadian itu, si
> british ssekarang belajar private bahasa arab lho sama seorang lulusan
> madinah.
>
> Kalau ada personal PKS atau siapapun muslim yang berbuat salah, maka
> hadapilah dia sebagai muslim yang perlu dinasehati bukan sebagai jamaah
> tertentu. Itulah yang insya Allah selalu saya lakukan sehingga saya bisa
> akrab dengan semuanya walau beda warna kulit dan warna rambut, beda bahasa,
> beda negara, etc. Ketika ada jamaah X dari negara Y yang salah, maka saya
> nasehati dengan dalil yang sahih. Ikut ya syukur, kalau nggak ya gak apa2.
> Saya pribadi masih sangat hormat kepada guru ngaji saya yang orang NU meski
> dia suka tahlilan. Dari dia lah saya tahu tajwid yang benar dan baca quran.
> Semua orang muda di kampung kalau ketemu dia, selalu cium tangan kecuali
> saya. Dia juga tahu saya nggak tahlilan, tapi dia juga sayang pada saya
> sebagai seorang yang pernah jadi muridnya waktu saya berumur 6 tahun. Teman2
> NU saya juga gak masalah dengan saya meski saya nggak qunut dan nggak
> tahlilan. Bahkan makin akrab. Bahkan saya pernah ditunjuk sebagai imam solat
> mereka di masjid mereka. Rahasianya cuman satu. Ketika ketemu, saya suka
> mendahului mengucapkan salam dan suka solat berjamaah. Alhamdulillah,
> rasanya saya pusing kalau nggak solat berjamaah karena sudah mejadi
> sindariom ketagihan. Ketika telah menjadi sindariom ketagian ini,
> Alhamdulillah Allah selalu menganugerahkan kepada saya tempat yang hampir
> selalu dekat masjid ketika saya hidup di prancis dan UK. Memang benar
> pepatah yang mengatakan, bisa itu karena terbiasa.
>
> Saran saya kepada milister assunnah. Hendaknya apabila ada kesalahan pada
> seorang muslim, perlakukanlah dia sebagai muslim pribadi dan bukan
> jamaahnya. Lupakanlah barrier/penghalang jamaah. Kalau ada yang salah,
> marilah saling mengingatkan dengan cara yang santun sebagaimana salafus
> salih. Mungkin si pelaku itu memang gak faham, atau gak tahu atau lupa atau
> yang lain. Nggak usahlah berantem karena perbedaan status jamaah. Kalau ada
> yang solatnya gak bener, ya diingatkan yang baik. Kalau ada yang suka
> bid'ah, ya diberitahu.
>
> Salam,
>
> Hanif
> seorang muslim yang ingin meniti jejak salafus salih


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/kOt0.A/gOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke